
***
Seperti biasa Adelia menghampiri sahabatnya setelah dosen yang mengajar hari ini meninggalkan ruang kelas. Adelia menunggu Clara yang masih belum selesai membaca.
Entahlah, Adelia heran mengapa sahabatnya itu suka sekali membaca. Tidak seperti dirinya yang paling malas membaca.
Sambil menunggu Clara Adelia mengobrol dengan teman yang kebetulan belum pulang.
Clara sesekali melirik sahabatnya, ia tahu Adelia pasti sedang menunggunya. Clara menutup bukunya lalu menyimpannya di tas.
"Yuk!" Clara berdiri mengajak sahabatnya.
"Udah?" tanya Adelia.
"Udah." Clara mengangguk. "Duluan ya, Des?"
"Iya, aku masih mau disini," sahut gadis bernama Desi.
Sambil bergandengan kedua gadis itu berjalan menuju parkiran parkiran mobil sambil bersenda gurau. Namun, tiba disana mereka melihat orang sedang berkerumun entah mengerumuni apa.
"Itu mereka ngapain ya, Cla?"
Clara tak menjawab, hanya mengamati saja.
"Kesana yuk!" Adelia menarik tangan Clara yang mau tidak mau gadis itu hanya menurut.
"Permisi …"
Seperti dikomando kerumunan itu langsung memberi akses, menyingkir memberi peluang kedua gadis itu.
Baik Clara maupun Adelia sama-sama tercengang. Mereka melihat Yuan sedang berdiri menyandar pada sisi mobil, penampilannya sangat rapih dan sangat keren.
Tanpa sadar mulut Adelia setengah terbuka, kedua matanya melebar sempurna. Berbeda dengan Clara yang tak bereaksi lebih, ia hanya menatap Yuan yang sepertinya juga menatapnya dengan pandangan menikam.
Yuan mendekati kedua gadis itu, tapi hanya menuju Adelia. Tampak sebelah tangannya tersembunyi ke belakang punggungnya.
"Hai, mau pulang?" Pandangan Yuan tertuju pada Adelia saja, tak menghiraukan Clara seolah tak melihatnya.
"Hai. I-iya, kami mau pulang." Adelia gugup dan salah tingkah. "Kak Yuan … sedang apa disini?"
Adelia tak bisa menahan debar jantungnya yang semakin kencang. Mungkin Yuan mendengarnya karena bunyinya sangat keras.
"Mencarimu," sahut Yuan melirik Clara. Gadis itu membuang wajahnya.
"Mencari aku? Ada apa?" Jantung Adelia makin berdetak kencang.
Tiba-tiba Yuan membuka kaca mata hitamnya lalu berlutut di depan Adelia sambil mengangsurkan bunga yang sedari tadi disembunyikannya. Adelia yang kaget mundur selangkah.
"Mau jadi pacarku?" Yuan berkata tanpa memalingkan wajahnya dari Adelia.
"A-apa? Pa--pacar?" Adelia gagap, ia tak percaya Yuan menembaknya di depan teman-teman di kampus.
__ADS_1
Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Yuan mengajaknya berpacaran tanpa menyatakan cinta terlebih dahulu, tetapi kemudian ia berpikir mungkin itu cara laki-laki itu mengungkapkan perasaannya.
"Iya. Kamu mau kan jadi pacar aku?"
Adelia menoleh Clara yang tak bereaksi apa-apa. Clara hanya diam membeku.
"Ta-tapi, kak …"
"Kalau tidak mau ya sudah." Yuan hendak berdiri, tetapi dengan cepat Adelia merebut bunga di tangannya.
"Mau kak. Aku mau jadi pacar kak Yuan." Adelia malu sendiri karena sepertinya ia terlihat sangat bersemangat.
Yuan tersenyum lalu berdiri, meraih tangan Adelia kemudian mengecup nya. Pipi Adelia merona, tampak sekali ia sedang sangat bahagia sekarang.
"Aaaaaa … so sweet." Teman-temannya bersorak iri.
"Beruntung banget sih Adelia. Udah cantik, kaya, pintar, di tembak cowok keren lagi. Gue juga mau kali di tembakan cowok yang kayak gitu."
"Bukan cuma elo gue juga mau kali. Kapan ya ada cowok kayak gitu nembak gue." Sambil membayangkan ada cowok seperti Yuan menyatakan cinta kepadanya.
