
" Mas nanti ya dilanjut lagi dirumah? " Tersenyum manis sambil mencubit manja kedua pipinya Bram.
" Yasudah, aku benaran udah nggak sabar nih mau cepat-cepat nyampe rumah, janji ya sayang nanti kamu nggak akan ngelarang aku buat ngelakuin apa saja." Tanya Bram sama Maria sambil menggigit bibirnya sendiri dengen kedipan mata, seakan Bram lagi mencoba menahan sesuatu yang sudah tidak sanggup untuk dia tahan.
"Apa yang mau mas lakuin? Euumm,, hayoo !" Maria kembali tersenyum sambil menggoda Bram, ia tau apa yang dimaksud oleh Bram.
" Ini sayang, coba deh pegang ini punyaku, dia sudah siap tempur tinggal nunggu lawan aja." Bram menarik tangan Maria dan meletakkannya diatas juniornya Bram.
" Kenapa memangnya mas?" Maria pura-pura nggak tau.
"Coba deh sayang digenggam dengan kuat." Bram menuntun tangan Maria untuk menggenggam juniornya yang makin mengeras.
" Ahh,, mas ini kok nakal banget sih." Terasa sudah sangat mengeras ditangan Maria hingga membuat ia terkejut dan langsung menarik tangannya.
" Sudah nggak tahan lagi kan junior mas? Yasudah yuk sayang biar cepat sampai rumah ! " Bram benar-benar terlihat sudah tidak sabar, ia langsung menancap mobilnya dengan cepat dari rumah sakit menuju rumahnya.
Maria hanya tersenyum melihat tingkah Bram yang romantis, Bram terus menyetir mobil dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat tangan Maria dan sesekali Bram menciumnya, dia terus mencium tangan Maria sedangkan kedua matanya masih menatap lurus kearah jalan.
" Mas, bukannya lebih baik kamu lepaskan dulu tanganku, biar nyetirnya lebih fokus." Tanya Maria sambil tersenyum walaupun sebenarnya ia merasa sedikit khawatir, dengan tingkah Bram yang menyetir mobil hanya dengan tangan kanannya.
" Nggak papa sayang tenang aja ya? percaya deh sama aku, dengan memegang tangan kamu seperti ini aku jadi lebih bersemangat." Bram kembali mencium tangan Maria yang masih ada dalam genggaman tangan kirinya, sesekali ia meletakkan tangan Maria didanya.
Maria sangat terharu melihat tingkah Bram, walaupun ia sedang tersenyum sebenarnya kedua matanya Maria sedang meneteskan bulir-bulir kebahagiaan, Bram yang masih tetap fokus menatap kearah jalan ia tidak tau kalau Maria sedang menangis terharu.
" Maria, tetaplah bersamaku ya? tetaplah menjadi milikku selamanya, tolong jangan tinggalkan aku bagaimanapun keadaan dan situasi yang akan kamu hadapi, aku mau kita bisa terus berjuang bersama untuk kebahagiaan kita, kamu mau kan berjanji untuk selalu berada disampingku." Tanya Bram tanpa menoleh kearah Maria karena dia sedang fokus menyetir mobil.
" Iya mas, Aku akan selalu mencintai kamu dan selalu berada disamping kamu bagaimanapun situasinya, selama hati kamu itu masih untukku." Maria langsung menyandarkan kepalanya diatas bahu Bram, dengan tangan kanannya yang masih dalam genggaman tangan kiri Bram.
" Percayalah Maria, aku akan selalu mencintai kamu sayang, tidak akan ada wanita lain yang bisa memiliki hatiku kecuali kamu."
__ADS_1
Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Bram hati Maria semakin bergejolak, ia sangat bahagia bisa memiliki cinta yang begitu sempurna. Air mata yang terus mengalir dari mata Maria kini sudah membasahi kedua pipinya, ia terus menangis terharu tanpa bersuara.
" Mas sebentar kita mau sampai rumah, aku pakai ini dulu ? " Maria menarik tangannya dari genggaman Bram, ia langsung mengambil rambut dan gigi palsunya serta kacamata.
" Nggak usah dipakai sayang, kan nggak ada orang dirumah, cuman ada pak Kasim dan pak Budi, biarkan saja mereka tau tidak apa-apa biar aku yang urus." Usul Bram dengan serius pada Maria.
" Jangan dong mas, semakin banyak orang yang tau akan semakin cepat semua ini terbongkar, ini belun saatnya untuk mereka tau apalagi tante lagi sakit, jangan sampai menambah banyak masalah." Maria tetap bersikeras memakaikan penyamarannya lagi.
