NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
ADELIA STARLA SADEWA


__ADS_3

***


Adelia menutup sambungan teleponnya dengan Yuan sambil senyum-senyum sendiri. Ia sangat bahagia sekarang. Adelia juga mulai tak memperdulikan kedua orang tuanya yang tak pernah punya waktu untuknya meski saldo di rekening nya terus bertambah nominalnya.


Tetapi Adelia jarang sekali menggunakan uang itu, dirinya tidak suka berfoya-foya dengan liburan kesana kemari. Adelia lebih suka di rumah atau pergi dengan Clara karena itulah tabungannya kian bertambah banyak pun kedua orang tuanya tak pernah absen mentransfer uang jajannya setiap bulannya yang tidak sedikit jumlahnya.


Asisten rumah tangga sekaligus pengasuh Adelia sejak baru lahir itu masuk, di tangannya ia membawa nampan berisi sepiring nasi dan lauk juga dua buah gelas berisi susu dan satu lagi berisi air putih tidak lupa obat yang harus Adelia minum setiap harinya.


"Kayaknya ada yang lagi seneng banget sampai-sampai nggak denger bibi ketuk pintu?" ujar wanita paruh baya itu membuyarkan lamunan Adelia.


Gadis itu tersenyum lalu duduk bersila di atas tempat tidur. "Emang lagi bahagia, bahagia banget palah."


Bi Surti menyimpan nampan di atas  nakas lalu duduk di tepi ranjang berukuran besar itu.


"Bagi tau bibi dong kenapa Non Adel sebahagia ini?" Sebenarnya tanpa bertanya pun ia sudah tahu apa yang membuat Nona mudanya itu terlihat begitu riang hari ini. Jika bukan karena Clara ya tentu Yuan pacarnya.


"Mmmm … kasih tau nggak ya?" Sepertinya Adelia hendak membuat pengasuh yang sudah seperti keluarganya sendiri itu penasaran.


"Hem, si Non nih, mau ngajak bibi main tebak-tebakan. Baiklah bibi tahu kenapa Non Adel bahagia."


"Kenapa?"


"Kalau bukan karena Non Clara ya pasti karena Den Yuan, benarkan bibi?"


Adelia merengut, sudah barang tentu bi Surti tahu karena wanita itu yang merawatnya dari bayi, jadi secara naluri ikatan batin mereka terjalin sangat kuat seperti ibu dan anaknya. Wanita itu lebih dekat dengan Adelia ketimbang ibu kandungnya sendiri.


Melihat Nona mudanya memajukan bibirnya bi Surti mengusap surai panjangnya.


"Non, non Adel sudah bibi anggap seperti anak bibi sendiri jadi bibi tahu apa yang sedang non Adel rasakan," ucapnya tulus.


Adelia melingkarkan tangannya pada pinggang perempuan setengah baya itu. Selama ini bi Surti lah yang selalu ada untuknya, bi Surti yang selalu memberikan semangat dikala ia membutuhkan dukungan dari wanita yang sudah membuatnya ada di dunia ini.


"Non, tadi tuan dan nyonya bilang mereka sudah mentransfer uang jajan ke rekening, Non Adel." Terang bi Surti sambil membelai kepala Adelia, ia sangat menyayangi anak semata wayang majikannya ini.

__ADS_1


Adelia mendongak. "Papah sama mamah pulang, bi?" Wajah Adelia berbinar, ia berharap kedua orang tuanya meluangkan waktu untuknya meski hanya sesaat.


"Iya, mereka masih di kamar. Kayaknya mau pergi lagi. Mending sekarang Non Adel makan, minum obat, sambil nunggu mereka keluar!"


Adelia mengangguk lalu memakan makan malam yang bi Surti bawa tadi.


"Pelan-pelan, Non, nanti keselek!"


"Keburu papah mamah pergi, bi." Jawab Adelia dengan mulut penuh.


Bi surti hanya menggelengkan kepalanya.


'Kasihan Non Adel, dia pasti sangat merindukan kedua orang tuanya. Mereka terlalu sibuk dengan mengejar harta sampai harta paling berharga mereka lupakan, permata kecil mereka juga butuh perhatian dan pelukan hangat dari kedua orang tuanya.' batin bi Surti, ia sangat menyayangkan tuan dan nyonya nya yang terlalu sibuk kesana-kemari mengejar duniawi.


