
"Tua bangka sialan ! " Dimas langsung menendang mang Jo sekuat tenaganya dari kebelakang hingga mang Jo tersungkur ke lantai tepat di samping Maria.
" Adooh ! " Teriak mang Jo kesakitan sambil memegang punggungnya.
Ternyata satu tendangan Dimas yang yang penuh amarah itu sudah cukup membuat punggung mang Jo terasa mau patah dan tidak bisa berdiri.
" Dimas " Panggil Maria kaget setelah melihat Dimas berdiri tepat dihadapannya.
Maria menghimpit kedua pahanya untuk menutupi bagian depan bawahnya pada Dimas, dan kedua tangannya berusaha menutupi dadanya yang besar itu.
" Hah iy Maria,, Maaf, ini handuknya " Dimas langsung memungut handuk yang ada dilantai itu dan diberikannya kepada Maria untuk menutupi tubuhnya kembali, Dimas sempat bengong melihat penampilan Maria, bukan bengong karena penyamaran Maria yang sudah terbongkar, tapi karena baru saja melihat bentuk tubuh Maria yang sangat indah dan menggairahkan.
" Dimas, terimakasih ya? " Ucap Maria sambil menutup tubuhnya kembali.
" Iya sama-sama ! " Dimas memalingkan tatapannya dari Maria yang baru saja mengambil handuk dari tangannya. Langsung saja Maria menutupi kembali tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun itu.
" Siapa kamu? " Tanya mang Jo sambil berusaha untuk duduk dengan punggungnya yang masih terasa sangat sakit.
Dimas tidak mau menanggapi pertanyaan mang Jo, dengan wajah yang sangat marah ia langsung menghampiri mang Jo dan menonjoknya berkali-kali.
Tonjokan keras dari tangannya itu terus saja menghantam di seluruh wajah mang Jo hingga membuat kulit wajahnya mulai lebam.
" Eh ! Tunggu dulu ! Tunggu dulu ! Kamu cuma salah paham ini." Teriak mang Jo yang sudah ketakutan, karena mang Jo yang sudah agak tuaan itu sangat menyadari, bahwa tenaganya jauh lebih kalah kuatnya dari Dimas.
" Salah paham? " Bentak Dimas dengan tangannya yang masih menarik kuat leher baju mang Jo.
" Iya kamu salah paham ! Kamu tidak kenal siapa wanita itu, dia hanya wanita murahan yang ingin merusak rumah tangga tuan muda dan istrinya ! " Jelas Mang Jo dengan begitu percaya diri sambil menunjuk ke arah Maria.
Mendengar kata-kata mang Jo Dimas menjadi lebih marah lagi, ia langsung mengepal kembali tangganya dengan begitu kuat.
" Dia Maria ! " Bentak Dimas sambil menonjok keras pipi kanan mang Jo hingga menimbulkan lebam.
" Dia wanita yang aku cintai ! " Bentaknya lagi dengan melayangkan tonjokan yang kedua tepat mengenai hidung mang Jo hingga mengeluarkan banyak darah.
Untuk tonjokan yang ketiga Dimas kembali mengepal tangannya dengan penuh amarah dan kebencian, Rasanya ia ingin membuat wajah laki-laki bejat dihadapannya itu terluka parah hingga tidak bisa dikenali.
" Dan dengar baik-baik, dialah wanita yang akan selalu aku jaga kemanapun dia pergi. " Tonjokan yang ketiga tepat mengenai mulut mang Jo hingga membuat giginya terasa mulai goyang.
__ADS_1
Dimas belum puas juga, ia menambah satu, dua hingga tiga kali tonjokan lagi di mulut mang Jo itu, kini mulai terlihat darah segar yang mengalir diantara gigi-giginya mang Jo.
" Tolong,, tolong berhenti dulu, jangan pukul aku lagi, aku sama sekali belum sempat menyakiti Maria. "
" Bagaimana Maria? Apa kamu sudah puas? " Tanya Dimas tanpa melihat ke arah Maria, karena tatapannya yang masih fokus ke wajah laki-laki tua bejat yang ada di hadapannya.
Bahkan Dimas semakin memperkuat tarikan tangannya dileher baju mang Jo.
" Aku belum puas Dimas, aku sama sekali belum puas Sebelum si tua bangka kurang ajar itu dibawa kekantor polisi, dan diadili seadil mungkin karena telah memperkosa bi Yam tadi malam. "
" Apa? Bahkan bi Yam yang sudah tua kamu memperkosa juga dia? Pantasnya kamu itu bukan di beri pelajaran seperti ini, tapi Otong kamu langsung dikebiri saja dan di kasih ke anjing gila. " Dimas langsung berdiri tegak dengan tangan yang masih menarik baju mang Jo.
" Bi Yam dan aku berpacaran, kalian tidak tau apa-apa tentang kami jadi jangan ikut campur, lepaskan tangan kamu dari bajuku jangan menarikku seperti itu ! " Mang Jo memberi alasan untuk membela dirinya yang sudah sangat tidak berdaya.
