
" Maaf non, apa saya ada melakukan kesalahan sama non " Tanya Maria sambil menundukkan kepalanya.
" Iya salah besar ! kamu itu sudah buat aku menunggu " Bentak Mikha dengan mata yang masih melototin Maria.
" Aku minta maaf non? "
Mendengar permintaan maaf dari Maria, sedikit pun tidak meluluhkan hati Mikha, malah iya kembali membentaki Maria dengan mata yang masih melotot.
" Maaf, maaf,, maaf, maaf ! aku sudah lima menit tungguin kamu tau nggak sih, dan itu sudah sangat membuang-buang waktu ku, udah tau kamu yang lagi butuh sama aku, tapi kenapa aku yang repot? seharusnya kamu bisa langsung kekamarku ! tanpa harus menunggu di panggil dulu sama bi Ita buat ngambil baju ini ! " Mikha langsung melempari bajunya yang mau dikasih untuk Maria ke lantai.
Tanpa merasa tersinggung Maria pun memungut baju itu dari lantai. Maria sedkitpun tidak merasa takut dengan sikap kasar Mikha terhadapnya. apalagi jika dilihat Maria dan Mikha memang seumuran, tahun ini mereka genap 24 tahun, dan jika dibandingkan dengan umur Bram yang memasuki 28 tahun maka mereka berdua lebih muda empat tahun dari Bram.
Maria berusaha tetap bersikap sopan dengan memungut baju itu dari lantai.
" Terimakasih ya non, lusa setelah saya cuci akan saya kembalikan sama non ! "
" Hah ! kamu bilang apa, apa aku nggak salah dengar ? mau di kembalikan katamu,, kamu pikir aku masih sudi untuk memakai baju bekas tubuh kamu itu, sudah jelek dekil lagi ! kalau sudah nggak mau ya di buang saja, gampang kan. "
" Baik non ! " Jawab Maria sambil menundukkan kepalanya.
" Yasudah keluar sana, Rasanya aku muak dan sudah nggak sanggup buat lama-lama lihatin wajah kamu , bisa-bisa nanti anak di kandungan ku ini jadi ketularan, iih amit-amit ! "
Mikha sangat suka menghina Maria karena wajah jeleknya sekarang, gigi tonggos yang di pakaikan Maria memang seratus persen sudah menutupi kecantikannya.
Tanpa berbicara sepatah kata pun lagi, Maria langsung membalikkan badannya untuk keluar dari kamarnya Mikha.
" Tunggu !" Mikha langsung memanggil Maria kembali yang baru saja melewati pintu kamarnya.
" Iya non, ada apa ya? "
" kamu telvon saudara kamu itu, suruh dia bawa baju secepatnya, jangan sampai kamu harus mengemis baju lagi sama aku, soalnya aku juga sudah tidak punya stok baju yang tidak terpakai untuk di kasih buat kamu. "
__ADS_1
Dengan gampangnya Mikha menghina Maria karena kekesalan hatinya.
Kini Maria merasa sangat tersinggung dengan hinaan Mikha yang mengatakan ia mengemis baju padanya, dia langsung mengangkat baju Mikha dengan tangan kanannya setinggi mata memandang, dan setelah itu ia jatuhkan baju itu ke lantai dengan perlahan.
" Maaf non saya bukan pengemis, ini bajunya saya kembalikan ! asalkan non tau dari pada saya di cap sebagai pengemis lebih baik non tampar saya saja sekalian, untuk mengobati penyakit hati non yang begitu kesal melihat saya " Maria mencoba untuk membela dirinya dari hinaan Mikha.
Mikha langsung terperanjat dari kasurnya setelah mendengar ucapan Maria yang sangat berani itu, dengan sangat marah ia menunjuk tangannya ke arah Maria yang masih berdiri di samping pintu.
" Lancang kamu ya ! dasar perempuan sialan, sudah numpang tinggal malah nggak tau diri, keluar sana selagi aku masih bisa mengendalikan diri, kalau tidak sudah aku tampar wajah jelek itu dari tadi "
Tanpa menyahut satu patah kata pun lagi, Maria langsung keluar dari kamarnya Mikha.
Walaupun Maria mudah menangis karena hatinya tidak sekeras batu, tapi ia menjadi kuat dan tidak mau dihina atas apa yang tidak ia lakukan, Maria tidak mau di cap sebagai pengemis.
kini Maria berjalan dengan wajah tegar, walaupun di balik kacamatanya, mata Maria mulai memerah dan berkaca-kaca karena ia mencoba untuk menahan tangisannya.
" Maria kan ? " Tanya bi yam dengan segalas jus di tangannya, ia terlihat mau menuju ke kamarnya Mikha.
