
" Siapa dia Maria kenapa kamu menangis ? kalau dilihat dari samping sangat jelas kan itu bukan Bram."
" Itu memang bukan mas Bram, dia kakak kembar ku. "
" Apa? kakak kembar,, kamu punya kakak kembar laki-laki? "
" Iya Dimas kakak kembar laki-laki, namanya Mario. "
" Oh gitu, jadi ada hubungan apa Mario dengan Mikha? apa dia tau hubungan kamu dan Bram? "
" Ka Mario tidak tau Dimas, Ah sudahlah! aku mau turun sekarang, biar aku samperin saja mereka. "
" Tunggu,, tunggu dulu Maria! Jangan gegabah kamu harus sabar ya? kita bongkar kelicikan Mikha dulu setelah itu baru kamu samperin Mario. "
" Iya Dimas, mungkin kamu benar."
"Kenapa kamu masih terlihat tidak bersemangat ? apa kamu tidak sependapat dengan usulan ku?"
" Bukan itu ! aku jadi ingat apa yang dibilang Mas Bram sama aku, dia bilang anak yang di kandung oleh Mikha itu bukanlah anaknya mas Bram, Bagaimana kalau anak itu anaknya ka Mario? aku takut Dimas kalau hal itu benaran terjadi."
" Maria, kamu harus positif thinking dulu ya,, mungkin juga itu memang bukan anaknya Mario."
" Semoga saja, eh Dimas lihat tuh Mikha sudah berjalan lagi kearah mobilnya ."
" Oh ya kamu benar, kita ikutin dia Sekarang."
Mereka langsung mengikuti Mikha kembali, sedangkan Mario terlihat berjalan menuju kearah sebuah warung yang berada tidak jauh dari pohon besar tadi.
Maria terus saja menatap Mario dari belakang tanpa sedikitpun membuang mata dari kembarannya itu, tatapan matanya masih mencoba untuk menjangkau tubuh Mario hingga Mario benar-benar hilang dari pandangannya, seiring dengan laju mobil berjalan menjauh.
"Sudah berapa lama kamu tidak berjumpa dengan Mario? "
" Beberapa bulan yang lalu, hampir 5 bulan."
" Apa dia tidak pernah kasih kabar selama itu? "
" Tidak pernah ! "
" Kenapa? apa kalian lagi ada masalah? "
" Maaf Dimas, aku nggak bisa cerita sekarang ceritanya Sangat panjang. "
" Aku mengerti Maria, aku juga minta maaf. "
__ADS_1
" Eum Ya ! " Sahut Maria singkat sambil terus memantau arah laju mobilnya Mikha.
" Lho Mikha kenapa masuk jalan ini? "
" Kenapa Dimas? kamu kenal daerah ini? "
" Iya aku kenal, aku sering kemari waktu main kerumah teman, kalau nggak salah di ujung jalan nanti ada rumah kosong yang lumayan bagus, apakah mungkin Mikha menyewa rumah itu untuk menyembunyikan Bram ?"
" Hah? benarkah,, semoga aja mas Bram benar-benar disembunyikan dirumah itu biar kita enggak capek lagi buat mencari keberadaan Mas Bram."
" Ternyata benarkan dugaan ku, aku yakin kalau Mikha akan kerumah kosong ini."
" Aku sudah nggak sabar mau memergoki Mikha yang sedang menyembunyikan mas Bram, lihat aja apa yang akan aku lakuin terhadap Mikha kalau dia benar-benar sudah menyekap mas Bram. "
" Ia Maria aku mengerti."
" Dimas, Mereka siapa? " Tunjuk Maria kearah dua laki-laki berbadan besar yang sedang duduk di teras.
" Bisa jadi mereka orang suruhan Mikha buat menjaga rumah itu."
" Aku semakin yakin kalau mas Bram ada didalam."
" Aku juga yakin, pasti Bram ada didalam kalau nggak ada Bram disana ngapain dia nyewa bodyguard segala buat jaga rumah itu."
" Ya,, sanggup sih, tapi kita belum punya persiapan apa-apa, aku tidak mau terjadi hal buruk sama kamu, lebih baik kita pulang dulu buat nyusun strategi, nanti dirumah kita akan mencari langkah yang paling ampuh untuk melawan mereka."
