
***
"Kamu lagi ngapain disini sendirian, Cla?"
Teguran itu berhasil membuyarkan lamunan Clara lalu menoleh, Dion teman kerja sekaligus kekasihnya sedang menghampirinya lalu duduk di sampingnya. Clara tersenyum.
"Nggak, cuma lagi lihat bintang. Indah banget ya?" Clara kembali menatap langit yang cerah malam ini dengan bertaburan bintang. Dion mengikuti arah pandang Clara.
Saat ini mereka sedang berada di balkon atas cafe tempat mereka bekerja. Clara sering duduk menyendiri kala melepas penat ketika cafe sedang sepi. Hampir 2 tahun lebih ia bekerja di kafe milik pria bernama Arman sahabat almarhumah ibunya.
"Cla, boleh tanya sesuatu?" Dion buka suara setelah beberapa waktu saling diam, Clara beralih menatap Dion, mengangguk.
"Iya, mau tanya apa?"
Dion menarik nafasnya. "Akhir-akhir ini kamu kelihatan beda?"
Dahi Clara mengerut. "Beda? Beda gimana maksud kamu?" Clara tidak mengerti maksud kekasihnya itu, perasaan tidak ada yang berubah dari dirinya. Ia masih bersikap sama seperti biasa.
"Ya, kamu jadi lebih diam. Kamu lagi ada masalah? Kalo nggak keberatan kamu bisa cerita sama aku?"
Clara kembali tersenyum. "Makasih Dion tapi aku nggak mau bikin orang lain ikut susah. Kamu udah banyak bantu aku, aku gak mau ngerepotin kamu lagi."
"Tapi aku nggak merasa direpotkan, aku justru senang kalo bisa bantu kamu." Dion meraih kedua tangan Clara lalu menggenggamnya.
"Clara, aku ini pacar kamu jadi sudah seharusnya aku bantu kamu. Aku tuh sayang banget sama kamu, Clara. Aku ingin selalu ada buat kamu, lindungin kamu. Jadi kalau ada masalah kamu cerita sama aku jangan dipendam sendiri. Paham?"
Clara tertawa kecil, sungguh sangat sulit menyembunyikan apapun dari Dion. Lelaki ini pasti akan selalu bisa memaksanya sampai ia mau bercerita.
"Nggak ada masalah apa-apa kok, Dion, masa sih aku bohong sama kamu," Clara masih tetap menyangkal.
"Cla, mata kamu yang nggak bisa bohong."
Clara menarik nafasnya dalam. Serapat apapun ia menyimpan kesedihannya dari orang lain tapi tidak dari Dion. Laki-laki ini terlalu peka.
"Kelihatan banget ya?"
Dion tak menjawab seolah itu sebagai bentuk protes karena Clara tidak mau membagi kesusahannya. Clara menarik nafasnya lagi, beban yang ditanggungnya semakin berat saja. Ingin rasanya ia lari atau musnah saja dari muka bumi ini. Mungkin jika tak ingat dosa ia lebih memilih menenggelamkan dirinya ke laut atau menyayat pergelangan tangannya hingga nadinya terputus.
Melihat Clara diam Dion merogoh kantong celananya. "Nih ..."
"Ini apa?" tanya Clara saat melihat amplop coklat yang Dion angsurkan.
"Kamu lagi butuh uangkan, ambil! Aku ikhlas kok." Tangan Dion masih di depan wajah Clara, Clara menepisnya pelan.
"Nggak usah Dion kamu sudah terlalu baik sama aku. Aku nggak mau terlalu banyak berhutang budi sama kamu."
"Tapi aku ikhlas kok."
"Iya aku tau, tapi aku nggak mau orang beranggapan aku manfaatin kebaikan kamu."
"Tapi aku gak mikir gitu."
__ADS_1
"Dion, jangan memaksaku! Aku bisa kok, cari uang itu sendiri." Clara benar-benar tak ingin merepotkan orang lain lagi.
Dion menarik tangan Clara kemudian meletakkan amplop itu di telapak tangannya.
"Pokoknya kamu ambil atau aku nggak mau ngomong sama kamu lagi!" Dion mengancam lalu membuang wajahnya ke samping, pura-pura ngambek.
"Dih, kok gitu sih?"
"Bodo ...."
Clara tertawa melihat tingkah Dion yang merajuk. "Iya, iya deh aku terima. Tapi aku pinjem ya kalo nggak aku nggak mau."
Dion menoleh cepat dan hendak melayangkan protes tapi Clara buru-buru mendahuluinya.
"Pinjam atau nggak sama sekali." Clara tahu apa yang akan dikatakan laki-laki di sampingnya itu, Dion pasti akan memberikan uang secara cuma-cuma.
"Hah, ya udah deh." Dion pasrah daripada Clara tidak mau menerima bantuannya.
"Apa ...?" tanya Clara saat Dion menunjuk bibirnya sendiri. "Gak!"
"Dih pelit."
"Biarin." Keduanya lalu diam, pandangan mereka lurus ke depan.
