NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
PERTEMUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

***


Karena tak bertemu dengan Clara Zidan mengantar Adelia kembali ke rumahnya, mungkin besok ia akan datang ke tempat itu lagi untuk mencari Clara. 


Setelah menurunkan Adelia di depan rumahnya, Zidan kembali melajukan mobilnya menuju kosannya. Saat masih di jalan  pikirannya terus tertuju pada Clara. Hampir 4 tahun dirinya memendam perasaan pada gadis itu apakah harus berakhir dengan kecewa lagi?


Mungkin dulu dia tidak berani mengungkapkan perasaannya karena dirinya belum mempunyai apa-apa untuk bisa ia banggakan di depan Clara, tetapi sekarang ia sudah punya semuanya. Bahkan dia sedang membangun rumah masa depan, semua itu ia lakukan hanya demi sang gadis pujaan.


"Clara sebenarnya kamu dimana? Apa kamu tahu aku cemas dan selalu mikirin kamu?"


Zidan begitu frustasi, kemana lagi harus mencari Clara? Beberapa hari tak bertemu membuat dirinya rindu. 


Zidan menghentikan laju mobilnya ketika lampu merah menyala, mengalihkan pandangannya ke samping jendela, dan tepat pandangannya menangkap sosok tubuh yang sedang dicarinya baru saja masuk ke sebuah minimarket bersama seorang wanita paruh baya.


"Clara … itu Clara kan?" gumamnya, Zidan lalu menepikan mobilnya kemudian turun untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.


Zidan masuk ke dalam minimarket, mencari-cari sosok Clara di antara pengunjung dan ketemu. Clara sedang memilah buah apel.


"Kayaknya ini enak buat bikin rujak?" Clara bergumum, dia tidak sadar jika sepasang mata tengah menatapnya penuh rindu.


Zidan ingin menangis karena terlalu bahagia, perlahan namun pasti langkahnya terayun mendekati Clara.


"Sella …"


Sontak Clara menoleh demi mendengar seseorang menyebut namanya, buah apel di tangannya terlepas dan jatuh menggelinding di lantai.


"Zi--Zidan?"


Kedua mata mereka bertemu, Clara melihat kedua manik di depannya berkaca. Zidan menangiskah? Tapi kenapa dia menangis? 


Baik Zidan ataupun Clara tak mampu berucap barang sepatah kata, Clara sendiri juga tak menyangka bisa bertemu dengan selebgram itu di sini.


Zidan maju agar lebih dekat dengan Clara. 


"Kamu kemana aja? Aku mencarimu? Kena …" Kalimat Zidan terhenti karena Bu Franda datang.


"Clara, kamu sudah belum, Nak, kalau su … siapa dia, Nak? Kamu mengenalnya?" Bu Franda menatap mereka bergantian, tapi saat lebih memperhatikan, rasanya dia familiar dengan wajah tampan di depannya? Apa mereka pernah bertemu?


"Di-Dia Zidan, Bu, teman Clara." Clara lalu mengenalkan mereka.


Bu Franda mengajak mereka untuk berbicara di rumah saja tentu setelah membeli apel hijau dan mangga muda. Sejak lepas maghrib Clara ingin makan buah itu, mungkin dia ngidam sehingga menginginkan buah asam itu untuk dibuat rujak.

__ADS_1


Keinginan itu datang secara tiba-tiba dan tak bisa ditunda. Dia terus merengek, karena itulah Bu Franda membawanya ke minimarket. Beruntung minimarket itu berada tak jauh dari perumahannya, hanya berjarak 100  meter sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Sebenarnya Bu Franda melarang Clara ikut, tapi dasar keras kepala, dia ngotot ingin ikut dengan alasan jenuh berada di dalam rumah terus, dengan terpaksa ia akhirnya mengizinkan.


Zidan masih diam tak percaya, kedua matanya menatap lekat Clara yang sedang menunduk. Entahlah, Clara merasa risih karena Zidan terus melihatnya.


"Jangan liatin aku terus kenapa?" Clara akhirnya buka suara setelah beberapa lama keduanya saling diam, canggung.


"Aku masih nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini. Kamu kemana saja, Sella, aku mencari-cari kamu. Di kampus, di tempat kerjamu, tapi kamu nggak ada. Kenapa kamu pergi dari rumah, apa ayahmu berbuat kasar lagi sama kamu? Cepat katakan, Sella!"


Clara melongo, dia bingung harus menjawab yang mana dulu? Zidan mendadak berubah jadi seperti seorang suami yang sedang posesif kepada istrinya. Dan Clara merasa dirinya seperti seorang istri yang sedang disidang suaminya karena pergi tidak pamit.


"Nanyanya satu-satu dong, Zi, aku bingung mau jawab yang mana dulu!"


Zidan tak menjawab, dia terus menatap Clara tanpa berkedip seolah-olah takut Clara akan menghilang lagi.


Clara jadi salah tingkah karena terus ditatap seperti itu oleh Zidan. Beruntung Bu Franda datang membawakan minuman serta membawa buah apel yang sudah dicucinya, menaruhnya di meja lalu duduk di sebelah Clara.


