
Beberapa jam kemudian.
" Maria? "
" Iya sebentar. " Memindahkan tangan Bram yang melingkar diatasnya.
" siapa sayang? " Mata Bram masih terasa berat untuk menatap Maria efek belum sepenuhnya terbangun.
" Kurang jelas mas, tapi keknya seperti suara Dimas deh." Maria memakaikan bajunya sedangkan Bram sudah terlelap kembali bahkan ja tidak sempat mendengar nama Dimas dari Maria.
" Kenapa Dimas? " Maria sudah keluar dari kamar Bram dan menutup pintunya kembali.
" Kita bisa kerumah sakit sekarang Maria? "
" Kenapa kamu terlihat terburu-buru seperti itu ? "
" Aku mau ngantar bi Yam sebentar kekantor polisi, sedangkan Mikha mau pulang kerumahnya dia bilang ada hal penting, jadi nyonya nggak ada yang temanin."
" Gimana sama mas Bram? dia masih tidur nyenyak kasian kalau harus deibangukan mungkin masih capek pulang dari kota. "
" Ah, iya,, nggak usah dibangunkan nggak papa, nanti dia bisa nyusul belakangan. "
" Dimas bentar ya aku mau kedapur dulu." Maria berjalan menuju kedapur mau mengambil benda untuk penyamarannya yang dilepaskan oleh Bram tadi didapur.
" Halo Mikha. " Dimas langsung menelvon Mikha.
" Gimana? "
" Rencana sedikit berubah dari rencana awal."
" Maksud kamu? "
" Bram nggak jadi ikut, dia masih tidur dikamarnya. "
" Bagus donk, itu malah lebih mudah lagi."
"*maksud kamu gimana? apa yang akan kamu lakuin? "
" Pokoknya tugas kamu urus Maria saja, kalau mas Bram sudah menjadi tugasku*.
" Oke, Kalau gitu aku dan Maria mau berangkat sekarang. "
" Oke, serahkan Bram sama aku. "
" Dimas, kita jalan sekarang? " Panggil Maria.
" Iya, lebih cepat akan lebih baik biar aku bisa langsung mengantar Bi Yam kekantor polisi. " Dimas langsung menutup telvon dari Mikha.
" Kamu jemput aku pakai apa? "
" Itu pakai mobil nyonya yang ada diluar aku parkir dipinggir jalan. "
" Oh iya Dimas, Makasih ya? "
" Untuk apa? "
" Karena kamu telah menolongku dari mang Jo. "
" Maria, aku rela melakukan apa saja agar bisa membantu kamu, walaupun itu memiliki resiko besar untuk diriku sendiri.
" Jangan ngomong seperti itu Dimas. "
" Kenapa memangnya Maria? "
__ADS_1
" Kita masuk kemobil dulu ya? " Maria dan Dimas langsung memasuki mobil itu.
" Maria? jujur,, sedikitpun aku tidak sanggup jika kamu harus terluka."
" Jangan ngomong seperti itu lagi Dimas, karena menurutku, akulah yang sudah membuat kamu terluka. "
" Maria ! kamu jangan merasa bersalah gitu." Spontan Dimas langsung memegang tangan Maria.
" Kita pergi sekarang ya? " Dengan cepat Maria menarik tangannya dari Dimas, lalu ia duduk diam dan menatap lurus ke depan.
" Benar ya kalau kamu itu sudah menjadi istrinya Bram? " Dimas langsung menyetir mobilnya.
" Iya ! "
" Bagaimana bisa? "
" Bram pergi kekampung untuk menikahi ku, dan ayahku sendiri yang sudah menikah kan aku dengan Bram."
" Apa? Memangnya bisa menikah seperti itu tanpa sepengetahuan kamu dan tanpa kehadiran kamu disana? "
" Menurut hukum dalam agama kepercayaanku bisa. "
" Yasudah, aku percaya ! tapi,, jika kamu sudah menjadi istrinya Bram kenapa kamu harus hidup seperti ini? "
" Dimas? maaf. Boleh kita jalan saja,? ceritanya kapan-kapan saja ya karena terlalu panjang."
" Iya maaf aku mengerti, lagian kita mau sampai kerumah sakit. " Sahut Dimas untuk terakhir kali karena setelah itu dia hanya bisa ikut diam seperti Maria.
Disisi lain Bram masih tertidur pulas dan Mikha tiba-tiba masuk kamarnya.
" Mas Bram? "
" Emm Maria kamu sudah kembali? " masih menunutup kedua matanya.
" Eummmmm,, " Bram hanya mengubah posisi tidurnya tanpa menyadari siapa yang datang.
