
***
Clara menggeleng. "Pergilah, kak, jangan membuat hatiku kian sakit."
Air matanya kembali mengalir dan membasahi kedua pipinya yang putih. Clara sadar, dirinya bukanlah Clara setengah jam yang lalu. Kini dirinya hanya seonggok tubuh yang telah ternoda bukan karena landasan cinta, tetapi karena nafsu semata.
Yuan berusaha meraih tangan Clara, tetapi gadis itu menepisnya.
"Pergi kak, aku nggak mau melihat kamu lagi!" Clara memalingkan wajahnya ke sisi. Dan itu membuat Yuan sakit, ia telah menyakiti hati perempuan yang amat dicintainya.
"Kak, pergi! Biarkan aku sendiri!" usir Clara sekali lagi, ia benar-benar ingin sendiri sekarang. Ia ingin menangis sepuas-puasnya.
Yuan tidak mau melihat Clara semakin terluka karena perbuatannya. Dengan langkah gontai laki-laki itu meninggalkan rumah Clara dengan hati yang begitu hancur.
Selama tinggal di luar negeri dirinya akui sering bergonta-ganti pacar dan bahkan telah tidur dengan mereka, tapi tak satu pun dari mereka yang masih suci. Sangat sulit menemukan perempuan yang masih perawan di atas usia 17 tahun di sana.
Dan kini ia merasa begitu berdosa karena telah tak sengaja merenggut kesucian perempuan yang dicintainya. Dan parahnya kenapa tadi Clara tak mencegahnya, tetapi justru membalas dengan begitu mesra setiap cumbuannya sehingga dirinya lupa daratan.
Sementara di dalam kamar Clara menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos. Hatinya begitu hancur, cinta yang ia miliki teramat besar untuk laki-laki itu sehingga ia pasrah laki-laki itu mencumbunya, ia rela menyerahkan segalanya meski ia tahu apa yang dilakukannya akan merusak masa depannya sendiri.
"Kak Yuan, tidakkah kamu melihat cintaku yang begitu besar untukmu, sampai aku rela menyerahkan segalanya karena aku tak kuasa menahan cinta ini sendirian. Aku pikir kamu pun mencintaiku walau cuma sedikit tapi ternyata aku salah. Kamu hanya memandang diriku sangat rendah di matamu. Kamu hanya membalut dirimu dengan nafsu."
Air mata Clara kian deras dan dibiarkannya tanpa berniat menghapusnya. Dirinya bukan saja kehilangan kesuciannya, tetapi harga dirinya sebagai perempuan baik-baik sudah di injak-injak.
Clara menangis semalaman. Untung saja ayahnya tidak pulang hingga pagi.
Sebelum subuh Clara mencuci sprei yang ternoda darah keperawanannya dengan hati tersayat. Ia tak menyangka semua ini akan menimpa dirinya.
***
"Ayah, ayah dari mana kenapa baru pulang?" tanya Clara saat melihat Darma pulang, pria itu terlihat sangat letih.
"Ayah nggak mabuk lagi kan?" Clara takut ayahnya yang belum sembuh minum-minuman lagi.
Darma menggeleng lalu duduk di depan Clara yang sedang sarapan.
"Ini, kamu simpanlah buat keperluan kamu." Darma meletakkan beberapa lembar uang merah di depan Clara.
"Ini apa, ayah?"
"Memang cuma sedikit tapi itu halal kok, semalam ayah bekerja di rumah makan yang buka 24 jam. Dan itu upahnya. Tapi tidak seberapa dengan uang yang sudah ayah ambil berulang kali. Maafkan ayah Clara, karena selama ini ayah sudah berperilaku buruk padamu. Ayah menyesal. Maafkan ayah?"
Ditangkupkannya kedua tangannya di depan wajah, kedua matanya berkaca-kaca.
Clara terdiam dengan air mata yang mulai berderai, ia sangat terharu melihat ayahnya kini benar-benar telah berubah.
"Ayah janji, ayah akan jadi ayah yang terbaik buat kamu. Kamu percaya kan sama ayah, kalau ..."
__ADS_1
Clara berdiri lalu memeluk Darma erat.
"Cukup ayah! Clara percaya sama ayah, Clara percaya. Clara sayaaang ayah." Tangis Clara tumpah mengenai pundak Darma, lelaki itu membalas pelukan putrinya.
Untuk pertama kalinya Darma merasa hatinya begitu hangat, selama ini menjadi seorang ayah adalah beban untuknya.
'Harnum, mulai saat ini aku janji akan membahagiakan putri kita. Aku janji.' batin Darma, sekilas pria itu seperti melihat almarhumah istrinya tersenyum ke arahnya lalu menghilang.
Setelah menyiapkan sarapan untuk sang ayah, Clara kembali masuk ke kamarnya. Ia tak berniat pergi ke kampus atau pun pergi ke tempat kerja hari ini, selain badannya masih terasa sakit semua Clara hanya ingin sendiri di dalam kamar, ia hanya ingin menangis.
Tok Tok Tok
"Clara," panggil Darma dari balik pintu.
"Iya sebentar!" Dengan gerakan malas Clara beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu ayahnya.
Biasanya Clara tak pernah mengunci pintu kamarnya, tetapi karena sedang tak ingin di ganggu jadi ia menguncinya.
