OMaria Istri Rasa Simpanan

OMaria Istri Rasa Simpanan
INSIDEN MANG JO DAN BI YAM Di KAMAR


__ADS_3

" Ngapain mas mau pulang sekarang? "


" Aku lebih tenang jika bisa langsung melihat kamu Maria, kalau kamu disana lagi sedih ataupun terluka,, disini aku juga bisa merasakannya. "


" Ah lebay,, "


" Eum ! "


" Kenapa cuman bilang eum? kamu marah ya mas aku bilang lebay,, "


" Maria ! jangan mengartikan ketulusan cintaku dengan kata-kata lebay, aku bahkan bisa di katakan gila kalau menyangkut orang yang aku cintai. "


" Apa mas juga pernah dikatakan gila waktu lagi jatuh cinta sama elena? "


" Apa? " Suara Bram terdengar kaget lewat telvon.


" Iya elena mantan mas yang di London itu,, "


" Siapa yang ceritain sama kamu Maria, bi Ita atau bi Yam. "


" Bukan keduanya, mas cinta bangat kan sama elena? "


" Itu dulu sayang, kalau bukan mereka yang ngomong siapa juga? gak mungkin mama kan karena mama belum akrab sama kamu ! "


" Sudah lah mas nggak usah di tebak-tebak ! bukan itu yang lebih penting sekarang, aku hanya ingin tau perasaan mas terhadap dia, elena itu kan cinta pertama kamu mas, dia pacar kamu dari SMP sampai akhirnya kamu menikah dengan Mikha, berarti kalian sudah menjalin hubungan begitu lama, dan elena wanita satu-satunya yang pernah kamu cintai, apa mungkin mas bisa menghilangkan begitu saja perasaan mas terhadap dia? " Tanya Maria panjang lebar karena rasa cemburunya.


" Maria, jangan bahas dia lagi sedikitpun aku sudah tidak memiliki perasaan lagi sama dia, aku bahkan sudah malas mendengar namanya saja. "


" Tapi Maria tidak yakin mas, coba bayangkan dari SMP sampai mas menikah, berarti kurang lebih sudah sepuluh tahun kalian menjalin hubungan, apa mungkin perasaan yang terjalin selama 10 tahun bisa hilang hanya dalam dua tahun. "

__ADS_1


" Bisa karena kamu,, Maria? tolong jangan ragukan cinta ku ya,, aku paling tidak suka di ragukan diremehkan apalagi tidak di percayai."


" Iya mas aku paham, Maria minta maaf ya mas karena sudah buat hati kamu kesal dengan pertanyaanku, yasudah mas aku mau pamit dulu kedapur, sudah waktunya masak untuk makan siang. "


" Baiklah sayang, mungkin mas tidak akan lama disini nggak akan sampai seminggu, burung mas nggak tahan kalau lama-lama nggak dikasih makan sama kamu.".


" Mas ini nakal banget."


" Kok nakal sih memangnya kamu tidak ingin makan eskrim juga seperti malam itu, mas yakin kamu sangat mau, mas juga ingin sekali mendengarkan lagi desahan-desahan kamu di depan wajah mas, bahkan mas sangat suka saat kamu menjerit-jerit keenakan, oh iya sayang, nanti akan aku bawakan hadiah spesial ya waktu aku pulang dari sini? "


" Eumm pengen sih, es krim itu memang favorit Maria hehe, terserah mas mau bawa pulang hadiah apa aku nggak peduli, yang penting mas bisa selamat Sampai kerumah, ya sudah ya mas Maria pamit dulu. "


" Iya sayang ku i love you? "


" i love you to mas "


Selesai makan malam jam 8 lebih, Maria menemani bi Yam cuci piring di dapur, dan tiba-tiba masuk mang Jo mau bikin kopi.


" gak papa bi santai aja. " Jawab Maria singkat.


" Kalian ngapain, oh iya bubuk kopinya dimana, pengen ngopi nih mang Jo " Ucap laki-laki yang berumur sekitar 40 tahun lebih itu, perawakannya tinggi dengan kulit sawo matang dan terlihat sedikit lebih muda dari bi YAM.


" itu Jo, ambil saja sendiri ! " Suruh bi Yam yang sedang mencuci piring.


