NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
BIMBANG


__ADS_3

***


Mereka tiba di parkiran, Adelia langsung masuk ke mobilnya. Tak ada sopir, Adelia lebih suka mengendarai mobilnya sendiri. Mobil itu adalah kado ulang tahunnya yang ke 17 dari papanya. Semula Adelia tak pernah berani menyetir sendiri. Selain belum memiliki SIM Adelia juga lebih suka naik angkutan umum bersama Clara.


Namun, setelah kuliah Adelia baru berani membawa mobilnya sendiri agar mempermudah dirinya untuk menjemput Clara.


Adelia tak lantas menjalankan mobilnya, tetapi justru membuka kacanya lalu mengobrol dengan Clara.


"Zidan kayaknya cinta banget ya sama elo?" ucap Adelia sambil tersenyum, ia ikut senang melihat Clara ada yang mencintainya.


Clara hanya mengulas senyum tipis. Oh, andaikan Adelia tahu jika mereka hanya berpura-pura pacaran pasti Adelia akan sangat kecewa. Pada kenyataannya dirinya justru mencintai Yuan_kekasihnya.


"Kak Yuan kayaknya juga cinta banget sama elo. Elo beruntung ya, punya pacar kayak kak Yuan? Baik dan sangat perhatian. Sampai bela-belain datang ke rumah sakit biar bisa makan siang bareng elo," balas Clara, tetapi sebenarnya hatinya sakit saat mengatakan itu.


Wajah Adelia langsung merona karena malu.


"Iya ya, gue beruntung banget punya pacar kayak kak Yuan." Adelia lalu membayangkan jika kelak dirinya menikah dengan Yuan pasti mereka akan hidup bahagia.


"Jiah melamun, hayo melamunin apa? Jorok ya?" Tuduh Clara sambil tertawa. 


"Idih sembarangan, gak lah. Gue tuh lagi ngebayangin kalau nanti kami menikah pasti kami akan bahagia. Aku masakin kak Yuan, nunggu dia pulang kerja." 


Adelia kembali membayangkan Yuan.


Clara terdiam. Entahlah, kenapa hatinya kian terasa perih. Seharusnya ia bahagia tapi kenapa justru rasanya hatinya kian menyiksa.


"Lo tau nggak, Cla, gue cinta banget sama kak Yuan. Gue juga udah cerita soal kak Yuan sama mama papa, dan mereka setuju gue sama kak Yuan." Adelia terlihat sangat bahagia saat mengatakan itu. Wajahnya berseri dan kedua bola matanya yang indah berbinar.


Sekali lagi Clara hanya mengulas senyum tipis. Ingin rasanya ia segera pergi dari sana dan mencari tempat sepi. Ia ingin menangis, meluapkan semua kesedihannya.


Setelah puas mengobrol Adelia . akhirnya pulang ke rumahnya. Clara lega karena sebentar lagi ia bisa menumpahkan kesedihannya.


Clara pergi ke taman yang ada di belakang rumah sakit, ia ingin menangis sebentar disana.


Clara berjalan perlahan, pandangannya sudah sedikit mengabur karena terhalang genangan air yang sudah mengambang di kedua matanya. Clara lalu duduk di bangku yang ada disana.


"Sesakit inikah mencintai orang yang bukan untuk kita, apalagi milik sahabat sendiri?" Gumam Clara di sela isak.


Apakah dirinya salah karena jatuh cinta? Apakah dirinya salah jika ia pun ingin dicintai oleh orang yang dicintainya pula? Dosakah jika ia berdoa agar mimpi Adelia untuk menikah dengan Yuan tidak akan pernah terwujud, karena dirinya pun punya mimpi yang sama. Menikah dengan Yuan.


Clara terus menangis hingga beberapa lama sampai ia benar lega dan kesedihannya berkurang. Dihapusnya kedua pipinya yang basah, ia tidak boleh memikirkan Yuan lagi. Laki-laki itu milik Adelia, ia tidak boleh merebutnya dari Adelia.

__ADS_1


Clara tidak mau dianggap air susu dibalas dengan air tuba. Biarlah dirinya sakit asal Adelia bahagia.


Clara menarik nafasnya dalam lalu membuangnya perlahan, melirik benda yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Astaghfirullahal adzim, ayah?"


Clara terperanjat, ia lupa sudah meninggalkan Darma cukup lama. Mungkin sekarang pria itu mencari-carinya sekarang.


Clara berjalan tergesa menuju kamar inap ayahnya. Clara khawatir ayahnya butuh bantuan darinya mengingat Darma belum boleh banyak bergerak.


Sesampainya di depan pintu, Clara melihat Yuan ternyata belum pulang. Clara tidak ingin mengganggu karena sepertinya mereka sedang berbicara serius.


Clara memilih ke mushola untuk menjalankan ibadah, setelahnya Clara berdoa untuk almarhumah ibunya juga untuk kesembuhan ayahnya. Clara berdoa semoga setelah ini ayahnya berubah. Ia pun ingin dicintai dan disayangi oleh Darma-ayahnya.


