
***
Di kampus Clara dihampiri temannya dan mengajaknya ke kantin, tapi Clara tidak mau dan hanya menitip untuk membelikan makanan kecil untuknya.
Bu Franda yang kebetulan belum keluar dari ruangan itu memperhatikan Clara secara diam-diam. Ia merasa mahasiswinya yang paling pintar dan paling pendiam di kelas seperti tengah bersedih.
Apakah Clara sedih karena memikirkan Adelia yang tengah sakit? Ia tahu kedua gadis itu sudah seperti saudara dan selalu kompak, kemana-mana selalu berdua jadi wajar saja jika Clara sedih. Pikirnya.
Ia lalu berdiri, mengayunkan langkahnya mendekati Clara, duduk di depan gadis yang sedang fokus dengan bukunya, tapi sepertinya Clara tidak sadar karena ternyata dia bukan sedang membaca, tapi melamun.
"Clara," panggilnya, tetapi gadis di depannya tak merespon, Clara masih setia menunduk.
"Clara," panggilnya sekali lagi, akan tetapi Clara masih tak mendengarnya. Akhirnya Bu Franda berinisiatif memegang lengan Clara sambil memanggilnya.
Clara terperanjat lalu mendongak. "Hah? Bu-bu Franda, ada apa ya, Bu? Apa ibu perlu bantuan saya?"
Clara tidak sadar jika sedari tadi bu Franda sudah mengamatinya.
Perempuan berusia 37 tahun, tapi masih terlihat cantik dan awet muda itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tapi kamu yang sepertinya butuh bantuan ibu."
Clara mengernyit, tidak paham dengan ucapan dosen yang ramah itu.
"S-saya bu?" Clara menunjuk dirinya sendiri, wanita itu mengangguk. "Memangnya saya kenapa, bu?"
Clara benar-benar bingung dengan bu Franda yang tiba-tiba jadi perhatian kepadanya, padahal sebelumnya perempuan itu bersikap biasa saja.
"Saya juga tidak tahu tapi sepertinya kamu sedang sedih atau ada masalah yang berat? Kalau tidak keberatan kamu bisa cerita sama saya, barangkali kamu membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita kamu. Dan saya tidak keberatan kalau kamu mau cerita. Saya siap mendengarnya."
Clara terdiam, ia begitu terharu karena ternyata ada orang yang peduli kepadanya. Clara memang sedang membutuhkan seseorang untuk membagi kesedihannya sekarang. Karena untuk bercerita pada Adelia itu jelas tidak mungkin, ia tidak mau merusak kebahagiaan sahabatnya.
Clara menunduk, air matanya perlahan mengalir hingga jatuh menimpa buku di bawahnya.
"Saya bingung harus memulainya dari mana, bu? Bagi saya ini terlalu sakit dan sangat perih," kata Clara dengan hati yang teramat perih karena bayangan laki-laki yang sudah menghancurkan masa depannya muncul di ingatan.
__ADS_1
Mendengar jawaban Clara bu Franda bisa menebak jika Clara sedang patah hati. Mungkin hubungannya dengan selebgram itu kandas.
Bu Franda bangkit dari duduknya lalu memeluk Clara, memberinya kekuatan lewat dekapan seorang ibu. Entahlah, sejak pertama melihat Clara ia seperti sudah mengenal gadis itu lama. Wajah Clara mengingatkannya pada seseorang di masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.
"Menangislah! Lepaskan bebanmu agar kamu lega!"
"Terima kasih," ucap Clara di sela tangis.
"Ibu," sambungnya lalu mendongak. "Bolehkah aku memanggilmu, ibu?"
Ibu Franda tersenyum lalu mengangguk. "Tentu saja boleh, sayang."
Clara tersenyum lalu memeluk wanita itu lagi. Clara seperti punya ibu sekarang yang akan mendengar keluh kesahnya.
***
Sementara Yuan yang kesal dan marah karena Clara tak memberinya waktu untuk bicara marah-marah tidak jelas. Semua orang di kantor hampir menjadi sasaran kemarahannya.
Kali ini OB yang biasa membuatkan minuman untuknya menjadi sasarannya.
Yuan menyembur kopi yang baru diteguknya ke wajah OB yang tadi ia perintahkan untuk membuatkannya secangkir kopi.