"Udah habis." Adelia menyodorkan piring kosong kepada bi Surti sambil meringis.


Bi surti tersenyum. "Sekarang diminum obatnya." 


Disimpannya piring kosong itu ke nakas dan menggantinya dengan obat dan segelas air putih lalu memberikan pada gadis itu, Adelia menerimanya dan langsung meminumnya, setelahnya menyerahkan gelas itu pada bi Surti kemudian melompat turun dengan tergesa.


Adelia menunggu di depan pintu kamar papah dan mamanya dengan gelisah bercampur senang. Setelah hampir 2 minggu tak melihat wajah dan bertemu dengan kedua orang tuanya ia sangat rindu.


Pintu terbuka dan mamanya keluar.


"Mah, Adel …"


"Maaf sayang, mama sama papa buru-buru. Kalau ada perlu sama bibi saja yah! Pah, cepetan nanti kita ketinggalan pesawat!"


Adelia diam membeku, mamanya tak memberinya waktu sedikit saja untuk dirinya bermanja. Meski hanya sebentar saja ia sudah sangat bahagia.


"Ayo, mah!" Papanya keluar dan seperti tak melihatnya, pria berkemeja grey itu acuh tak acuh pada Adelia.


"Kami pergi dulu, sayang. Jaga diri kamu baik-baik! Kalau ada apa-apa bilang saja sama bi Surti!" Dikecupnya kening Adelia.

__ADS_1


Adelia tak menjawab, ia pasrah saja. Ia sangat kecewa pada kedua orang tuanya yang menganggapnya seperti hanya sebagai pelengkap saja.


"Jangan menangis. Kami pergi untuk kebaikan kamu. Ingat, kami sangat menyayangimu." Dikecupnya sekali lagi kening putrinya, memandang Adelia dengan kedua mata berkaca.


"Mama pergi ya, sayang," pamitnya setelah itu berlalu menyusul suaminya yang telah lebih dulu masuk ke mobilnya.


Sementara di rumah Adelia masih berdiri di tempat seperti patung. Kedua matanya lurus menatap dimana bayangan kedua orang tuanya baru saja menghilang dari pandangan.


"Mama sama papa jahat!" lirihnya seiring butiran-butiran kristal mengalir membasahi kedua pipinya.


"Padahal Adel cuma butuh lima menit saja, tapi kalian selalu saja tak ada waktu. Adel nggak butuh uang tapi Adel butuh kalian."


Bi Surti yang melihat kejadian tadi ikut sedih, dia tahu apa yang sedang dirasakan Adelia. Sedari kecil Adel tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Ia yang merawat dan mengasuh Adelia sejak bayi. Mirna-mamanya seperti tak peduli karena mereka mendambakan anak laki-laki, tetapi Mirna tidak bisa hamil lagi karena ada masalah dalam rahimnya sehingga rahimnya diangkat.


"Non, sudah jangan sedih masih ada bibi." Dibawanya tubuh Adelia ke dalam pelukannya, Adelia terus saja menangis dalam pelukan wanita paruh baya yang selalu memberinya kenyaman.


"Kenapa sih, Adel nggak lahir dari perut bibi aja. Atau nggak usah lahir aja sekalian."


"Huss, Non Adel ngomong apa sih? Non, nggak boleh gitu. Percayalah, papa sama mama sangat menyayangi, Non Adel. Mungkin saja mereka sekarang sibuk untuk kebaikan, Non, kelak."


Adelia melepas pelukan, ia tidak paham dengan ucapan wanita paruh baya yang masih memeluknya.


"Bibi bohong! Mereka nggak sayang sama Adel. Mereka lebih sayang sama uang. Adel nggak butuh uang mereka, Bi, Adel cuma butuh mereka selalu ada buat Adel!" Air matanya kembali mengalir, bertahun-tahun tak pernah mendapat perhatian dari kedua orang tuanya membuat hatinya sangat rapuh.


"Sabar, Non, mungkin sekarang mereka masih sibuk jadi belum punya waktu buat, Non. Mending Non Adel berdoa agar kedua orang tua Non Adel cepat sadar."


"Begitu ya, bi?"


"Iya, tentu saja. Oh iya daripada nggak ngapa-ngapain mending kita nonton film jaman bibi muda dulu."


Adelia mengernyit. "Apa?"


"Judulnya BRAMA KUMBARA."

__ADS_1


BERSAMBUNG 


__ADS_2