Puas mengadu pada pemilik dirinya, Clara kembali dan berpapasan dengan Yuan yang baru keluar dari ruangan ayahnya.


Yuan berhenti sebentar, melihat Clara yang tersenyum ke arahnya. Yuan membuang muka lalu pergi.


"Kak Yuan kenapa ya, kok kelihatannya marah gitu? Apa yang mereka bicarakan?"


Clara bertanya-tanya sendiri, mengapa sikap Yuan berubah dan wajahnya merah seperti tengah marah. Apa yang sebenarnya dibicarakannya dengan ayahnya?


Darma gugup saat melihat Clara masuk, ia khawatir Clara mendengar pembicaraannya dengan Yuan.


Baru juga menutup pintu Darma sudah menyambut dengan pertanyaan. Clara, mendekati ayahnya.


"Maaf, tadi Clara sho …" Kalimat Clara terhenti karena Darma menyela.


"Aku mau ke kamar mandi."


Tak ingin membuat ayahnya makin marah, Clara membantu Darma turun dari tempat tidur, membantu ayahnya membawakan selang infus.


Sambil menunggu ayahnya di depan kamar mandi, Clara kembali berpikir apa yang sebenarnya terjadi antara laki-laki itu dengan Darma? Mengapa Yuan memalingkan wajahnya saat mereka berpapasan di koridor?


***


Clara baru saja tiba di tempat kerjanya, menyimpan tas di brankas lalu mengganti bajunya dengan baju seragam cafe. Setelahnya ia mencari Dinda karena ada perlu dengan gadis manis itu.


"Eh, Nay, lo liat Dinda gak?" tanya Clara pada Naya yang juga teman kerjanya.


"Emm … tadi sih gue liat dia, tapi sekarang gak tau kemana. Tapi kayaknya lagi di atas deh sama Dion. Mereka kelihatan deket akhir-akhir ini, kayaknya mereka jadian deh. Dan juga Dinda sering banget bawa makanan buat Dion," kata Naya ceplas ceplos.

__ADS_1


"Dion sama Dinda pacaran?"


"Kayaknya sih gitu. Soalnya mereka lengket banget kek permen karet. Eh, gue tinggal ya, mo anter pesanan." Naya menunjuk paper bag di tangannya, ada beberapa pelanggan yang delivery makanan dan minuman.


Clara menanggapi dengan anggukan kepala.


Naya memang tidak tahu jika Clara dan Dion pernah menjalin hubungan jadi wajar jika gadis itu bicara apa adanya dan asal ceplos.


Tapi jika Dion dan Dinda berpacaran apa secepat itu Dion melupakannya? Dirinya saja belum move on dari Dion. Bukankah Dion berjanji akan menunggunya?


Clara menyusul Dion dan Dinda ke atas dimana itu adalah tempat favoritnya dan Dion saat melepas lelah.


Tubuh Clara seakan membeku melihat pemandangan di depannya. Kado di tangannya pun jatuh tanpa ia sadari. Malam ini Dinda ulang tahun dan itu adalah kado yang akan Clara berikan untuk gadis itu darinya.


Tetapi sepertinya ia datang di waktu yang kurang tepat.


Mendengar bunyi gaduh Dion dan Dinda mengurai jarak, mereka langsung panik melihat Clara yang tiba-tiba ada disana.


"Cla-Clara?" Dinda gagap, ia sangat takut karena baru saja kepergok tengah berciuman dengan Dion. Meski ia tahu mereka sudah putus, tetapi ia tetap merasa tak enak hati pada Clara.


"Ma--maaf, gue gak tau." Clara memutar badannya kemudian pergi dari sana.


Entahlah, ia bingung dengan dirinya sendiri. Ia memang sudah putus dari Dion dan sudah merelakannya untuk Dinda, tapi melihat mereka berciuman tetap saja hatinya sedikit sakit.


2 tahun menjalin hubungan dengan Dion tidak mungkin kan jika mereka tidak mempunyai kenangan. Meski bukan seputar itu tapi setiap kebersamaan yang mereka pernah lalui bersama bukan hal mudah untuk dilupakan dalam waktu singkat.


Clara duduk di bangku pengunjung yang masih kosong karena cafe masih tutup, biasanya jika menjelang adzan maghrib memang selalu tutup sementara dan akan buka kembali jam 7 malam.


Dinda menghampiri Clara dengan kepala tertunduk.


"Clara, gue bisa jelasin semuanya. Ini gak seperti yang elo lihat. Gue sama Dion cuma …"


"Nggak apa, lo berhak kok. Lagian gue sama Dion kan udah putus," sela Clara dengan senyum dibuat sewajar mungkin meski ia sedikit kecewa karena Dion melupakannya begitu cepat.


"Ya udah gue tinggal ya, udah maghrib." Clara berdiri kemudian meninggalkan Dinda yang masih berdiri mematung. 


Clara berpapasan dengan Dion, lelaki itu mencekal tangannya membuat langkah Clara terhenti.


"Aku masih cinta sama kamu, Cla."


Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2