
***
"Boleh aku pinjam Clara sebentar, ada yang perlu aku bicarakan sama dia?"
Adelia beralih menatap sahabatnya. Mendapat tatapan tak biasa dari Adelia Clara gelagepan.
"Jangan salah paham Adel, gue sama kak Yuan nggak ada hubungan apa-apa. Dia cuma mau menawari pekerjaan. Iya kan, kak Yuan?"
Laki-laki itu tak merespon.
Clara lalu turun dan menarik tangan Yuan menjauh dari sana. Yuan menurut saja.
"Maksud kamu apa? Aku kan sudah bilang aku nggak mau ketemu kamu lagi!" Clara begitu marah dan tidak suka dengan kenekatan Yuan, dan ia juga tidak suka dengan cara pria itu. Clara tidak ingin Adelia berpikir macam-macam tentangnya.
"Aku tidak punya cara lain untuk ketemu dan meminta maaf sama kamu. Clara tolong maafkan aku? Aku mohon.
" Yuan tidak tahu harus bicara apa? Haruskah dirinya meminta maaf perihal keperawanan Clara yang direnggutnya? Tapi tentu hal itu akan semakin menyakiti gadis itu karena secara tidak langsung dirinya mengatakan memang menganggap Clara adalah perempuan gampangan.
Clara mendengus kesal. "Maaf kak? Aku rasa kak Yuan sudah tau jawabannya apa?"
Clara menoleh Adelia yang sedang menatap ke arahnya dan Yuan, Clara tahu Adelia sedang cemburu. Siapa yang tidak cemburu kekasihnya datang bukannya mencarinya tapi mencari perempuan lain. Dan itulah yang Clara lihat pada Adelia sekarang.
"Sebaiknya kak Yuan jangan pernah temui aku lagi!" Clara hendak pergi tapi urung. "Satu lagi … tolong jangan sakiti Adel. Aku sangat menyayanginya."
Kemudian benar-benar meninggalkan Yuan yang masih berdiri mematung di tempatnya tanpa menoleh sama sekali.
Di mobil Adelia tak bertanya apa pun, sahabatnya itu diam dan langsung menjalankan mobilnya. Hampir seperempat perjalanan mereka masih sama-sama diam. Clara tahu Adelia sedang cemburu.
"Mmm … Del, elo nggak marah kan? Tadi kak Yuan cuma tanya keputusan gue aja kok karena kantornya sedang butuh karyawan banyak," terang Clara berbohong, tetapi ia benar-benar terpaksa melakukannya. Clara tidak ingin melukai hati Adelia yang begitu baik terhadapnya.
Adelia menolehnya sekilas lalu kembali fokus menyetir. "Iya nggak apa. Gue percaya kok, elo nggak mungkin rebut kak Yuan dari gue. Elo kan sahabat gue. Dan juga … elo udah punya Zidan."
Clara tersenyum kecut. Sepertinya ia harus terus bersandiwara di depan Adelia jika dirinya dan Zidan adalah pasangan kekasih. Biarlah, hanya butuh 10 bulan lagi karena setelah wisuda ia akan pergi dari kota ini. Clara benar-benar sudah tidak sabar menunggu hari itu, hari dimana ia akan membuka lembaran baru tanpa Adelia, Yuan, Zidan, maupun Dion. Ia akan menjadi Clara yang baru, hanya ada ia dan ayahnya saja.
__ADS_1
"Thanks ya, Del. Sampai ketemu lagi!" Clara turun dari mobil Adelia, gadis itu hanya mengangguk lalu segera melesatkan kembali mobilnya membelah jalan raya yang lenggang.
Clara menghempaskan nafasnya kasar. Entahlah, apakah dirinya akan sanggup berpisah dari Adelia. Hampir 15 tahun bersahabat dengan gadis berambut itu tentu hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat. Adelia baginya adalah adik, kakak, teman, tempatnya berbagi keluh kesah.
"Aku tidak akan pernah melupakan kamu, Del. Kamu adalah sahabat terbaikku. Tapi aku harus pergi, demi kebahagiaan kalian."
Tanpa diminta dua butir air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Baru membayangkannya saja sudah membuatnya sedih apalagi jika nanti dirinya harus benar-benar pergi. Meski itu sulit dan menyakitkan tapi ia harus melakukannya demi Adelia dan demi ketenangannya karena tidak perlu lagi bertemu dan melihat wajah laki-laki itu.
