
***
Hari-hari berlalu, Clara menjalani hari-hari biasa tanpa adanya gangguan lagi dari Yuan. Laki-laki itu sedang disibukkan dengan pekerjaan kantornya. Sementara Clara sedang mempersiapkan sidang skripsinya bersama Adelia.
Ia berharap skripsinya tidak ditolak seperti punya Desi. Clara berkonsultasi kepada bu Frida. Sejak waktu itu hubungan mereka memang menjadi lebih dekat. Wanita itu menjadi tempat curhat Clara setelah Adelia.
"Ibu yang akan membela kalian di pesidangan nanti. Tapi ibu sangat yakin jika naskah kalian tidak akan mungkin ditolak, kalian berdua kan mahasiwa teladan di kampus ini," ucap bu Frida, ia sudah memeriksa skipsi lanjutan kedua anak didiknya yang selalu mendapat nilai tertinggi di kelasnya.
"Terima kasih, bu. Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Clara lalu berdiri di ikuti Adelia.
"Clara tunggu, saya ingin bicara sama kamu, bisa?"
Clara menoleh ke samping.
"Oh, nggak apa. Silahkan. Gue tunggu elo di kantin ya?" Tanpa menunggu jawaban Adelia keluar dari ruang dosen itu lalu menuju ke kantin.
Clara duduk kembali, tetapi wanita di depannya tak kunjung berbicara.
"Ibu tadi mau bicara apa ya?"
Pertanyaan Clara membuat bu Frida tersentak, tadi ia sedang melamun. Ia lalu membenarkan duduknya
"Begini Clara, apa ibu boleh tanya sesuatu tapi ini bukan soal kampus, tapi …"
"Tentu saja boleh, ibu mau tanya apa?" sela Clara yang melihat keraguan dari dosen bimbingnya.
Bu Franda menarik nafasnya lalu membuangnya sebelum berkata.
"Kamu ada hubungan apa dengan pria itu? Mmm … maksud saya pria yang memboncengmu tadi pagi? Maaf, tadi pagi saya tidak sengaja melihat kamu dibonceng pake motor sama laki-laki yang lumayan tua saat berhenti di lampu merah?"
"Oh, memangnya kenapa, bu? Apa ibu mengenalnya?"
Mendapat pertanyaan seperti itu tentu saja bu Franda gelagepan. Ingin berkata iya pasti Clara akan bertanya darimana? Tapi jika berkata tidak lalu ia harus jawab apa jika Clara bertanya yang lain?
Kenapa jadi dirinya yang merasa terpojok padahal ia hanya penasaran ada hubungan apa antara Clara dan Darma? Apa Darma belum berubah, masih suka main perempuan? Tapi mengapa harus dengan perempuan yang lebih pantas jadi anaknya.
"Saya … hanya ingin tahu saja," jawabnya akhirnya.
"Dia ayahku."
__ADS_1
"Ayah … kamu?"
***
Clara berjalan ke kantin sambil mengingat percakapannya barusan dengan ibu Franda yang ternyata adalah sahabat almarhumah ibunya. Clara baru ingat foto yang diberi ayahnya, ibunya bersama seorang gadis yang wajahnya familiar. Tapi saat itu Clara tak pernah berpikir bu Frida adalah gadis itu.
Yang jadi pertanyaan sekarang adalah mengapa dulu ayahnya sangat membenci dirinya dan ibunya, bukankah mereka menikah atas dasar cinta? Begitu yang ia dengar dari om Arman.
Adelia melambaikan tangannya saat melihat Clara tiba di kantin. Gadis berambut itu ternyata belum memesan apa-apa.
"Lo mau makan apa?"
Clara berpikir sesaat, bingung memutuskan. Entahlah, hari ini ia ingin makan semua yang ada di buku menu.
"Mmm … gue mau bakso, mie ayam, seblak ceker, soto, minumnya es buah, es teh, sama jus mangga."
"Hah?" Adelia ternganga, ia tak percaya dengan apa yang Clara barusan ucapkan. "Elo bercanda kan?"
"Enggak. Gue emang lagi pingin makan itu semua."
"Elo yakin bisa ngabisin?"
