
***
Hari ini Clara kembali ke kampus. Sebenarnya dia enggan karena malu jika semua temannya tahu bila dirinya tengah hamil, apalagi semua juga tahu dia belum menikah, tapi Zidan terus memaksa dan mengatakan jika dia akan menjaganya. Belum lagi bu Franda turut membujuknya. Akhirnya terpaksa Clara menurut, lagipula ia pikir hamilnya masih belum kelihatan.
Clara berangkat di jemput Zidan, tadinya dia mau berangkat bersama bu Franda, tetapi wanita itu tidak ada jam mengajar pagi jadi mau Clara ikut Zidan.
Zidan memperlakukan Clara seperti seorang ratu, membuka kan pintu mobil untuknya saat naik dan juga turun. Clara sampai salah tingkah dan malu karena hampir semua orang memperhatikannya.
"Aku bisa sendiri, Zi." Clara menepis tangan Zidan saat hendak membantunya turun dari mobil.
"Gak, aku bantu. Nanti kalau kamu jatuh gimana?"
Clara berdecak kesal, kenapa Zidan jadi posesif begitu. "Aku ini sudah besar, bukan anak kecil lagi, Zi."
"Iya tahu, pokoknya aku mau bantu kalau kamu nolak aku gendong nih." Zidan bersiap mengangkat tubuh Clara.
"Gak! Oke, oke aku turuti kemauanmu." Clara sangat kesal pada Zidan, dia memegang tangan Zidan yang langsung menggenggamnya erat.
Senyum kemenangan terbit di bibir laki-laki itu. "Nah, gitu dong. Pokoknya kamu harus nurut sama aku. Eits, nggak boleh bantah, mengerti!"
Lagi-lagi Clara hanya bisa menuruti kemauan Zidan yang kenapa menjadi lebih perhatian padanya. Clara khawatir dirinya tak bisa membalas perasaan Zidan dan akhirnya Zidan akan terluka karenanya. Memang dirinya telah memutuskan memilih lelaki itu, tetapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam masih ada nama Yuan yang bertahta.
Ternyata tak sampai disitu, Zidan juga menggandeng tangannya dan mengantarnya sampai ke kelas.
"Aku akan menunggumu di luar sampai kelas selesai." Belum juga Clara menjawab Zidan sudah pergi.
"Selain ganteng Zidan ternyata so sweet juga ya? Lo beruntung banget sih Cla, bisa pacaran sama dia. Udah ganteng, tenar, baik, so sweet lagi." cerocos Desi yang duduk di sebelahnya. Clara hanya tersenyum kecil.
'Iya sih baik, tapi kadang ngeselin' batin Clara.
"Eh, Cla, lo kemana aja sih kok gak pernah masuk? Apa sakit elo separah itu sampai berminggu-minggu nggak masuk?"
Glek
Clara menelan ludahnya dengan susah payah. Pertanyan Desi barusan ia belum mempersiapkan jawaban, sedari tadi ia sibuk menenangkan pikirannya yang masih saja terfokus pada Yuan.
"Clara …"
Panggilan itu menyelamatkannya dari pertanyaan Desi, ia menoleh sumber suara. Adelia berdiri tak jauh darinya. Gadis itu menatapnya seolah seperti tak percaya, tubuhnya seakan tak bisa digerakkan. Adelia terpaku sesaat di tempatnya.
Dan ketika tersadar dia menghambur memeluk Clara dan menangis karena terharu.
__ADS_1
"Elo jahat, Cla, elo ninggalin gue. Lo tiba-tiba pergi tanpa khabar? Kemana saja selama ini? Lo nggak tau gue cemas mikirin elo? Hiks …"
Clara terharu, tapi tidak sampai menangis meski pandangannya sudah mengabur karena kedua matanya berkaca.
"Lebay lo ah. Gue cuma lagi pengen sendiri." Jelasnya sambil mengusap punggung Adelia, kadang Clara merasa heran kenapa Adelia begitu menyayanginya, dan juga terlalu manja padanya.
Padahal Adelia lebih tua 2 bulan, tapi kadang masih seperti anak kecil.
"Lebay kata elo?" Adelia melepas pelukannya, menatap Clara intens. "Lo gak tau gue hampa tanpa ada elo di hidup gue?"
"Ummm … co cweet, sini peluk lagi."
Adelia kembali memeluk Clara lebih erat seakan takut kehilangan gadis itu lagi. Adelia sangat menyayangi Clara melebihi apa yang Clara duga.
Desi hanya melihat iri, tapi bukan iri yang jahat. Dia pun ingin punya sahabat yang baik seperti Adelia dan juga Clara.
Tak berapa lama dosen datang dan kelas pun dimulai. Clara menoleh samping jendela, dia melihat Zidan masih duduk di kursi sambil sesekali bertegur sapa yang mungkin teman atau penggemarnya.