Cepat Clara mengusap pipinya ketika melihat ayahnya pulang. Clara sangat senang melihat ayahnya yang sekarang.
Darma memarkir sepeda motornya di depan rumah, Clara menghampiri lalu meraih tangan ayahnya. Darma tersenyum lalu mengacak rambut Clara penuh sayang.
"Yuk masuk, ayah beli pizza kesukaan kamu." Clara mengangguk lalu menggandeng lengan ayahnya lalu berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah.
***
Clara baru saja tiba di kafe ketika Dinda menghampirinya, gadis berambut sebahu itu terlihat sedang bahagia karena terus saja tersenyum ke arahnya.
"Kenapa lo senyum-senyum sendiri? Gak jelas." Tanya Clara sembari menyimpan tasnya ke brangkas.
"Nggak anget?"
Dinda mendengus kesal. "Lo pikir gue gila?" Dimonyongkannya bibirnya ke depan membuat Clara tertawa melihatnya.
Clara lalu memakai celemek dan topi seperti yang dipakai Dinda. Dari rumah Clara sudah memakai seragamnya yang ia rangkap dengan jaket. Itu ia lakukan agar begitu sampai di kafe ia bisa langsung bekerja.
Dinda membuntuti Clara yang berjalan ke arah toilet. Clara membalikkan badannya begitu menyadari Dinda mengikutinya sampai ke depan toilet.
"Mo ngapain lo, mo ikut masuk?"
Dinda menggeleng cepat lalu menjauh dari pintu toilet. Saat Clara keluar ternyata Dinda masih menunggunya, tentu saja hal itu sangat mengherankan dirinya.
Clara kembali ke bangkas untuk mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan Dinda kembali membuntutinya.
__ADS_1
Clara tersenyum, sepertinya ada sesuatu yang hendak gadis itu bicarakan dengannya.
"Kalo mau ngomong ngomong aja kali, Din!" sindir Clara melirik Dinda.
Dinda tampak ragu membuka suara, ia takut pada apa yang akan ia ungkapkan pada Clara.
Melihat gadis di sebelahnya tiba-tiba diam Clara menyentuh pundaknya.
"Kalo mau ngomong sesuatu ngomong aja, gak usah ragu. Gue pasti dengerin kok!"
Dinda menatap Clara intens, mencari sesuatu di mata itu. Tapi yang ia temukan hanya ketulusan dan kelembutan.
"Tapi … elo janji gak akan marah kalo gue jujur?"
Kini Clara yang gantian menatap Dinda. Sebenarnya apa yang hendak dibicarakan gadis di depannya ini dengannya, apa ada kaitannya dengan hubungannya yang makin dekat dengan Dion?
Clara tersenyum lalu menangguk. "Iya, gue janji. Sekarang cepat cerita kalo gak gue tinggal nih?"
"Eh, jangan!" Dinda menarik lengan Clara saat hendak pergi, padahal Clara hanya berpura-pura saja.
Dinda menarik nafas dalam. "Mmm … Di-Dion nembak gue tapi ..." Dinda menjeda, melihat reaksi Clara. Ia takut gadis itu akan marah padanya atau menuduhnya merebut Dion darinya meski mereka sudah putus.
Namun, diluar dugaan Clara tersenyum. "Bagus dong, bukannya itu yang elo mau? Teru kenapa elo ragu?"
"Gue … gue takut lo marah dan
benci sama gue."
Clara tertawa dan itu membuat Dinda bingung. Apakah tawa itu tawa bahagia atau kecewa? Karena bagaimanapun Dion pernah dekat dengannya.
Clara menghentikan tawanya, menatap Dinda serius. "Elo gak usah khawatir, gue udah nggak ada perasaan apa-apa lagi ke Dion jadi elo gak usah takut gue marah atau cemburu. Gue justru ikut seneng, semoga elo bahagia ya."
Clara merangkul Dinda. Entahlah, ia tidak tahu apa ia harus senang atau sedih. Meski sedikit, kenangan bersama Dion masih tersisa di dasar hatinya yang terdalam.
__ADS_1
Bersambung