" Tidak usah banyak ngomong ! Nanti di kantor polisi kamu bela diri kamu sendiri sepuasnya, Maria? Pemilik rumah ini kemana ? " Tanya Dimas.
" Tante lagi istirahat Dimas, dia masih sakit. "
" Yasudah Maria, Kamu ganti baju sekarang setelah itu temui aku di luar. "
Dimas langsung pergi dari hadapan Maria sambil menarik mang Jo keluar dengan jalannya yang begitu cepat.
Maria mengurungkan niatnya untuk mandi, dia langsung saja memakai bajunya kembali, lalu ia memakai juga alat penyamarann yaitu gigi dan rambut palsunya.
Saat Maria mau melangkah keluar kamar, tiba-tiba terdengar suara dering telvon dari dalam lemarinya, dengan langkah yang setengah berlari Maria cepat-cepat menghampiri handphonenya.
" Halo mas. " Sapa Maria setelah mengangkat telvon dari Bram.
" Iya sayang ! Kamu kemana aja sih tidak pernah mengangkat telvonku dari tadi malam? Aku sangat khawatir ! "
" Mas,, aku hampir saja di perkosa sama mang Jo . " Jelas Maria dengan nada sedih dan suara yang tersedak karena menahan tangisannya.
" Apa? Kamu tidak terluka kan Maria, kamu tidak apa-apa kan sayang? " Tanya Bram dengan begitu Khawatir.
" Tidak apa-apa mas, untungnya tadi ada anaknya bi Ita yang datang dan Langsung menolongku, sedikit lagi saja terlambat mungkin aku sudah di apa-apakan sama mang Jo. " Maria tidak ingin menyebutkan nama Dimas pada Bram.
" Memangnya para satpam pak Kasim dan pak Budi kemana? apa saja yang mereka lakukan sampai mereka tidak tau kejadian didalam rumah? "
__ADS_1
" Posko mereka kan dekat pintu gerbang mas, jadi mana mungkin mereka bisa mendengar teriakan kami, rumah ini sangat besar dan luas, kamar kami juga berada jauh di belakang, bahkan sama Tante saja kekamar depan suara kami tidak kedengaran sama sekali , makanya setelah kekamar bi Yam tadi malam, paginya dia kembali kekamar ku mas, aku fikir dia malah sudah kabur karena takut. "
" Kurang ajar si mang Jo sialan itu, sepertinya dia terpengaruh oleh obat-obatan terlarang sampai nggak waras, sekarang dibawa kemana dia? " Amarah Bram terdengar mulai meledak.
" Dibawa keluar sama anaknya bi ita mas, mungkin mau dibawa kekantor polisi. "
" Bagus ! " Ucap Bram dengan suara yang mulai terdengar sedikit lega.
" Bahkan mang Jo sudah memperkosa bi Yam tadi malam mas. "
" Apa? kurang ajar ! harus aku kasih pelajaran si mang Jo itu biar dia tau diri. "
" Tidak usah mas, mang Jo sudah di hajar habis-habisan sama anaknya bi Ita tadi. "
" Itu lain lagi sayang, aku tetap akan memberikan pelajaran pada mang Jo karena sudah memperkosa Bi Yam, dan yang terlebih penting dia sudah berani memiliki fikiran untuk menyakiti kamu. "
" Tapi mas itu tidak mungkin, karena mang Jo sudah dibawa kekantor polisi, mas tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi disana. "
" Tidak Maria, lihat saja apa yang akan aku lakukan sama dia, sama situa bangka sialan yang tidak tau cara berterimakasih padaku. !
" Iya mas, Memangnya sekarang mas lagi dimana. "
" Sudah pesan tiket, ini aku lagi menuju kebandara mau pulang sekarang juga sayang."
" Apa? kan belum nyampe seminggu mas diluar kota, bahkan belum nyampe 3 hari, bagaimana dengan pekerjaan mas disana. "
" Aku tidak bisa tidur tadi malam Maria karena kamu tidak mengangkat telvonku semalaman, dan perasaanku juga sangat khawatir memikirkan kamu terus ! jadi aku harus pulang sekarang apapun ceritanya, Maria sebentar Ya sayang aku tutup dulu telvonnya, beberapa jam lagi aku sudah sampai sana, yasudah ya love you? "
" Iya mas love you to hati-hati ya? "
** **Halo readers ku tersayang, bagaimana episode kali ini, Bram pulang nih... kira-kira apa ya yang akan dilakukannya sama mang Jo?
Dan Apa yang kalian harapkan dari kepulangan Bram, ingatkah kalian dengan janji Bram pada Maria waktu sudah pulang dari kota?
Oh iya,, Silahkan kritik dan sarannya jika ada yang kurang, biar author kalian yang kece ini bisa menambahkan poin yang kurang itu dalam episode selanjutnya.
Terimakasih untuk pembaca setia kisah Maria, love you so much, dan salam hangat dari author kece kalian Elvi Ya Ya,, See you**...
__ADS_1