
***
Clara merentangkan kedua tangannya ke depan, melemaskan otot-ototnya yang kaku. Sejak tadi ia mondar-mandir mengantar makanan dan minuman untuk para tamu yang sedang mengadakan pesta ulang tahun. Dan Clara baru tahu jika yang sedang berulang tahun adalah selebgram yang sering ia lihat konten-kontennya di instagram maupun di youtube.
Ingin rasanya Clara berfoto dengan selebgram yang biasanya hanya bisa dilihat di layar hapenya tapi rasanya tidak etis jika dirinya ikut-ikutan berswa foto dengan selebgram itu.
"Clara, tolong antarkan minuman ini ke meja nomor sepuluh!"
"Baik kak." Clara segera memindahkan gelas-gelas itu ke nampan, mengangkatnya lalu mulai berjalan dengan sedikit gemetar. Bukan apa? Meja nomor 10 adalah meja yang diduduki selebgram yang sedang naik daun itu.
Clara tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya karena selebgram itu jauh terlihat tampan daripada di layar handphone. Clara segera beranjak dari sana, ia tidak mau berlama-lama. Clara tidak sadar jika ada sepasang mata memperhatikan gerak-geriknya.
Clara terus memandangi selebgram itu dari kejauhan, tiba-tiba ia teringat Adelia yang sedang bersama Yuan. Entah mengapa hatinya menjadi tidak tenang.
Entahlah, ada semacam perasaan tak biasa yang Clara rasakan. Apakah ia cemburu? Tapi mengapa ia harus cemburu, padahal Yuan bukan siapa-siapanya?
Clara menggelengkan kepalanya
"Kenapa gue jadi mikirin mereka sih? Harusnya kan gue senang karena dengan begitu Adel bisa lebih dekat sama orang yang dia suka."
Clara tak habis pikir dengan dirinya sendiri, tak seharusnya ia iri pada sahabatnya. Seharusnya dia ikut bahagia melihat Adelia-sahabatnya bahagia, tapi nyatanya dirinya merasa tidak senang, terlebih Yuan akan memperkenalkan Adelia pada kedua orang tuanya.
[Cla, maaf, aku gak bisa jemput kamu dan antar kamu pulang, kayaknya acaranya masih lama dan sampai malam. Aku nggak enak kalo harus pergi]
Satu pesan masuk di ponsel Clara dari Dion. Sebenarnya kekasihnya mengajaknya ke rumahnya, Dion ingin memperkenalkan Clara kepada orang tuanya, akan tetapi Clara menolak karena harus lembur malam ini.
"Maaf ya, Dion, jangan malam ini aku ada lembur. Lain kali aja ya?" jawab Clara saat Dion mengajaknya.
"Ya udah deh nggak papa." Terlihat raut kecewa di wajah laki-laki itu.
"Heh, melamun lo? Ngelamunin apaan sih, selebgram itu ya?"
Tiba-tiba Dinda menepuk pundaknya lalu duduk di sebelahnya. Clara menggeleng.
"Gue kepikiran Dion." Clara menoleh Dinda yang sebenarnya bukan cuma Dion yang ada di pikirannya, tetapi juga Yuan. Laki-laki yang baru beberapa minggu dikenalnya.
"Kenapa Dion? Sakit?"
Clara kembali menggeleng lalu menarik nafas dalam.
"Sebenarnya malam ini ada acara di rumahnya dan dia ngajak gue." Clara menunduk lesu, pikirannya benar-benar tidak tenang.
"Terus lo nolak?"
"Iya. Gue belum siap ketemu sama keluarganya."
Dinda menatap Clara sebentar. "Lo masih ragu sama perasaan lo sendiri kan, Cla?"
Cepat Clara menoleh Dinda. "Kok lo ngomong gitu?"
__ADS_1
Dinda tak menjawab, menatap Clara seksama.
Clara menarik nafasnya dalam. "Mungkin iya. Akhir-akhi gue ragu sama perasaan gue sendiri."
Clara menundukkan kepalanya lagi, dadanya terasa sesak. Sejak pertemuannya dengan Yuan Clara memang meragukan perasaannya sendiri pada Dion. Benarkah ia mencintai laki-laki itu atau hanya karena tidak enak karena Dion sudah banyak sekali membantunya.
***
Yuan menggandeng Adelia masuk setelah menjemput gadis itu. Adelia terlihat berbeda malam ini, gadis yang belum genap 21 tahun itu terlihat lebih dewasa dari usianya.
Yuan mengenalkan Adelia pada ibu dan ayahnya juga Dion yang tak tahu jika Adelia adalah sahabat dari kekasihnya karena selama mereka berpacaran Clara jarang sekali bercerita tentang teman-temannya.
Adelia sangat senang saat Yuan mengenalkan dirinya sebagai perempuan yang sedang dekat dengannya. Ditambah lagi sepertinya kedua orang tua Yuan sepertinya menyukainya setelah tahu dirinya adalah putri semata wayang rekan bisnisnya.
"Ternyata kamu anaknya pak Sadewa? Ayah kamu adalah teman bisnis om," ujar Bram setelah tahu siapa Adelia.
