
" Nak Rendi kan,, lama ya sudah tidak terlihat, silahkan masuk dulu nak ini sudah magrib." Ucap ibu Maria pada Rendi yang baru saja turun dari mobil.
" Baik bu, terimakasih ya? maaf kami datangnya magrib-magrib seperti ini." Rendi langsung menyalami tangan perempuan yang berumur 40 tahun lebih itu."
" Itu siapa ya nak tampan sekali, kelihatannya bukan seperti orang kampung kita." Tanya ibunya Maria sambil sedikit berbisik pada Rendi yang tengah terkesima melihat ketampanan wajah Bram dan penampilannya yang begitu sangat berbeda.
" Teman aku dari kota Buk ! " Jawab Rendi Singkat.
Bram baru saja turun dari mobil sambil mematikan handphone ditangannya, dan dimasukkannya handphone itu kedalam kantong celana panjangnya, setelah itu ia langsung berjalan menuju kearah ibunya Maria.
" bu? " Panggil Bram sambil menyalami perempuan yang masih terlihat cantik walaupun umurnya sudah hampir setengah abad itu.
" Iya nak, dengan siapa ya ini? " Tanya ibunya Maria dengan wajah yang tersenyum bahagia dengan kedatangan Bram.
" Saya Bram bu." Jawabnya sambil membalas tersenyum.
" Oh iya, nak Bram nak Rendi, silahkan kalian masuk dulu ya ini sudah mau adzan magrib." Ia langsung mempersilahkan Bram dan Rendi untuk masuk kerumahnya yang sederhana itu.
Rendi berjalan didepan sedangkan Bram berjalan dibelakang sambil sedikit menatap sekeliling rumah.
" Nah, nak Bram nak Rendi kalian duduk saja disini dulu ya, ibu mau ambil sajadah dulu untuk kalian shalat. " Ucapnya sambil masuk kedalam kamar.
Rendi dan Bram Mereka berdua duduk di dalam ruang tamu yang terlihat lumayan kecil dengan 2 sofa didalamnya.
" Ren, keluarga Maria yang lain kemana? " Tanya Bram pada Rendi.
" Bapaknya Maria lagi sakit dikamar ia sudah lama sulit berjalan, kalau mau keluar kemari ya harus pakai kursi roda dulu. " Jelas Rendi sambil merebahkan badannya yang lelah di atas sofa, untuk menghilangkan rasa pegal di tubuhnya karena kecapean menyetir mobil saat menempuh perjalanan jauh dari kota.
__ADS_1
" Kalau Maria sama kakak kembarnya yang laki-laki kan lagi di kota, dirumah ini cuman tinggal ibu sama ayahnya Maria juga.."
Belum selesai Rendi menyebutkan anggota keluarga Maria yang satu lagi, tiba-tiba keluar seorang gadis cantik dengan membawakan sajadah ditangannya.
" Kak Rendi ini sajadahnya. " Ucap seorang gadis cantik yang begitu Mirip dengan Maria, hanya saja iya terlihat lebih muda sekitar 4 hingga 5 tahun dari Maria yang berumur 24 tahun, mungkin umur gadis itu sekarang baru 20 tahun.
Pandangan Bram sempat berhenti pada Mila untuk beberapa detik, ia sedikit kaget melihat Mila yang sangat Mirip dengan kakaknya Maria.
" Terimakasih Mila, sumurnya dimana ya? boleh antar kak Rendi sebentar kesana. " Tanya Rendi yang senyam-senyum merona melihat Mila adik perempuannya Maria.
" Alah kak Rendi ini cuman pura-pura lupa aja, kan sudah dari kecil main ke rumah kami masak kak Rendi bisa lupa gitu sih,, lagian kan sumurnya cuman satu kak gak pindah-pindah, apalagi rumah kami sekecil ini mana mungkin harus pake di antar segela." Jelas Mila panjang lebar dengan sikap cerewetnya itu yang agak sedikit berbeda dengan Maria.
" Kecuali kakak yang satu lagi, sangat wajar kalau harus di antar kesumur karena dia belum pernah kerumah ini." Tambah Mila melihat kearah Bram sambil menunjukkan senyum manisnya, seakan ia menawarkan bantuan pada laki-laki tampan dihadapannya itu untuk ia bawa kesumur.
" Ah nggak usah nggak usah ! Biar kak Rendi saja yang bawa kak Bram kesumur, kak Rendi tau sumurnya ada dimana, yuk Bram. " Ajak Rendi terburu-buru karena Cemburu melihat Mila yang mulai melirik manja ke arah Bram.
Rendi langsung membawa Bram menuju kesumur yang ada diluar rumah itu tepatnya berada disamping Rumah, mereka langsung berwudhu dan masuk lagi keruang tamu untuk melaksanakan shalat magrib.