"Maaf ya, aku gak bisa kasih apa yang kamu mau. Kamu pasti mau kayak orang pacaran pada umumnya?" Clara beralih menatap Dion pun Dion menatapnya.
Ada debaran aneh yang selalu mereka rasakan kala saling beradu pandang.
Dion menghela dagu Clara untuk menatapnya. "Clara, aku pacaran kamu bukan untuk itu kok. Tapi aku ingin jagain kamu, selalu ada disaat kamu butuh. Aku tulus sama kamu."
Clara tak bisa membendung air matanya, ia merasa ada orang yang begitu peduli padanya. Menjadi sandaran saat ia merasa begitu rapuh. Mungkin suasana yang begitu tenang dan romantis hingga mempengaruhi keduanya. Perlahan Dion mendekati wajah Clara dan Clara tahu apa yang harus ia lakukan. Untuk kali ini dia tidak akan menolak, toh Dion adalah pacarnya. Tidak apa-apa kan sekali-kali ia juga ingin menunjukkan cintanya pada laki-laki itu.
"Ehem, pacaran teroooss."
Teguran seseorang menarik sepasang kekasih itu saling menjauh lalu Dion berdiri.
"A-aku turun dulun ya?" Dion grogi lalu meninggalkan Clara dan temannya.
"Cie yang hampir ..."
Cepat Clara membekap mulut temannya Dinda. "Apaan sih lo, Din, ganggu aja deh?" Wajahnya entah seperti apa sekarang. Hampir saja bibir mereka bertemu andai Dinda tak datang.
Clara meraba bibirnya, sesungguhnya dia juga penasaran. Seperti apa rasanya …
"Astaghfirullah."
"Kenapa, Clara?"
"Hah? Nggak apa-apa. Tapi yuk, turun!"
***
__ADS_1
"Kamu hati-hati ya? Jangan ngebut!" pesan Clara pada Dion setelah turun dari boncengan. Dion mengangguk.
"Ya udah masuk gih ntar ayah kamu marah!"
"Ayah pasti belum pulang jam segini biasanya ayah kalo pulang subuh," sahut Clara jujur. Darma akan pulang dalam keadaan mabuk kemudian langsung tidur hingga sore tiba dan akan pergi lagi setelah lepas maghrib. Begitu setiap harinya yang Darma lakukan.
Terkadang Clara ingin marah tapi percuma. Ayahnya pasti akan memukulnya dan menghinanya sebagai perempuan murahan seperti almarhumah ibunya.
"Kamu pasti capek ya ngadepin ayah kamu?" Dion sangat ingin membawa Clara pergi dari rumah yang seperti neraka itu tapi apa daya ada sesuatu yang Clara belum tahu tentang jati dirinya yang sebenarnya. Mungkin jika dia memberitahu Clara pasti akan marah dan bahkan membencinya.
Clara mencoba tersenyum walau sebenarnya pahit. "Udah biasa. Ya udah buruan kamu pulang! Jangan mampir kemana-mana lagi, awas kalo nggak langsung pulang!"
Dio mengacak-acak rambut Clara. "Iya sayang, aku langsung pulang kok. Bawel banget sih kamu."
Dion sangat gemas jika Clara sedang cerewet padanya, ia anggap itu sebagai bentuk rasa sayang Clara yang jarang gadis itu tunjukan.
"Cepetan masuk gih!"
Clara menurut membalikkan badannya. Namun, baru beberapa langkah Clara memutar tubuhnya lagi.
"Dion tunggu!"
Dion yang hampir mengenakan helmnya urung. "Iya, ada yang ketinggalan?"
"E-nggak papa, kamu hati-hati ya."
Dion mengangguk lalu segera memakai helemnya kemudian meninggalkan rumah Clara setelah memastikan gadis itu masuk ke rumahnya.
Clek
Tiba-tiba lampu menyala dan Darma telah berdiri menatap Clara dengan tatapan nanar persis seekor singa yang bersiap menerkam mangsanya. Clara menelan ludahnya dengan susah payah.
"A--ayah?" Clara tahu apa yang akan Darma lakukan, tubuh Clara menggigil, keringat dingin membanjiri seluruh badannya. Oh, tamatlah riwayatnya malam ini. Clara makin bertambah ketakutan kala Darma mendekatinya.
"Minggir!" Darma mendorong Clara karena menghalangi jalannya. Clara lega karena ternyata pria yang berpakaian lusuh itu hanya mau lewat, tapi dugaan Clara salah, Darma memanggilnya.
"I--iya ayah," Clara menghadap ayahnya dengan tubuh gemetar.
"Sini kamu!" bentak Darma, Clara menurut. Tanpa berkata apa-apa Darma menarik tas yang menyangkut di bahu Clara, Clara panik. Sudah barang pasti Darma akan mengambil uangnya.
"Ayah jangan ambil uang itu, itu untuk bayar kontrakan sama makan kita, ayah!"
Clara berusaha merebut tasnya lagi tapi Darma mendorongnya kuat hingga tubuh Clara membentur tembok.
"Minggir!"
"Aahh … ayah!"
Darma tersenyum puas karena malam ini ia akan berpesta dengan uang itu.
Bersambung
__ADS_1