
" Bi Yam,, bagaimana keadaan mama? " Bram sangat sedih melihat mamanya yang sedang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.
" Tuan muda,, silahkan duduk tuan, Alhamdulillah nyonya sudah membaik. " sahut Bi Yam sambil mempersilahkan Bram untuk duduk.
Bram mendekati mamanya dengan mata yang terlihat mulai berkaca-kaca, ia menggapai tangan wanita yang sudah melahirkannya itu dengan penuh rasa sayang, Bram menggenggam erat tangan itu seakan hatinya merasa sangat menyesal karena telah menyakiti hati mamanya.
" Maafkan aku Ya ma, aku benar-benar minta maaf karena sudah membuat mama kecewa, tolong mama cepat sembuh aku tidak sanggup melihat mama terbaring sakit seperti ini, aku mohon ma? " Bram langsung merebahkan kepala disamping mamanya sambil mencium tangan yang sudah terasa mulai agak dingin, Bram terus menciumi tangan itu sambil menangis.
Dengan perasaan yang terharu, Maria hanya bisa berdiri menatap suaminya yang begitu menyayangi wanita yang sudah melahirkannya itu.
" Tidak apa-apa nak mama sudah sembuh, kamu kapan pulang dari luar kota? " Tanya mamanya Bram yang mulai membuka matanya, walaupun kedua mata itu masih terlihat agak sayu.
" Beberapa jam yang lalu ma, mama benaran sudah sembuh kan? " Tanya Bram kembali sambil mencium tangan mamanya yang masih ada dalam kedua genggamannya.
" Iya jangan khawatir sayang,, mama sudah sembuh." Ia tersenyum bahagia melihat putra tampannya yang sedang mengkhawatirkan kesehatan dirinya.
" Nyonya,, dokter bilang." Tiba-tiba langkah Dimas yang baru saja memasuki kamar itu langsung terhenti setelah ia melihat Bram.
" kamu? " Tanya Bram terkejut.
Hati Maria tambah deg-degan melihat kedua laki-laki yang memperbutkannya itu sudah berdiri saling berhadapan didepan mamanya Bram dan Maria, Maria takut jika mereka bertengkar seperti kemaren maka penyamarannya pun akan terbongkar.
" Bram ternyata kamu sudah kenal ya dengan Dimas anaknya bi Ita? dia lho yang sudah membawa mama kemari, hampir 3 hari semenjak kamu keluar kota Mama terus terbaring di atas kasur, tidak ada yang bisa membawa mama kerumah sakit, selain mang Jo dan Mikha yang lain memang tidak bisa menyetir mobil, Mikha sudah pulang kerumahnya dan kamu tau kan kalau mama tidak pernah mau diantar sama mang Jo? " Jelas Mamanya Bram.
" Terimakasih karena kamu sudah membantu mamaku, berarti? " Setelah Bram berterimakasih pada Dimas ia mengerutkan kening kearah Maria dengan kata lain ia juga ingin mendengarkan sesuatu dari Maria
" Iya Tuan muda, dia anaknya bi Ita yang sudah menolongku dari mang Jo." Jawab Maria menjelaskan pada Bram.
" Terimakasih,, terimakasih banyak. " Ucap Bram singkat yang terlihat agak sungkan untuk berterimakasih, sebenarnya jauh didalam hatinya padahal Bram sangat berterimakasih pada Dimas, karena Dimas sudah menolong kedua wanita yang sangat dicintai dan di sayanginya itu.
__ADS_1
" Iya sama-sama. " Jawab Dimas singkat, bedanya Dimas dengan Bram ia bisa tersenyum lepas.
Bram terus saja Melirik kearah Maria, dia ingin selalu memastikan apakah Maria menatap ke arah Dimas, situasi yang sekarang ia rasakan benar-benar membuat Bram merasa tidak nyaman, dimana Dimas dan Maria berada dalam satu ruangan, walaupun Maria biasa-biasa saja tetapi Bram tetap merasa cemburu.
" Mah, aku pulang dulu ya sudah lapar, pengen banget mau makan masakan rumah, nanti setelah mandi aku akan langsung kemari buat jagain mama." Pinta Bram pada mamanya dengan niat yang terselubung dibaliknya.
" Iya sayang jangan terburu-buru nggak papa, disini ada bi Yam yang gain mama." Jawab mamanya Bram.
" Makasih ya ma? " Bram langsung mencium kening Mamanya itu hingga membuat mamanya tersenyum merasa bahagia.
" Maria kamu ikut aku, mah aku bawa Maria ya buat masak dirumah? "
Belum sempat ibunya Bram menjawab tiba-tiba..
" Mah,, ternyata mama belum sehat ya? " Tanya Mikha yang baru saja datang dengan wajah paniknya, jelas-jelas Bram tau kalau itu hanyalah akting.