"Mimpi aja lo sana!" Menoyor kepala temannya.
Sementara diam-diam Clara mundur lalu meninggalkan parkiran dengan dada yang teramat sesak. Clara berlari menuju kamar mandi lalu menangis.
"Kenapa aku seperti ini?"
Clara memukuli dadanya sendiri, berharap rasa sakit itu hilang dan keluar dari sana. Clara tidak pernah menyangka jika Yuan akan mengajak Adelia berpacaran di depannya.
Seharusnya ia senang tapi mengapa dadanya justru teramat sangat sakit. Benarkah ia cemburu? Benarkah ia jatuh cinta pada laki-laki itu? Lalu perasaannya pada Dion selama ini apa?
***
"Clara kopi!"
Terdengar Darma berteriak, mungkin baru saja bangun. Clara tak menjawab. Ia lalu menyeduh kopi untuk ayahnya, setelah jadi ia bawa dan menyimpannya di meja dekat ayahnya.
"Clara ayah minta uang!"
Kalimat itu berhasil menghentikan langkah Clara.
"Iya sebentar." Clara masuk ke kamarnya kemudian kembali.
"Segini cukup kan?"
Darma menerima uang dari Clara dengan senyum puas. Clara kembali ke dalam kamarnya dan bersiap-siap pergi ke tempat kerjanya.
Saat keluar ia mendapati ayahnya sedang makan.
"Ayah, Clara berangkat kerja dulu." Clara meraih tangan ayahnya lalu menempelkannya di kening.
"Tidak makan dulu?"
__ADS_1
"Nanti saja di tempat kerja. Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam, hati-hati!"
"Iya …."
"Kenapa anak itu, aneh sekali? Tidak biasanya Clara begitu?"
Darma merasa heran dengan putrinya, sikap Clara yang akhir-akhir ini menjadi lebih pendiam sedikit membuat hati Darma risau. Darma merasa ada sesuatu yang putrinya sembunyikan.
"Ah, bodo amat. Yang penting aku bisa mabuk malam ini. Hidup mabuk."
***
Di tempat kerja pun Clara tak banyak bicara, ia memilih menyibukkan dirinya melayani tamu yang berdatangan tanpa henti.
Kedatangan Zidan waktu itu membawa dampak positif pada kafe itu. Anak-anak muda berbondong-bondong datang sambil berharap idola mereka datang kembali ke sana.
"Clara," panggil Dion saat Clara sedang beristirahat di tempat biasa yaitu di atas gedung.
Clara menoleh sumber suara lalu berdiri hendak meninggalkan Dion, tetapi Dion menahannya dengan mencekal pergelangan tangan Clara.
"Lepasin aku mau shalat!" ucap Clara tanpa melihat Dion.
"Clara kamu kenapa sih? Ada masalah? Kalau iya cerita sama aku jangan buat aku bingung!" Dion berusaha tenang meski emosi di dadanya berdentum-dentum hendak keluar, ia kesal pada Clara karena sedari tadi terus menghindarinya.
Clara tak lantas menjawab, ia sedang mencari alasan untuk menjawab Dion.
Dion memutar tubuh Clara menghadapnya.
"Kamu butuh uang?"
Clara menggeleng.
"Kamu marah sama aku?"
Clara kembali menggeleng.
"Terus kenapa kamu menghindar dari aku?" Dion mulai tak sabar menghadapi Clara, Dion merasa ada sesuatu yang membuat kekasihnya itu berubah.
Tapi apa? Apa Clara masih marah padanya karena waktu itu ia yang tak bisa mengontrol emosinya yang cemburu melihat kedekatannya dengan Zidan?
Bermacam pikiran memenuhi otak laki-laki berpostur tinggi itu.
"Aku cuma sedang capek Dion. Aku sedang tidak ingin diganggu, mengertilah." Clara berusaha melepaskan tangannya, tetapi Dion justru semakin erat menggenggam.
"Sekarang lepaskan tanganku Dion aku mau shalat!"
"Katakan dulu kenapa kamu menghindariku Clara?" Dion masih tak puas dengan jawaban Clara. Dion merasa jika Clara tak jujur padanya.
"Sudah aku katakan aku cuma sedang ingin sendiri. Mengertilah, Dion!" Clara melepaskan tangan Dion lalu pergi.
__ADS_1
"Kalau kamu terus begini mending kita putus aja."
Bersambung