NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
AKU CEMBURU


__ADS_3

***


Clara masih melihat layar ponselnya, membaca kembali pesan yang baru saja dia ketik. Clara ragu saat akan mengirimkannya pada Zidan.


Entah kenapa sejak bangun subuh tadi dia ingin makan kue putu, makanan yang terbuat dari tepung ketan yang dicampur dengan parutan kelapa dan gula merah, kemudian dikukus. Dia sudah berusaha abai, tetapi keinginan itu tak bisa ditahan lagi.


Selain pada Zidan dia tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa? Bu Franda? Clara segan meski wanita itu sudah berkata agar jangan memendam keinginannya.


Akhirnya terpaksa Clara memilih menelpon Zidan. Dan dalam deringan pertama Zidan langsung mengangkatnya.


"Iya sayang ada apa?"


Clara tak langsung menjawab, dia terdiam dengan panggilan Zidan kepadanya.


"Halo, Sella, kamu masih disana?"


"I-iya masih, Zi."


"Ada apa pagi-pagi sudah menghubungiku, kangen ya?"


"Apaan sih, Zi, becanda aja kamu." 


"Hahaha, kamu malu ya?"


"Zidan …"


"Oke, oke, maaf. Ada apa pagi-pagi telpon kamu ingin makan sesuatu?"


"I-iya, itu … aku … aku mau kue putu."


"Sekarang?"


"Iya sekarang."


"Setengah jam."


"Hah? Maksudnya?"


"Kamu bisa menunggu setengah jam kan? Aku akan membawa pesanan kamu. Tunggu ya!"


Zidan memutus sambungan tanpa menunggu jawaban dari Clara. Zidan bersiap mencari kue putu pesanan Clara. Dan tak butuh waktu lama buat seorang Zidan Adi Mahendra, dengan hanya memposting di media sosialnya Zidan langsung mencari tempat yang direkomendasikan para fans nya.


***


"Kamu sedang menunggu siapa, ayo masuk!" Bu Franda bertanya saat melihat Clara berdiri di dekat pintu pagar, dia baru saja pulang dari berbelanja sayuran di gang sebelah.


"Nunggu Zidan, Bu," sahutnya tanpa menoleh.


"Mau kesini?"


"Iya."

__ADS_1


"Pagi-pagi begini?"


"Iya, emang kenapa, Bu, aku yang memintanya."


Bu Franda mengernyitkan dahinya. "Kamu yang meminta? Ada apa?"


"Itu … aku … aku mau kue putu." Clara tak enak hati, dia takut bu Franda akan marah terhadapnya.


"Kenapa tidak bilang sama ibu? Apa kau tak menganggap ibu?"


"Bukan begitu maksud Clara, Bu."


Bu Franda berjalan ke teras lalu menjatuhkan berat badannya di kursi. Clara mengikuti dan duduk di kursi berseberangan dengan meja.


"Clara tidak enak, takut merepotkan ibu."


"Kamu tidak enak sama ibu, tapi enak sama Nak Zidan? Aneh?"


"Hah?"


"Jangan-jangan kamu mulai suka sama Nak Zidan?"


"Hah? Nggak, Bu, bukan seperti itu." Wajah Clara sudah semerah tomat karena malu.


"Iya juga tidak apa ibu setuju kok kamu menikah sama, Nak Zidan. Dia baik dan juga mencintaimu."


"Iya, Zidan sangat baik, tapi … Clara tidak mencintainya."


"Bukan tidak, tapi belum. Cinta akan datang dengan sendirinya. Percaya sama ibu. Dulu pun ibu tidak mencintai suami ibu, tapi seiring berjalannya waktu ibu mulai mencintainya, bahkan teramat mencintainya."


Ya, dulu mereka adalah sepasang kekasih sebelum Harnum mengenal Darma. Harnum hadir di tengah-tengah mereka meski dia hanya korban keegoisan keluarganya. Bu Franda sendiri sudah lama mengenal Harnum, mereka bersahabat sejak masih sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu. 


Setelah lulus bu Franda melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Sedang Harnum dipaksa menikah dengan anak orang kaya yang setelah dia pulang ke Indonesia Bu Franda baru tahu jika Harnum menikah dengan Darma.


Dan saat hatinya sedang hancur datang Januar yang mengobati luka hatinya yang kemudian menikahinya. Bu Franda tidak tahu jika Harnum sudah lebih dulu dihamili Darma saat dirinya masih kuliah di luar negeri.


"Ibu sangat beruntung punya suami seperti om."


