OMaria Istri Rasa Simpanan

OMaria Istri Rasa Simpanan
Amarah Bram terhadap mang Jo


__ADS_3

" Memangnya bisa seperti itu ya mas? kan Maria nggak ada disana, bagaimana mas bisa menikahiku?" Tanya Maria yang masih menginginkan penjelasan lebih lanjut dari Bram.


" Bukannya ketika pernikahan kamu dengan anak laki-lakinya pak Rahman, waktu itu kamu juga tidak hadir disana kan ? " Bram kembali bertanya pada Maria, Bram dan Maria masih duduk didepan ruang interogasi dalam kantor polisi tersebut, ia menunggu proses interogasi pada mang Jo selesai.


" Tapi mas, kemaren itu ayah ada meminta persetujuan dulu pada Maria, ya walaupun setelah ijab kabul itu selesai Maria langsung kabur kekota, sedangkan mas kan belum meminta persetujuan dari Maria." Banyak hal yang belum bisa Maria pahami sehingga membuatnya tambah penasaran.


" Sayang, didalam agama kita itu,, seorang ayah berstatus sebagai wali nikah bagi anaknya, jadi dia bisa saja menikahkan kamu tanpa membicarakannya sama kamu terlebih dulu dan langsung melakukan proses ijab kabulnya, kecuali bagi seorang anak laki-laki, anak laki-laki tidak bisa di ijab kabulkan oleh orang tuanya. " Jelas Bram sambil mengelus lembut tangan Maria.


" Miris ya mas kalau bisa seenaknya dinikahkan gitu? " Seakan Maria kurang setuju karena ia tidak begitu paham akan agama.


" Maria, aku memang tidak terlalu paham juga dengan hukum agama, tapi yang jelas aku tau kalau seorang ayah itu punya hak untuk menikahkan anaknya, dan aku percaya setiap aturan dalam hukum agama itu semua ada kebaikan dibaliknya." Ucap Bram kembali menjelaskan.


" Tetap saja mas, seorang anak perempuan akan merasa seperti di jual." Maria masih terlihat sedikit kurang setuju.


" Apa kamu merasa kalau kamu itu sudah dijual padaku Maria? " Tanya Bram dengan nada serius.


" Tidak mas, bukan itu maksudku aku minta maaf, bahkan aku merasa sangat senang karena aku ternyata benar-benar istrinya mas, kemaren aku fikir mas hanya membohongiku untuk membuatku merasa senang." Maria langsung merebahkan kepalanya dalam pelukan Bram tepat berada didepan dada bidangnya itu.


" Ucapan dan perkataanku tidak pernah aku buat untuk bercandaan ataupun untuk main-main. " Bram terlihat makin serius karena Bram memang kurang senang kalau dia tidak dipercayai.


" Iya mas, aku minta maaf sama kamu mas karena ucapanku sudah membuat mas tersinggung, seharusnya aku lebih berterimakasih lagi atas semua usaha dan pengorbanan mas terhadapku." Maria meneteskan air matanya dalam pelukan Bram.


Dan sekali lagi keromantisan Mereka membuat semua orang yang melihat merasa bingung, Mereka tidak habis fikir, bagaimana bisa pemuda tampan memeluk wanita sejelek itu.


" Sudah sayang tidak usah difikirkan lagi, yang penting sekarang aku dan kamu sudah sama-sama tau kalau kita ini adalah suami istri, sehingga kita bisa saling menjaga satu sama lain." Ucap Bram setelah mengusap air mata Maria dan mencium kembali kening wanita yang dicintainya itu."


" Mas bagaimana kalau ibu dan Mikha tau? " Maria terlihat sedikit panik.

__ADS_1


" Makanya kamu tolong bersabar dulu ya sayang, aku akan mencoba untuk membereskan Mikha dulu, kamu juga sudah mengerti kan bagaimana permasalahan yang terjadi antara aku dan Mikha.? " Bram meminta Maria untuk mengerti akan permasalahan dirinya.


" Aku mengerti, yang penting mas harus jaga Kesehatan tante dulu, aku tidak mau kesehatan tante jadi drop karena banyak fikiran. Oh iya, sepulang mas dari kota apa mas sudah menemui Tante?. " Tanya Maria dengan wajah terkejut karena teringat akan ibunya Bram yang sedang sakit dirumah.


