
***
Adelia mondar-mandir di depan sebuah ruangan, dia tengah gelisah, cemas, takut, dan juga bingung bercampur jadi satu. Terngiang kembali ucapan suster saat dirinya baru saja tiba di rumah sakit dengan Clara yang masih pingsan.
"Teman ada ini sedang hamil seharusnya jangan terlalu lelah begini. Sekarang anda keluar dulu biar dokter yang menangani!" Usir suster sambil memeriksa keadaan Clara.
"A--apa, sus? Ha-hamil?"
"Iya, teman anda ini sedang hamil dua bulan."
"Ta-tapi itu tidak mungkin, sus. Dia masih kuliah dan belum menikah. Suster jangan bercanda deh. Nggak mungkin teman saya hamil?"
Pikiran Adelia benar-benar buntu. Clara hamil? Dengan siapa? Zidan kah? Apa ini alasan sahabatnya ini pergi dari rumah dan menghilang?
'Clara, kenapa hal sebesar ini lo sembunyiin dari gue? Apa elo udah nggak anggap gue sahabat elo, sodara elo? Kenapa elo tega bohongin gue, Cla? Kurang baik apa sih gue sama elo? Selama ini gue selalu cerita apapun masalah gue sama elo, tapi elo … elo tega, simpan sendiri masalah elo. Elo jahat, Cla. Elo jahat!'
Marah, kesal, merasa dikhianati, dibohongi, merasa tak dianggap. Adelia tak menyangka Clara setega itu padanya? Menyembunyikan sesuatu sepenting ini? Adelia kecewa mengapa Clara tak pernah bercerita padanya. Padahal selama ini tak ada satupun rahasia padanya yang Clara tidak tahu.
Tapi kemudian Adelia berpikir mungkin Clara melakukan ini pasti ada alasannya. Iya pasti. Dan nanti dia akan menanyakannya jika Clara sudah sadar, dia harus tahu mengapa Clara membohonginya?
Lalu Zidan? Jika benar Zidan yang melakukannya kenapa dia tidak lantas bertanggung jawab?
Tunggu? Apakah karena ini Zidan jadi posesif pada Clara seolah takut terjadi sesuatu pada Clara dan bayinya?
"Atau jangan-jangan mereka udah nikah diem-diem?"
"Adelia …" Panggilan seseorang membuyarkan Adelia.
"Zidan …" panggilnya saat melihat Zidan yang baru saja datang dengan wajah yang terlihat cemas.
"Dimana Sella? Dia kenapa? Kenapa bisa begini? Apa yang terjadi dengannya cepat katakan!" Perasaan cemas dan khawatir terjadi sesuatu pada Clara dan juga bayinya. Takut Clara keguguran.
"Sabar, Zidan, Clara sedang ditangani dokter. Kita tunggu aja dulu," ucap Adelia menenangkan Zidan.
Zidan beristighfar lalu meraup wajahnya, rasa cemas dan khawatir membuat emosinya sulit dikendalikan.
Tak berapa lama pintu ruangan terbuka. Zidan langsung menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan Clara.
"Anda siapanya pasien?"
"Saya suaminya, dok."
Dokter itu menelisik penampilan Zidan. Dalam benaknya seperti tidak percaya jika Zidan adalah suami Clara. Mungkin karena masih sama-sama muda, usia Clara dan Zìdan hanya terpaut 1 tahun jadi wajar jika ia sedikit kurang percaya. Belum lagi wajah Zidan yang familiar.
"Istri anda dan bayinya tidak apa-apa. Dia hanya syok jadi pingsan. Istri anda sedang hamil muda jadi jangan biarkan dia melakukan aktifitas yang berat karena akan membahayakan janinnya," terang dokter paruh baya itu.
"Baik dok, saya akan lebih hati-hati lagi menjaganya."
__ADS_1
"Itu harus. Kalau begitu saya permisi."
"Terima kasih banyak dok."
"Sama-sama." Kemudian berlalu.
Zidan langsung masuk ke ruangan dimana Clara berbaring dengan mata terpejam di ikuti Adelia di belakangnya. Zidan langsung duduk di kursi samping Clara, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.
"Sayang, kenapa bisa begini apa yang kamu lakukan sampai terjadi seperti ini? Kamu tau gak, aku khawatir banget terjadi sesuatu sama kalian. Maaf ya aku lalai jagain kamu, tapi aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi."
Suara Zidan bergetar karena menahan tangis. Melihat Clara tak berdaya membuatnya hancur, dia sangat mencintai Clara melebihi dirinya sendiri. Cinta yang semakin hari bertambah besar, meski ia tahu Clara tidak mencintainya, tapi itu tak lantas membuatnya kecewa dan sakit hati.
Dia rela melakukan apapun asal Clara bahagia. Berada di dekat perempuan itu saja sudah membuatnya senang.
Adelia hanya diam mematung di sisi ranjang Clara, mengamati Zidan yang sepertinya sangat mencintai Clara. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin dia lontarkan, tetapi sepertinya waktunya kurang tepat.
