OMaria Istri Rasa Simpanan

OMaria Istri Rasa Simpanan
KEPUTUSAN MARIA


__ADS_3

" Iya mas Maria namanya, mas tau Nggak kalau Maria itu suka jual diri sama om-om ! "


Jelas pelayan minimarket itu dengan bersemangatnya, mereka berharap supaya cowo tampan yang ada di hadapan mereka itu tidak lagi menyukai Maria.


" Menuduh seperti itu memangnya kalian pernah melihatnya? " Tanya Bram pura-pura penasaran dengan posisi yang sudah duduk diatas kursi memakai gaya santainya.


" Iya lah mas, bahkan tadi pagi itu Maria diantar dengan mobil elit sama-sama om-om" Dengan bersemangatnya mereka bercerita pada Bram, tanpa mereka sadari yang mereka maksudkan om-om itu adalah Bram.


"Oh,, begitu kah, apa kalian melihat wajah om-om itu "


" Tidak Mas karena om-om itu Nggak keluar dari mobil, mungkin om-omnya sudah seumuran kakek aku kali ya ha ha" Jawab gadis itu sambil tertawa kencang.


" Eumm iya mungkin,, terus Maria pergi kemana ?


" Pulang mas, mungkin karena tersinggung dengan nasehat kami tadi "


" Wah,, baik sekali kalian sampai mau menasehati Maria "


" Iya lah Mas, bagaimanapun juga kami kan sayang juga melihat Maria atas nama sesama perempuan, jadi kami kasih peringatan sama dia kalau misalkan dia sampai hamil, maka kehamilannya itu akan membawa kesialan bagi semua orang karena kan dia mengandung anak haram, tapi dia malah kabur dari sini mas dan nggak mau dengarin nasehat kita, maka dari itu mas harus jauh-jauh dari dia biar mas nggak ikut ketularan sial juga " ceritanya panjang Lebar dengan penuh percaya diri.


" Bagus ! " jawab Bram singkat.


" Iya mas kami juga sudah memperingatkan Maria agar dia tidak kembali kesini lagi, kami merasa sangat jijik jika harus satu tempat kerja dengan wanita seperti Maria, apalagi harus ketularan sialnya juga, amit-amit ! " sahut gadis yang satu lagi.


Kedua gadis itu secara bergantian menceritakan keburukan Maria pada bram.


Amarah Bram yang sudah ditahannya dari tadi langsung meledak setelah mendengar hinaan mereka.


Bram seketika bangun dari kursinya dan menendang kursi tersebut dengan keras hingga maju tiga meter dari Bram.

__ADS_1


Braaakkkk !


" Untung kalian perempuan, kalau tidak sudah ku tendang kalian seperti itu ! " Teriak Bram sambil menunjuk kedua gadis tersebut.


kedua gadis itu terkejut dan saling berpelukan, mereka begitu ketakutan hingga tidak berani melihat kearah Bram.


" Lihat kemari,, Cepat lihat kemari ! angkat kepala kalian setinggi-tingginya ! " Teriak Bram dengan begitu kasarnya.


Kedua gadis itu mencoba memberanikan diri untuk melihat ke arah Bram.


" Bagus, inilah pria yang kalian bilang sebagai om-om karena aku lah yang sudah mengantar Maria tadi pagi , tatap baik-baik wajahku ! apa aku mirip dengan om-om "


Mereka begitu terkejut sambil menggelengkan kepalanya perlahan dengan posisi yang masih berpelukan.


" Jika tidak, kenapa kalian seenaknya menuduh Maria seperti itu, dengarkan baik-baik,, Maria itu istriku hanya aku yang mengenalnya, apa kalian teman dekatnya,, apa kalian tau dimana rumahnya dan siapa orang tuanya, tidak tau kan jadi jangan seenaknya menuduh Maria, karena jika kalian memang teman dekatnya pasti kalian tidak akan bersikap seperti itu pada Maria "


" Iya mas kami minta maaf "


" Paham mas kami minta maaf sebesar-besarnya sama mas juga Maria " Ucap salah satu dari mereka dengan raut wajah yang ketakutan dan sangat menyesal.


