
" Iya lah nggak salah dengar, kalau memang kuping kamu itu sudah di korek, sekali lagi ku tegaskan Maria itu adalah istriku" Jawab Bram dengan sinis sambil membawa Maria untuk masuk kedalam mobilnya.
" Maria,, eh Maria ! tunggu dulu aku mau dengar langsung dari kamu " Teriak pria tampan yang berprofesi sebagai gojek itu sambil memegang mobilnya Bram.
Maria hanya bisa diam saja melihat apa yang dilakukan Bram, tanpa menunggu lama Bram pun menancap mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Apa kamu takut Maria, kenapa wajah mu terlihat tegang seperti itu " Tanya Bram dengan sedikit menggoda dan menurunkan laju mobilnya di kecepatan rendah setelah mereka jauh dari pandangan si gojek.
" Nggak mas! " Jawab Maria cuek dengan tatapan mata yang lurus searah dengan mobil berjalan tanpa menoleh sedikit pun kearah Bram.
" Mariaa,, ? " Panggil Bram lembut sambil menggenggam tangannya Maria.
" Iya mas kenapa ? " Tanya Maria cuek ia langsung menarik tangannya dari genggaman Bram, padahal dalam hatinya ia sudah sangat merindukan laki-laki yang ada disampingnya.
Melihat sikap Maria yang cuek wajah Bram jadi terlihat sedih, ia langsung menghentikan mobilnya.
" Maria,, tolong jangan palingkan wajah cantik mu dari ku " Tangan kiri Bram menggenggam tangan kanannyanya Maria, sedangkan tangan Bram yang satu lagi menyentuh pipi Maria, perlahan ia mengarahkan wajah Maria untuk menatapnya.
kini wajah mereka berhadapan dengan mata yang saling menatap, Maria terlihat mematung dengan ekspresi yang datar, dan tiba-tiba mata indahnya semakin berkaca hingga meneteskan air mata ke pipinya.
Bram langsung kaget melihat Maria menangis, dengan lembut ia mengusap matanya Maria.
" Maria,, kamu kenapa? apa aku menyakiti hati kamu " Tanya Bram dengan raut wajah yang panik.
" Mas,, bukannya mas itu tidak ada urusan lagi dengan ku, mana janji mas untuk tidak lagi menemuiku, apa mas tidak mengerti setiap kali aku melihat mas,, sama seperti aku melihat aibku sendiri, aku juga merasa aku hanyalah wanita hina yang sudah tidak ada martabatnya lagi, apalagi waktu tadi mas bilang sama Dimas kalau aku itu adalah istri mas, seketika hatiku terluka seperti tersayat-sayat mendengarnya mas, karna aku sadar menjadi istri mas sangatlah mustahil, dan kenyataannya juga,, aku hanya budak nafsunya mas saja kan? " Jelas Maria sambil menangis tersedu-sedu.
Bram langsung menarik paksa tubuh Maria lalu memeluknya dengan sangat erat, terbesit didalam hatinya Bram.
" maria, aku minta maaf , jika kamu harus terluka seperti ini karena perbuatanku, aku terpaksa Maria,, ini semua untuk menjaga kesehatan mama biar ia tidak jantungan seperti papa lagi, tapi asal kamu tau, aku itu sudah lama mencintai kamu jauh sebelum kamu mengenalku "
Suara hati Bram yang tidak bisa didengarkan oleh Maria.
" Jadi laki-laki tadi yang mau merebut Maria ku namanya itu Dimas " Tanya Bram dengan posisi yang masih memeluk erat tubuhnya Maria.
" mas lepaskan mas, tolong mas lepaskan pelukan mas dariku, tolong mas,, " Berontak Maria dengan kedua tangannya yang menolak dada Bram .
Tetap saja Bram tidak mau melepaskan pelukannya dari Maria, semakin Maria berontak untuk dilepaskan semakin erat pula Bram memeluknya.
" Mas,, apalagi sih mau mas sebenarnya, urusan kita kan sudah selesai, lagian kan aku tidak hamil, apa yang mas harapkan dariku, jangan berharap kita akan melakukannya lagi, walaupun dibayar berapapun aku sudah tidak menjual diri lagi, aku malu dan merasa hina mas setiap kali aku mengingat perbuatan kejiku sama mas tadi malam "
Bram melepaskan sedikit pelukannya dari Maria lalu mencium keningnya .
