
" Mati nggak ya? " Mikha memastikan, bahwa tidak ada orang yang melihat perbuatannya barusan.
Setelah begitu yakin dengan suasana jalan yang sangat sepi tanpa ada seorang pun yang lewat, ia langsung turun dari mobil dan menghampiri si bodyguard.
"Dasar sialan, mati aja lo sekalian biar cepat masuk neraka. " Mikha menendang tubuh si bodyguard yang sudah terkulai didalam semak.
"Mana hp gue hah !" Ia meraba-raba kantong baju sibodyguard itu hingga kantong celananya.
Akhirnya Mikha menemukan hpnya didalam kantong celana si bodyguard.
"Untung aja, Mario tau nggak ya posisi gue lagi dimana?" Mikha mencari nama Mario di ponselnya dan mulai melangkahkan kaki.
"Mbak, tolong ! " Ucap sibodyguard sambil menarik salah satu kakinya Mikha.
" Ahh, lepasin kaki gue ! " Mikha menarik kakinya dengan kuat hingga terlepas.
" Ternyata kamu belum mati juga ya? " Mikha kembali mendekati si bodyguard yang sudah terkulai dan bersimbah darah itu.
" Kamu harus mati sekarang ! Pokoknya harus mati."
" Khuk ! Khuk ! mba tol,, khuk."
Mikha mencekik leher sibodyguard dengan begitu kuat. Dan ya, akhirnya sibodyguard terlihat benar-benar sudah tidak bernafas lagi.
Melihat si bodyguard mati, Mikha merasa sangat puas sekaligus merasa gugup. Secepatnya Mikha beranjak dari sana menuju ke mobil sebelum ada yang melihatnya.
Mikha memang wanita yang sangat licik, tapi dia bukanlah pembunuh yang handal. Sedikitpun dia tidak menyadari jika perbuatannya itu akan segera berakibat buruk terhadap masa depannya.
" Halo Mario?"
" Iya sayang, iya. Kamu lagi dimana? kamu tidak apa-apa kan, aku cepek nyari kamu ketempat biasa tapi nggak ada."
" Tunggu aku di pohon itu, aku akan segara kesana."
" Hah, iya."
Mikha menancap mobilnya kembali menuju ketempat Mario.
Disisi lain, Bram sudah sampai kerumah, disaat Maria dan Dimas baru menyusun rencana untuk menyelamatkannya.
" Ma?" Bram mendekati mamanya yang sedang duduk diteras sambil tersenyum lebar.
" Bram,, kamu kemana aja nak?" Ia langsung menangis memeluk anaknya.
" Nggak kemana-mana kok ma, mama udah sembuh kan?" Bram masih tersenyum tanpa sedikitpun terlihat memiliki beban.
Walaupun baru saja mengalami masalah, tapi Bram tidak membebankan pikirannya karena hal tersebut, karena dia bukanlah tipe orang yang tertekan.
" Udah sayang, tapi kamu terlihat kotor lusuh gini kenapa? benaran tidak terjadi apa-apa sama kamu nak?"
" Iya ma benaran, Bram cuman perlu mandi aja biar tampan lagi hehe." Ucap Bram menggoda.
" Kamu ini ! pokoknya mama nggak mau terjadi apa-apa sama kamu ya? mama cuman punya kamu didunia ini nggak ada orang lain."
" Iya ma, iya,, hehe tenang aja, Bram mau mandi dulu ya ma?"
"Ia, kamu cepat mandi ya, ada yang mau mama omongin."
" Iya ma Bram juga, ada yang mau Bram omongin."
" Mau ngomong apa nak?"
" Nanti ya ma, setelah Bram mandi."
" Ya sudah, mandi gih." Ia mengelus pipi anaknya, sebelum akhirnya Bram berjalan masuk kerumah.
" Tuan muda? "
" Iya bi, Maria mana ya?"
" Didapur tuan, baru pulang tuan kok langsung nanyain Maria sih?
" Kenapa memangnya bi ita? ada yang salah ! "
__ADS_1
" Hehe tidak tuan muda bibi minta maaf, bibi permisi dulu ya? "
" Iya." Bram juga langsung berjalan menuju kedapur.