" Aku kasihan melihat kamu yang harus selalu berpenampilan jelek seperti itu." Bram terlihat begitu tidak tegaan melihat penampilan Maria.
" Nggak papa mas, aku juga harus sedikit berkorban untuk cinta kita, bukan hanya kamu saja." Maria akhirnya sudah selesai dengan penyamarannya lagi.
" Kita sampai sayang."Setalah pak Budi membuka pintu gerbang Bram langsung membawa mobilnya masuk kedalam rumah menuju garasi.
" Mas aku mau masak ya? sambilan nunggu masakannya siap kamu mandi aja dulu biar lebih segar." Maria sudah keluar dari mobilnya Bram.
" Iya sayang." Bram mengangguk sambil mengedipkan matanya kembali.
Ruang dapur sudah terlihat sangat kinclong, mungkin bi Yam sempat bersih-bersih dulu sebelum kerumah sakit.
Maria langsung membuka kulkasnya untuk mengambil beberapa daging ayam mentah yang masih tersimpan disana, tanpa berlama-lama karena Bram sudah sangat lapar Maria mencoba untuk membuat masakan yang gampang-gampang saja.
Setelah mengolah sedikit bumbu sambal kecap pedas manis, Maria langsung memasak ayam tersebut beserta bumbunya sampai meresap dan matang.
" Hmmm, wangi sekali, lagi masak apa sayang, sudah nggak sabar rasanya mau langsung makan, ini sudah matang kan." Perlahan dari belakang Bram langsung melingkari pinggang Maria dengan kedua tangannya.
" Mas, nanti kalau ada yang lihat gimana, mas makan dulu ya? setelah itu kamu mau ngakuin apa aja terserah tapi dikamar." Tangan kiri Maria mencoba melepaskan kedua tangan Bram yang memeluknya dari belakang, sedangkan tangan kanannya sedang membolak-balikkan daging ayam yang baru saja matang.
" Yasudah, tapi kamu ikut makan juga ya sayang ya?" Bram langsung melangkah kakinya mendekati meja makan untuk duduk disana.
__ADS_1
Diikuti dengan Maria yang sudah membawa ayam sambal kecap pedas manisnya untuk dimakan oleh Bram.
" Euumm, wangi dan penampilannya benar-benar menggugah selera, rasanya pasti tidak kalah enak, rupanya istriku sangat pintar memasak." Bram tidak bisa membuang pandangannya dari masakan yang sedang disajikan oleh Maria dihadapannya.
"Hehe kamu ini mas gombal bangat, coba Makan dulu setelah itu baru komentar, kalau nanti nggak enak gimana?" Ucap Maria sambil meletakkan nasi beserta ayam didalam piringnya Bram.
" Aku coba ya? Aumm,," Bram langsung mengunyah dengan perlahan.
" Maria,, sayang,, ini benar-benar enak lho, coba deh kamu ikut makan." Akhirnya masakan Maria cocok dilidahnya Bram hingga membuat Bram terus memakan nasi dan ayam kecap itu suap demi suap.
" Nggak mas, aku mau beres-beres dapur dulu, kamu lanjut saja ya? " Sambil tersenyum senang Maria langsung melangkah menuju kearah dapur yang berada disebelah ruang makan.
" Lho ! kamu nggak ikut?" Tanya Bram dengan mulutnya yang sudah terisi penuh oleh masakan wanita yang sangat dicintainya itu, ia terus menatap punggung Maria yang semakin menghilang sambil mengunyah makanan didalam mulutnya.
" Nggak papa mas." Tanpa menoleh lagi.
Maria langsung membereskan dapurnya dan mencuci piring bekas yang ia pakai untuk memasak sampai selesai, setelah itu iya mencuci tangannya sampai bersih.
" Sayang,,? " Bram mendekati dari belakang dan membalikkan badan Maria perlahan.
" Mas, dikamar aja ya?" Ucap Maria sambil tersenyum.
Bram tidak mau menuruti perkataan Maria, ia langsung memegang pinggul Maria dengan kedua tangannya, lalu ia mengangkat Maria keatas meja yang ada didapur, Kini dada Maria yang bulat itu tepat berada diwajahnya Bram, tanpa menunggu lama Bram langsung membenamkan wajahnya diantara kedua gunung itu.
" Mas?" Panggil Maria dengan suara lirih.
Bram mengangkat wajahnya mendekati bibir Maria, ia langsung mencium bibir itu sambil membasahinya dengan lidahnya Bram, Bram terus melakukan itu tanpa henti.
" Mas Bram! " Teriak Mikha yang sudah berdiri tepat dibelakang Mereka.
__ADS_1
Lov u readers ku sayang, maaf ya hari ini agak terlambat.