OMaria Istri Rasa Simpanan

OMaria Istri Rasa Simpanan
HILANGNYA PERAWAN BI YAM


__ADS_3

" Yam buka Yam ! tidak tahan nih "


" Jangan didepan Maria mang, malu ! "


" Ngapain malu? di juga sering tuh ngelakuin beginian sama suami dia, tanya aja kalau nggak percaya. "


Mang Jo langsung saja mengarahkan tongkat andalannya kearah muka bi Yam.


" Ini kamu rasain dulu pakai mulut kamu ya Yam? eum buka mulut yang lebar Yam."


" Tidak mau mang,, jangan paksa aku, aku belum pernah merasakan batang berhelem itu ! "


" Pokoknya hisap saja pakai lidah kamu ! pernah merokok kan Yam? anggap saja batangnya mang sebagai rokok, ini Yam Euuummm. " Memaksakan Yam Untuk buka mulut.


" Yam tidak pernah merokok mang, nggak mau mang nggak mau pokoknya,, aumm,, aumm, aumm. " Akhirnya mulut bi Yam di penuhi oleh batangnya mang Jo dengan paksa.


" Yasudah Yam mang jo mau ngerasain bibir bawah kamu yang masih rapat itu dulu ya? siap-siap ya Yam ! " Mang Jo mencabut batangnya dari mulutnya bi Yam.


" Eum,, eum,, eum,, " Maria terus mencoba melepaskan kedua tangan dan kakinya yang masih terikat erat dengan kain mang Jo.


" Jangan mang, malu sama Maria ! " Pinta bi Yam lagi dengan suara yang semakin melemah.


" Nggak usah berisik Yam,, hheeuuuhhh ! " Mang Jo mulai mendorong tongkatnya untuk menerobos pertahanannya bisa Yam.


kini Maria cuma bisa pasrah saja melihat apa yang terjadi di hadapannya, usahanya untuk membantu bi Yam hanya sia-sia saja karena iya tidak sanggup melepaskan diri dari ikatan kain mang Jo.


" Sakit mang Jo,, sakit ! " jerit bisa Yam.


" Sebentar aja sakitnya Yam, nanti kamu juga bakalan keenakan, malah besok-besok kamu yang akan minta lagi sama mamang ! "

__ADS_1


Mang Jo melanjutkan aksinya itu tanpa henti, dia terus memacu permainannya itu dengan penuh gairah, Sedangkan Maria hanya bisa melihat tubuh mang Jo yang terus saja mendorong dan menarik mundurkan batangnya itu dengan penuh tenaga, Bahkan bi Yam tidak sanggup lagi untuk menjerit, ia hanya bisa mengangkat dagunya sambil mengeluarkan desahannya mengiringi permainan batangnya mang Jo.


Maria melihat mang Jo tepat dihadapannya dengan jarak 3 meter, ia sedang menarik mundur goyangannya itu tanpa henti hingga ia mengeluarkan suaranya yang terengah-engah dan mengerang hingga beberapa menit lamanya.


" Yam ! Yam ! aku sudah tidak tahan lagi ! aku keluarkan dimana ini,, didalam apa di luar Yam? "


" Di luar mang, aku tidak mau punya anak haram dari kamu ! "


" Yasudah ! " Mang Jo langsung mencabut batangnya itu dan di pegangnya dengan begitu erat.


Ia mengurut-ngurut batang itu dalam genggamannya dengan begitu cepat, hingga akhirnya terpancar air pekat yang berwarna putih dan membuat mangjo menarik lepaskan nafas panjangnya itu dengan begitu lega.


" Hhhhuuuff,,, haaaaa !" Membuat tubuh mang Jo terlihat bergetar seketika.


Kini Yam hanya terkapar lemah dan pasrah dengan tubuh yang sudah bercucuran keringat.


setelah terpuaskan nafsunya, mang Jo kembali menutup resletingnya itu dengan rapat, setelah itu iya berjalan menuju Maria dan menunjukkan pisau di tangannya ke arah Maria.


" Aku hanya ingin memperingatkan pada kamu Maria, jangan campur urusan ku, jika kamu membocorkan ini pada orang lain, maka bukan hanya kamu saja yang akan aku lukai, tapi semua orang yang ada dirumah ini akan menjadi korban, ingat peringatan ku Maria. "


" Tenang saja mang Jo aku yang menjamin kalau Maria tidak akan ngmong sama siapa-siapa. "


Maria menatap tajam kearah mang Jo tanpa terlihat takut sedikitpun, ia sangat benci sama sama mang Jo, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


" Ingat itu ! " ketus mang Jo kembali sebelum akhirnya iya meninggalkan bi Yam dan Maria yang masih terikat di dalam kamar itu.


