NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
CIUMAN PERTAMA


__ADS_3

***


Hal paling menyakitkan adalah saat melihat orang yang kita cintai pergi dengan orang lain, terlebih pria itu lebih pantas jadi ayahnya. Itulah yang sedang Yuan rasakan, dadanya terasa panas seperti terbakar. Memang dirinya belum lama mengenal Clara, akan tetapi Yuan merasa hatinya sudah tertawan pada gadis itu.


Dahi Clara kian mengerut. "Maksud kak Yuan apa aku nggak ngerti?" tanya Clara antara bingung dan mulai emosi sebab, perkataan Yuan barusan menyinggung perasaannya. Yuan mendengus.


"Suahlah Clara nggak usah pura-pura polos." Yuan melirik amplop di tangan Clara. "Itu bayaran karena kamu sudah menemani pria tadi tidur kan?"


"Astaghfirullahaladzim kak Yuan, tega sekali kamu menuduhku yang bukan-bukan."


Clara benar-benar tidak menyangka Yuan akan menuduhnya seperti itu. Padahal dirinya hanya menemani bosnya makan sebagai tanda terima kasih karena pria itu sudah sering membantunya dalam hal keuangan, bukan untuk seperti yang laki-laki itu tuduhkan.


Yuan kembali mendengus, di matanya kini Clara sangatlah munafik dan sok polos. "Jangan sebut kalimat itu dengan mulut kotormu itu Clara, nggak pantes!"


Dada Clara rasanya terbakar, ingin sekali ia menampar wajah laki-laki tampan di depannya. Ia hanya masih sadar itu tidaklah pantas ia lakukan itu terlebih Yuan baru dikenalnya.


"Kenapa diam? Sudah berapa laki-laki yang menidurimu? Dua, tiga, empat, lima, sepuluh, atau lebih?" ejek Yuan sekali lagi. 


Clara makin panas rasanya, tangannya mencengkeram dres yang ia kenakan. Yuan benar-benar mengibarkan bendera perang padanya. Seumur baru kali ini Clara merasa direndahkan seperti ini. Sakit, sangat sakit bahkan lebih sakit saat ayahnya yang mengatakan hal serupa terhadapnya. Ditahannya sesuatu yang mendesak ingin keluar dari tempatnya. 


Dadanya berombak menahan amarah yang tertahan.


Ditatapnya Yuan dengan amarah yang menggunung. "Kalo memang aku jual diri demi uang kenapa? Bukan urusan kamu kan? Kamu bukan siapa-siapa jadi nggak usah ikut campur urusanku!"


Yuan merasa tertampar mendengar ucapan Clara, ia melihat ada luka di kedua mata Clara yang berkaca. 


Yuan mengusap tengkuknya, apa yang dikatakan Clara barusan memang benar adanya. Dirinya bukan siapa-siapa gadis itu.


"Ya … memang bukan sih, tapi ..." Yuan menjeda kalimatnya membuat Clara penasaran.


"Tapi apa?"


"Tapi ... bolehkan aku tidur denganmu juga?" sambung Yuan santai. Darah Clara kian mendidih, laki-laki di depannya sungguh sangat melukai hatinya.


"Kamu benar-benar sinting! Nggak waras!" Clara membalikkan badannya tapi lagi-lagi Yuan menahannya. "Lepasin nggak?!"


"Nggak akan sebelum kamu mau kencan sama aku."


Clara benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Yuan yang menilai sesuatu berdasarkan apa yang dilihatnya saja tanpa mencari tahu kebenarannya.


"Kak, aku mohon lepasin tangan aku, aku mau masuk dan istirahat, aku capek." Clara sedikit melemah berharap Yuan membiarkannya pergi tapi bukannya melepaskan Yuan justru menarik tubuh Clara lalu menyambar bibir gadis itu secara kasar dan paksa. Clara sampai ngeri dibuatnya.


Clara mendorong dada Yuan dengan sekuat tenaga lalu melayangkan tangannya tepat di pipi lelaki itu.

__ADS_1


Plak


Sangat keras hingga meninggalkan jejak di pipi kanan Yuan.


"Kamu ... aku benci sama kamu!" Ucap Clara sejurus kemudian berbalik dan berlari masuk ke dalam rumahnya. Clara benar-benar terluka dan sakit hati. Ia pikir Yuan itu laki-laki baik meski terkesan menyebalkan tapi nyatanya laki-laki itu memandang rendah dirinya.


Yuan memegangi bekas tamparan Clara di pipinya, bibirnya melengkung ke atas menerbitkan senyum tipis. 


"Munafik kamu Clara, jelas-jelas tadi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu memberikan tubuhmu dipeluk dengan suka rela pada pria yang lebih pantas jadi ayah kamu. Kenapa terhadapku kamu sok jual mahal?" Sinis Yuan sebelum kemudian meninggalkan rumah Clara dengan motornya.


Semalaman Clara menangis, hatinya pedih. Ia tak menyangka Yuan akan merendahkannya seperti itu. Ciuman pertama yang ingin dia persembahkan untuk suaminya kelak telah dicuri Laki-laki yang belum lama dikenalnya.


Clara baru bisa tidur selitar jam 2 pagi.


***


"Clara, buatkan ayah kopi!"


Teriakan itu membuat Clara tersentak dari lamunannya peristiwa semalam.


"Iya ayah." Clara gegas membuatkan kopi untuk ayahnya. 