" Lho kenapa kamu tau kalau saya bi Yam ? karena seingat saya kita belum pernah bertemu, pasti kamu kenal saya karena kecantikan saya ini ya kan non? " Ucap wanita paruh baya itu dengan penuh percaya diri sambil memegang jus di tangannya dan melenggak-lenggokka badannya didepan Maria.
Tingkah lucunnya sontak membuat Maria kembali tersenyum.
" Padahal aku mengenalnya dari suara, karena kalau suara bi ita terdengar lain waktu memanggil ku tadi " ( Suara hati Maria )
Dengan suaranya yang sedikit berbisik didepan wajah Maria bi Yam mengatakan.
" Non tau tidak, sebenarnya saya ini dulunya kembang desa lho non, banyak laki-laki yang memperebutkan saya non bahkan hampir satu kampung, sangking bingungnya saya karena tidak bisa memilih yang mana, akhirnya saya memilih untuk jomblo non, saya juga tidak mau menyakiti hati mereka semua dengan memilih salah satunya, tapi saya tetap bersyukur non karena kejombloaan saya ini lah yang membuat kecantikan saya tidak pudar, non bisa lihat sendiri kan kalau saya masih kelihatan 20-an, semua orang jadi iri melihat saya non ha ha ha. " Jelas bi Yam panjang lebar sambil tertawa kencang sangking senangnya.
Maria kembali tersenyum dengan menunjukkan gigi tonggosnya akibat tingkah bi Yam yang lucu.
" Hei bi Yam, ngapain tertawa sendirian diluar? cepat kemari aku sudah haus ! " Teriak Mikha dari dalam kamar karena mendengar suara tawaan bi Yam yang keras.
__ADS_1
" Baik non Mikha, segera meluncur ! "
" Bi Yam Cepat deh masuk sebelum di marahin sama Mikha "
" Baik non Maria, bibi kesana dulu ya, nanti kapan-kapan bi Yam akan kasih tau non lagi apa rahasianya hingga bi Yam bisa awet muda seperti ini " Dengan tubuh kecil yang agak kurus bi Yam berlari meninggalkan Maria menuju kekamarnya Mikha.
Dengan suasana hati yang sudah mulai membaik karena melihat tingkahnya bi Yam, kini Maria kembali melangkahkan kakinya menuju kekamar.
sesampainya di kamar, Maria kembali merebahkan tubuhnaya yang sudah terasa sangat lelah itu.
" Padahal aku ingin mengurungkan niat ku untuk tinggal disini, dengan mengorbankan perasaanku terhadap mas Bram ketika Tante bilang kalau Mikha itu lagi hamil, tapi,, setelah mas Bram bilang bahwa Mikha bukan istrinya dan yang di kandung Mikha itu juga bukan anaknya, maka aku akan tetap tinggal disini untuk memperjuangkan cintanya mas Bram, tapi aku masih penasaran bagaimana ceritanya hingga mas Bram mengaku kalau Mikha bukanlah istrinya. ah yasudahlah untuk sekarang aku sudah terlalu lelah, besok saja aku memikirkan hal itu lagi ! " ( Suara hati Maria)
Maria berusaha untuk tidur Ia langsung memejamkan kedua matanya sambil menghilangkan semua hal yang berkecamuk dipikirannya.
Setelah beberapa jam Maria terlelap dalam tidurnya, Tiba-tiba suara petir dan hujan deras membangunkannya.
Ia langsung berdiri dari tidurnya dan berjalan kearah jendela, ia menatap keluar dengan pemandangan yang sudah gelap dan hujan deras.
" Tidak terasa sudah gelap, entah jam berapa sekarang, rasanya sudah sangat gatal menggunakan baju ini dari tadi pagi, kapan ya Rendi kemari dan membawakan baju ku? ingin sekali rasanya aku mandi dan mengganti baju. apa boleh buat akan kucoba caraku sendiri. "
Maria langsung kekamar mandi untuk mengguyur tubuhnya itu yang sudah terasa sangat gatal karena keringat, dengan air yang sedikit terasa dingin ia pun mencuci rambut panjangnya.
Dikarenakan Maria tidak memiliki baju ganti, ia juga mencuci bajunya itu dan di keringkannya di depan kipas angin.
Jangan bayangkan bagaimana penampilan Maria sekarang yang tidak memiliki sehelai kain pun di badannya, karena selain seprei dan sarung bantal juga penutup jendela ia tidak memiliki kain apapun lagi disana, hanya rambut panjangnya yang sedikit menutup bagian depannya, itupun hanya sampai dada saja.
" Maria? " Suara Bram kembali terdengar memanggilnya.
" Bagaimana ini, aku bahkan tidak memiliki apapun untuk menutupi tubuhku? "
" Maria ? " Bram kembali memanggil, terdengar suaranya yang beriringan dengan suara hujan dan petir yang begitu keras.
__ADS_1
Sekarang Maria mengambil bantal dan mencoba untuk menutupi tubuh indahnya itu yang sangat berisi.