Selang 3 menit setelah mang Jo berlalu pergi dari kamar itu, bi Yam mencoba untuk bangun walaupun ia masih terlihat sangat lemah, karena tenaganya itu yang belum begitu pulih.


" Bentar ya non, Bi Yam belum bisa jalan, entah kenapa diantara kedua paha bi Yam masih terasa sangat sakit. " Kini bi Yam sudah berhasil untuk duduk, tapi ia belum berani untuk berjalan.

__ADS_1


" Eum,, eum ! " Hanya suara seperti itu yang bisa di keluarkan oleh mulut Maria yang masih terbungkam dengan kain, ia mengangguk ke arah Yam dengan isyarat kalau Bi Yam tidak usah terburu-buru bangun untuk melepaskannya.


" Tidak apa-apa non Maria, akan bi Yam coba bangun dulu Ya, aduh non paha bi Yam sangat sakit ! apa ini karena bi Yam sudah begitu tua hingga rasanya sesakit ini?" Bi Yam kembali menangisi nasibnya yang malang itu, ia tidak pernah menyangka kehormatannya yang ia jaga selama 50 tahun hilang sekejap mata.


Kini bi Yam mulai membuka langkahnya dengan pelan sambil menahan sakit menuju ke arah Maria.


"Maaf Ya non gara-gara bibi non jadi seperti ini , apa tengkuk non masih sakit karena pukulan mang Jo tadi? " Tanya bi Yam sambil melepaskan ikatan di tubuh Maria.


" Tidak bi, tidak apa-apa kok ! " Maria langsung memeluk bi Yam dengan erat.


" Bi Yam maafin Maria ya? Maria tidak bisa membantu bibi dari perbuatan bejatnya mang Jo. " Maria menangis dalam pelukan bi Yam karena merasa bersalah.


" Non jangan minta maaf karena non tidak salah apa-apa, malah bi Yam berterimakasih sama non karena non sangat perhatian sama bi Yam . " Bi Yam melepaskan pelukannya dari Maria, tangan bi Yam mencoba mengusap air matanya Maria.


" Bibi bangun dulu ya, kita duduk di atas kasur saja, ada yang mau Maria omongkan. " Kedua tangan Maria memegang bahu bi Yam dan di papahnya untuk berdiri.


" ngomong apa non Maria? "


" Bentar Ya bi Maria kunci pintu dulu, Sekarang Maria temani bi Yam bobo Ya? " Maria kembali memapah bi Yam menuju ke ranjang.


" Terimakasih Ya non? karena non sudah mau menemani bi Yam tidur malam ini. "


" Jangan berterimakasih bi, seharusnya kejadian ini tidak akan terjadi jika dari awal Maria bersedia menemani bi Yam bobo. "


" Tidak apa-apa non lupakan saja ini memang sudah takdirnya seperti ini. "


" Tidak bisa begitu dong bi ! Maria tidak akan bisa melupakan hal itu dengan mudah begitu saja, Maria akan membuat perhitungan sama mang Jo ! Maria janji, mang Jo akan mendapatkan balasan yang setimpal karena ia sudah memaksa bi Yam untuk melayani nafsunya." Ucap Maria tegas dan penuh amarah.


" Jangan dong non, jangan Ya bibi mohon, nanti kalau terjadi apa-apa dengan non dan semua orang dirumah ini bagaimana? Bibi tidak mau mang Jo melukai orang rumah ini non! jangan non permasalahkan lagi Ya? bibi sudah pasrah dan ikhlas dengan nasib bibi,, hanya saja bibi takut dosa. "

__ADS_1


" Iya bi Maria mengerti sekarang kita tidak usah bahas hal itu dulu,, oh ya ! bi Yam jangan takut ya,, bi Yam tidak akan berdausa karena bibi di paksa sama mang Jo bukan melakukannya karena nafsu ! "


"aku sangat malu dengan diriku sendiri setelah melihat bi Yam yang sudah tua, tapi ia sangat menjaga kehormatan dirinya, Ia sama sekali tidak sama dengan ku, aku wanita hina dengan mudah menyerahkan kegadisanku hanya karena uang, dan aku juga sangat menikmatinya. Pokoknya aku tidak akan tinggal diam, apa yang terjadi malam ini mas Bram harus tau, agar dia bisa memberikan pelajaran yang pantas untuk mang Jo."


__ADS_2