NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
MENYELIDIKI


__ADS_3

***


Seminggu setelah malam itu Yuan tidak pernah menemui Adelia mau pun Clara, Yuan sibuk bekerja meski sebenarnya besar keinginan untuk hanya sekedar melihat wajah Clara dari kejauhan. Dirinya memang membenci gadis itu tapi tak dipungkirinya, rasa rindu akan gadis itu sulit untuk ia tepis. 


Sementara Clara seperti biasa menjalani hari-hari dengan kesibukannya antara kuliah, kerja dan melayani Darma yang selalu saja meminta uang kepadanya. Seperti siang ini, pria pemabuk itu meminta uang pada Clara setelah itu pergi entah kemana. Clara hanya bisa menarik nafasnya dalam.


Terlalu sering disakiti membuat dirinya semakin terbiasa dengan kesakitan. Bukannya rapuh, dirinya justru makin kuat menghadapi ayahnya. Pernah terbesit ingin meninggalkan Darma, tapi rasa cinta dan benci membuat dirinya dilema.


Clara tiba di tempat kerjanya, dan langsung disibukkan dengan pekerjaannya sebagai pelayan. Semenjak kafenya disewa untuk pesta ulang tahun selebgram itu kafe tempatnya bekerja bertambah ramai.


"Capek?" tanya Dion yang melihat Clara tengah memijit-mijit tangannya.


Saat ini seperti biasa saat jam istirahat mereka akan pergi ke lantai paling atas.


Clara tersenyum. "Iya, tangan sama kaki rasanya pegal-pegal." Masih dengan memijit tangan serta kakinya.


"Mau aku bantu?" tawar Dion yang langsung mendapat pelototan dari Clara, Dion cengar-cengir sambil menggaruk belakang kepalanya.


Hening. Tak ada yang membuka suara. Clara tidak sadar jika laki-laki di sebelahnya sedang mengamati wajahnya tanpa berkedip.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Clara yang sadar sedang diperhatikan.


Dion tergagap tapi berusaha bersikap biasa. "Mmmm … habis kamu cantik banget sih, Cla, sampai aku tak pernah bosan melihatnya."


Mendapat pujian seperti itu wajahnya langsung memerah, Clara memalingkan wajahnya. Jantungnya berdebar-debar kencang.


"Clara?" 


Perlahan Clara menoleh dan sedikit kaget karena wajahnya dan wajah Dion sangat dekat sehingga ia bisa merasakan nafas Dion yang hangat menerpa wajahnya.


Keduanya saling pandang dengan jantung yang makin bertalu. Tiba-tiba tangan Dion terangkat hendak menyentuh bibir Clara yang ranum. Clara yang sadar langsung mundur.


"M-maaf." Dion kecewa, sudah hampir dua tahun mereka menjalin hubungan. Namun, tak pernah sekalipun Clara mengizinkannya menyentuhnya.


"Maafin aku Dion, aku …" Clara tak meneruskan kalimatnya, ia tahu jika Dion pasti mengerti dengan alasan dirinya yang tak mau Dion sentuh.


"Iya nggak papa. Turun yuk, pasti kafe sebentar lagi rame!" Dion berdiri diikuti Clara.


"Tapi aku shalat maghrib dulu," kata Clara kemudian yang dibalas anggukan Dion.


"Cla, itu bukannya Zidan selebgram yang teman SMA lo itu ya?" Dinda yang melihat Clara baru tiba menghampiri.


"Mana?" Clara mempertajam penglihatannya, mencari keberadaan Zidan.


"Itu yang di pojokan sama teman-teman." Dinda menunjuk ke sebuah tempat.


Clara mengikuti dengan kedua matanya, dan benar saja Zidan sedang bersama teman-temannya yang tak ada yang dirinya kenal. Tiba-tiba Zidan menoleh lalu menghampirinya dan Dinda.


"Hai Sella, Dinda," sapa Zidan pada kedua gadis itu.


"Hai juga Zidan."


