
***
Pagi ini Clara terbangun dan merasakan badannya sangat lemas seperti tak bertenaga. Kepalanya pun berdenyut-denyut dan rasanya seperti sekelilingnya berputar-putar.
Clara mencoba untuk bangkit dari tempat tidur, tetapi kepalanya terasa berat seperti ada yang membebaninya. Ia kembali memejamkan matanya barangkali sakit kepalanya akan hilang.
"Clara, apa kamu masih tidur?" Terdengar Darma memanggilnya di depan pintu kamarnya.
Dipaksanya tubuhnya beranjak dari tempat tidur lalu membuka pintu kamarnya.
"Kamu kenapa? Sakit?" Raut cemas jelas tergambar di wajah Darma begitu melihat putrinya seperti tak baik.
Clara menggeleng. "Cuma nggak enak badan sedikit."
"Mau ayah antar ke dokter?" Darma khawatir Clara sakit setelah ia berangkat kerja.
Clara menggeleng lagi.
"Kalau begitu kamu jangan pergi kuliah hari ini, di rumah saja! Ayah akan membelikan kamu sarapan. Kamu istirahatlah!"
Clara hanya mengangguk lalu kembali menutup pintu kamarnya setelah ayahnya pergi. Entah ada apa dengan tubuhnya hari ini karena tidak biasanya dirinya sakit seperti ini.
Clara melihat kalender yang tergeletak di atas meja belajarnya. Jika dihitung seharusnya haid nya sudah datang. Perasaannya mulai didera rasa was-was, ia khawatir noda merah yang Yuan tanam di tubuhnya akan bertunas.
Masa depannya sudah hancur dan haruskah ia menanggung aib karena ketidak sengajaan itu? Jika mengingat itu Clara menjadi manusia paling bodoh yang dibutalkan oleh cinta.
"Kak Yuan," di elukanya nama itu bersamaan dengan jatuhnya dua kristal membasahi pipinya.
Sakit rasanya orang yang kita beri seluruh jiwa raga yang kita pikir juga mencintai kita hanya menganggap kita sebagai budak nafsu. Lalu apa ia salah karena jatuh cinta?
Darma pulang dan memaksa Clara makan lalu meminum obat penurun demam setelah itu ia pergi ke tempat kerjanya.
Setelah makan dan minum obat, Clara merasa lebih baik jadi dia memutuskan untuk pergi ke kampus.
"Cla, kok muka lo pucat. Elo sakit?" Tanya Adelia menoleh sekilas ke samping lalu kembali fokus menyetir.
Clara menggeleng. "Gue nggak apa-apa cuma lemas dan sedikit nggak enak badan tapi tadi sudah minum obat sih." Clara tidak mau membuat Adelia khawatir kepadanya.
"Beneran lo gak papa, tapi muka elo pucat gitu loh kalo elo sakit gue antar ke dokter yah?"
"Gue nggak apa Adel. Gue cuma demam biasa bentar lagi juga sembuh. Lo gak usah khawatir, gue gak apa-apa kok."
Beneran?"
Clara mengangguk. "Iya."
Adelia akhirnya menyerah, percuma juga berdebat dengan Clara, sahabatnya itu memang keras kepala. Dan tidak mau menyusahkan orang lain.
__ADS_1
***
Saat di kelas Clara kembali merasakan pusing, kepalanya nyut-nyutan seperti mau pecah. Clara memijit pelipisnya untuk meredakan pusingnya.
"Clara elo kenapa? Elo sakit?" Desi yang tempat duduknya paling dekat dengannya panik melihat Clara seperti kesakitan.
"Kepala gue pusing, perut gue juga mual, rasanya mau muntah." Clara merasakan perutnya seperti bergejolak dan hendak mentah.
"Emang tadi pagi elo makan apa?" Desi membantu memijit tengkuk Clara.
"Gue cuma makan nasi dikit sama minum obat. Mungkin mag karena
sering telat makan," terang Clara terus memijit pelipisnya.
Desi membantu memijit tengkuknya.
"Elo sih, udah tahu kerjanya malem seharusnya elo bisa jaga kesehatan elo supaya tetap fit. Lagian gue heran kenapa elu nggak cari kerja yang siang ."
Clara tak menanggapi omongan Desi, denyut di kepalanya begitu sangat menyiksa. Belum lagi perutnya yang terasa mual.
"Desi ada apa?" tanya sangg dosen yang melihat.
"Clara sakit, Pak."
Dosen itu menghampiri Clara, menanyakan keadaan Clara lalu memutuskan mengajaknya ke ruang UKS.
