
***
Berkali-kali Clara menoleh sahabatnya yang hanya mengaduk-aduk bakso miliknya, Adelia sibuk dengan ponselnya. Setiap jam istirahat Adelia memang selalu begitu, sibuk telponan dengan Yuan. Meski hatinya sakit tapi Clara mencoba untuk ikhlas.
"Adel, makan dulu!" Clara berbicara tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir tapi Adel mengerti jika Clara menyuruhnya untuk makan.
Adela menjawab dengan anggukan kepala saja lalu menyuap.
"Oke, baiklah aku tunggu." Adelia menyudahi panggilan di telepon.
"Clara, lo gak apa kan pulang sendirian soalnya kak Yuan mau ngajak aku jalan?" Ragu Adelia saat berkata karena tak enak hati.
Clara diam sesaat, padahal ia sedang butuh bantuan dari sahabatnya. Hari ini Ayahnya pulang dari rumah sakit.
"Oh, yaudah gak papa. Gue kan bisa naik angkot. Lo tenang aja gue kan udah biasa," sahut Clara, sebenarnya ia kecewa tapi sekali lagi ia tak mau merusak kebahagiaan Adelia.
***
Clara sedang berdiri di halte dekat kampusnya saat sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Pengemudinya membuka kaca mobil.
"Zidan ..."
"Masuk! Kamu pasti mau pulangkan? Aku antar."
Clara ragu tapi setelah Zidan memaksa akhirnya dia masuk ke mobil Zidan.
"Hari ini ayah kamu pulangkan?" tanya Zidan saat mobil sudah berjalan.
"Hu'um. Eh, kok kamu tahu ayahku sudah boleh pulang?" Clara heran mengapa laki-laki di sebelahnya ini tahu bahwa ayahnya sudah diperbolehkan pulang hari ini padahal ia belum memberitahu siapapun termasuk Adelia.
Zidan tersenyum.
"Apa sih yang nggak aku tahu tentang kamu."
"Ish, aku curiga kamu pasang cctv di sekitar aku deh?"
Zidan tertawa terbahak lalu tangannya terulur mengacak-acak rambut Clara.
"Kamu lucu banget sih, Sella."
Clara menepis tangan Zidan.
"Apa-apaan sih, Zidan. Emang aku anak kecil," sungut Clara manyun yang membuat tawa Zidan makin jadi.
Mereka tiba di rumah sakit dan ternyata Darma sudah mengemasi semua bajunya ke dalam tas, itu ia lakukan jika Clara datang tidak perlu membereskan semua. Darma sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan merepotkan putrinya lagi.
"Ayah sudah tidak sabar ingin cepat-cepat pulang. Ternyata di rumah sakit nggak enak," tutur Darma pada Clara dan Zidan. Clara tersenyum.
"Mana ada tinggal di rumah sakit enak, om? Apalagi makanannya hambar, nggak ada rasa." Zidan menanggapi.
__ADS_1
Clara hanya melirik kedua laki-laki beda generasi itu bercengkrama. Terlihat akrab seperti ayah dan anak lelakinya.
Setelah membereskan semuanya mereka lalu menuju parkiran. Zidan membantu mendorong kursi roda Darma karena pria itu belum sembuh total.
Selama perjalanan Clara tidak banyak bicara, pandangannya fokus ke luar jendela kaca di sampingnya. Namun, pikirannya entah kemana.
Tiba di rumah Darma dibaringkan di kamarnya di bantu Clara dan Zidan.
Clara menghampiri Zidan yang duduk di ruang tamu, di tangannya membawa nampan berisi dua gelas berisi minuman dan beberapa potong kue yang tadi pagi ia sempat buat. Barangkali akan ada tetangganya yang menjenguk ayahnya.
Meski Darma pemabuk dan penjudi, tetapi pria itu tidak pernah berbuat onar dengan tetangganya.
Clara berterima kasih pada Zidan karena telah membantu membayar biaya rumah sakit ayahnya, dan bahkan sudah sudah mengantarkannya pulang.
Karena sudah malam Zidan pamit, tak lupa laki-laki tampan itu berpamitan pada Darma dan akan datang lagi jika ada waktu. Clara mengantar Zidan sampai ke mobilnya.
"Zidan, makasih udah bantuin aku. Aku nggak tau harus dengan cara apa buat balas kebaikan kamu selama ini," ucap Clara tulus, matanya sedikit berembun.
Clara bersyukur dirinya dikelilingi orang-orang yang baik dan peduli padanya.
Zidan tersenyum lalu menepuk bahu Clara.
"Santai aja, Clara, kayak sama siapa aja. Aku udah anggap om Darma kayak ayah aku sendiri. Ya udah aku pulang ya, kamu juga istirahat!"
"Iya."