..
" Dimas, Tante sudah makan kan,, kamu dan bi Yam gimana. "
" Tante sudah makan, aku dan bi Yam nanti saja makannya waktu mau kekantor polisi, kamu sendiri sudah makan kan Maria? "
" Hah, iya. " Jawab Maria singkat setelah itu langsung turun mobil dan berjalan menuju kerumah sakit.
" Maria? " Dimas berjalan disamping Maria.
" Iya. " sahut Maria singkat.
" Apa kamu bahagia hidup seperti itu, apa kamu tidak merasa tertekan ? "
" Maaf Dimas? bisa tidak kalau kita jangan bahas itu dulu. "
" Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kamu , tapi aku mohon Maria kalau kamu butuh bantuan jangan pernah sungkan untuk minta tolong padaku ? "
" Sudah Dimas, jangan bahas itu sekarang kita masuk dulu. " Ucap Maria pada Dimas sambil membukakan pintu kamar mamanya Bram.
" Tante belum tidur? "
" Belum Maria, Tante lagi dengarin curhat bi Yam."
" Oh iya, bi Yam harus kekantor polisi kan? bibi berangkat sekarang biar proses interogasinya cepat selesai, tante Maria saja yang jagain."
" Baik non, yasudah nyonya,, saya pamit dulu sama Dimas ya nyonya? "
__ADS_1
" Ya bi, kalian cepat kembali ya ? " ucap mamanya Bram.
Dimas dan bi Yam langsung keluar dari kamar itu.
" Tapi tante bukannya Dimas harus pulang kerumahnya dulu, dia sudah dari tadi pagi bersama kita. " Ucap Maria.
" Tidak Maria, Dimas sekarang sudah menjadi keluarga kita, dia sudah menjadi supir pribadiku. "
" Tapi tente bukankah lebih baik tante bicarakan dulu dengan tuan muda Bram? "
" Maria? kamu lihat sendiri kan apa yang sudah dilakukan mang Jo? mang Jo itu supir pilihan Bram, jadi kali ini biar tante sendiri yang akan memilih supir untuk tante sendiri. "
" Iya tante,, Aku paham ! yasudah sekarang tante istirahat sebentar ya? "
" Tante mau nungguin Bram dulu Maria, kok dia nggak ikut kamu dan Dimas tadi? "
" Tadi tuan muda nyenyak sekali istirahat dikamar tante, jadi kami biarkan saja tuan muda meneruskan tidurnya mungkin dia sangat capek baru pulang dari kota. "
" Iya Maria kamu benar sekali, tante tunggu saja mungkin sebentar lagi dia sudah datang."
" Begini saja tante, sekarang tante istirahat juga, nanti waktu tante bangun tuan muda juga sudah ada Disini. "
" Iya Maria baiklah, kalau begitu tante tidur dulu ya? kamu tidak apa-apa kan di tinggal sendiri? "
" Iya Tante nggak papa kok tante istirahat aja ya."
Beberapa jam kemudian,, Tepat jam 8 malam.
" Tante sudah bangun? "
" Iya Maria ini sudah jam berapa ya ? sepertinya tante tidurnya lama sekali. "
" Jam 8 malam tante. "
" Berarti sudah tiga jam donk Tante tidurnya. "
" Nggak papa kok tante itu biasa karena pengaruh obat biar tante cepat sembuh. "
" Maria, Bram kemana? " Terlihat tatapannya mengarah kesegala arah untuk mencari keberadaan Bram anak laki-lakinya.
" Belum, tante nggak usah khawatir mungkin tuan muda lagi dijalan menuju kemari."
" Kenapa ya tiba-tiba perasaan tante jadi nggak enak gini, Coba deh Maria kamu telvon Bram sebentar. "
" Aku lupa bawa handphone tante, Tante tenang ya? Tidak akan terjadi apa-apa kok sama tuan muda. "
" Maria tolong ambil handphone tante sebentar ya, tante simpan didalam tas itu. "
" Baik tante, pokoknya tante harus tenang dulu jangan khawatir. "
" Sini Maria handphonenya ! "
" Ini tante, aku yakin tuan muda Bram akan baik2 saja."
" Sebentar ya tante telvon dulu. "
Tiga menit kemudian,,
" Bagaimana Tante ? "
" Bram tidak menjawab, sebentar tante coba lagi. " Ia semakin terlihat khawatir.
"Tidak ada jawaban juga Maria bagaimana ini telvonnya aktif, tante telvon pak budi dulu ya, coba tante tanya dia. "
__ADS_1
" Iya tante. " Maria juga terlihat menjadi sangat khawatir.