Dinda pamit kembali ke meja kasirnya. Kini tinggal Clara dan Zidan saja.


"Kamu udah lama kerja disini, La?" Bukannya mendapat jawaban Clara justru tertawa. "Kok, malah ketawa sih? Ada yang lucu sama pertanyaan aku?"

__ADS_1


Clara berhenti tertawa. "Enggak. Kamu sadar gak sih, Dan? Dari sekian teman kita di sekolah cuma kamu yang panggil aku Sella?"


Zidan kembali menggaruk kepalanya. Yang dikatakan Clara memang benar satu sekolah cuma dirinya seorang yang memanggil Clara dengan sebutan Sella.


"Kamu nggak keberatan kan aku panggil, Sella?" Zidan menatap Clara serius.


"Ya, boleh sih. Clara atau Sella sama saja, toh itu juga nama belakangku."


Keduanya kemudian terlibat obrolan, mengenang semasa masih mengenakan putih abu-abu. Zidan banyak bercerita tentang dirinya yang berubah karena seseorang. Dari Zidan yang cupu menjadi Zidan yang dipuja banyak orang karena ketampanannya dan juga konten-konten yang dibuatnya sehingga menuai banyak pujian dari kalangan remaja di media sosial.


"Clara!"


Clara menoleh asal suara, Dion berdiri tak jauh darinya dengan wajah memerah karena cemburu. 


"Dion?" Clara berdiri lalu menghampirinya.


Dan tanpa diduga Dion menarik tangan Clara ke tempat yang sepi lalu menghempasnya kasar.


"Kamu suka sama selebgram itu, hah?" Dion terlihat sangat marah pada Clara, rupanya sedari tadi ia mengamati kekasihnya yang sedang bersama Zidan terlihat tertawa lepas seperti tanpa beban.


"M-maksud kamu apa, Dion? Zidan itu cuma teman SMA aku. Aku kan sudah cerita semua ke kamu." 


Clara memang sudah menceritakan semuanya pada Dion lewat percakapan waktu itu, usai dirinya diantar pulang Zidan. Clara langsung menghubungi Dion.


"Yakin cuma temen? Kamu nggak suka sama dia?" Dion terlihat sinis saat mengatakan itu membuat Clara kesal.


"Cukup ya, Dion. Aku tuh capek kamu cembui terus-terusan." 


Clara meninggalkan Dion yang masih berdiri mematung. Selama ini Clara selalu menuruti apa kata Dion. Tidak boleh dekat-dekat dengan laki-laki lain, bahkan Dion sering memeriksa ponselnya dan menghapus semua nomor laki-laki di handphone Clara.


Mungkin benar yang dikatakan Dinda bahwa dirinya memang mulai meragukan perasaannya sendiri pada Dion. 


***


"Yuan, saya perhatikan akhir-akhir ini kamu seperti kurang konsentrasi kerja. Ada masalah?"


Pak Hari sekaligus om Yuan di kantor memanggil keponakannya setelah jam istirahat. Pria yang wajahnya mirip Bram itu diam-diam mengamati kinerja Yuan yang menurun. Lelaki jangkung itu sering didapatinya tengah melamun saat bekerja.


Yuan menundukan wajahnya.


"Nggak ada apa-apa, Om," jawabnya singkat.


Om Hari mendekat lalu memegang pundaknya. "Kalau ada masalah kamu bisa cerita ke, Om, siapa tahu Om bisa bantu!"


Yuan menarik nafasnya lalu menghempasnya perlahan. Om Hari sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri karena selain om Hari tak mempunyai keturunan pria itu juga sangat menyayanginya.


"Hmmm, om tahu ini pasti urusan perempuan? Siapa gadis yang berani nolak keponakan om yang tampan ini, bilang sama, Om?"


Yuan mengangkat wajahnya. "Namanya Clara, om. Dia gadis biasa, pekerja keras meski sambil kuliah. Tapi …" Yuan menjeda ceritanya, dadanya bergemuruh mengingat apa yang dilakukan Clara yang ia lihat dengan kedua matanya sendiri.