Clara menarik nafasnya dalam, entah apa yang ia rasakan kini. Tapi Clara berharap jika yang mengatakan hal seperti tadi adalah Yuan.
"Astaghfirullah, Clara, jangan mikirin jodoh orang!" Clara menepuk keningnya sendiri, mengapa juga yang ada di otaknya hanya nama laki-laki itu.
Clara lalu masuk, mengecek keadaan ayah sebelum kemudian pergi ke kamarnya dan tidur.
***
Pagi ini Clara bangun lebih awal karena harus menyiapkan semua keperluan ayahnya seperti biasa, tetapi hari ini Clara lebih sibuk dari biasanya. Ia harus masak, menyiapkan obat untuk ayahnya, membawanya ke kamar Darma agar ayahnya tak kesusahan.
"Ayah jangan lupa makan. Obatnya juga jangan lupa diminum semua sudah Clara siapin." Pesan Clara sambil menyimpan nampan di meja.
Darma tak menjawab, ia hanya memperhatikan putrinya yang seperti tak merasa terbebani dengan dirinya. Padahal, selama ini ia menganggap Clara adalah bebannya.
"Ayah kenapa nangis?" Clara duduk di tepi ranjang, meraih tangan Darma dan menggenggamnya erat.
Darma masih diam, kedua matanya makin berkaca. Clara menghapusnya.
"Apa Clara bikin ayah kecewa?"
Kali ini Darma menggeleng.
"Ayah … ayah minta maaf. Ayah banyak dosa sama Clara …" Darma tak bisa meneruskan kalimatnya, dadanya sangat sesak mengingat semua perbuatannya pada anak semata wayangnya.
__ADS_1
"Ayah, Clara sudah maafin, ayah." Clara lalu memeluk Darma, ia berdoa semoga kali ini ayahnya benar-benar menyesali perbuatannya.
"Clara sayang banget sama ayah. Clara nggak tahu kalo nggak ada ayah, Clara nggak punya siapa-siapa lagi selain ayah." Ditahannya agar ia tidak menangis.
Darma mengusap kepala Clara, betapa beruntungnya dirinya memiliki anak seperti Clara.
'Harnum, terima kasih karena kamu sudah melahirkan anak sebaik Clara. Maaf atas semua salahku yang telah menyia-nyiakan kamu dan anak kita. Kamu memang perempuan yang baik makannya Clara juga baik sepertimu.' Dama membatin, sejenak bayangan almarhum istrinya membayang di ingatan.
Harnum adalah perempuan yang cantik dan juga baik, hanya saja nasibnya tak beruntung. Harnum dijual ayahnya kepadanya demi uang untuk melunasi hutangnya. Karena itulah mengapa Darma selalu mengatakan jika ibu Clara perempuan murahan.
Darma membuka laci lalu mengambil sesuatu dari sana.
"Ini apa ayah?" Clara mengernyit melihat selembar photo yang Darma sodorkan.
"Katanya kamu ingin melihat ibumu."
Wajah Clara berbinar, selama ini dirinya memang ingin sekali melihat ibunya meski hanya di photo.
Clara menerimanya, melihat potret itu dengan air mata yang mulai mengalir. Ada dua perempuan dalam photo itu dan Clara tidak tahu yang mana ibunya. Apalagi wajah mereka hampir mirip satu sama lain.
Clara menatap ayah seolah bertanya yang manakah ibunya.
"Yang depan adalah ibumu," terang Darma menjawab kebingungan Clara.
Clara mengusap wajah ibunya di photo.
'Ibu, ternyata ibu sangat cantik lebih dari yang Clara bayangkan selama ini.'
"Yang satunya adalah sahabat ibu kamu, namanya Franda. Tapi …" Darma menjeda kalimatnya, ia ragu saat ingin mengatakan semuanya pada Clara. Darma takut Clara membenci dirinya.
"Tapi apa ayah?" Clara begitu penasaran mengapa ayahnya tidak melanjutkan ceritanya.
"Ceritanya panjang, lain kali saja ayah ceritain. Sekarang sudah siang nanti kamu terlambat berangkat kuliahnya."
Clara kecewa, tetapi yang dikatakan ayahnya benar. Ia harus pergi kuliah karena hari ini Adelia tidak akan menjemputnya. Sahabatnya itu akan berangkat bersama Yuan.
Dalam perjalanan ke kampus Clara merasa tidak tenang karena ada yang mengganjal dalam benak. Franda. Nama perempuan dalam photo yang kata ayahnya adalah sahabat almarhumah ibunya.
"Apa mungkin yang ayah maksud adalah ibu Franda dosenku di kampus? Tapi …"
Clara terus berpikir hingga tanpa sadar bis yang ia tunggu sudah datang.
"Mau naik nggak, Neng?"
"I-iya, Bang."
Bersambung
Hai readers, jangan lupa vote dan masukin rak ya. Makasih semuanya.
__ADS_1