"Hu'um, gue laper banget soalnya."
Adelia menatap Clara hampir tak percaya, sahabatnya itu memakan dengan lahap makanan yang tadi dipesannya. Adelia tak habis pikir dengan nafsu makan Clara hari ini karena tidak biasanya sahabatnya itu makan dalam porsi besar.
"Elo makan kayak orang ngidam deh," cetus Adelia membuat Clara terbatuk.
Clara meraih gelas di dekatnya lalu meminumnya.
"Pelan-pelan makannya, gue nggak minta kok."
Clara hanya terdiam, ia memikirkan ucapan Adelia barusan. 'Ngidam'. Benarkah dirinya sedang mengidam? Jika benar dirinya sedang mengidam itu artinya ia hamil, hamil anak Yuan? Tapi tidak mungkin. Mereka hanya melakukannya sekali itu pun tanpa sengaja karena perasaan cintanya pada laki-laki itu dulu. Tapi sekarang ia sangat membenci Yuan dan tak bisa memaafkannya.
"Tapi kan elo belum nikah ya gak mungkin juga elo ngidam," bantah Adelia sendiri lalu tertawa.
Clara hanya tersenyum kecut, tapi kini dia mulai gelisah memikirkan menstruasinya yang belum datang meski sudah terlewat, akan tetapi haidnya memang suka datang terlambat jadi ia tak begitu risau.
***
__ADS_1
Clara turun dari mobil Adelia seperti biasa begitu mereka tiba di depan pintu pagar rumahnya. Adelia pun langsung pulang ke rumahnya.
Clara lalu masuk ke rumahnya, menaruh tas di dalam kamarnya lalu pergi ke dapur untuk memasak makan malam untuk dirinya dan ayahnya. Kebetulan malam ini ia libur kerja. Clara ingin menghabiskan waktunya bercengkrama dengan ayahnya.
Tak berselang lama Darma pun pulang tepat saat makanan telah tersusun rapi di atas meja makan.
"Waah, ada acara apa nih kok kamu masak segini banyak?" Darma berucap melihat makanan berjejer di meja.
Clara tersenyum. "Ayah lupa ya kan hari ini ulang tahun pernikahan ayah sama ibu?"
Darma terdiam, selama ini jangankan mengingat ulang tahun pernikahan mereka sehari tak memaki Harnum saja tak pernah absen ia lakukan. Setiap hari ia hanya mencaci, menghina dan menghujat Harnum sebagai wanita murahan.
"Ayah, ayah kenapa menangis?" Clara memeluk ayahnya yang duduk dengan kepala menunduk dalam, bahu pria itu berguncang karena menangis. Clara tahu ayahnya pasti sedang mengingat perbuatannya pada almarhumah ibunya.
"Ayah menyesal, maafkan ayah?" Darma sesegukan, dadanya terasa sesak mengingat betapa jahat dirinya memperlakukan istrinya yang sedang hamil, jangankan membelikan apa yang Harnum minta menemaninya saat melahirkan pun tidak. Suami dan ayah macam apa dirinya?
"Ayah sudah! Yang penting kan ayah sudah berubah sekarang. Dan Clara sangat bangga punya ayah sepertimu." Clara mengeratkan pelukannya pada Darma, pria itu tak kuasa menahan harunya.
Keadaan itu cukup lama berlangsung hingga suara ketukan di pintu terdengar. Mereka melepas pelukan. Clara menghapus pipinya yang basah karena menangis, begitu juga dengan Darma.
Tok tok tok
Kembali pintu itu diketuk. Mereka saling berpandangan bertanya-tanya siapa yang datang. Pintunya diketuk kembali.
"Iya sebentar!" Clara beranjak untuk membuka pintu diikuti Darma yang juga penasaran dengan siapa yang datang.
Pintu terbuka, Clara tidak bisa melihat tamunya karena membelakanginya.
"Iya cari siapa?"
Wanita ibu berbalik, membuka kaca mata hitamnya lalu tersenyum.
"Ibu Frida?"
"Siapa yang yang …"
Clara melebarkan pintunya.
Darma terpaku, tubuhnya mematung tak bergerak.
__ADS_1
"Ka-kamu …."
Bersambung