"Oh, jadi, Nak Zidan kuliah di kampus itu juga? Pantesan kok, kaya familiar gitu wajahnya?"


"Tentu saja, Bu, Zidan ini kan 


selebgram juga, Bu. Jadi wajar kalo Ibu familiar," timpal Clara menjelaskan siapa Zidan dan profesinya.


Obrolan terus  berlanjut sampai akhirnya Zidan memperhatikan tubuh Clara yang terlihat lebih kurus, wajahnya pun terlihat pucat. Apa Clara sedang sakit? Sakit apa, dan kenapa dia sampai pergi dari rumahnya segala, apa dia diusir? 


Bermacam pikiran berkecamuk di otaknya. Zidan benar-benar mengkhawatirkan keadaan Clara.


Setelah didera rasa penasaran dan cemas, Zidan memberanikan diri untuk bertanya, tapi bukannya menjawab Clara justru menangis membuat Zidan merasa bersalah karena mungkin ada yang salah dengan pertanyaannya.


"Kalau itu membuatmu sedih nggak usah dijawab, nggak apa kok."


Clara mengusap kedua pipinya yang basah. Sebenarnya tangan Zidan sangat gatal ingin memeluk Clara, membuatnya bersandar di dadanya.


"Kenapa?"


"Jangan tanya kenapa, Zidan, aku sendiri benci untuk menceritakannya." Air matanya tumpah kembali, mengingat peristiwa itu selalu membuatnya sakit apalagi harus menceritakannya. Dia tidak sanggup, hatinya akan semakin terluka.


Tapi dia juga butuh teman untuk bercerita, dan selama mengenal Żidan laki-laki ini sangat baik dan dapat diandalkan. Apa dia harus bercerita pada Zidan? Bagaimana kalau nanti Zidan tahu dirinya hamil dan Zidan menjauhinya? 


Agghhh … kenapa hidup ini begitu rumit seperti gumpalan benang yang kusut?

__ADS_1


Zidan masih setia menunggu penjelasan dari Clara. Bu Franda sudah masuk ke dalam sejak tadi, dia bersembunyi di balik pintu, menguping. Sebenarnya sejak masih di minimarket dia sudah memperhatikan sikap Zidan yang perhatian pada Clara.


'Sepertinya dia sangat menyukai Clara? Semoga Clara mau membagi dukanya pada laki-laki itu, dan sepertinya Zidan juga baik, sopan, dan penyayang.' gumam bu  Franda di dalam hati, diam-diam dia berharap Clara mau membuka hatinya untuk Zidan. Dan entah mengapa dia sangat yakin jika Zidan akan menerima Clara apa adanya.


"Pelan-pelan saja ceritanya aku akan setia mendengarnya," ucap Zidan tulus, Clara mengangkat wajahnya menatap Zidan. 


Kedua mata mereka bertemu, Clara baru sadar jika lebih diperhatikan Zidan lebih tampan dari Yuan dan terlihat lebih tenang dan dewasa.


Clara memalingkan wajahnya, tak kuasa berlama-lama beradu tatap dengan laki-laki di depannya.


"Kenapa, Sella?"


"Apa kamu yakin mau mendengarnya? Aku takut kamu akan jijik sama aku."


"Kenapa harus jijik? Memangnya kamu punya penyakit yang menjijikkan sampai aku harus …"


"Aku hamil."


Zidan langsung terdiam, tubuhnya membeku, mulutnya tak bisa berucap meskipun ia ingin, tapi tenggorokannya tercekat seperti ada yang mencekik nya. 


Melihat Zidan terdiam Clara mengerti, pasti Zidan kini jijik karena dia telah kotor. Padahal dalam benak Zidan dia sedang bertanya siapa yang menghamilinya? Yang dia tahu Clara tidak punya pacar, teman prianya pun bisa dihitung dengan jari.


"Sekarang kamu tau kan kenapa aku pergi dari rumah? Aku malu sama tetangga, aku takut mereka akan mencemoohku.?" Dipandangnya wajah Zidan lekat.


"Sekarang kamu jijik kan sama aku?"


Zidan tersentak lalu menatap Clara, menggeleng.


"Enggak. Aku nggak jijik sama kamu. Kenapa harus jijik?" 


Clara tak menjawab, menatap Zidan mencari kebenaran di mata itu, tapi yang ada kejujuran dan ketulusan.


"Kalo boleh tau siapa laki-laki yang sudah merusakmu?"


"Jangan tanya siapa dia, Zidan. Aku tidak ingin mengingatnya. Aku sangat membencinya." Meski tak ingin menangis, tapi nyatanya ia tidak sanggup, setiap mengingat nama Yuan bayangan penyesalan laki-laki itu selalu muncul dan hatinya akan terasa sakit.


Zidan menatap Clara dengan iba. Clara sepertinya sangat terluka, pasti laki-laki itu telah melukai hatinya jika tidak dia pasti akan meminta pertanggung jawaban bukan malah menghindar? Tapi siapa laki-laki itu? Apa ia mengenalnya? 


Bersambung


Jangan lupa vote, komen yang baik-baik saja ya. 

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2