NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
AKU MENCINTAINYA


__ADS_3

***


Pagi buta Clara sudah uring-uringan, ngedumel tidak jelas. Itu disebabkan karena pagi ini dia mau makan tom yam. Mau cari dimana tom yam jam segini, tom yam biasanya hanya ada di malam hari.


Dan tentu kalau bukan Zidan siapa lagi yang bisa dimintai tolong, laki-laki itu memang bisa diandalkan. Memang Zidan masih muda, tetapi ternyata dia sangat dewasa. Hidup sebatang kara memaksanya untuk dewasa lebih cepat.


Zidan tiba di rumah bu Franda tepat pukul setengah enam pagi, Clara sudah menunggunya di teras dengan tidak sabar. Dia sangat antusias menyambut kedatangan Zidan. Benar-benar seperti seorang istri yang gelisah menunggu suaminya yang tak kunjung pulang.


Bu Fanda membantu menyiapkan makanan lalu menatanya di meja, setelah siap memanggil Clara dan Zidan yang sedang mengobrol di ruang tamu. Clara makan dengan sangat lahap.


"Oh iya, Nak Zidan, bagaimana Nak Zidan bisa mendapatkan tom yam di pagi buta begini?" Bu Franda bertanya karena heran mengapa Zidan begitu cepat mendapatkan apa yang Clara mau.


Zidan tersenyum. "Gampang, bu. Tadi saya hanya buat status di instagram kalau saya sedang ingin makan tom yam. Langsung followers saya pada rekomen tempatnya."


Bu Franda mengangguk paham. Ya tentu saja bagi seorang bloggers dengan ratusan ribu pengikut tentu sangat mudah mendapatkan apapun mereka akan dengan senang hati memberitahunya.


Sarapan pagi berlangsung hangat dengan diiringi canda tawa dari ketiganya. Benar-benar seperti keluarga bahagia. Clara tertawa lepas seperti lupa akan dukanya, kehadiran Zidan sedikit banyak mengurangi sakit hatinya pada Yuan.


Hari demi hari Zidan masih sering datang membawakan apa yang Clara mau, dan itu membuat bu Franda bertanya-tanya apakah laki-laki muda itu mencintai Clara? Karena tidak mungkin Zidan begitu perhatian pada Clara jika tidak ada perasaan di dalam hatinya.


"Nak Zidan, boleh ibu tanya sesuatu sama, Nak Zidan?" tanya bu Franda setelah memastikan Clara masuk ke kamarnya untuk mengganti bajunya.


Hari ini Zidan sengaja datang untuk mengajak Clara ke taman, meski awalnya menolak tapi setelah dipaksa bu Franda akhirnya Clara mengiyakan.


"Iya, bu, ada apa ya?" Jantung Zidan berdebar-debar, apakah dirinya berbuat salah? Mengapa wanita keibuan di depannya menatapnya dengan tatapan seperti menghakimi?


"Nak Zidan mencintai Clara?"


"Uhuukk, ap-apa, bu? Kenapa ibu berpikir begitu?" Bu Franda tak menjawab, hanya menatapnya.


"Clara cuma menganggap saya teman, tidak lebih."


'Tapi aku tidak. Aku sangat mencintainya meski Clara hanya menganggapku teman tapi aku tetap mencintainya. Selalu ada di dekatnya saja aku sudah bahagia' sambung Zidan dalam hati.


"Itu artinya, Nak Zidan mencintainya kan?"


Zidan mengangguk perlahan. "Sangat, bahkan sangat mencintainya. Saya akan bahagia bila Clara bahagia begitupun sebaliknya. Saya akan sangat sedih bila melihat Clara sedih seperti kemarin-kemarin."


Mungkin dirinya terlalu bucin atau apa yang jelas dia akan melakukan apapun agar Clara selalu tersenyum.


"Lalu kenapa tidak diungkapkan pada Clara?"


"Saya takut akan merusak persahabatan kami, saya juga takut Clara akan membenci dan menjauhi saya jika dia tahu saya mencintainya."


"Kalau dia menerima, apa yang akan, Nak Zidan lakukan?"


Zidan mengangkat wajahnya, menatap bu Franda yang seolah memberinya sinyal hijau untuk maju.


"Saya akan menikahi Clara, bu," ucapnya dengan mantap.


"Meskipun Clara sedang hamil?"

__ADS_1


Zidan mengangguk. "Iya, saya akan tetap menikahinya meski dia sedang hamil bukan anak saya. Saya akan menganggapnya seperti anak saya sendiri, bu."


Bu Franda menatap ke dalam mata elang Zidan, mencari kesungguhan di sana.


"Kalau begitu ibu merestuimu. Beri Clara kebahagiaan dan jangan sakiti dia."


Zidan mengangguk. "Pasti, bu. Saya akan membuatnya bahagia."


Tak berapa lama Clara muncul dari dalam dengan sudah berpakaian rapi, tas selempang kecil tersampir di bahunya.


"Sudah siap?" Tanya Zidan sambil berdiri.


Clara mengangguk lalu menoleh bu Franda. "Ibu yakin tidak mau ikut?" Sebenarnya Clara sangat berharap bu Franda ikut bersama mereka, Clara seperti enggan berjauhan dengan wanita itu.


Bu Franda tersenyum. "Kalian saja yang pergi, ibu jaga rumah. Lagipula ibu tidak mau mengganggu acara kencan kalian." Diliriknya Zidan yang langsung salah tingkah.


"Apa sih, bu, siapa juga yang mau kencan. Wong kita cuma teman. Iya kan Zi?" Disenggolnya lengan Zidan, laki-laki itu tersenyum kaku.


