
***
Mulut Adelia terbuka lebar, menelan salivananya dengan susah payah mendengar ucapan kekasihnya barusan. Mencoba mengatur degup jantungnya yang mendadak gusar tak beraturan. Wajahnya pun berubah menjadi tegang dengan tenggorokan seakan tercekat.
Dipandanginya lekat wajah tampan di depannya. Wajah Yuan datar dan tanpa ekspresi sehingga Adelia susah mencari benerannya. Apakah serius atau hanya bercanda.
Yuan yang menyadari raut muka gadisnya lal tersenyum, mencolek hidung Adelia. Kenapa dia baru sadar jika gadis di depannya ini sangat lucu dan menggemaskan, apalagi jika sedang seperti sekarang. Yuan jadi ingin mencium bibirnya karena gemas.
Atau selama ini dirinya yang terlalu buta karena yang ada di pikirannya hanya Clara, Clara dan Clara. Tapi entah kenapa malam ini terasa berbeda, ia tak begitu mengingat Clara meski bukan lupa. Hanya saja ia merasa tak ada gunanya lagi memikirkan seseorang yang tidak ingin dipikirkan.
Semua yang sudah terjadi padanya dan Clara hanyalah musibah yang tak sengaja, walau sebenarnya ada cinta dan sakit hati yang mengawali hingga tragedi itu terjadi.
"Kak Yuan nggak serius-kan?"
Yuan melebarkan senyumnya. Sepertinya Adelia memang sangat polos. Tidak seperti penampilannya yang menunjukkan sebaliknya.
"Menurutmu?" Yuan balik bertanya.
"Ya, ya, Adel gak tau kan Adel nggak bisa nebak isi kepala kak Yuan?"
"Atau kamu berharap aku menginap di rumah kamu?" Yuan mengerlingkan sebelah matanya, membuat Adelia salah tingkah lalu membuang wajahnya ke samping.
"E--nggaklah. Mana mungkin aku berharap begitu. Kita kan … udah ah, buruan jalan. Jangan bahas itu lagi!" Dipegangnya dadanya yang debarnya kian terasa cepat.
'Sialan hati gue kenapa deg degan terus sih tiap deket sama dia?' batinnya, Adelia khawatir lelaki yang kini terus menatapnya mendengar suaranya. Adelia terlalu malu karenanya.
Yuan lebih melebarkan senyumnya, apalagi melihat rona di pipi Adelia yang putih.
"Ya udah kita pulang." Yuan berkata, lalu perlahan menjalankan mobilnya menuju rumah Adelia.
Adelia masih tak berani menoleh Yuan karena ia yakin wajahnya masih memerah meski detak jantungnya berangsur normal.
"Kok diam dari tadi? Sariawan ya?" Yuan mengawali obrolan, dia ingin lebih mengenal Adelia.
"Enggak." Jawab Adelia sambil menggeleng.
"Kalo nggak sariawan kenapa diam terus? Kamu marah sama saya?"
"Enggak kok, aku nggak marah sama Kak Yuan. Adel cuma malu."
"Malu? Malu kenapa?"
Adelia menggeleng. "Adel juga nggak tau Kak, Adel cuma malu aja."
"Ooh, jadi kamu malu sama saya biasanya kamu nggak gini?"
"Tapi sekarang Adel malu. Udah ah, jangan bahas ini lagi bahas yang lain aja!" rajuknya manja.
"Tapi saya ingin bahas ini gimana dong?"
"Kak, Adel mohon jangan bahas itu lagi!" Adelia merajuk meski sebenarnya dia juga senang.
Yuan tertawa kecil sambil menggeleng-gelengķan kepalanya. "Baiklah kalo itu mau kamu."
__ADS_1
Mereka lalu membahas yang lain. Adelia bercerita tentang Clara yang akan menikah minggu depan, dan tentu saja mau tidak mau bayangan sang pujaan berkelebat di depan matanya, tetapi anehnya dirinya tak begitu merasakan rindu ataupun yang lainnya. Ada apa dengannya?
Kemana perginya Yuan yang selalu diliputi rasa bersalah dan terus meratapi Clara? Kemana rasa yang begitu menggebu-gebu untuk gadis cantik itu? Kenapa rasanya dirinya biasa saja sekarang?
Apa karena kehadiran Adelia yang mulai mengusik hatinya. Yuan menoleh gadis di sampingnya yang kini sudah terlelap.
Yuan menepikan mobilnya, memandangi wajah cantik nan imut itu.
'Sangat cantik, seperti putri tidur," gumamnya.
Entah dorongan dari mana tiba-tiba tangannya terulur menyingkap rambut Adelia yang menutupi sebagian wajahnya cantiknya.
Jarinya bergerak menyusuri wajah gadis itu dan berhenti di bibir mungil Adelia. Darahnya berdesir, jantungnya berpacu sangat cepat.
Perlahan di dekatkannya wajahnya pada Adelia, dan saat bibirnya hampir bertemu Adelia membuka kedua matanya lalu reflek mendorong dada Yuan.
"Kak Yuan mau apa?" Wajahnya mendadak memerah, tubuhnya gemetar karena gugup, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dan jangan lupakan jantungnya yang hampir meloncat seakan hendak keluar dari tempatnya.
"M-maaf, saya khilaf. Saya tidak akan mengulangi lagi. Maafkan saya Adel?"