Entah dirinya harus senang atau sedih. Dicintai oleh laki-laki setulus Zidan kadang membuatnya merasa tidak pantas, dirinya sudah ternoda, tapi masih saja mau menerimanya? Padahal diluar sana masih banyak gadis-gadis yang lebih pantas untuknya. Clara benar-benar tidak mengerti dengan arah pikir Zidan.
Clara terus saja termenung, memikirkan sebaiknya ke depannya. Haruskah ia membuka hatinya untuk Zidan? Atau menyuruh laki-laki itu mencari gadis lain yang lebih baik dan pantas untuk mendampinginya.
Memikirkan itu semua membuat Clara pusing tujuh keliling sampai dia dia tidak sadar 2 jam sudah berlalu dan dosen pun sudah keluar dari kelas.
"Ke kantin yuk, laper nih!" Adelia mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan minta di isi.
"Yuk." Clara mengangguk lalu berdiri, menggandeng tangan Adelia keluar dari kelas.
"Sudah selesai?" Tanya Zidan menghampiri kedua gadis itu.
"Kenapa kamu masih disini, Zi, kamu nggak ada kelas?" Clara mengira laki-laki itu sudah pergi ternyata Zidan masih menunggunya.
"Kan aku sudah bilang akan nungguin kamu. Sudah mau pulang?"
"Belum masih ada kelas, tapi nanti satu jam lagi."
"Iya kita mau ke kantin, lo mau ikut?" Adelia menimpali.
"Iya dong kan aku mau jagain Clara, takut ada yang godain." Digerak-gerakkannya kedua alisnya menatap Clara membuat Clara memutar bola mata jengah.
"Ya elah jadi pacar posesif amat, sii."
__ADS_1
"Biarin, sirik aja lo."
"Ck, gue gak sirik. Dengerin ya Zidan yang ganteng menurut versi fans-fans elo yang khilaf, gue juga bisa, gue punya kak Yuan yang lebih ganteng daripada elo."
Zidan langsung melihat Clara yang berubah berwajah muram. Ia tahu pasti Clara teringat laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya.
Clara memalingkan wajahnya, dia tidak mau Adelia melihat air matanya yang hampir saja jatuh.
Oh, ingin sekali Zidan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, memberinya kekuatan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa melihatnya. Clara pasti sedang merasa sakit sekarang.
'Ah, andaikan rasa sakit itu bisa dipindahkan? Biar aku saja yang merasakan asal aku bisa melihatnya selalu bahagia' Zidan membatin, melihat Clara seperti itu hatinya ikut merasakan sakit.
Mereka akhirnya pergi ke kantin. Seperti tadi, Zidan memperlakukan Clara begitu istimewanya. Dia tak membiarkan Clara bergerak sedikit pun dari tempat duduknya.
Zidan yang memesan makanan dan minuman untuk Clara, dan dia juga hendak menyuapinya, tetapi Clara menolak. Perlakuan Zidan yang seperti itu membuat iri para penggemar selebgram itu terutama perempuan. Mereka berandai jika merekalah yang ada di posisi Clara.
"Clara beruntung banget ya bisa dapetin hatinya Zidan? Mmmm … andai gue yang ada di posisi dia pasti gue bahagia banget."
"Ngaca woy ngaca! Nggak mungkin Zidan mau sama elo yang mandi aja sekali dalam sehari. Ngenteni rodo peteng tur meneh."
"Hah? Apaan tuh artinya?"
"Nunggu agak gelap, hahaha."
"Sialan lo buka aib orang! Eh, tapi Clara pantes dapetin Zidan. Dia kan baik, pintar, gak sombong lagi."
"Iya elo benar. Mereka serasi ya?"
"Semoga mereka sampai ke pelaminan, bahkan sampai kakek nenek."
Zidan ingin tertawa mendengar ghibahan para fans nya yang sedang membicarakan dirinya dan Clara. Namun, dia juga mengamini. Semoga apa yang mereka katakan akan jadi kenyataan. Aamiin.
Usai dari kantin Clara juga Adelia kembali ke dalam kelas. Clara menyuruh Zidan pergi dan tidak perlu menunggunya, tetapi dasar bucin, Zidan tidak mau jauh-jauh darinya.
"Please Sell, biarin aku nungguin kamu, ya ya ya?" Zidan terus memohon. Clara memutar bola mata malas, dia sudah lelah berdebat dengan Zidan.
"Terserah kamu aja deh." Akhirnya Clara menyerah dan membiarkan Zidan menunggunya di luar.
Clara masuk ke kelas menyusul Adelia yang sudah lebih dulu masuk. Zidan tersenyum penuh kemenangan.
Sepanjang menunggu laki-laki itu tak bosannya memandangi wajah Clara dari kaca yang transparan, dan kebetulan Clara duduk di dekat jendela jadi sangat jelas terlihat.
__ADS_1
Zidan melambaikan tangannya dan tersenyum manis saat Clara menoleh ke arahnya, tapi wajah Clara datar tanpa ekspresi.
Bersambung