NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
NIKAH YUK!


__ADS_3

***


Clara sedang bercanda dengan ayah dan juga Adelia saat Zidan datang. Pemuda itu terlihat sangat rapi dan wangi, mungkin hendak pergi bekerja. Menghampiri Darma lalu meraih tangannya untuk kemudian menempelkan ke wajahnya.


Clara yang melihat pemandangan itu hatinya terasa hangat, entahlah. Dia hanya merasa senang saja tanpa tahu penyebabnya.


Zidan juga menyapa Adelia, lalu mereka bercengkrama sebentar sebelum kemudian Darma pamit pulang untuk mandi dan akan kembali lagi nanti, dia juga berpesan pada Zidan untuk menjaga putrinya.


"Siap om, saya pasti akan menjaga Clara dengan baik." Zidan memberi hormat selayaknya tentara. Darma tergelak dengan ulah calon menantunya itu.


"Terima kasih ya, om percaya kamu pasti akan menjaga anak semata wayang om." Darma menepuk-nepuk pundak Zidan setelahnya dia benar-benar pergi.


Zidan menghampiri Clara lalu duduk di tepi ranjang.


"Kelihatannya kamu sudah membaik?" tanyanya dengan tatapan cinta, Clara sampai berpaling karena tak kuasa Zidan selalu menatapnya begitu.


"Mendingan, kata dokter besok sudah boleh pulang."


"Hei, kalo ngomong itu lihat ke orangnya dong! Nggak sopan itu namanya."


Adelia terkekeh, dia tahu Clara kini sedang malu. Tadi Clara sudah mengatakan bahwa dia akan menikah dengan Zidan. 


"Apaan sih, Zi." Clara memberanikan diri menatap Zidan. 


"Kamu makin cantik aja walaupun lagi sakit?"


"Gombal."


"Enggak, beneran. Gak percaya? Apa perlu aku belah dadaku agar kamu percaya?"


"Zidan, jangan ngomong gitu! Aku nggak suka!"


Zidan tersenyum melihat wajah Clara yang merengut. Di matanya gadis itu jadi semakin menggemaskan.


"Tuh kan, merengut aja kamu cantik."


"Ziiii …" Clara tidak tahan dengan gombalan Zidan sebab jantungnya seperti hendak melompat .keluar. 


"Lihat sini dong …"


Kedua mata mereka, Clara merasa ada sesuatu yang menyusup ke dalam hatinya, tapi dia tidak tahu apa? Dia hanya melihat Zidan beda dari biasanya, jadi … lebih tampan. Bibirnya sangat seksi saat tersenyum.


Untuk beberapa saat mereka lupa dengan Adelia di sana. Gadis itu secara diam-diam beringsut keluar dari ruangan itu.


"Hah, berasa jadi obat nyamuk gue. Gitu ya kalo sedang dimabuk cinta dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak." Kemudian mendesah.


"Atau gue pulang aja ya, tapi gue belum pamit sama Clara?" Adelia tidak mau mengganggu sejoli itu, akhirnya dia memilih untuk pulang tanpa berpamitan dan akan memberi tahu lewat pesan singkat.


Sementara di dalam Clara baru sadar ternyata Adelia sudah tidak ada di ruangannya. Mungkin Adelia merasa kehadirannya tak dianggap setelah Zidan datang.


"Adelia mana, Zi?" Clara menyisir ruangan, tapi tak menemukan sahabatnya itu.


"Pulang kali," sahut Zidan cuek.


"Kok dia nggak pamitan ya?"


"Karena dia nggak mau mengganggu keromantisan kita sayang."


"Ck, ini gara-gara kamu sih dia pasti marah sama aku." Clara kesal pada Zidan karena terlalu larut Adelia menjadi merasa tersisih.


"Kok aku?"

__ADS_1


"Ya iya lah, emang siapa lagi?"


Zidan tersenyum, dia tahu Clara hanya khawatir Adelia marah padanya. Diraihnya tangan Clara untuk dia genggam.


"Adel nggak akan marah, dia kan sahabat kamu. Dia pergi karena sedang memberi waktu buat kita berduaan." Zidan mengerling genit.


"Iya kah?" tanya Clara polos.


"Hu um."


Ting


Satu pesan masuk ke ponselnya, Clara langsung membukanya yang ternyata dari sahabatnya.


[Clara, gue pulang ya tadi bibi telpon gue disuruh pulang katanya dicariin mamah]


[Lo pulang karena gue cuekin kan, Del? Maaf. Lo gak marah sama gue kan?]


[Hahaha, pede banget lo? Lagian ngapain gue marah? Udah, lo senang-senang aja disono sama calon suami lo yang bucin itu. Dah, lo tenang aja gue nggak marah kok. Bay]


[Bay].


Clara lega karena ternyata sahabatnya pulang bukan karena dirinya yang mengacuhkan kehadirannya. Padahal memang itu yang dirasakan gadis itu, tapi Adelia memaklumi. Mungkin itu juga yang Clara rasakan ketika dirinya lebih mementingkan Yuan ketimbang sahabat baiknya. Impas bukan?


Di parkiran Adelia bertemu dengan Yuan. Dia sedikit heran apa ya sedang dilakukan kekasihnya itu di rumah sakit? Apa untuk menjenguk Clara, tapi tidak mungkin? Mereka tak seakrab itu?


"Adel, mau pulang?" tanya Yuan setelah di depannya.