Yuan mengutuk dirinya sendiri. Hampir saja dirinya mengulangi kesalahannya. Tidak! Dirinya tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Cukup satu kali ia merasakan seperti apa rasanya tiap hari dihantui dosa atas perbuatannya pada sendiri. Jelas ia tidak akan mengulanginya lagi. Ia akan menjaga Adelia sampai mereka menikah nanti.
"Iya nggak papa Adel ngerti kok," sahutnya dengan masih gemetaran.
Sesungguhnya Adelia pun tidak akan menolak jika Yuan mencium bibirnya. Hanya saja, dirinya tadi sangat kaget karena menyadari wajah mereka sangat dekat dan hampir menempel.
Adelia masih ingat saat mereka pergi ke pantai. Yuan mengusir semua pemuda yang hendak mengajak Adelia berkenalan.
Malah ada yang hampir dipukulnya saat ada seorang laki-laki yang memaksa kenalan. Lalu dengan tegas mengatakan jika dirinya adalah Kakaknya.
Adelia yang kesal lalu meninggalkan Yuan dan pulang dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Sebab, waktu itulah kenapa dia bisa sampai jatuh sakit.
Tapi sekesal-kesalnya pada Yuan tetap saja cintanya lebih besar sehingga dalam hitungan jam saja dia sudah merindukan kekasihnya itu.
Hah, mungkin dirinya terlalu bucin atau apa, tetapi yang jelas dia sangat mencintai Yuan.
Mereka tiba di kediaman Adelia. Sebuah rumah yang megah dengan desain ciri khas orang-orang sukses.
Adelia mengajak Yuan masuk, tetapi Yuan menolak dengan alasan sudah terlalu malam. Tidak ingin mengganggu kedua orang tua adelia yang sedang beristirahat.
Adelia tersenyum kecut, dalam hatinya berkata, mana mungkin kedua orangnya akan terganggu. Kedua orang tuanya tidak ada yang di rumah karena baru kemarin pergi keluar kota. Mungkin 3-4 hari baru akan pulang.
"Ya udah, kak Yuan bawa aja mobil Adel gak papa kok dari pada naik taksi!"
"Iya."
"Ya udah Adel turun dulu kak."
"Tunggu!" Adelia yang hendak membuka pintu mobil urung, memutar badannya menghadap Yuan.
"Iya kak, kenapa?"
__ADS_1
Yuan tak menyahut, tapi justru mendekatkan wajahnya pada Adelia. Adelia tahu apa yang akan dilakukan Yuan padanya karenanya dia memejamkan kedua matanya.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di keningnya.
"Selamat malam Adelia, semoga mimpi indah."
Adelia membuka matanya dan mendapati Yuan tengah tersenyum padanya.
Bayangan indah yang sempat dipikirkannya dengan pria itu sirna entah kemana.
Kecewa? Ya iyalah jelas kecewa. Sudah lama dirinya mendamba kecupan pertama dari pria yang dicintainya. Dirinya gadis normal yang tentu juga ingin merasakan seperti apa ciuman pertama itu?
Kata Desi temannya di kampus yang sedikit sengkleh, ciuman pertama itu sangat manis dan tak terlupakan. Jadi dirinya pun ingin merasainya. Wajarkan?
"Emmm … Adel masuk dulu kak. Akh ..." Baru saja Adelia hendak memutar badannya kembali tiba-tiba Yuan meraih pinggangnya hingga tubuhnya dan tubuh Yuan saling menempel.
Adelia menengadahkan wajahnya hingga ujung hidungnya bersentuhan dengan dagu Yuan, membuat sekujur tubuhnya merinding.
Kedua mata mereka saling mengunci sejenak sebelum kemudian Adelia memejamkan kedua matanya karena sepertinya harapannya sebentar lagi akan terkabul.
Dan benar saja, detik berikutnya Adelia mulai merasakan sesuatu menempel di bibirnya, dibukanya sedikit mulutnya agar Yuan memperdalam lumatannya.
Adelia sangatlah polos, dia tidak punya pengalaman apa-apa selain dari film drakor atau dracin yang menyuguhkan kisah-kisah cinta romantis. Namun, itu sudah cukup membuatnya mengerti apa yang harus dilakukannya dalam situasi seperti ini.
Dilingkarkannya kedua tangannya ke leher Yuan, tetapi gerakannya itu justru membuat Yuan tersadar dan melepaskan diri. Jika diteruskan dia takut tak bisa mengendalikan dirinya lalu terjadi lagi hal seperti yang tidak diinginkan.
"Cukup Adel!" Nafasnya tak beraturan, Yuan tak menyangka jika Adelia begitu agresif dan sangat lihai seperti gadis yang sudah berpengalaman. Atau memang Adelia sudah berpengalaman?
"Kamu yang pertama," ungkap Adelia lalu membuang wajahnya ke sisi.
Malu, itulah yang dia rasakan kini. Adelia sadar jika tadi dirinya terlalu bersemangat yang justru terkesan sangat agresif.
"Oh iya? Tapi …"
"Adel terlalu sering nonton drakor, jadi tahu apa yang harus Adel lakukan." Kepalang tanggung lebih baik jujur apa adanya dari pada Yuan berpikir macam-macam tentangnya.
Yuan tersenyum melihat pipi Adelia memerah karena malu, kedua tangannya pun terlihat sangat gemetar dan dia terlihat sangat gugup.
"Aku yang pertama?"
Adelia mengangguk.
"Patas."
"Hah?" Adelia menoleh cepat. "Pantas apa, Kak?"
"Manis."
Kedua pipi Adelia semakin merona lalu mendaratkan pukulan kecil ke lengan Yuan.
Bersambung
__ADS_1