"Sayang?" Bram memeluk perlahan Maria dari belakang.
" Mas? ya ampun mas, mas kemana aja sih? Tidak terjadi apa-apa kan sama mas. "
Maria Meletakkan pisau yang dipegangnya, dan ia langsung menggenggam erat kedua tangan Bram yang melingkar di pinggangnya.
" Tidak sayang, aku nggak papa tenang aja ya?"
" Syukurlah, tapi tolong mas lepasin dulu ya, aku takut kalau sampai ada yang melihat kita."
" Nggak usah takut sayang, karena sebentar lagi semuanya juga akan tau."
" Maksud mas gimana?"
" Auw ! Maaf tuan saya kesandung pintu" Ucap bi Ita yang begitu terkejut melihat Bram memeluk Maria. Raut wajahnya terlihat sangat takut jika Bram akan marah.
" Tidak apa-apa bi." Bram tersenyum lebar kearah bi Ita.
" Yasudah ya sayang aku mau mandi dulu, Oh iya, kamu sekarang mandi juga, pakai baju yang cantik setelah itu tungguin aku dan mama di meja makan."
" Maksud mas?" Tanya Maria yang super bingung.
Kalau Bi Ita jangan ditanya lagi, dia sudah seperti patung dengan mulut yang sudah terbuka lebar, seperti itu lah bi Ita melongo.
" Nggak ada maksud, jangan tanya lagi. Aku tau kamu mendengarnya dengan jelas barusan. Yasudah aku kekamar mau mandi dulu." Bram mengecup keningnya Maria dan ia berlalu pergi.
" Maria? Ada apa ini sebenarnya?"
" Sebenarnya bi,, aku istri,"
" Maria? gimana kamu sudah siap? " Tanya Dimas yang tidak sengaja memotong pembicaraannya.
"Tidak jadi, Mas Bram sudah pulang."
" Hei Dimas, kamu ngapain disini?" Tanya bi Ita pada anaknya.
" Ibu?? siapa yang antar ibu kemari?"
" Balik nanya lagi, ibu datang pakai gojek seperti biasanya. siapa lagi yang mau ngantar-ngantar ibu kemari, kamu juga hilang nggak tau kemana, ternyata udah disini aja."
" Iya ibu maaf, Dimas disini jadi supir pribadi nyonya."
" Oh iya benarkah? ibu senang dengarnya."
" Iya bu." Daimas pun tersenyum lebar melihat ibunya bahagia.
" Tunggu dulu, Sepertinya tadi kamu kenal Maria? Trus Maria dan tuan muda Bram kok??"
" Istri tuan muda Bram Bu."
" Hah ! apa?"
" Maria istrinya." Dimas mempertegas.
" Yasudah bi, Dimas, aku pamit dulu ya mau mandi."
" Iya Maria silahkan." sahut Dimas, sedangkan bi Ita masih termanga-manga karena bengong seakan masih tidak percaya.
Selagi Maria dan Bram kekamar masing-masing untuk mandi, Mikha sudah bertemu Mario.
" Mikha?"
" iya, cepat masuk kemobil !"
" Ada apa? kenapa buru-buru amat?"
" Aku baru saja bunuh orang Mario."
" Apa? Siapa yang kamu bunuh, bagaimana kejadiannya."
__ADS_1
" Bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semua itu." Mikha terus menyetir mobilnya dengan laju yang sangat kencang.
"Yasudah pelankan mobilnya sayang ya?"
" Tidak bisa Mario ! " Bentak Mikha begitu keras.
" Tenang dulu Mikha, ceritakan sama aku kita mau kemana."
" Kerumah mantan suami aku mas Bram."
" Jadi aku harus ikut juga, bukannya nanti kamu akan dapat masalah kalau aku ikut kesana? "
" Pokoknya kamu harus ikut untuk membantu ku."
" Maksud kamu Mikha ?"
" Udah, bisa diam nggak sih, nggak usah mikirin yang lain. Pikirin nih anak kamu yang ada di perut aku." Bentak Mikha untuk yang terakhir kali sebelum ia menambah kecepatan mobilnya kembali.