" Bi Yam, bi Ita kemana ya? kok nggak kelihatan dari sore ? " Tanya Maria.


" Itulah non, bi Ita sudah pamit pulang sama nyonya tadi siang, dia cuman minta cuti untuk dua hari, jadinya malam ini bibi bobo sendirian non, mau nggak non temani bi Yam bobo?" Tangannya bi Yam masih membilas-bilas piring kotor didepannya.


" Maaf bi Maria nggak bisa ,, karena malam ini suami Maria mau nelvon, katanya ada hal penting yang mau di bicarakan. " Jawab Maria karena dia berniat untuk telvonan dengan Bram.

__ADS_1


" Yasudah non tidak apa-apa. "


" sssrruuuppp,,! " mang Jo menyeruput kopi ditangannya sambil melangkah kan kaki keluar dari sana tanpa berkata sepatah kata apapun lagi.


" Bi Yam, aku kekamar dulu ya sudah capek, nggak papa kan bi? " Tanya Maria kembali.


" Silahkan non nggak papa, lagian piringnya sudah hampir habis bibi cuci, bentar lagi bibi juga mau kekamar. "


" Iya bi duluan ya? " Maria langsung pergi menuju kekamarnya.


Sampainya Maria di kamar ia mengambil handphonenya dan langsung merebahkan diri ke atas kasur, ia terus berbicara pada dirinya sendiri dan berharap akan di telvon oleh Bram.


" Apa tidak apa-apa ya, tadi aku tidak sempat mengatakan pada mas Bram kalau tante lagi sakit, mungkin itu yang terbaik, Kupikir jika aku di posisi tante aku juga tidak ingin menyusahkan anakku yang lagi diluar kota aku yakin tante pasti sepemikiran juga dengan ku, apalagi keadaannya sudah makin membaik. "


Hembusan angin memasuki celah-celah jendela membuat tubuh Maria semakin kedinginan, hujan pun turun begitu derasnya dengan sesekali di barengi suara petir yang menyambar, Maria jadi teringat malam dimana ia bercumbu dan merajut kasih dengan Bram.


" Mas Bram aku jadi sangat rindu, sebenarnya aku ingin secepatnya bisa selalu ada di samping kamu, tapi aku harus mendapatkan jawaban tentang statusku dulu, apakah benar aku ini istri kamu mas? "


Tiba-tiba Maria mendengar suara jeritan bi Yam dari luar, Maria terkejut dan langsung terperanjat dari tidurnya, memang suaranya hanya terdengar samar-samar akibat derasnya suara hujan.


" Maria yakin, tidak salah lagi itu pasti suara jeritan bi Yam, apa di sedang ketakutan karena tidak ada bi Ita? " Maria langsung keluar dari kamarnya menuju kamar bi Yam.


" Apa sih yang sebenarnya terjadi? " Langkah Maria langsung terhenti di depan jendela.


Lewat jendela yang tidak terkunci Maria mencoba mengintip kedalam kamarnya bi Yam. ia melihat badan laki-laki dari belakang, laki-laki itu berada tepat di depan wajah bi Yam yang sedang terlentang, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat laki-laki itu memegang pisau di tangan kirinya, Maria tidak bisa berbuat apa-apa, ia takut jika ia gegabah bi Yam atau dirinya bisa terluka.


" Diam Yam, percuma kamu menjerit tidak akan ada yang mendengar, di kamar sebelah hanya ada Maria yang lagi telvonan sama suaminya, apalagi diluar hujan deras, jangan berharap akan ada yang mendengar, non Mikha dan nyoya sudah pasti tidak akan mendengar karena kamar mereka jauh didepan, jadi kamu nikmati saja Yam, jangan sampai aku harus pakai kekerasan. "


" Jangan mang Jo, Yam mohon ! walaupun umur Yam sudah beranjak 50 tahun tapi Yam masih perawan mang Jo." berontak bisa Yam dengan suara yang mulai di kecilkan karena takut ancaman.

__ADS_1


"Apa? itu mang Jo,, " Maria sangat kaget setelah mengetahui laki-laki yang dilihat dari belakang itu mang Jo supir mamanya Bram.


" Ah Yam bagus sekali kalau kamu masih perawan, aku ingin merasakan lagi nikmatnya rasa perawan, aku jadi tidak sabar Yam. "


__ADS_2