
***
"Selamat siang semuanya?" Dosen pembimbing mengakhiri jam pelajarannya hari ini setelah melirik beenda yang melingkar di pergelangan tangannya, meraup tumpukan buku di mejanya lalu berdiri.
"Selamat siang, bu," serempak.
Sepeninggal Dosen bernama Franda itu Adelia menghampiri Clara yang duduk 3 bangku di belakangnya.
"Cla, ngemol yuk!"
Clara yang masih membaca buku mengangkat wajahnya. "Maaf Del, nggak bisa gue mesti belajar karena nanti malam gue mau lembur kerja. Di kafe ada yang nyewa buat acara ulang tahun," sahutnya lalu kembali melanjutkan bacanya.
Adelia manyun. "Yah nggak bisa ya padahal gue lagi pingin jalan-jalan."
Clara jadi tidak enak hati, tapi mau bagaimana lagi? Ia harus belajar sekarang karena nanti sore dirinya harus harus kerja sampai larut malam meski dirinya juga ingin pergi seperti teman-temannya yang lain. Ngemol, liburan kemana yang ia mau tapi hidupnya tak memberinya waktu untuk bersenang-senang.
Hidupnya harus diisi kuliah, kerja, buka warung, dan melayani ayahnya yang pemabuk itu. Sebagai seorang gadis yang masih remaja Clara pun menginginkan kebebasan tapi ia sadar jalan hidupnya tidaklah seperti teman-temannya.
Clara menatap sahabatnya dengan perasaan tak enak. "Maaf ya, Del. Lain kali mungkin bisa kalo aku dapat libur."
"Kapan lo libur? Lo sibuk nyari duit mulu, nggak capek apa?" Niat Adelia hanya bercanda tapi ucapan itu membuat Clara sedikit tersinggung.
"Iya gue emang gila kerja, gue gila uang. Lo mah enak anak orang kaya mau apa-apa tinggal nadahin tangan ke ortu. Nggak kaya gue yang kalo nggak kerja nggak akan bisa makan!"
Usai berkata demikian Clara mengemasi bukunya lalu meninggalkan Adelia yang terdiam mematung di tempatnya.
"Clara kenapa sih kok aneh gitu biasanya dia juga nggak marah kayak gitu? Apa dia tersinggung sama ucapan gue?" Adelia mulai diliputi perasaan bersalah kerena telah berkata yang mungkin menyinggung perasaan sahabatnya.
Lagi pula biasanya Clara takkan marah seberapa pun kasar ucapannya saat bercanda Clara selalu menanggapinya dengan bercanda juga. Tapi hari ini Clara beda, gadis itu tersinggung dan marah padanya.
"Clara tunggu maafin gue!"
Adelia berdiri lalu mengejar Clara, tapi gadis itu sudah tak terlihat batang hidungnya. Adelia terus mencari bertanya pada teman yang dijumpainya.
__ADS_1
"Nggak, gue nggak lihat. Kalian lihat nggak?" jawab salah satu dari segerombol mahasiswi yang sedang berkumpul.
"Nggak, kita nggak lihat Clara? Ada apa emang?"
"Bukannya biasanya kalian kayak lem ya, nempel terus?"
Adelia menanggapinya dengan senyum. "Ya udah, makasih ya?" Diayunkannya kembali langkahnya mencari Clara.
"Eh Del, lo lagi nyari Clara ya?" tanya salah seorang temannya yang melihat Adelia celingukan kesana kemari.
"Eh, iya, Des. Lo lihat Clara nggak?" Gadis bernama Desi itu mengangguk lalu memberitahu jika Clara sedang berada di perpus. Adelia segera pergi kesana setelah mengucapkan terima kasih.
Tiba di perpus ia melihat Clara sedang membaca buku, Adelia mendekat lalu duduk di depan Clara berseberangan dengan meja. Mengamati Clara yang masih menekuri bukunya.
"Cla," panggilnya lirih, gadis itu mendongak sekilas lalu menunduk kembali tanpa bicara sepatah kata pun. Tentu saja itu membuat Adelia sedih. Hampir 15 tahun mereka sahabatan baru kali ini Clara bersikap begitu padanya.
"Cla lo marah sama gue ya, gue minta maaf. Gue gak ada maksud nyinggung perasaan elo, gue cuma ..." Air matanya mulai tumpah, bagaimana pun Adelia tidak ingin kehilangan persahabatan mereka yang sudah terjalin lama, bahkan melebihi saudara kandung.
