NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
ADELIA SAKIT


__ADS_3

***


Tiba di kampus Clara tak melihat Adelia, sudah dicari dan ditanyakan hampir semua menjawab 'nggak tau, nggak lihat'. 


"Adel kemana ya, kok belum datang juga padahal dosen bentar lagi dateng. Bisa kena bentakan nanti dia," gumam Clara sendiri.


Ia begitu gelisah karena sahabatnya tak kunjung terlihat batang hidungnya. Clara cemas karena hari ini dosen yang mengajar mereka adalah pak Tama, si dosen killer.


"Lo kenapa kok kayak cemas gitu, kenapa Clara?" Desi teman kelasnya yang duduk di sebelah kursinya bertanya. 


Sepertinya dia memperhatikan Clara sejak tadi.


Clara menoleh. "Adelia kenapa belum datang ya?" Sahut Clara kemudian.


"Telat kali. Lagian tumben amat kalian nggak berangkat bareng seperti biasa. Kan, biasanya kalian dah kayak amplop ma prangko, nempeĺ, kemana-mana berdua." Desi lalu terkekeh.


Clara menanggapi dengan senyum tanpa berniat menjelaskan. Sejak kehadiran Yuan di kehidupan mereka terlebih setelah Adel dan laki-laki itu menjalin hubungan. Clara merasa Adel jarang sekali ada waktu untuknya.


"Lo udah telpon?"


"Belum sih, nggak kepikiran."


"Ck, mentang-mentang pacarnya artis jadi nggak fokus deh," cibir Desi kemudian terkekeh kembali.


Di kampus ini sempat heboh saat melihat Zidan, dan lebih heboh lagi setelah mereka tahu selebgram itu adalah pacar Clara, pacar pura-pura. Mereka mengatakan Zidan dan Clara sangat serasi.


Dahi Clara mengerut. "Apa hubungannya?"


"Nggak tau, tadi gue cuma asal ceplos. Mending lo WA deh tanya dia dimana."


Clara berpikir sesaat lalu meraih telponnya, mengetik sesuatu kemudian mengirimnya pada sahabatnya. Masih centang abu-abu tapi belum dibuka.


Clara menunggu sesaat, tapi Adelia tak juga membuka pesan darinya hingga Pak Tama masuk sahabatnya itu tak juga membalasnya.


***


Ting Tong


Clara kini berdiri di depan pintu rumah Adelia, ia memutuskan untuk menengok gadis itu setelah pada jam istirahat Clara mendapat balasan jika Adelia sakit.


Pintu terbuka dan muncul wanita paruh baya tersenyum ke arahnya, ia balas tersenyum.


"Eh, Non Clara, kebetulan. Pasti mau jenguk Non Lia ya? Ayo masuk, Non. Non Lia ada di kamar!" Bi Surti, asisten rumah tangga Adelia menyuruhnya masuk. Clara mengekor di belakang.


"Non Lia, itu ya paling susah kalau disuruh minum obat. Tadi Bibi sudah paksa makan lalu minum obat, tapi, Non Lia tetep nggak mau. Barangkali kalau sama, Neng Clara dia mau," jelas Bi Surti tanpa Clara minta.


"Emang Adel sakit apa, Bi?"


Mereka meniti tangga menuju kamar Adelia yang ada di lantai dua. Seperti biasa, Clara selalu takjub setiap ada di rumah megah itu. Kadang ia iri melihat Adelia yang hidup serba ada tanpa harus bekerja seperti dirinya. Bukan dirinya tak bersyukur dengan apa yang ia miliki sekarang, tetapi apa tidak ada kehidupan yang lebih baik untuknya?

__ADS_1


Clara segera beristighfar karena sempat membanding-bandingkan hidup orang lain dengan hidupnya.


"Kecapean kayaknya, Non. Kemarin pas pulang sama pacarnya dia langsung sakit, badannya panas. Maklum, Non Adel kan anaknya emang gitu, nggak bisa capek sedikit pasti sakit."


Clara tahu itu, Adelia memang tak punya daya tahan tubuh yang kuat seperti dirinya. Adelia gampang sakit jika terlalu capek sedikit saja dia akan seperti sekarang.


Mereka tiba di depan pintu Adelia, Bi Surti lalu pamit undur diri. Ia hendak memasak makan malam untuk penghuni rumah itu.


"Adel, lo tidur ya?" Seru Clara setelah mengetuk pintu.


"Masuk aja, Cla, nggak di kunci!"


"Ciluk ba …."


"Sini, Cla naik!" Adelia menepuk sisi tempat tidurnya menyuruh Clara naik ke kasur. Clara menurut.


"Lo sakit apa sih, Del, kok muka lo pucat gitu pasti lo belum makan belum minum obatnya bandel banget jadi anak." Clara mengomel tanpa jeda saat melihat nasi dan lauk yang masih utuh serta obat di atas nakas.


"Gue nggak suka minum obat. Pahit." 


