
" Mas sudah ya,, jangan diterusin lagi ! " Maria kembali menarik lengan Bram dengan sangat kuat.
" Aku kasihan sama kamu mang Jo karena kamu itu teman bapakku dulu, jadi aku kasih kamu kepercayaan buat bekerja di rumah sebagai supir mama, sekarang apa ini balasan kamu terhadapku? " Tanya Bram dengan nada Marah dan sangat kecewa.
" Mang Jo khilaf tuan muda, mang Jo minta maaf ! " Pinta mang Jo yang terlihat benar-benar menyesal.
" Mas jangan diterusin lagi ya aku mohon? " Maria terus memohon pada Bram untuk menghentikan pukulannya pada mang Jo, bukan karena Maria kasihan pada mang Jo, ia hanya tidak mau jika suaminya itu bermasalah.
" Kamu tau mang Jo siapa yang mau kamu perkosa ini? dia istriku ! " Teriak Bram kembali sambil menarik bahu Maria dalam pelukannya.
" Apa? saya benar-benar tidak tau siapa non Maria sebenarnya tuan muda, non Maria, saya minta maaf sebesar-besarnya, mohon maafkan saya. " Mang Jo mulai menangis dan sangat menyesal setelah tau kenyataan itu.
" Aku mohon mas sudah ya jangan di teruskan lagi, kita keluar sekarang ya mas? sudah lupakan saja dia biar bapak polisi yang akan memberikan hukuman yang seharusnya buat dia. " Maria menarik erat lengan lelaki tampan yang sudah berstatus sebagai suaminya itu dengan begitu kuat.
" Tidak bisa, mang Jo tidak bisa dikasih ampun. " Jawab Bram tegas.
" Mas, jangan diterusin kan lagi ! kita harus pulang sekarang karena Tante lagi sakit dirumah. " Akhirnya Maria harus jujur agar Bram mau cepat pulang.
" apa,, mama sedang sakit? " Bram terlihat sangat panik mendengarnya.
" Nanti aku jelaskan mas sekarang kita pulang dulu ya? bapak polisi kami minta maaf sebesar-besarnya mohon bapak jangan marah terhadap sikap suami saya ya pak ?" Pinta Maria sambil menarik lengan Bram untuk keluar dari ruang interogasi.
Semua orang yang ada didalam ruang interogasi tersebut terlihat terkejut menganga setelah mendengar pengakuan Maria kalau Bram adalah suaminya, penyamaran Maria sebagai wanita jelek terus membuat orang tidak habis berfikir melihat kedekatannya dengan Bram yang super tampan.
Maria dan Bram dengan langkah yang terburu-buru langsung menuju kemobil,
" Mas aku minta maaf baru bisa ngmong sekarang, aku mau bilang kalau tante itu lagi sakit karena mikirin kamu. " Ucap Maria yang sudah duduk disamping suaminya itu didalam mobil.
" Tidak apa-apa sayang." Jawab Bram singkat sambil mencium keningnya Maria sebelum akhirnya ia langsung menyetir mobilnya.
" Mas jangan ngebut ya? "
" kamu pakai sabuk pengamannya ya sayang? sabar sebentar tidak akan lama." Tanpa mau mendengarkan permintaan Maria, Bram langsung menancap mobilnya itu dengan laju yang sangat cepat.
__ADS_1
Maria hanya bisa duduk disampingnya Bram dengan hati deg-degan dan berharap agar tidak terjadi apa-apa dijalan, walaupun Maria merasa sangat takut tapi ia tidak mau menghentikan Bram agar jangan membawa mobil kencang, karena ia bisa melihat dari wajah suaminya itu betapa khawatirnya dia memikirkan kesehatan mamanya.
Bram tidak berbicara sepatah kata pun lagi pada Maria, mungkin ia ragu fokus membawa mobil sambil memikirkan mamanya, begitu pun Maria juga ikut diam agar tidak menggangu konsentrasi suaminya dijalan.
Tidak lama kemudian mereka sampai kerumahnya Bram, tanpa menunggu lama Bram langsung turun terburu-buru menuju kedalam rumah dengan Maria yang mengikutinya dari belakang.
" Ma? " panggil Bram yang sudah berada didepan pintu kamar mamanya.
" Mama,, ini Bram ma, boleh Bram masuk sekarang? " Panggil Bram kembali setalah ia tidak mendengar sahutan dari mamanya.
" Mas masuk saja, mungkin suara tante agak kecil jadi nggak kedengaran sama kita." Jelas Maria pada Bram
" Terkunci pintunya sayang, mungkin dikunci mama dari dalam." Jawab Bram setelah ia tidak bisa membuka pintu kamar Mamanya.