" Belum sayang, bahkan aku tidak sempat masuk kerumah setelah pak Budi dan pak Kasim mengatakan padaku kalau kamu sudah di kantor polisi, Aku cuman ambil mobil di garisi dan langsung menuju kemari, aku sangat khawatir sama kamu Maria, aku ingin memastikannya sendiri dengan mata kepalaku kalau kamu itu memang tidak apa-apa." Jelas Bram dengan wajahnya yang dipenuhi kekhawatiran dan ia mengusap rambut Maria perlahan.


" Aku tidak apa-apa mas, kita harus pulang sekarang ya mas untuk melihat tante? " Ajak Maria pada Bram.


" Sebentar lagi, aku mau bertemu dengan mang Jo dulu " Jawab Bram dengan raut wajah penuh kekesalan seakan ingin menerkam mang Jo.


" Tapi mas itu prosesnya masih akan sangat lama mungkin bisa makan waktu 2 hingga 3 jam lagi, sedangkan kita harus pulang sekarang." Ajak Maria yang sudah mulai sangat Panik setelah mengingat keadaan ibunya Bram.


Maria tidak ingin mengatakan langsung tentang keadaan ibu dari suaminya itu, karena ia tidak ingin membuat Bram panik dan pulang hingga membawa mobil sampai ngebut.


" Yasudah kalau kamu memaksa, ikut dengan ku." Bram langsung menarik tangan Maria dalam genggamannya dan dibawakannya masuk kedalam ruang interogasi.


" Saya tidak ingin membuat laporan. " Jawab Bram singkat sambil mengarahkan pandangannya menelusuri keberadaan mang Jo dalam ruang tersebut.


Bram melihat kearah beberapa meja dengan beberapa tersangka yang masih dalam proses interogasi.


" Maaf, jika kalian tidak bersangkutan ataupun belum dipanggil untuk masuk, kami mohon kalian untuk keluar agar tidak menggangu proses kami dalam mengintrogasi tersangka. " Perintah polisi itu lagi pada Bram dan Maria dengan suara yang masih terdengar sopan.


" Iya mas kita keluar sekarang ya? aku tidak ingin mas mendapatkan masalah disini." Ucap Maria sambil menarik-narik ringan lengan suaminya itu.


Bram tidak menggubris perkataan dari polisi dan istrinya itu, dia terus mengarah pandangannya kesagala arah karena masih mencari keberadaan mang Jo.


Hingga akhirnya Bram menemukan keberadaan mang Jo yang sedang duduk didepan di meja paling Ujung.

__ADS_1


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bram langsung menghampiri mang Jo dengan cepat.


" Bangun kau ******** ! " Bram langsung menarik leher bajunya mang Jo hingga mang Jo terbangun dari tempat duduknya, Dan.


**Plaakkk** !!


Mang Jo langsung mendapatkan tamparan keras dari Bram.


" Ampun tuan, tolong tuan jangan pukul saya lagi, saya benar-benar khilaf ! " Pinta man Jo yang sudah tidak sanggup lagi menerima pukulan dari Bram.


Karena wajah mang Jo sudah terlalu babak belur di pukuli oleh Dimas.


" Pak tolong jangan buat keributan disini, bapak tidak berhak bersikap seperti itu karena tersangka lagi dalam proses interogasi kami, bapak bisa terkena tuntutan hukum atas tuduhan penganiayaan, jadi serahkan saja pada kami biar kami yang memberikan hukuman yang tepat untuk tersangka. " Ucap salah satu polisi yang ingin melerai Bram yang sedang memukuli mang Jo.


" Aghh ! sakit tuan ! " Teriak mang Jo setelah menerima tinjuan dari Bram.


" Kalian diam saja, jika kalian ingin menuntut nanti kalian bicarakan saja dengan pengacara saya. " Tegas Bram Pada polisi disana sebelum akhirnya Bram melayangkan satu tendangan lagi tepat di ulat bulu mang Jo.


" Agghh ! Sakit, sakit ! " Tubuh mang Jo langsung terhempas kebelakang dan ia terus saja berteriak kesakitan sambil memegang ulat bulunya.


Bram pun mendekati mang Jo kembali.


" Seharusnya ini dikebiri saja. " Ucap Bram sambil menginjak ulat bulu mang Jo dengan sepatunya.


i love you readers ku tersayang..


terimakasih ya karena kalian masih setia disini..

__ADS_1


Apa nih komentar dan saran kalian hari ini?


__ADS_2