"Om harap ada hal yang lebih serius nantinya," sambung Bram disela makan malam mereka.
Semua orang menyambut senang kecuali Yuan. Lelaki itu hanya melirik Adelia tanpa ekspresi.
Adelia menyungging senyum terbaiknya, mengangguk dengan anggun.
"Iya, om," jawab Adelia singkat tapi malu-malu padahal hatinya sedang berbunga-bunga.
Usai makan malam yang dihadiri keluarga Yuan mereka melanjutkan berbincang di taman belakang.
"Hai, boleh ikut gabung?"
Keduanya langsung menoleh sumber suara.
"Iya, tentu saja calon kakak ipar," goda Dion melirik sang kakak yang langsung melotot padanya serta bersiap melayangkan jitakan di kepala Dion.
Adelia hanya tersenyum saja.
"Eits, santai brother. Oke gue gak mau ganggu orang pacaran."
Dion pergi dari sana bergabung dengan kedua orang tuanya.
"Bagaimana cafenya? Rame?" tanya Bram pada Dion.
"Rame Pah. Bahkan malam ini cafe kita sedang ada yang sewa buat pesta ulang tahun artis selebgram yang lagi naik daun itu Pah," terang Dion mengenai kafe mereka..
"Kenapa sih Dion, kamu pake nyamar jadi karyawan segala? Kenapa kamu nggak bilang kalo kamu itu bos mereka," timpal Nurma ibunya, lalu meletakkan kopi yang baru dibuatnya di depan suaminya.
"Nanti Mah, belum saatnya. Dion masih ada misi."
"Halah gayamu, misi-misi, misi opo?"
__ADS_1
"Kapan kamu mau kenalkan pada kami?"
"Nanti, Dion pasti kenalin ke kalian." Dion menyambar kopi milik ayahnya, tak peduli mendapat pelototan dari ibunya. "Bikin lagi, Mah."
Adelia yang melihat pemandangan keluarga yang harmonis itu tersenyum.
"Bahagia ya, Kak, kalo punya keluarga yang lengkap?" Kedua mata Adelia berkaca.
Adelia hampir tidak pernah bisa bercengkrama dengan kedua orang tuanya, mereka sangat sibuk. Bertemu saja hanya sesekali dalam seminggu itu pun tidak kurang dari sepuluh menit.
"Iya," sahut Yuan singkat, sebenarnya saat ini yang ada di pikirannya hanya Clara. Yuan masih penasaran dengan perempuan itu.
Sekitar pukul 10 malam Yuan mengantar Adelia pulang kembali ke rumahnya. Saat di perjalanan usai mengantar Clara tiba-tiba muncul dalam benak Yuan mendatangi kafe tempat Clara bekerja.
Sampai di sana Yuan ragu untuk masuk karena sepertinya cafe nya masih rame. Yuan memutuskan untuk menunggu saja di dalam mobil hingga Clara keluar, karena terlalu lama Yuan ketiduran di dalam mobil.
Satu jam kemudian Clara keluar bersama Dinda dan selebgram itu yang ternyata teman SMA nya yang dulu sangat cupu.
"Kamu pulang sama siapa, La?" tanya Zidan setelah Dinda dijemput kakaknya seperti biasa.
Clara menoleh Zidan yang berdiri di sampingnya.
"Paling naik ojol."
"Jangan! Aku antar aja. Lagian ini udah malem, kalo terjadi sesuatu gimana? Kamu kan cantik kalo ada yang macem-macem …"
,
"Zidan, kamu jangan nakut-nakutin dong."
Selama ini Clara tidak pernah memikirkan itu karena ada Dion yang selalu mengantarnya pulang.
"Makannya aku antar yah?" Zidan mengedip-ngedipkan kedua matanya. Clara berpikir sejenak lalu mengangguk.
Zidan mengajak Clara menaiki mobilnya lalu meninggalkan kafe. Mereka tidak sadar jika ada mobil yang mengikuti dari belakang.
Yuan sangat geran, ia mencengkeram kemudinya dengan erat. Rahangnya mengeras hingga menimbulkan bunyi gemeletuk dari gigi-giginya yang bergesekan.
Clara turun dari mobil diikuti Zidan. Mereka mengobrol sebentar lalu Zidan berpamit. Clara melambaikan tangannya ke arah mobil Zidan yang mulai menjauh. Clara tersenyum sendiri kemudian masuk setelah mengambil kunci di dalam tas slempangnya.
Sementara Yuan tak dapat lagi menahan amarah dan rasa cemburunya. Berkali-kali ia memukul stir hingga tangannya berdarah.
"Dasar perempuan murahan! Munafik kamu Clara! Terhadapku kamu sok suci. Sok jual mahal. Tapi nyatanya kamu selalu berganti-ganti pasangan."
Yuan sangat kesal, marah dan benci pada Clara. Clara benar-benar berhasil memporak-porandakan isi hatinya.
Yuan akhirnya pulang dengan amarah dan kebencian yang menggunung pada Clara, ia bertekad akan membuat hidup Clara hancur karena telah menolak dirinya.
Bersambung
__ADS_1