"Tapi apa?" Om Hari sangat penasaran, selama ini keponakannya itu jarang sekali bercerita soal perempuan setelah hubungannya dengan Fanya kandas.


Yuan menggelengkan kepalanya, ia tidak mau bercerita tentang Clara karena itu hanya membuat hatinya sakit saja. Namun, tanpa Yuan beritahu pria paruh baya itu paham.


Om Hari duduk kembali ke kursinya.

__ADS_1


"Yuan, Yuan. Jangan cepat mengambil kesimpulan, belum tentu apa yang kamu lihat dan kamu pikirkan itu benar." 


Om Hari menawarinya rokok, tetapi Yuan menggeleng dan mengatakan dirinya tidak merokok.


"Selidiki dulu kebenarannya apa betul gadis itu bekerja seperti itu?" Sambung om Hari lalu menghisap rokok di tangannya, memainkan asap yang keluar dari dalam mulutnya.


"Kok, om tahu semuanya?" Padahal dirinya belum pernah bercerita apapun pada om nya itu lalu darimana pria itu tahu?


Om Hari tertawa mendengar ucapan Yuan yang terlalu polos menurutnya.


"Om itu juga pernah muda, Yuan." Dihisapnya kembali rokoknya, menyemburkan asapnya ke arah Yuan sehingga laki-laki itu terbatuk-batuk karena asap nikotin yang mengenai wajahnya.


"Kamu tahu? Dulu om juga seperti kamu. Menilai tante Mery seperti kamu menilai gadis yang bernama … siapa tadi?"


"Clara om."


"Tapi atas nasehat ayah kamu om menyelidikinya dan ternyata dia tidak terbukti seperti apa yang om pikirkan. Jadi kamu jangan gegabah, nanti kamu menyesal. Paham kan maksud, Om?"


Yuan menganggukan kepalanya.


"Iya om."


Akhirnya Yuan kembali ke ruangannya. Ia bertekad akan menyelidiki Clara seperti saran om Hari. Jika Clara memang gadis baik-baik ia akan mengejarnya sampai Clara menjadi miliknya.


***


Karena masih kesal pada Dion Clara menolak diantar kekasihnya itu, ia lebih memilih naik ojek online ketimbang harus diantar Dion yang juga masih saja cemburu pada Zidan meski Clara sudah menjelaskan berkali-kali jika Zidan hanya teman SMA nya, tidak lebih.


"Cla lo nggak diantar, Dion?" tanya Dinda saat sudah dijemput kakaknya.


Clara menggelengkan kepalanya.


"Pulang bareng kita aja! Abang mau kan anter Clara dulu kan?"


"Iya nggak papa. Ikut kami aja Clara lagian ini sudah malam nggak baik anak gadis pulang sendirian. Bahaya!"


Setelah dipaksa akhirnya Clara mau diantar Dinda dan kakak laki-lakinya.


Clara turun dari mobil kakaknya Dinda, ia berdiri di dekat pintu kaca mobil yang dibuka pria itu.


"Makasih ya kak, udah repot ngaterin Clara. Clara jadi nggak enak."


"Ah nggak apa-apa, Clara. Lagi pula saya juga takut kalau kamu pulang naik ojek saya khawatir terjadi sesuatu. Apalagi kamu sangat cantik, pasti bakal digoda orang."


Clara tersipu mendengar pujian dari kakak sahabatnya.


"Abang, Dinda bilangin kakak Nina nih kalo Abang ngerayu cewek muda!" tegur Dinda yang membuat mereka kemudian tertawa.


Clara melambaikan tangannya pada mobil yang melaju membelah keremangan malam, mendesah lalu masuk ke rumahnya.


Sepasang mata yang memperhatikannya sedari tadi mengepalkan tinjunya.


"Ternyata kamu memang wanita murahan Clara! Malam ini kamu diantar pria yang berbeda lagi."


Yuan meninju pohon di depannya hingga tangannya berdarah.

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2