"Tidak, pak. Itu kan kopi seperti biasa yang Bapak pesan." Tubuh OB itu gemetar, ini baru pertama kali dirinya kena damprat bosnya itu.
Yuan biasanya ramah dan senang bergurau dengan bawahannya, tetapi entah ada masalah apa karena sejak kemarin laki-laki itu terlihat beberapa kali memarahi bawahannya. Padahal mereka tidak tahu apa-apa.
"Diam kamu! Jawab aja!" Bentaknya lalu mengibaskan tangannya menyuruh OB itu keluar dari ruangannya.
Ia lalu duduk di sofa yang ada di ruangannya, membuka kembali dokumen yang harus diperiksa dan harus ditandatangani. Baru juga membaca belum ada selembar Yuan sudah tak berkonsentrasi lagi. Pikirannya selalu tertuju pada Clara.
"Sshiitt." Yuan menjambak rambutnya sendiri, ia benar-benar tak bisa tenang walau hanya sebentar.
[Kak Yuan lagi apa? Pasti lagi kerja ya? Jangan lupa makan ya, kak, supaya nggak sakit kayak aku!]
Satu pesan dari Adelia masuk saat Yuan membuka handphone miliknya yang tergeletak di dekat laptopnya yang sedari tadi menyala.
__ADS_1
Yuan hampir saja melupakan gadis itu. Meski ia sudah berusaha mencintai Adelia tapi nyatanya tidak bisa, cintanya hanya pada Clara seorang.
Yuan menyimpan ponselnya lagi tanpa berniat membalasnya. Ia lalu mencoba meraih konsentrasinya lagi tapi selalu gagal. Bayangan kemarahan Clara pagi tadi sungguh amat mengusiknya.
Ponselnya menyala lagi tapi dibiarkannya, ia harus menyelesaikan pekerjaannya kalau tidak mau lembur malam ini.
Beberapa menit kemudian benda tipis itu menyala lagi, ada beberapa notifikasi yang masuk dari pengirim yang sama.
[Kok nggak dibales?]
[Kak Yuan marah ya sama, Adel?]
[Kak Yuan nggak kangen sama aku apa, padahal aku kangen banget sama kakak. Kayaknya udah lamaaaa banget kita nggak ketemu padahal baru kemarin kak Yuan jenguk Adel tapi berasa udah setahun nggak ketemu] Ada emoji kepala kuning yang dikelilingi gambar hati.
Yuan menarik nafasnya dalam, ia mulai jengah dengan sikap Adelia yang terlampau manja dan kekanakan.
"Iya. Aku lagi kerja. Kamu jangan ganggu dulu ya, nanti aku telpon kalau aku udah nggak sibuk." Ketiknya lalu mengirimnya pada Adelia, langsung centang biru dan terlihat Adelia sedang mengetik.
[Oh, yaudah deh. Semangat kerjanya ya, sayang. Ilofu.] Disusul stiker gambar hati yang berdetak-detak.
Yuan tak berniat membalasnya, ia tidak ingin membuat gadis itu terlalu berharap kepadanya karena sejak awal dirinya tak pernah tertarik pada Adelia meskipun gadis itu memiliki semua yang laki-laki idamkan.
Adelia cantik, bahkan lebih cantik dari Clara. Dia tinggi, punya segalanya dan yang pasti, Adelia seksi. Apa lagi jika sedang memakai rok mini yang memperlihatkan sepasang kakinya yang mulus. Berdekatan dengan gadis itu harus selalu punya stok iman yang tebal agar tidak tergoda.
Berbeda dengan Clara yang selalu berpakaian sopan tapi tetap trendi dan sedap dipandang. Clara selalu berpenampilan apa adanya, make up nya pun tidak tebal. Namun, terlihat tetap menawan.
[Kok nggak dibalas lagi?]
Satu pesan lagi masuk membuyarkan lamunannya. Adelia benar-benar sangat manja.
"Iya." Balasnya singkat lalu mematikan datanya, ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya karena ia akan menemui Clara lagi. Ia tidak akan menyerah sampai Clara mau memberinya ampunan. Dan jika perlu dirinya akan menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab atas perbuatan tak sengaja itu juga karena dirinya sangat mencintai Clara.
Bersambung
Ha, jangan lupa sub, review, like, dan vote ya.
__ADS_1
Makasih, salam dari sasyaaaz15