"Iya, apa ayah perlu sesuatu?" Suaranya terdengar sangat lemah dan kedua matanya pun bengkak karena terlalu lama menangis.
Darma menggeleng. "Kamu nggak kuliah?" tanyanya karena Clara belum juga pergi kuliah padahal sudah siang.
"Nggak, Clara lagi nggak enak badan."
"Kamu sakit? Matamu bengkak kenapa?" Ada kecemasan di wajah tuanya.
"Clara nggak apa-apa. Clara cuma kecapean aja dan semalam kurang tidur, ayah nggak perlu mengkhawatirkan Clara. Clara hanya perlu istirahat saja."
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Oh iya ayah mau pergi?"
"Ayah mau kemana lagi kan ayah baru pulang pasti ayah masih capek?"
"Nggak apa, ayah nggak capek. Ayah cuma mau ketemu teman. Kamu istirahatlah, kalau perlu sesuatu minta tolong Mbak Nabila!"
Nabila adalah anak tetangganya yang usianya dua tahun di atas Clara, tapi dia sangat baik pada Clara dan ayahnya, sering memberi mereka makanan.
Clara hanya mengangguk lalu meraih tangan ayahnya kemudian menempelkannya di pipinya.
"Hati-hati!"
"Iya."
Clara menutup pintunya kembali lalu duduk di kursi belajarnya, menatap potret almarhumah ibunya yang diberi Darma beberapa hari lalu.
"Ibu, Clara sekarang kotor. Maafin Clara karena tidak bisa menjaga diri. Ibu pasti kecewa sama Clara?" Clara meraih bingkai itu lalu mendekapnya di dada seolah Harnum sedang memeluk dirinya.
"Ibu, Clara butuh ibu. Clara kangen sama, ibu."
__ADS_1
Clara terus mendekap potret ibunya sambil terus menangis mencurahkan segala kesedihan hingga ia lelah untuk menangis.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, disesali seperti apapun semua yang hilang pada dirinya tidak akan pernah kembali lagi. Yang harus ia lakukan sekarang adalah bangkit dari keterpurukan. Dirinya tidak mungkin terus seperti ini.
"Aku nggak boleh cengeng. Aku harus kuat. Aku nggak boleh lemah hanya karena laki-laki brengsek itu menghancurkan masa depanku."
Clara menghapus air matanya lalu berdiri setelah menoleh jam yang menempel di dinding.
"Masih ada waktu satu jam lagi, aku harus kuliah, setidaknya demi ayah."
Clara bersiap setelah itu segera pergi ke kampusnya.
Saat sedang menunggu ojol yang sempat ia pesan tadi sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Dan Clara tahu persis itu mobil siapa.
Pengemudinya turun lalu menghampiri Clara dengan wajah lesunya karena seperti Clara, Yuan pun tak bisa tidur semalaman. Ia terus memikirkan dosanya kepada Clara.
"Mau apalagi kamu kesini? Belum puas menghancurkan harga diriku?" serang Clara dengan wajah tak bersahabat, entah pergi kemana cinta yang ia miliki untuk lelaki yang kini berdiri di depannya dengan wajah tertunduk.
Yuan hendak meraih tangan Clara, tetapi gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada bahkan membuang mukanya ke samping.
"Clara tolong ampuni aku, aku menyesal. Tolong beri aku maafmu, aku sangat mencintaimu, Clara."
Cepat Clara memalingkan wajahnya menatap Yuan. Hatinya sedikit bergetar mendengar Yuan mengatakan cinta kepadanya, tetapi ia tindas kuat-kuat. Ia tidak mau kembali terlena dan akhirnya hatinya kian hancur.
"Cinta? Apa aku nggak salah dengar, Kak?" ucap Clara nada menghina.
"Lalu kamu memacari Adelia itu apa? Mau mempermainkan dia?" sambungnya.
Yuan diam, dijawab pun Clara juga tidak akan percaya jika dirinya memacari Adelia hanya ingin membuat Clara cemburu dan sakit hati karena sudah menolak kencan dengannya.
Melihat Yuan diam Clara kembali menyerangnya. "Oh aku tau, kak Yuan memang suka mempermainkan hati perempuan dan setelah mendapat yang dimau kak Yuan akan membuangnya."
"Nggak, Clara, aku nggak kayak gitu. Aku akui aku salah karena memacari Adelia tapi aku benar-benar cinta sama kamu." Yuan mengatakan itu dengan bersungguh-sungguh, tetapi Clara terlanjur luka dan terhina.
"Udahlah, kak Yuan, aku nggak ada waktu buat hal yang nggak penting. Oh Iya terima kasih atas luka dan hinaan yang kamu berikan, aku harap setelah ini kita nggak akan pernah ketemu lagi."
Usai mengucapkan itu Clara segera naik ke boncengan ojol yang baru saja datang.
Yuan hanya diam melihat tubuh Clara semakin jauh darinya.
"Apa kamu sangat membenciku sehingga tidak memberiku maaf, Clara?"
Bersambung
Hai hai, selamat pagi. Jangan lupa vote, komen, sub, like, dan kasih hadiah juga boleh.
Makasih semuanya
__ADS_1