Tiba-tiba ...
"Jiaaa kena prank," kata Clara sambil menunjuk wajah sahabatnya yang sangat lucu menurutnya. Karuan saja itu membuat Adelia kesal karena ternyata dia sedang dikerjai.
"Iiihh … Claraaaaa, lo jahat banget sih sama gue?" kata Adelia dengan nada manja sambil menghapus jejak di pipinya. Clara hanya tertawa puas karena telah berhasil mengerjai Adelia.
"Ssttt … jangan berisik ini perpus! Kalau mau berisik sana keluar!" tegur penjaga perpustakaan yang berwajah garang. Kedua gadis itu lalu keluar dan melanjutkan tawanya setelah jauh dari perpustakaan.
"Lo sih jadi diomelin kan?" sungut Clara, niatnya datang ke kampus untuk belajar malah diusir.
"Lah kok gue, elo lah. Lo ngerjain gue sampe gue nangis-nangis. Puas lo sekarang?"
"Banget."
Clara lalu merangkul sahabatnya dan meminta maaf. "Pulang yuk!"
__ADS_1
"Yuk."
Tiba di parkiran langkah Clara tiba-tiba terhenti, pandangannya lurus ke depan. Tak jauh dari mereka Yuan sedang berdiri menyandar pada mobilnya, kedua tangan dilipat di dada, tak lupa kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung.
Benar-benar terlihat sangat keren, apalagi dengan kemeja warna biru yang digulung hingga siku dan dasi yang disampirkan di pundak. Clara sampai membeku dibuatnya.
'Dia benar-benar sangat tampan dan keren. Beruntung sekali Adelia diajak ngedate sama kak Yuan.' batin Clara mengagumi pria itu, tapi sejurus kemudian Clara teringat Dion.
'Astaga Clara apa yang lo pikirin hah? Bisa-bisanya lo mikirin cowok lain? Ingat Dion, lo udah punya Dion! Dion juga tampan dan terpenting Dion itu baik dan cinta sama elo!'
Tanpa Clara sadari Adelia sudah ada di dekat Yuan. Adelia terlihat sangat manja di depan pria itu.
"Kak Yuan kenapa kesini mau ketemu aku ya?" tanya Adelia malu-malu. Namun, kedua matanya terus menatap Yuan penuh kekaguman.
Yuan tersenyum. "Aku cuma mau ngingetin kamu nanti malam jangan lupa! Takutnya kamu lupa lagi?" Kata-kata itu memang untuk Adelia, tapi kedua mata tertuju pada Clara. Gadis itu salah tingkah lalu memalingkan wajahnya, jantungnya mulai berdebar-debar.
"Adel ingat kok kak. Memangnya kita mau makan dimana sih?"
Kalimat itu mengalihkan pandangan Yuan dari Clara. "Rumah, maksudku makan malam di rumahku. Ada acara keluarga di rumah."
"Kak Yuan mau kenalin aku sama keluarga kak Yuan?" Adelia rasa seperti tak percaya, mereka belum resmi berpacaran tapi tiba-tiba laki-laki itu akan mengenalkannya pada keluarganya?
"Huum, kamu mau kan … Adelia?" Sekali lagi mata itu tertuju pada Clara tapi Clara bergeming, ia masih membuang wajahnya ke samping. Tidak ada yang tahu jika kini Clara sedang menyimpan rasa cemburunya.
Andai dirinya yang mendapat ajakan seperti itu? Alangkah bahagianya kini. Siapa juga yang bakal menolak laki-laki sempurna seperti Yuan. Gila saja jika sampai menolaknya.
'Astaghfirullah Clara! Yuan lagi, Yuan lagi! Otak lo kenapa sih pikirannya hanya Yuan isinya?' sekali lagi Clara menegaskan bahwa dirinya sudah memiliki Dion, hanya Dion saja.
Tak lama berselang Yuan berpamit karena harus kembali ke kantornya. Sepertinya dia memang sengaja datang ke kampus hanya untuk melihat reaksi Clara karena mengajak sahabatnya kencan. Dan Yuan berhasil membuat hati Clara kalang kabut dibuatnya.
"Pulang yuk!" ajak Clara yang di angguki Adelia.
Bersambung
__ADS_1