" Mah maafin aku ya baru pulang, Mama tau kan kalau aku gak ada teman disini makanya aku pulang kerumah sebentar ? " Ucap Mikha lagi dengan wajahnya yang pura-pura menyesal.
" Sudahlah nggak papa lupakan saja." Jawab mamanya Bram lagi dengan nada biasa-biasa saja.
" Kamu bilang nggak ada teman? terus mama tidak bisa kamu anggap sebagai teman, bukannya kamu bisa menyuruh teman kamu yang lain untuk datang kerumah tanpa harus meninggalkan mama sendirian yang sedang sakit? itu hanya alasan kamu saja Mikha, aku sudah sangat paham dengan jalan fikirannya seseorang apalagi wanita seperti kamu, jadi kamu nggak usah buang waktu buat nyari alasan ini itu. " Jawab Bram dengan begitu tegas pada Mikha.
Sedangkan Maria, Dimas dan bi Yam hanya bisa berdiam diri melihat amarah Bram.
" Sudahlah nak jangan di perpanjang. " Jawab mamanya Bram yang tidak ingin melihat adanya pertengkaran.
" Mas kamu sudah pulang juga ya, bukannya kamu keluar kota untuk seminggu, tumben kamu cepat pulangnya padahal biasanya kamu pulang lebih lama dari waktu yang sudah kamu tentukan." Seakan Mikha melupakan perkataan Bram barusan begitu saja, karena ia sedang merasa curiga dengan tingkah Bram yang sekarang.
" Tidak usah sok ikut campur urusanku, karena banyak hal yang lebih penting yang perlu kamu urus tapi tidak kamu perdulikan, contohnya mamaku yang sudah begitu baik pada kamu, tapi kamu tinggalkan begitu saja saat dia lagi sakit. " Ucap Bram yang terlihat begitu kesal dengan posisi yang masih duduk disamping mamanya.
__ADS_1
" Mah aku minta maaf ya? sedikitpun aku tidak bermaksud untuk tidak memperdulikan mama, mama percaya kan sama Mikha " Mikha langsung mendekati mama mertuanya itu untuk meminta maaf karena ia terlihat mulai terpancing dengan kata-kata Bram.
" Tidak apa-apa, kan sudah mama bilang." Akhirnya mamanya Bram memberikan sedikit senyumannya pada Mikha agar membuat Mikha tidak merengek lagi untuk minta maaf padanya.
" Tuh kan mas, mama saja bilang tidak apa-apa,, kamu sih memang selalu seperti itu padaku tidak pernah menganggapku baik, cuman mama doang yang mau ngertiin perasaanku tapi kamu nggak pernah mas, padahal aku lagi hamil." Jelas Mikha yang membuat dirinya terlihat seakan merasa sangat sedih.
" Malas aku layanin wanita seperti kamu, yuk Maria? " Bram mengacuhkan rengekan Mikha, dengan spontan ia langsung menarik tangannya Maria dan ia membawa Maria untuk keluar bersamanya.
" Mah, mah ! mama lihat kan barusan bagaimana sikap mas Bram terhadap Maria? masak dia langsung memegang tangan Maria seperti itu? " Ucap Mikha yang terlihat sangat terkejut dengan aksi Bram barusan.
" Mungkin karena Bram lagi terburu-buru." Jawab mamanya Bram yang tidak mau menaruh curiga terhadap anaknya tersebut.
" Tapi ma ! Tidak seharusnya juga mas Bram menarik tangan seorang pembantu seperti itu." Mikha terlihat semakin kesal.
Sedangkan Dimas merasa begitu cemburu, tapi ia berusaha untuk menyembunyikan kecemburuannya agar tidak terlihat pada Mikha dan mamanya Bram.
Bahkan bi Yam pun terlihat terkejut dengan mulutnya yang menganga karena sikap Bram yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sedangkan Bram tersenyum bahagia menatap Maria didalam mobil, ia mulai membuka kacamata dan rambut palsu Maria, bahkan ia juga melepaskan gigi palsunya Maria.
Bram sudah sangat merindukan Maria istrinya itu, perasaannya yang bergolak benar-benar sudah tidak sanggup ia tahan lagi, Begitupun juga dengan Maria ia masih belum cukup merasakan kehangatan dari Bram.
" Sayaaanngg aku kangen kamu, sebentar lagi kita bisa berduaan saja dirumah tanpa ada yang akan menggangu." Bram langsung mendekati wajah Maria ia menatap matanya dengan penuh cinta.
Ia menarik bibir Maria perlahan dengan bibirnya lalu ia mengulum penuh bibir Maria dengan sangat bernafsu.
" Mas? " Desah Maria.
I love you Readers ku tersayang..
__ADS_1