"Adelia tolong gantikan saya. Saya mau antar Clara ke ruang UKS!"
Di luar Clara dan dosennya bertemu dengan bu Franda yang baru keluar dari ruangannya.
"Loh, Clara kenapa, Pak?" Bu Franda ikut cemas terlebih setelah tahu Clara adalah anak Harnum dan Darma sahabatnya.
"Nggak tahu bu, katanya kepalanya pusing. Saya mau bawa dia ke ruang UKS."
"Ya sudah biar saya saja, Pak."
"Beneran?"
"Iya nggak apa. Bapak kembali saja mengajar!"
"Baik kalo begitu, terima kasih bu Franda."
Bu Franda mengangguk lalu memapah Clara menuju ruang UKS.
Di sana Clara diperiksa oleh seorang dokter muda.
"Jadi Clara sakit apa, dok?" tanya bu Franda usai Clara diperiksa.
__ADS_1
Ada raut cemas dan bingung di wajah dokter muda yang duduk di depan Clara dan bu Franda.
"Ini baru dugaan, tapi sebaiknya Clara dibawa ke dokter spesialis untuk lebih jelasnya," terangnya.
"Dokter sepesialis? Memangnya saya sakit apa, dok? Apa sakit saya parah?" Clara mulai memikirkan beberapa kemungkinan penyakit yang mungkin saja dideritanya karena selain sering telat makan ia juga kurangnya beristirahat yang menyebabkan gampangnya penyakit menyerangnya.
Dokter bername tag Dr. Fahri tersenyum.
"Kamu ngak sakit bahkan sangat sehat. Cuma …" dokter Fadli ragu untuk mengatakan hasil pemeriksaannya.
"Cuma apa dok? Cepat katakan!" Clara mulai emosi karena dokter Fadli bertele-tela, Clara lupa untuk bersikap sopan pada orang laain.
"Clara …" bu Fida memegang bahu Clara agar gadis itu tenang.
"Ma-maafkan saya, dok?" Clara menunduk menyesali sikapnya tadi.
"Tidak apa, ini sering terjadi pada wanita yang sedang hamil muda. Hormonnya tidak stabil."
Clara mengangkat wajahnya cepat.
"Apa dok? Hamil? Saya hamil?" Clara begitu syok dan tak percaya, begitu juga dengan bu Franda.
Wanita itu bertanya-tanya dengan siapa Clara hamil? Dengan Zidan kah? Tapi rasanya tidak mungkin. Mereka anak baik, tidak mungkin berpacaran sampai melewati batas? Tapi Clara hamil, dengan siapa dia berbuat?
"Ini baru dugaan saya. Sebaiknya bu Franda bawa Clara ke dokter spesialis kandungan agar lebih jelas."
"Baik dok, kalau begitu kami permisi. Ayo Clara!"
Dengan masih di papah, bu Clara membawa Clara ke bidan terdekat. Dan seperti kata dokter Fadli, setelah di periksa Clara memang hamil 1 minggu. Meski sudah menduganya tetap saja berita itu membuat darah Clara berdesir.
Bu Franda membawa Clara pulang, selama dalam perjalanan keduanya sama-sama diam. Clara sendiri lebih banyak menangis tanpa suara hingga mereka tiba di rumah Clara pun masih saja menangis.
Bu Franda membantu Clara beristirahat di kamarnya sementara ia pergi ke dapur untuk membuatkan susu untuk Clara. Setelah jadi ia kembali ke kamar dan memaksa Clara minum susu.
Wanita itu begitu telaten merawat Clara seperti anaknya sendiri. Dibelainya rambut Clara dengan penuh kasih sayang.
"Clara, boleh ibu tahu siapa yang melakukan ini pada, Clara? Apa Zidan yang melakukannya?" tanyanya dengan suara selembut mungkin, ia tahu Clara masih syok. Tapi jika dibiarkan pelakunya akan senang karena terbebas dari tanggung jawab.
Air mata Clara kian mengalir deras, jangankan untuk menyebut namanya. Mengingat laki-laki itu saja Clara benci.
"Ibu tahu kamu anak baik, jadi tidak mungin kamu melakukkannya dengan sengaja kan?"
"Clara benci laki-laki itu, bu. Clara benci. Dia melakukannya karena menganggap Clara perempuan murahan."
"Astaghfirullahaladzim. Siapa laki-laki kurang ajar itu?" Bu Frida begitu geram, ia bersumpah akan membalas penghinaan laki-laki yang sudah menginjak-injak harga diri anak sahabatnya, dia sangat menyayangi Clara.
"Namanya Yuan, dia pacar Adelia."
__ADS_1
"Apa?"
Bersambung