Kini Mario hanya bisa diam dan berusaha duduk tenang, sambil mempersiapkan diri untuk apa yang akan dia hadapi setelah sampai disana.
Ketika mereka sedang menuju kerumahnya Bram, Bram malah sudah duduk di meja makan menunggu mamanya dan Maria.
" Tuan muda, ini ada sop buntut kesukaan tuan muda."
" Iya bi Yam, terimakasih. Bibi sudah sehat kan.?"
" Sudah tuan muda Alhamdulillah! Oh iya tuan, ini sop buntutnya bukan bibi yang masak tapi Maria, bibi jamin rasanya tidak kalah enak dengan yang biasa bibi masak hehe, jadi aman untuk disantap ya tuan."
"Benarkah?" Bram terlihat bahagia dan tersenyum lebar ketika matanya menatap kedalam mangkuk sup.
"Bi, tolong buatkan jus jambu biji seperti biasa ya, untuk penambah stamina, rasanya tubuh ini semakin lemas ."
" Mah, jangan ngomong gitu donk." Ujar Bram dengan wajah sedih.
" Biasa itu, orang-orang yang umurnya sudah lanjut seperti mama memang seperti itu, semakin hari semakin lemas, makanya mama ingin cepat-cepat punya cucu."
" Tenang ya ma secepatnya." Bram tersenyum lebar hingga membuat mamanya heran, biasanya ketika ada Mikha disana dia sangat marah jika dibahas soal cucu.
" Kelihatannya ada sop buntut kesukaan kamu, yasudah kita makan sekarang ya"
" Bentar Ma tunggu Maria dulu, kita makan sama-sama."
" Apa?" Seketika ia terkejut mendengar ucapan anaknya barusan.
Bersambung..
SEMOGA kalian tidak bersimpati karena ceritaku lebih sedih daripada novelku hehe.
Readers ku sekalian, maafin Author ya karena sudah buat kalian kecewa untuk beberapa hari, seperti kalian lihat, Author jadi males up akhir2 ini.
Kenapa males? Makanya jangan nulis donk kalau belum siap. Pasti ada yang ngomong gitu kan.
Benar, Hanya saja Author pikir banyak yang suka dan banyak yang baca dengan cerita author, itu udah cukup untuk membuat author mendapatkan penghasilan yang pantas.
Ternyata belum, perjuangannya masih panjang. Kita harus setor hingga ratusan lebih episode dulu untuk bisa dapat penghasilan.
Sedangkan Author belum sanggup nunggu segitu lamanya, karena banyak kebutuhan yang menunggu, katakan saja salah satunya paket kuota.
karena Author bukan orang kaya, buat beli kuota aja harus nabung dulu. Author sudah nulis 50 episode lebih, dan satu episode cuman dapat 1000 rupiah. Satu lagi, 50 rb itu belum bisa ditarik jika belum nyampe 1juta 400 RB, bayangkan 2 bulan dapat 50 rb, berapa lama bisa dapat 1,4 juta hehe.
Apalagi satu episode itu ngabisin waktu 2 hingga 3 jam untuk mikir alur yang bagus dan buat nyusun Kalimat yang menarik.
Bayangkan kita kerja 3 Jam dibayar 1000?
Author tidak munafik, jujur author nulis itu untuk dapat penghasilan biar bisa bantu suami beli popok bayiku. Ternyata aku gagal hehe.
Ya, memang kita harus berjuang dulu biar dapat manisnya, tapi waktu yang tidak memihak.
waktu semakin berjalan, sedangkan kuota semakin habis, penghasilan nggak ada.. Itu lah alasannya author harus nulis di tempat lain dulu.
Jadi, sudah Author putuskan. Demi kalian yang akan sangat Author cintai, biar nggak ngegantung dan bikin kalian penasaran Author tetap akan menyelesaikan novel Maria ini.
Tapi Author cepatin alurnya, mungkin 2 atau 3 episode lagi sudah tamat. Terimakasih bagi kalian yang sudah mendengarkan curhatan Author lov u.
__ADS_1