"Iya. Kak Yuan ngapain kesini? Mau jenguk Clara?"


Yuan terdiam sejenak, tidak mungkin dia jujur jika dia memang hendak menjenguk Clara.


"Nggak mau jenguk Clara dulu?" 


Yuan menoleh ke dalam rumah sakit, sungguh besar keinginannya untuk masuk kesana dan melihat wajah Clara, tetapi gadis itu pasti tidak akan suka. Clara sangat membencinya dan itu pantas ia dapatkannya. Dia sudah sangat menyakiti gadis itu.


Yuan menggeleng. "Gak. Yuk!"


Adelia menurut dan membiarkan Yuan menggandeng tangannya sampai ke mobilnya. Membukakan pintu mobil untuknya meski itu terasa aneh karena selama ini Yuan tidak pernah melakukan itu sebelumnya, tetapi Adelia suka.


"Terima kasih." Yuan hanya membalasnya dengan senyuman sebelum kemudian mengitari badan mobil lalu duduk di belakang kemudi.


Mobil beransur meninggalkan parkiran rumah sakit. Tak ada percakapan diantara mereka, mereka sibuk dengan pikirannya sendiri. Yuan dengan otaknya yang dipenuhi dengan wajah Clara dan Adelia yang menatap Yuan dengan penuh tanya.


"Kak, kok diam terus dari tadi? Kenapa, sariawan ya?" Adelia mencairkan suasana. Yuan menoleh sekilas, wajahnya datar, tersenyum pun tidak.


Adelia merasa sia-sia karena tidak berhasil membuat laki-laki tampan itu tersenyum, tetapi dia tidak menyerah dan terus berusaha membuat Yuan menolehnya.


Tiba-tiba Yuan menepikan mobilnya, menatap Adelia dengan intens membuat gadis itu deg degan.


"Adelia, nikah yuk!"


"Hah?"


"Kamu mau kan nikah sama aku?"


"Hah?"


***


Darma baru saja selesai mandi saat seseorang mengetuk pintu rumahnya. Dia bergegas berpakaian lalu melihat siapa yang datang, ternyata anak tetangganya yang bernama Nayla. Gadis itu menitipkan sesuatu untuk Clara karena dia tahu Clara ada di rumah sakit.

__ADS_1


Sebenarnya Nayla ingin menjenguk, tetapi di rumah tidak ada orang jadi dia hanya menitip salam kepada Darma. Darma mengucapkan terima kasih setelahnya Nayla kembali ke rumahnya.


Darma menyimpan titipan itu di atas meja kemudian kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap kembali ke rumah sakit. Dia ambil cuti selama 3 hari untuk menjaga Clara di rumah sakit.


Setelah siap Darma menaiki sepeda motornya yang terparkir di depan rumah. Namun, dia urung memutar kuncinya saat sebuah mobil yang ia kenal berhenti di rumahnya.


"Mau ke rumah sakit? Kita bareng aja pake mobil aku!"


Darma mengangguk lalu memasukan mobilnya ke dalam rumah.


"Kamu sudah makan?" Tanya bu Franda menoleh sekilas lalu kembali fokus ke jalan.


"Belum, nggak sempat karena tadi buru-buru. Kamu sendiri kenapa bisa ada disini?"


Bukan apa? Rumah mereka berbeda arah, lalu kenapa wanita itu tiba-tiba ke rumahnya. Apa dia sengaja mencarinya?


"Aku baru dari makam Harnum."


"Hah? Ngapain kamu ke makam Harnum?"


Dahi bu Franda mengerut. "Menurut kamu?"


Darma tak menjawab, tentu saja bu Franda ke makam istrinya bukankah mereka teman dekat?


"Ah, sudahlah, lupakan!" Bu Franda mengibaskan tangan nya di udara.


"Apa kau sering kesana, karena aku lihat makamnya selalu bersih?"


"Lumayan, tiap jum'at pagi Clara mengajakku."


Bu Franda mengangguk-angguk pàham. Hening sesaat, bu Franda sedang menata detak jantungnya yang sepertinya sedikit bermasalah. Sungguh memalukan, di usianya yang sekarang apa pantas ia merasakan hal seperti ini?


Dirinya sudah terlalu tua untuk jatuh cinta lagi pada cinta pertamanya. Kalau istilah anak muda sekarang, CLBK. Cinta lama belum kelar.


"Kenapa senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Darma yang sedari tadi memperhatikan perempuan di sampingnya.


"Ah, enggak. Aku hanya sedang mengingat zaman kita pacaran dulu."


"Kenapa?" 


Bu Franda menarik nafasnya dalam, mengatur detak jantungnya agar normal kembali.


"Terus terang, aku memikirkan ucapan Clara tempo hari."


"Ucapan yang mana?"


Bu Franda kesal karena Darma sepertinya sedang memancingnya untuk mengakui perasaannya di depan pria itu. Ditepikan mobilnya lalu menatap pria di sebelahnya.


"Kamu nggak berubah ya, masih aja ngeselin kayak dulu!"


Darma tersenyum melihat wanita di sebelahnya merajuk.


"Setelah Clara menikah dengan Zidan," ucap Darma kemudian


"Maksud kamu?"


"Kita akan menikah."


Bersambung


Hahaha … tua muda mau nikah. Lah author nya pacar aja nggak punya.😣😣😂😂

__ADS_1


__ADS_2