" Maafkan aku Maria, aku tidak bisa jauh dari kamu, jangan larang aku untuk selalu menemui kamu ya aku mohon? " Pinta Bram dengan lembut.
" Nggak mas aku nggak mau, tolong lepasin aku dari pelukan mas " Maria berontak lagi kedua tangannya menolak dada Bram dengan kuat hingga terlepas dari pelukannya.
Setelah itu Maria kembali mematung dengan tatapannya yang lurus dan perasaan hati yang campur aduk, antara senang dan sedih, karena di satu sisi Bram tidak bisa melupakannya sedangkan di sisi lain Maria juga di balut dengan rasa kecewa, ia berfikir rasa Bram padanya hanyalah sebatas nafsu saja.
" Yasudah Maria aku minta maaf karena sudah memaksa untuk memeluk kamu lagi " Ucap Bram dengan wajah cuek karena di tolak oleh Maria .
Setelah Maria memaksa untuk terlepas dari pelukannya Bram, Dengan wajah cuek Bram menancap kembali mobilnya tanpa bicara satu patah katapun lagi.
Dalam perjalanan mereka saling diam untuk beberapa menit, melihat Bram yang sudah diam dari tadi hati Maria menjadi tidak karuan, mungkin Maria juga merasa takut jika nanti Bram akan benar-benar melupakannya.
" Mas,, " Panggil maria lembut dengan posisi yang sudah menatap wajah Bram.
" Hmm ya ! " Jawab Bram dengan intonasi yang biasa saja tanpa sedikitpun menoleh ke arah Maria, dan fokus menyetir mobilnya kembali.
" Mas marah ya sama aku "
__ADS_1
" Nggak kok, aku biasa saja "
" Tuh kan,, mas memang lagi marah, kalau nggak marah mana mungkin mas cuek gitu sama aku, aku minta maaf ya mas kalau tadi itu aku kasar gitu sama mas " Dengan refleks Maria langsung memegang pahanya Bram.
" Hmmm Nggak kok sayang aku sudah nggak marah lagi, setelah tangan kamu menyentuhku rasa marah ku jadi langsung hilang " Jawab Bram bahagia dengan wajah tersenyum dan langsung mengecup pipinya Maria.
" Hmm,, mas ini cium Maria kok nggak ada permisinya sih " Ucap Maria manja sambil mengelus pipinya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan masih memegang pahanya Bram.
" lah,, kok harus permisi? memangnya aku mau masuk harus permisi dulu, nanti ya aku permisinya kalau memang aku sudah mau masuk kesitu lagi. " Jelas Bram dengan sedikit menggoda sambil melihat ke arah bawahnya Maria.
" iihh mas nakalnya minta ampun, jadi benar ya kalau mas itu cuman nafsu saja sama aku " Tanya Maria dengan sedikit mengintrogasi.
" Nggak kok kata siapa, eh ngomong-ngomong tangannya boleh kesamping lagi nggak "
" Kemana mas? " sambil meraba kantong celananya Bram.
" Bukan disitu sayang, sebelah sini "
" Mana sih, ini ya mas " sambil memindahkan rabaan tangannya ke sebelah paha Bram yang satunya lagi.
" Agak ketengah lagi, nah kesitu,, "
" Alah mas ini nakal banget " Ia langsung melepaskan tangannya.
" kok di lepas sih tangannya, kasian tau junior aku udah bangun dari tadi dia udah nggak mau bobok lagi lho karena nunggu dipegang manja sama kamu " ucap Bram sambil meraih kembali tangannya Maria.
" Ah,, lepasin mas ! tuh kan mas cuman nafsu saja sama aku, nggak lebih,, pasti cuman itu saja yang mas ingat kalau lagi sama aku " Ucap Maria ngambek sambil menarik tangannya kembali dan dilipatkannya ke dada.
Melihat kedua tangan Maria yang sudah menutupi dada montoknya Bram jadi tambah menggodanya lagi.
" Duh jadi kecepit kan, pasti mereka jadi sulit bernafas tu " ucap Bram serius.
