
" Astaga mas Bram? Mah lihat ma,, cepat lihatin mereka ! " Mikha sangat terkejut karena ia melihat Bram memangku Maria dengan mesra.
" Apa sih bikin jantung mama hampir copot aja? " Mama dari tadi melihat layar handphonenya hingga ia tidak sempat melihat Bram dan Maria.
" Itu mah, tadi Maria ada di pangkuannya Bram ! " Tunjuk Mikha kearah meja makan.
" Kamu sakit ya Mikha, jelas-jelas Maria sedang menata hidangan di meja makan, bagaimana bisa kamu berhalusinasi seperti itu? " Mama Sangat heran dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mikha, karena waktu mama melihat Maria sudah berdiri kembali, dan menurut mama hal tersebut sangatlah mustahil, tidak mungkin anak laki-lakinya yang cuek dan super arogan itu memangku Maria, untuk apa dia bermain-main dengan wanita jelek pikirnya.
" Cepat ikut mama kemeja makan jangan bengong seperti itu " Mama mengajak Mikha yang sedang mematung karena bengong.
" Mah, Mikha tidak salah lihat, benar kok tadi kalau mas Bram itu,, "
" Mikha stop ! Nanti Bram bisa Marah karena tuduhan kamu, secara logika saja hal itu memang tidak mungkin terjadi, dan mama juga tidak melihat dengan mata kepala mama sendiri kalau Bram memangku Maria, Mikha,, kamu hanya berhalusinasi tidak mungkin Bram bermesraan dengan wanita jelek seperti Maria. " Dengan sedikit membisikkan Kalimat terakhirnya agar tidak terdengar pada Maria.
" Iya juga ya? Mana mungkin mas Bram mau dengan cewek tonggos itu,, tapi Mikha tidak merasa lagi berhalusinasi tadi mah. " Mikha memegang dahinya sendiri karena merasa bingung antara percaya dan tidak percaya.
" Ah sudah ah ! Sini ikut mama biar mama rayu Bram lagi supaya dia mau membawa kamu keluar kota Bersamanya " Mama langsung berjalan menuju meja makan.
" Iya mah ! " Mikha mengikuti dari belakang.
" Maria,, cepat sekali kamu masaknya padahal kan belum lama kamu pergi kedapur, memangnya kamu masak apa?" Tanya mama.
" Maria cuman masak nasi goreng kok tante itupun di bantu sama bi yam makanya selesainya lebih cepat. " Maria merasa sangat deg-degan karena hampir saja ketahuan sama mama.
" Oh iya kah? Rajin sekali bi Yam itu, padahal ia punya tugas sendiri, Tapi ini nasi gorengnya tidak pedas kan, karena Tante tidak bisa makan pedas pagi-pagi." Mamanya Bram menarik kursi untuk didudukinya.
" Tidak kok tante. " Jawab Maria singkat.
kalau Mikha tidak berteriak kencang pasti ia dan mas Bram akan ketahuan sama tante, tapi tetap saja hatinya merasa was-was karena Mikha tadi sempat melihat mereka, walaupun kelihatannya mama tidak percaya dengan omongan Mikha.
" Ah yasuda ! apa yang akan terjadi biarlah terjadi, habisnya mas Bram terlalu bandel waktu di bilangin. " Ucap Maria didalam hatinya sambil menaruh nasi goreng kedalam piring mama Bram.
__ADS_1
" Bram,, mama ingin bicara serius sama kamu ! "
" Bicara saja ! " Jawab Bram cuek.
" Bagaimanapun ceritanya kamu harus membawa Mikha bersama kamu untuk keluar kota, ini benar-benar permintaan mama. " Pinta mama pada Bram dengan tangannya Yang sedang mengambil ayam goreng di hadapannya.
" Tidak mah, apapun ceritanya keputusan ku tidak akan berubah, sekalipun itu mama yang minta " Mata Bram masih saja menatap kelayar handphonenya.
" Bram, apa benar kamu tidak akan pernah sekalipun lagi menuruti permintaan mama? " Tanya mama yang mulai memegang dadanya dengan raut wajah gelisah.
" Bram turutin ma ! Asalkan permintaan mama yang tidak ada sangkut pautnya dengan Mikh,, " Belum selesai Bram menyebutkan nama Mikha, ia malah terkejut mendengar jeritan dari Mikha.