"Dimana-mana yang namanya obat ya pasti pahit Markonah, kalau manis itu sirup namanya. Sekarang lo makan habis itu minum obatnya!"


Clara meraih piring. "Ayo aa, gue suapin!"


"Nggak mau, gue nggak mau makan, gue nggak mau minum obat." Adelia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Clara hanya menggelengkan kepalanya.


Kadang menghadapi Adelia yang masih sering berperilaku kekanakan membuat Clara harus ekstra sabar menghadapinya. Clara tahu mengapa Adelia bersikap seperti itu. Adelia hanya kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya yang terlalu sibuk bekerja. Mereka lupa bahwa anak mereka juga butuh perhatian, bukan hanya dijejali dengan kemewahan.


"Udah. Puas lo bikin gue menderita?" 


"Hahaha … banget."


Mereka lalu bercengkrama, Adelia meminta maaf karena belum menjenguk ayahnya. Ia juga minta maaf karena tidak tahu jika Darma sudah dibawa pulang.


Clara pamit pulang karena ia harus pergi kerja dan juga ia mengkhawatirkan sang ayah yang juga masih sakit. Saat keluar dari kompleks perumahan elit itu Clara melihat mobil Yuan. Mungkin, hendak menjenguk Adelia.


"Kiri, Bang!"


***


Clara baru saja duduk, merentangkan tangannya ke depan, menelengkan kepalanya kekiri dan kekanan untuk melemaskan ototnya yang terasa kaku.


Malam ini cafe sangat rame hingga Clara sempat kewalahan karena salah satu karyawan ada yang tidak masuk karena sedang ada acara di rumahnya jadi tugasnya bertambah banyak.


"Duh, capek banget ya, Clara. Badanku sampai sakit semua." Dinda menghampiri, gadis itu pun melakukan gerakan seperti yang Clara lakukan tadi. Ia lalu duduk di kursi depan Clara, menyimpan nampan di meja.


Clara hanya menggumam membuat Dinda berpikir jika dia marah kepadanya. Padahal Clara hanya terlalu capek sehingga malas berbicara.


"Elo marah sama gue ya, Cla?"

__ADS_1


"Hmmm, marah? Marah kenapa?"


Dinda tak menjawab, ia tahu Clara pasti tahu apa yang ia maksud.


"Gue nggak marah, ngapain juga gue mesti marah? Kan gue udah pernah bilang sama elo kalau gue bakal dukung elo sama Dion. Elo tenang aja gue udah ikhlas kok." Clara sudah memutuskan melupakan semua kenangannya bersama Dion.


"Makasih ya, Cla, elo baik banget si jadi orang. Semoga elo dapat laki-laki yang baik pula."


"Aamiin, makasih juga udah di doain." Clara lalu berdiri saat melihat pengunjung yang baru duduk melambaikan tangan ke arahnya.


"Gue kesana dulu ya?" Tanpa menunggu jawaban Clara meninggalkan Dinda sendirian di sana.


***


"Ikut kita aja, Cla, daripada naik ojol kan lumayan penghematan." Dinda yang melihat Clara berdiri di depan cafe menawari gadis itu tumpangan setelah kakaknya datang menjemputnya.


Setelah dipaksa akhirnya Clara mau ikut bersama Dinda dan kakaknya.


"Kamu sudah semester berapa, Clara?" tanya kakaknya Dinda saat di jalan.


"Semester akhir, kak," jawab Clara singkat.


"Sudah ada gambaran mau kerja dimana?"


"Belum sih, masih bingung."


"Kalau kamu mau aku ada seorang kenalan, jabatannya lumayan tinggi di kantor itu. Kalau kamu mau aku bisa membantu masuk disana? Tapi ..."


"Tapi apa, kak?"


"Kantornya di luar kota."


Clara berpikir sejenak. Ia tidak mau meninggalkan ayahnya karena jika dirinya bekerja di luar kota tentu ia harus meninggalkan Darma seorang diri.


"Gajinya lumayan besar lo karena perusahaan itu sedang maju pesat," sambungnya saat melihat keraguan pada Clara.


"Clara pikir-pikir dulu ya, kak?"


"Oke, aku harap kamu tidak menolaknya. Kata Dinda kamu pintar, sayang kalo harus kerja jadi pelayan cafe terus."


Clara hanya tersenyum, dirinya memang berencana keluar dari cafe setelah lulus nanti.


Tanpa terasa mereka tiba di depan rumah Clara, gadis itu turun setelah mengucapkan terima kasih setelah itu ia memutar tubuhnya lalu masuk ke dalam rumah.


Baru saja Clara menutup pintunya seseorang mengetuknya. Tanpa bertanya siapa Clara langsung membukanya.


Kedua bola mata gadis itu membola sempurna. Tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Yuan berdiri di depannya dengan kedua mata sayunya.


"Kak Yuan? Ngapain kesini? Ini kan sudah malam, Kak, nanti …"

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2