Adelia pamit keluar saat ponsel miliknya berdering bertanda ada panggilan masuk. Wajahnya langsung berbinar begitu melihat siapa yang menelponnya.
"Halo kak? Ada apa?"
"Kamu dimana?"
"Di rumah sakit, kak."
"Siapa yang sakit? Kamu sakit?" Terdengar nada kekhawatiran pada suara Yuan membuat kedua sudut bibir Adelia melengkung ke atas.
"Bukan tapi …"
Tut tut tut
"Lho kok mati, halo, kak? Yah, habis batrai lagi. Ck."
Adelia kesal karena ternyata dia lupa mengecas ponselnya semalam. Dan sialnya lagi dia lupa bawa powerbank dan charger. Mungkin karena efek terburu-buru karena bangun kesiangan. Sebenarnya dia sudah bangun saat subuh, tapi kemudian tidur lagi karena masih mengantuk. Jadilah dia kesiangan, ditambah ragi ban mobilnya bocor di tengah jalan.
Adelia masuk kembali dan ternyata Clara sudah sadar, gadis itu tidak mau menatap Adelia. Dia merasa bersalah pada sahabatnya itu. Dengan kejadian ini Adelia pasti sudah tahu jika dirinya sedang hamil.
Ia harus bersiap menerima kemurkaan Adelia, lalu ia harus menjawab apa nanti? Ya Tuhan, kenapa hidupnya serumit ini?
Adelia pamit karena sudah sore dan berjanji akan datang lagi besok.
"Kamu bingung sedang cari jawaban jika Adel tanya soal kehamilan kamu?" tanya Zidan yang sepertinya paham kegelisahannya.
"Hah? Kok kamu tahu?"
Clara tidak mengerti kenapa Zidan selalu tahu apa yang ada di pikirannya. Apa Zidan seorang cenayang yang bisa baca pikiran orang?
Zidan tersenyum. "Kamu lupa? Kan aku sudah sering bilang kalo apa sih yang nggak aku tau tentang kamu?"
__ADS_1
"Ck, aku serius, Zi?"
"Aku juga serius." Zidan berpindah duduk ke atas ranjang. "Aku sayang banget sama kamu, aku akan melakukan apapun asal kamu bahagia."
Tanpa diminta dua butir air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Clara begitu terharu, sebesar itukah Zidan mencintainya sementara yang ada di hati justru laki-laki lain. Apakah ini adil buat Zidan?
"Kok malah nangis, aku salah ngomong ya?" Diusapnya kedua pipi Clara.
"E-nggak. Siapa yang nangis? Ini … ini kelilipan kok."
Clara membuang wajahnya ke samping karena sangat malu menangis di depan Zidan meski ini bukan pertama kalinya ia melakukan itu. Waktu itu dan waktu itu, tapi entah kenapa sekarang dia sangat malu.
"Sella …"
Perlahan Clara kembali menatap Zidan, kedua mata mereka bertemu dan saling mengunci. Clara melihat di kedua mata Zidan ada cinta yang begitu besar untuknya.
"Zi, kenapa kamu baik banget sih sama aku?"
"Emmm … kenapa ya? Coba tebak kenapa?"
"Dih, ditanya palah nanya?" Clara kesal karena Zidan tak menjawab tapi justru melempar pertanyaan balik ke arahnya.
Zidan tertawa melihat wajah Clara yang cemberut. "Kamu bikin aku gemes kalo lagi cemberut kayak gini." Zidan mencubit pipi Clara yang Chaby membuat Clara tertawa senang.
Entahlah, setiap bersama Zidan bebannya selalu terasa ringan, dan dia merasa sangat nyaman saat di dekat lelaki itu?
"Aku mau telpon ayah kamu sama bu Franda, jangan kemana-mana, okey?" Pesan Zidan yang ia jawab dengan anggukkan kepala, menatap punggung Zidan yang kemudian menghilang di balik pintu.
"Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik aku, Zi, tapi kenapa kamu justru memilih aku yang sudah tidak punya apa-apa, apalagi ada noda dalam tubuhku yang akan semakin tumbuh besar. Aku tahu kamu bisa menerima kami, tapi apakah aku bisa mencintaimu sebesar cinta yang kamu miliki?"
Di ucapnya perutnya yang sudah sedikit buncit.
Oh, andai waktu bisa diputar kembali, dirinya tidak akan berbuat hal bodoh dan dibutakan oleh cinta, tentu ia akan mempersembahkan itu semua untuk Zidan jika laki-laki itu benar akan menikahinya.
Pintu terbuka kembali dan Zidan masuk, tapi tak sendiri. Dia bersama ayahnya dan bu Franda. Wanita itu langsung memeluknya dengan sayang, sedang Darma hanya mengecup keningnya lalu mengusap kepalanya.
"Mumpung Om Darma disini, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan sama, Om?"
Semua mata tertuju pada Zidan, begitu pun dengan Clara. Kedua matanya terkunci pada Zidan.
"Apa itu Nak Zidan?"
Zidan menarik nafas terlebih dahulu. "Om, tolong nikahkan saya sama Clara segera."
"Hah ..."
Bersambung
__ADS_1