Bram bahkan tidak mau menggubris mereka lagi karena ia sudah sangat tidak ingin menemui Maria, karena ia tau hati Maria pasti sangat terluka akibat perbuatan kedua gadis tersebut.


Iya langsung keluar dan menyetir mobilnya dalam kecepatan tinggi untuk mencari Maria.


Sedangkan Maria masih di pinggir danau Dimas. mungkin sudah hampir setengah jam Maria dan Dimas hanya duduk diam saja.


" Maria, aku percaya kalau laki-laki sombong yang tadi pagi itu bukan suami kamu, dan aku tau dia berani bersikap seenaknya karena dia merasa punya segalanya "


Mendengar ucapan Dimas, Maria langsung bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan Dimas.

__ADS_1


" Maria kamu mau kemana, apa ada yang salah dengan ucapaknku, apa aku sudah membuat kamu tersinggung, aku minta maaf Maria " Dengan terburu-buru Dimas meminta maaf sambil mengikuti langkah Maria .


" Maria aku janji kalau aku tidak akan membahas laki-laki itu lagi, tapi tolong kamu jangan marah gitu donk ! " Dimas menarik salah satu tangannya Maria .


Maria pun berhenti dan memalingkan wajahnya.


" Dimas, mulai detik ini tolong kamu jangan dekat-dekat dengan ku lagi, aku bukan wanita yang baik buat kamu, Kamu pria yang sangat baik, jadi kamu berhak untuk mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku "


"Maria, tolong lah jangan bersikap seperti itu, baik tidak baiknya seseorang untuk kita, hanya kita sendiri yang lebih tau bukan orang lain ! "


" Jangan bandel waktu di bilangin, kalau nggak kamu akan menyesal pada suatu hari nanti "


" Nggak masalah, itu resiko aku yang penting aku sudah berusaha, soal jodoh nggak jodoh itu urusan Tuhan" Dimas menyakinkan Maria agar dia tidak mencari alasan untuk menjauh darinya.


" Terserah kamu Dimas aku lagi tidak ingin berdebat, terimakasih sudah mengantarku tapi tolong biar kan aku untuk pulang sendiri " Maria pun melangkah pergi dari Dimas.


" Tapi Maria ? "


" Memaksa seseorang hanya akan membuatnya menjauh karena tidak nyaman "


" Baik lah Maria aku tidak akan memaksa kamu pulang bersama ku, tapi kamu harus janji untuk selalu berhati-hati, telvon aku jika ada apa-apa "


" Terimakasih " Jawab Maria singkat dan kembali meneruskan langkahnya meninggalkan Dimas.


Dimas dan Maria mengambil arah jalan yang berbeda. Maria terus menyusuri jalan dengan kedua kakinya sambil memikirkan bagaimana nasibnya kedepan.


" Sudah kupustuskan, jika aku hamil aku akan tetap mempertahankan calon bayiku, dia sedikit pun tidak bersalah, apapun yang terjadi terhadap ku bayiku berhak untuk bahagia, dan dia berhak mendapatkan kasih sayang dari Bram, walaupun Bram tidak pernah menginginkan ku tidak apa-apa, bahkan jika semua orang tidak menginginkan ku lagi karena mengandung anak ini juga tidak apa-apa, memang sudah sepantasnya aku menerima hal itu, karena inilah keputusan ku "


Maria terus berjalan tanpa ada lagi kesedihan diwajahnya, ia mencoba untuk terlihat tegar, dan tiba-tiba ada mobil yang berhenti di belakangnya.

__ADS_1


" Maria,, ! " Teriak Bram yang baru saja keluar dari mobil dan langsung menghampirinya.


Melihat Bram Maria pun langsung berlari kearah Bram, dia langsung memeluk Bram dengan membenamkan wajahnya kedada Bram, dia tidak ingin menangis didepan bram tapi air matanya terus mengalir, mungkin karena rasa senang yang ia rasakan setelah berada dalam pelukan Bram, bahkan rasa sakit hati karena hinaan dari kedua temannya itu langsung hilang seketika.


__ADS_2