Clara pun ingin dicintai oleh suami seperti suami bu Franda, tapi kenyataannya laki-laki yang diberi cinta darinya justru menginjak-injak harga dirinya.


Bu Franda menggenggam tangan Clara yang ada di atas meja.


"Kamu pun akan dicintai laki-laki seperti itu."


Perbincangan mereka terhenti saat melihat mobil Zidan masuk ke halaman. Clara langsung menyambut dengan wajah berbinar, terlebih saat melihat Zidan membawa kantong kresek berisi. kue putu seperti apa yang dia mau.


Bu Franda mengajak mereka masuk. Clara dengan rakus memakan semua kue putu yang dibeli Zidan. Mereka hanya melihat Clara makan seperti orang yang tidak makan setahun.


"Mau lagi." Clara mengangkat piring yang telah kosong.


"Hah? Mau lagi? Tapi sudah habis kamu makan semua." Zidan tak habis pikir, Clara sudah menghabiskan 4 porsi kue putu tapi dia masih ingin tambah? Apa wanita yang sedang hamil makan nya segitu banyak?

__ADS_1


"Tapi aku mau lagi, masih lapar."


"Tapi kamu sudah menghabiskan 4 porsi Clara nanti kalau kamu kekenyangan gimana?" Bu Franda turut berbicara.


"Tapi aku masih lapar, Bu."


"Besok lagi saja ya, Nak, kasihan Nak Zidan kalau mesti balik ke pasar lagi."


Kedua mata Clara berkaca, dia benar-benar masih merasakan lapar di perutnya. Padahal biasanya dia tak pernah makan sebanyak itu, tapi bayi di dalam perutnya benar-benar masih ingin makan kue itu.


Clara mengusap perutnya. "Sabar ya, Nak, kita akan ke pasar cari kue putu." 


"Jangan!" Mereka serempak saat melihat Clara hendak berdiri.


"Biar aku yang pergi, kamu tunggu di sini aku akan segera kembali." Zidan meraih tangan bu Franda lalu mengecupnya.


"Sabar ya, aku akan membawakan kue putu lagi untukmu." Zidan mengusap rambut Clara sayang kemudian berjalan mundur sebelum kemudian menghilang di balik pintu.


Senyum licik tersungging di bibir Clara. Sebenarnya selain dia masih lapar dia juga hendak menguji kesungguhan Zidan padanya. Clara ingin menguji Zidan sekali lagi.


Bu Franda yang menyadari senyum itu menggelengkan kepalanya.


"Lain kali jangan begitu lagi, kasihan Nak Zidan pasti capek!"


"Hah, kok ibu tahu Clara lagi bohong?"


Bu Franda tersenyum lalu beranjak dari sana menuju dapur, dia akan memasak untuk mereka bertiga.


Sementara Zidan sudah membeli kue putu pesanan Clara, sepanjang jalan bibirnya selalu tersenyum sampai dia tidak sadar jika ada sebuah mobil yang mengikutinya sejak di lampu merah.


"Aku yakin dia pasti akan ke tempat Clara." Yuan tersenyum penuh arti, tidak sia-sia dia menghafal nomor plat mobil milik Zidan sehingga saat lampu merah menyala tadi dia mengamati mobil Zidan yang berhenti tepat di depan mobilnya.


Jadi dia memutuskan untuk mengikuti mobil Zidan. Dia yakin Zidan akan membawanya kepada Clara.


Dan benar dugaannya, Zidan menemui Clara yang telah menunggunya di pintu pagar. Clara tersenyum melihat Zidan, kadang tertawa begitu bahagianya.


Hati Yuan terbakar melihatnya. Dulu dia pernah melihat senyum itu, dia juga pernah melihat tawa itu, tapi sekarang dia hanya bisa melihat itu dari jauh.


"Clara, aku cemburu melihatmu bahagia tapi tidak bersamaku. Apa aku harus melupakanmu dan menuruti kemauanmu, menjaga Adelia untukmu?" gumamnya sendiri.


Yuan segera menutup kaca mobilnya saat sepertinya menyadari keberadaannya kemudian meninggalkan tempat itu.


'Seperti mobil Kak Yuan? Tapi … sedang apa dia di sini? Apa dia tahu aku tinggal disini?'


"Kamu lihat apaan sih?"


Clara tersentak lalu menatap Zidan.


"Bukan apa-apa, tadi aku kayak … sudah lah lupakan saja. Mending kita masuk, aku sudah lapar."


"Dasar tukang makan." 

__ADS_1


"Biarin, weee."


Bersambung


__ADS_2