" Hah, apaan ini? Aku tidak mau nasi goreng pagi-pagi, aku cuman mau nasi putih pakek sayur-sayuran itupun dengan jumlah yang sedikit, Maria kamu nggak tau ya kalau aku itu sangat menjaga kesehatan dan bentuk tubuh indah ku, kamu pikir gampang bisa memiliki tubuh yang indah dan langsing seperti aku ? Pokoknya aku tidak mau makan ! " Menolak piring yang ada di depannya.
Bram berdiri dari tempat duduknya dan memukuli meja dengan sangat keras.
" Hei Mikha ! Apa kamu bisa menjaga sikap? "
" Diam ! " Bentak Bram kembali.
" Sudah-sudah Bram, Mikha,, jangan di perpanjang lagi, Maria memang tidak salah, dia kan belum tau kamu sukanya apa " wajah mama terlihat tambah pusing .
" Tapi kan ma, Mikha cuman berusaha kasih tau sama Maria, nggak lebih ! "
" Cuman kasih tau kamu bilang? Dengan Mendorong piring itu sudah menunjukkan kalau kamu itu tidak menghargai Maria, Mulai detik ini Maria hanya akan memasak untuk semua orang dirumah ini kecuali kamu, dan kamu tidak berhak komplen apapun lagi, kalau lapar Masak sendiri, masih mending kamu aku kasih makan ! "
" Mah,, " Mikha mulai merengek pada Mamanya Bram dengan wajah sedih seakan sedang mengadu perlakuan Bram terhadapnya.
" Bram? Apa setega itu sikap kamu terhadap istri sendiri yang sedang hamil" Mama berbicara dengan nafasnya yang berat, ia terus memegang dadanya.
" Sudah berapa kali aku bilang mah, dia bukan istriku "
__ADS_1
" Bram kamu tidak berhak berbicara seperti itu sama Mikha, kamu tidak boleh menceraikan Mikha tanpa seizin mama, apalagi dia sedang mengandung anak kamu kata cerai dari kamu tidak akan sah "
" Cukup mah, mama memang tidak pernah memikirkan perasaan aku, sikap kalian pagi-pagi sudah menghilangkan selera makan ku " Bram melihat kearah mama dan Mikha.
" Aku makan di dalam kamar saja ! makan disini membuat aku tidak bernafsu, Maria tolong antarkan minum untukku ! jangan sampai terlambat karena aku mau kebandara" Bram mengambil piring nasi goreng dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang handphone.
" Bram ! Lama-lama mama juga bisa jantungan seperti papa kalau kamu terus bersikap seperti itu " Teriakan Mama yang tidak di gubris oleh Bram, ia terus melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar.
"Permisi tante, Maria mau antar minum dulu ya " Maria menunduk kepalanya sambil mengambil minum untuk Bram.
" Mah, masak mama biarkan Maria masuk ke kamar Bram, mah,, bisa-bisa apa yang Mikha lahat tadi akan terjadi lagi ! " Mikha menggoyang-goyangkan tubuh mamanya Bram yang sedang mematung karena shok mengingat sikap anaknya.
" Mah,, mah,, lihat Maria sudah berjalan menuju kekamarnya Bram, kalau nanti Bram bermesraan dengan dia lagi bagaimana? "
" Diam kamu Mikha ! Sikap kamu yang berlebihan itu yang membuat Bram sangat marah, seandainya kamu bisa menjaga sikap, mungkin mama sudah berhasil membujuk Bram agar dia membawa kamu bersamanya keluar kota. " Ia membentak Mikha dengan wajah begitu kesal.
Mikha terdiam seribu bahasa dengan wajah yang mematung setelah di marahi oleh ibu mertuanya, karena seingat dia, inilah pertama kali mamanya Bram memarahi dia.
Kini Mikha tinggal sendiri dimeja makan itu, karena mama mertuanya juga pergi menuju kekamarnya sendiri.
" Mas Bram ? " Panggil Maria yang sedang berdiri di luar kamarnya Bram.
" Masuk saja " Jawab Bram yang hanya memakaikan handuk.
" Ini mas minumnya " Maria kembali deg-degan melihat tubuh Bram padahal baru tadi malam mereka melakukannya.
" Tolong Maria kunci pintunya dari dalam"
"Tapi mas ? "
" Jangan membantah sayang " Bram yang hanya memakai handuk langsung mendekati Maria yang sedang menutup pintu.
__ADS_1