" Aku takut, semakin terlambat kita menemukan mas Bram, maka akan semakin besar peluang Mikha untuk melukainya."
" Bagaimana kalau Bram tidak diculik? "
" Maksud kamu Dimas? "
" Bram tidak diculik tapi dia tinggal bersama Mikha atas kemauannya sendiri."
" Aku tidak menyangka kamu punya pikiran seperti itu Dimas ! "
" Hei ! kamu mau kemana Maria? "
" Mau turun, ternyata kamu benar-benar tidak bisa dipercaya, beraninya kamu memfitnah Bram seperti itu, aku tidak akan mengharapkan apapun lagi kepada orang lain kecuali kepada diriku sendiri, jadi aku juga akan menyelamatkannya sekarang, dan kamu Dimas tolong jangan ikuti aku lagi."
" Maria, Maria ! maaf ! aku benar-benar minta maaf, aku bersumpah kalau aku tidak ada niat apapun untuk Bram, wajarkan kan kalau seorang manusia curigaan karena merasa was-was? dengar Maria, kalau kamu gegabah dan salah mengambil langkah maka kamu dan Bram akan menjadi korban, apa kamu bisa membayangkan bagaimana keadaan tante jika Bram tidak bisa diselamatkan? "
" Yasudah aku mau pulang sekarang sebelum jalan fikiran ku berubah lagi karena mendengar omongan kamu, yang jelas besok aku mau langsung kemari, terserah kamu mau membantuku atau tidak. "
__ADS_1
" Iya Maria aku janji, yasudah kita pulang sekarang ya?"
Maria dan Dimas langsung memutar balikkan mobilnya untuk pulang."
Sedangkan Mikha sedang berbicara dengan kedua bodyguard nya yang bertubuh sangat besar dan kekar itu.
" Apa dia masih teriak-teriak? "
" Tidak non ! "
" Haha Bagus ! Akhirnya Bram bisa nurut juga.
" Bukan non, dia masih belum nurut, dia melawan dengan keras dan berusaha melepaskan ikatan tali yang ada ditubuhnya, kami juga merasa terganggu dengan suara dia, jadi kami lakban aja mulutnya itu biar diam sekalian."
" Ah kalian ini ! bagaimana kalau wajahnya
jadi lecet karena lakban, Awas ya kalian ! "
" Non kok bawa koper, mau nginap disini ya ?"
" Nggak usah banyak nanya, tugas kalian cuman satu ! jaga diluar dan buka mata kalian baik-baik pokoknya jangan sampai ada yang kecolongan, nggak ada yang boleh masuk kemari kecuali aku, mengerti? "
" Iya non mengerti ! " sahut kedua bodyguard itu serentak.
Mikha Mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sambil menarik koper di tangan kanannya, kedua kakinya berjalan perlahan menuju kesebuah kamar dimana Bram di ikat.
" Mass Bram? Mas Bram saayang? aku datang niihh !"
" Mas Braamm,,? Kamu pasti lagi menungguku kann?"
" Nahh, ini dia mas Bram ku ! halo sayang gimana kabar kamu, kangen nggak sama aku? "
Mikha meletakkan kopernya disamping ranjang dan dia mendekati Bram.
Bram diikat dalam posisi duduk diatas kursi dengan keadaan polos tanpa sepotong baju pun yang menutupi tubuhnya, untungnya Mikha hanya melepaskan bajunya Bram saja tidak dengan celana panjang, kini terlihat tubuh Bram yang kekar dan berotot itu terlilit tali hingga kebelakang dengan begitu erat.
" Mas Braamm,, sayangku? "
Mikha hanya memakai baju pendek di atas lutut ia langsung menghampiri Bram dan duduk diatas pangkuannya.
" Sini Mas, tatap muka ku ! kenapa kamu memalingkan wajah tampan ini? mereka sangat jahat ya mas karena sudah menutupi mulut mas dengan lakban."
Mikha mendempetkan badannya dengan tubuh Bram dan kedua tangannya mulai meraba pinggangnya Bram.
__ADS_1
" Maass,, aku pengen sekali memeluk kamu seperti ini dari dulu, tapi kamunya aja tu yang selalu sok jual mahal."