"I-iya, bu, kita cuma teman. Lagipula Clara mana mungkin suka sama saya."


Bu Franda melihat raut sedih dan kecewa di wajah tampan Zidan. 


'Kasihan sekali, memendam cinta secara diam-diam sangat menyiksa tentunya. Semoga Clara mau membuka hatinya untuk Zidan' batin bu Franda, Dia berharap Clara akan akan segera menyadari bahwa ada laki-laki yang begitu mencintainya di dekatnya.


***


Mereka tiba di taman, Zidan mengajak Clara duduk di dekat danau bersebelahan. 


Tadi di dekat parkiran Zidan melihat penjual balon udara dan rambut neneh, dia ingat Clara menyukai keduanya jadi dia akan kesana untuk membelinya. 


Sebenarnya ada penjual bunga juga, tapi Clara tidak suka bunga. Clara memang beda dari kebanyakan perempuan, jika perempuan lain pasti akan senang mendapat bunga dari orang lain terlebih dari seorang laki-laki, tapi Clara tidak. Mungkin karena dia santai dan cuek, tapi dari zaman putih abu-abu gadis itu memang sudah seperti itu.


"Buat ponakannya ya, Mas?" tanya penjual balon pada Zidan saat mengambilkan balon yang Zidan pilih.


"Bukan, Pak, tapi buat teman saya." Zidan menerima balon itu lalu memberikan uang berwarna merah pada lelaki paruh baya itu.


"Wah, belum ada kembaliannya, Mas. Mas bawa saja dulu nanti kalau sudah ada uang kecil, Mas, balik lagi kesini."


"Eh, nggak usak, Pak, ambil saja kembaliannya. Anggap saja itu sedekah dari saya."


"Subhanallah, makasih banyak, Mas, semoga keinginan, Mas, terkabul."


"Aamiin."


Dalam hati Zidan berdoa jika keinginannya hanya ingin hidup bersama Clara sebagai pasangan selamanya.


Selain balon Zidan juga membeli arum manis atau yang lebih terkenal dengan rambut nenek.


Dengan langkah yakin Zidan menemui Clara kembali.


"Clara pasti senang, dari dulu kan dia suka banget arum manis sama balon karakter." Sepanjang jalan Zidan senyum-senyum sendiri, dia tidak peduli dengan tatapan orang yang melihatnya dengan pandangan aneh.

__ADS_1


Mungkin dalam benak mereka berpikir jika dirinya gila karena senyum-senyum sendiri. Ya, dirinya memang gila. Gila karena terlalu mencintai Clara meski gadis itu sedang hamil anak orang.


Langkahnya tiba-tiba terhenti melihat pemandangan di depan sana. Clara sedang dipeluk seorang laki-laki dengan paksa.


"Lepas, aku benci sama kamu!" Clara memukul-mukul punggung laki-laki yang memeluknya.


"Aku nggak akan lepasin kamu. Aku cinta sama kamu, Clara. Aku akan bertanggung jawab." Pria itu makin erat memeluk meski Clara memberontak dengan memukul dan mencakar punggungnya.


Tapi pria itu seolah tak merasakan sakit. Cakaran Clara tak sebanding dengan sakit yang ia berikan kepada gadis itu.


"Bohong! Kakak bohong. Aku benci kakak. Lepaskan aku!"


"Lepaskan dia!" Teriakan Zidan berhasil membuat pelukan Yuan melemah, dan kesempatan itu dimanfaatkan Clara untuk melepaskan diri dan berlari menuju Zidan, berlindung di balik punggungnya yang lebar.


"Kamu nggak apa-apa?" Zidan sangat khawatir terjadi sesuatu pada Clara.


Clara menggeleng sambil terisak. "Aku nggak papa, Zi." Clara mencengkeram lengan Zidan kuat seolah meminta perlindungan.


"Aku takut, Zi."


"Sudah jangan takut, kan ada aku." Zidan mengalihkan pandangannya ke arah pria tadi.


Yuan memutar badannya menghadap Zidan.


"Kamu …?" Zidan seperti tak percaya dengan penglihatannya. Otaknya langsung berpikir keras. 


Tadi Yuan mengatakan akan bertanggung jawab, jika demikian laki-laki yang sudah menghancurkan masa depan Clara adalan Yuan, kekasih Adelia-sahabat mereka.


"Ck, kamu lagi. Aku nggak ada urusan sama kamu. Berikan Clara padaku!!" Yuan mengatakannya dengan sinis dan sorot mata tajam ke arah Zidan.


"Nggak akan. Kamu telah melukainya. Sebaiknya jauhi Clara dan jangan ganggu hidupnya lagi!"


Yuan tertawa mendengar ucapan Zidan yang mau jadi pahlawan kesiangan buat Clara.


"Kamu siapanya Clara berani ngatur-ngatur dia?"


"Aku temannya."  


'Teman yang mencintai diam-diam' sambung Zidan dalam hati.


"Hahaha …" Yuan tertawa lagi dan lebih keras. "Teman? Jadi hanya teman?"


Zidan tak menjawab, dia menggenggam tangan Clara erat seolah takut gadis itu dirampas Yuan.


"Kamu mencintai Clara kan?" sambung Yuan masih menatap Zidan penuh permusuhan.


Zidan diam sejenak, menarik nafas dalam. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya pada Clara meski situasinya tidak romantis.


"Iya, aku mencinta Clara dan akan menikahinya. Ada masalah?"


Deg ….

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2