" Tidak mas, tante biasanya tidak mengunci pintu dari dalam kalau dia tidak ada dirumah." Sahut Maria kembali.
Tiba-tiba Bram berjalan kearah lemari yang tidak jauh dari tempat dia dan Maria berdiri, terlihat di tangannya ia mengambil kunci cadangan dari lemari tersebut, dengan jalannya yang terburu-buru Bram langsung kembali untuk membuka pintu kamar mamanya itu.
" Ma? " Panggil Bram setelah pintunya terbuka.
Tanpa berkata sepatah katapun lagi Bram tidak menunggu lama ia langsung berjalan dengan sedikit berlari menuju keluar rumah, Maria terlihat juga berlari ringan mengejar Bram dari belakang.
" Mas, mungkin tante sudah kerumah sakit dubawa sama Mikha. " Ucap Maria yang masih mengejar Bram dari belakang.
" Mungkin saja kalau wanita itu sudah pulang." Jawab Bram sambil terus berjalan cepat dan buru-buru menuju posko penjagaan.
" Pak kasim, pak budi,, kalian tau kemana mama pergi? " Tanya Bram pada kedua satpamnya itu.
" Iya tuan nyonya sudah kerumah sakit. " Jawab pak Kasim.
" Rumah sakit mana,, diantar sama siapa? " Tanya Bram kembali.
" Tadi saya lihat nyonya dan bi Yam diantar sama anaknya bi Ita kerumah sakit memakai mobil nyonya. " Jawab pak Budi kembali.
__ADS_1
" Apa? " Maria sempat terkejut mendengarnya karena takut kalau Bram akan bertemu dengan Dimas, ia hanya tidak ingin terjadi Masalah antara Bram dengan Dimas seperti kemaren.
" kenapa Maria? " Tanya Bram yang melihat Maria terkejut.
" Tidak mas ! " Jawab Maria yang tidak ingin mengatakan tentang Dimas pada Bram, agar Bram tidak emosi di jalan, Biarkan saja Bram tau sendiri saat sudah sampai kerumah sakit, begitu yang timbul dalam fikirannya Maria.
" Yasudah kamu ikut aku kerumah sakit sekarang. " Ajak Bram pada Maria.
" Iya mas." Maria langsung ikut Bram yang sedang berjalan untuk masuk kedalam mobilnya.
Bram kembali membawa mobilnya dengan laju yang sangat cepat menuju kerumah sakit, Bram terlihat diam disepanjang jalan dengan tangan kirinya yang terus menggenggam tangan Maria.
Maria juga ikut menggenggam erat tangan lelaki tampan yang ada disampingnya itu, dan sekarang lelaki itu sudah berstatus sebagai suaminya.
Akhirnya Mereka berdua sampai kerumah sakit yang tidak terlalu jauh dari rumahnya Bram, sudah menjadi sifat Bram yang tidak suka bertele-tele dan selalu bergerak cepat, ia langsung berjalan dengan terburu-buru menuju kedalam rumah sakit itu untuk mencari mamanya.
Dengan hati deg-degan Maria mengikuti suaminya dari belakang, Maria sangat berharap supaya tidak terjadi pertengkaran antara Bram dan Dimas dirumah sakit apalagi didepan mamanya Bram.
Tapi Maria sangat yakin Bram tidak akan gegabah untuk bertengkar dengan Dimas didepan mamanya yang sedang sakit.
Terlihat Bram menghampiri tempat para suster rumah sakit itu berdiri untuk melayani tamu, ia langsung bertanya pada suster itu dimana posisi kamar mamanya berada, Bram langsung berjalan cepat menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan diikuti Maria dari belakang, mereka mencari kamar Mamanya Bram dengan nomor yang sudah diberitahukan oleh suster.
Dan akhirnya Bram menghentikan langkahnya tepat didepan nomor 054, Bram membuka pintu kamar itu perlahan, ia melihat mamanya sedang terbaring lemah dengan mata terpejam dan disampingnya ada bi Yam.
Hallo readers ku tersayang, maaf ya untuk episode ini hanya sampai disini dulu, author hanya bisa nulis 1000 kata disetiap episodenya.
kalian tau nggak, apa yang akan terjadi nih jika Bram sudah bertemu dengan Dimas?
Dijawab ya readers ku sekalian..
Terimakasih untuk kalian semua yang masih setia dengan kisah Maria. aku sayang kalian.
Salam hangat selalu dari Author Elvi Ya Ya..
__ADS_1
semoga hari kalian menyenangkan,, see you?