"Ini ayah." Clara meletakkan gelas berisi kopi yang masih mengepul di meja dekat Darma, pria itu hanya menggumam.


Darma memalingkan wajahnya menatap Clara dengan tatapan menghujam. Clara menunduk takut. 


"M-maaf ayah."


"Clara ..." panggil Darma dengan nada tak biasa cepat Clara mengangkat wajahnya.


Darma tersenyum pada Clara, ia terhenyak. Baru kali ini ayahnya memanggil namanya selembut itu bahkan ayahnya tersenyum ke arahnya. Mimpikah ia? Apakah ayahnya sudah berubah dan kini menyayanginya.


"Iya ayah," sahut Clara dengan wajah berbinar.


"Tolong siapkan Ayah makan, ayah mau makan sekarang!" ucap Darma lembut, tentu saja itu sangat menggembirakan Clara. Siang malam Clara selalu berdoa agar ayahnya berubah dan menyayanginya dan kini doanya terkabulkan.


"I-iya ayah, Clara akan siapkan." Clara segera menyiapkan makan untuk Darma. Bibir tipisnya selalu tersenyum. Ia sangat bahagia hari ini karena ayahnya telah berubah.


"Ibu, ibu lihat kan ayah sudah berubah?" Gumamnya sambil menyiapkan makan untuk Darma. Clara tidak sadar jika itu hanya taktik Darma untuk mengelabui Clara saja. Diam-diam pria tidak tahu diri itu menyelinap masuk ke kamar Clara dan mengambil semua uang milik Clara lalu pergi.


Clara sudah selesai menyiapkan makanan untuk ayahnya segera memanggil pria itu.


"Ayah, makanannya udah si ... loh, ayah kemana?" Clara mencari Darma kemana-mana, tetapi pria itu seakan hilang ditelan bumi. Dicari dimana pun tetap tidak ketemu akhirnya Clara kembali ke meja makan, menatap sejenak makanan yang telah disiapkannya.

__ADS_1


"Ayah kemana ya? Atau jangan-jangan ..."


Secepat kilat Clara berlari ke kamarnya, tubuhnya lemas seketika melihat seluruh isi tasnya berhamburan di atas tempat tidur. Clara mengambil tas miliknya dan melihat ke dalammya yang telah kosong melompong. Hati Clara pilu, seharusnya dia tahu jika Darma tidak akan pernah berubah. Darma tetaplah Darma, ayah yang selalu membuat hidupnya menderita.


Dengan lemas Clara merapikan semuanya lalu bersiap pergi kuliah karena sebentar lagi Adelia pasti akan menjemputnya.


Limabelas menit kemudian Adelia datang dengan wajah terlihat sangat bahagia, menimbulkan tanda tanya dalam benak Clara.


"Gue curiga nih pasti ada yang lo sembunyiin dari gue, ayo ngaku kalo gak gue gelitikin nih!" Clara bersiap melayangkan tangannya pada perut Adelia, gadis itu beringsut dari duduknya. 


Adelia paling tidak tahan digelitikin dan itu selalu menjadi senjata bagi Clara jika Adelia menyembunyikan rahasianya darinya.


"Ampun Cla, jangan gelitikin gue."


"Makannya buruan cerita!"


"Oke, oke, gue akan cerita."


Clara menarik tangannya lalu membenarkan posisi duduknya bersiap menyimak cerita sahabatnya.


"Apa, apa buruan." Clara sudah tidak sabar mendengar cerita Adelia.


"Semalam ... kak Yuan telpon gue, dia ngajak gue ngedate," tutur Adelia malu-malu lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Seketika senyum di wajah Clara pudar berganti wajah tegang, mau tidak mau kejadian semalam pun menguar di ingatannya dimana dengan sangat kasar Yuan berani menyambar bibirnya yang masih perawan.


Dion saja kekasihnya tidak pernah ia izinkan melakukannya, tetapi dengan sangat kurang ajar pria itu melakukannya. Yang lebih membuat Clara sakit adalah Yuan menuduhnya sebagai wanita murahan.


"Kenapa? Lo kok kayak nggak seneng gitu?" tanya Adelia yang melihat perubahan wajah Clara yang terlihat tidak senang mendengar jika dirinya diajak kencan oleh Yuan. "Lo ... nggak naksir sama kak Yuan juga kan?"


Clara tergagap. "Hah? Gak, gak. Mana mungkin gue suka sama laki-laki menyebalkan kayak dia. Udah usil, jahil. Nyebelin banget pokoknya."


Clara memalingkan wajahnya ke sisi, berharap Adelia tidak melihat kedua matanya yang menggenang. 


"Sukurlah kalau kamu nggak suka solnya gue jatuh cinta sama dia."


Clara kembali menatap Adelia, tersenyum. "Tenang aja gue nggak suka kok sama dia. Lagi  pula kan gue udah punya pacar."


"Hah? Siapa? Kok lo nggak pernah cerita sama gue kalo elo punya pacar? Mmm ... lo kok jahat sih sama gue, Cla? Pokoknya gue marah sama elo." Adelia menyilangkan kedua tangannya di dada, mengerutkan bibirnya ke depan, ngambek.


Clara tergelak melihat aksi ngambek sahabatnya. Bukan dia tidak mau bercerita pada Clara tapi hubungannya dengan Dion memang tidak ada yang tahu selain Dinda teman kerjanya di cafe.


"Lain kali gue ceritain, janji. Udah yuk berangkat nanti telat!"


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2