Setelah beberapa menit kemudian, ketika Rendi dan Bram sudah selesai shalat, tiba-tiba keluar ayahnya Maria memakaikan kursi roda.
" Nak Rendi? lama ya saya sudah tidak melihat kamu, kamu sudah besar makin tampan dan sukses, Pasti keluarga kamu sangat bangga memiliki anak laki-laki yang berhasil sukses seperti kamu. " Ucap Ayah Maria yang terpana melihat penampilan Rendi sekarang.
Bagaimana tidak, dulu Rendi hanya anak kecil yang belum tau apa-apa seperti anak kecil lainnya saat ia bermain kerumahnya Maria.
" He hei iya terimakasih pak, Pak slamat sudah sembuh kah? " Tanya Rendi pada ayahnya Maria yang di panggil pak Slamat itu sambil ia menyalami tangannya.
" Alhamdulillah nak, saya sangat bersyukur walaupun keadaan saya masih seperti ini. " Ucap ayahnya Maria sambil sedikit menggenggam tangannya Rendi yang masih menyalaminya.
__ADS_1
" Pak, ini Bram teman saya dari kota. " Tunjuk Rendi dengan ibu jarinya kearah Bram yang sudah berdiri disampingnya, ia sedang menunggu giliran untuk bersalaman juga dengan ayahnya Maria.
" Maaf Pak, saya Bram temannya Rendi. " Bram langsung menunduk meraih tangan calon ayah mertuanya itu untuk bersalaman.
" Iya Nak Bram, Senang bisa bertemu dengan kamu, Baru kali ini ya kamu bermain kekampungya Rendi? " Tanya ayahnya Maria pada Bram dengan wajah yang terlihat sangat bahagia menatap pemuda tampan yang ada dihadapannya, Ia melihat ketampanan dan penampilan Bram jauh lebih keren daripada Rendi.
" Iya pak, " Jawab Bram singkat yang hanya bisa tersenyum karena sifat coolnya yang memang tidak biasa banyak ngomong, kecuali dengan Rendi teman yang sudah sangat akrab Baginya.
" Yasudah,, yasudah, Silahkan duduk dulu nak Bram nak Rendi kalian pasti sangat capek kan karena habis dari perjalanan jauh, Bu tolong bikin teh hangat untuk Kami Ya ! " Teriak ayahnya Maria setelah mempersilahkan Bram dan Rendi untuk duduk.
" Iya pak terimakasih. " Ucap Bram sambil duduk di atas sofa yang ada dihadapan ayahnya Maria.
" Nak Rendi, kamu kemari pasti karena mau bertemu dengan kedua kakak kembarnya Mila kan, teman masa kecil kamu itu? Sayangnya mereka tidak ada disini nak, mereka berdua sudah kekota, apa mereka tidak pernah bertemu dengan nak Rendi. " Tanya ayahnya Maria yang mulai membuka percakapan dengan membahas anak kembarnya itu, yang merupakan teman masa kecil Rendi.
" Hehe bukan pak, saya kemari karena kepentingan dari teman saya ini." Jawab Rendi sambil menunjuk kearah Bram yang duduk di atas sofa di sebelahnya.
Rendi mencoba untuk jujur dan langsung menuju ke poin, Karena iya tau Bram pasti sangat suka dengan sifat orang yang tidak bertele-tele.
" Oh iya kah nak Bram? boleh saya tau maksud nak Bram kemari." Tanya Pak Slamat ayahnya Maria karena sudah begitu penasaran.
Sebelum menjawab Pertanyaan dari calon ayah mertuanya itu, Bram langsung merobah posisi duduknya agar terlihat lebih sopan.
" Iya pak, sebelumnya saya minta maaf sama bapak jika saya kurang sopan karena malam-malam begini menemui bapak, tapi saya kesini dengan maksud yang sangat baik, saya berniat ingin melamar anak gadis bapak yaitu Maria. " Ucap Bram dengan nada lembut dan berusaha sesopan mungkin.
Halo readers ku tersayang, kabar bahagia untuk kalian yang menyukai kisahnya Maria, mulai hari ini author akan selalu upload lebih dari satu episode.
Oh iya, kira-kira kalian bisa nebak nggak ini apakah ayahnya Maria akan langsung menerima lamarannya Bram.
__ADS_1
Sebelumnya terimakasih ya karena sudah setia mengikuti kisah Maria, dan terimakasih juga untuk semua komentar kalian yang selalu membuat aku semangat, aku sayang kalian semua lov u,, salam hangat dari author kalian Elvi, semoga hari kalian menyenangkan,, See you.