" Apanya mas? "
" Yang mana? "
" Tuhh,, " Lihat Bram ke arah dadanya Maria dengan posisi gigi atasnya bram menggigit bibirnya yang bawah.
Maria langsung mencubit sedikit pahanya Bram.
" kok liatnya gitu sih mas, kenapa harus gigit bibir segala "
" Trus gigit apa donk, kalau kamu ngasih aku juga mau sih gigit yang itu "
" Hentikan mobil mas sekarang juga aku mau turun, untuk apa aku disini kalau hanya untuk pelampiasan nafsu mas saja " Ia sudah memegang pintunya bersiap untuk turun.
" Maria dengar dulu,, percayalah aku itu bukan hanya sekadar melampiaskan nafsu sama kamu, coba kamu fikirkan secara logika, dengan harta ku yang tidak habis tujuh turunan ini aku bisa saja mencari wanita lain secantik apapun, seberapa pun mahal bayarannya, bukan hanya satu, dua atau tiga bahkan lebih dari sepuluh, aku bisa mendapatkannya secara bergantian jika hanya untuk memuaskan nafsu ku " Ucap Bram dengan serius mencoba untuk menyakinkan Maria.
Mendengar ucapan Bram yang mulai bisa dipahami olehnya Mari jadi luluh lagi dan kembali duduk dengan tenang.
" Trus apa juga kalau bukan karena nafsu "
"Awalnya aku itu hanya ingin membantu kamu, tapi makin kesini rasanya aku semakin tidak bisa jauh dari kamu"
" Iya kah mas? " Tanya Maria lagi sambil tersenyum bahagia tanpa dilihat oleh karena lagi fokus menyetir mobil.
" heu eum iya. "
Tiba-tiba Bram menghentikan mobilnya dan itu tepat didepan minimarket tempat kerjanya Maria, Maria bekerja di sebuah mini market yang tidak terlalu jauh dari kantornya Bram.
__ADS_1
" lho mas, kok mas bisa tau kalau Maria kerja Disni " Ucap Maria dengan penuh tanda tanya.
"Aku tau semuanya tentang kamu, jauh sebelum kamu mengenal ku" jawab Bram sambil mengelus rambutnya Maria.
" hah,," Maria terkejut dengan mulut yang termanga.
Seketika Bram mencium bibir Maria dan mengulumnya dengan penuh nafsu, Bram benar-benar tidak bisa menahan diri setiap kali iya melihat bibir Maria, bibir yang agak basah dan bulat juga penuh.
" eum,, mas,, eum lepasin! " Bicara Maria tidak terlalu jelas karena mulutnya sudah tersumbat dengan bibir dan lidahnya Bram.
Bukannya melepaskan, Bram malah mencium Maria dengan lebih bernafsu lagi sehingga membuat Maria juga ikut menikmatinya, Tidak bisa dipungkiri jauh didalam lubuk hati Maria ia juga menginginkannya, ia ingin selalu didekatnya Bram, Maria juga sangat ingin melakukan semua hal yang dilakukan oleh sepasang suami istri bersama dengan Bram, contohnya bermesraan dan memanjakan dirinya pada Bram .
Bram sangat menikmati ciumannya dengan Maria, ia tambah bernafsu Hingga kedua tangannya Bram mulai menjelajahi tubuhnya Maria, dan itu membuat Maria sangat sulit untuk bernafas.
" Mas cukup,, ini sudah di tempat kerja ku, jangan sampai mereka tau kelakuan kita yang nggak baik ini " Ucap Maria sambil melepaskan bibirnya dari Bram.
" Baiklah Maria aku kekantor dulu ya " ucap Bram sambil tersenyum manja.
" Iya mas " Maria pun membalas tersenyum.
Setelah itu ia keluar dari dalam mobil Bram, dan berlalu pergi sambil tersenyum senang dan tersipu malu.
" Sungguh senang Rasanya jika kejadian seperti ini terus berlanjut, tapi status ku dan mas Bram sebagai suami istri"
Ucap Maria didalam hatinya.
Dari dalam mini market dua gadis yang merupakan teman kerja Maria ternyata sudah dari tadi memperhatikan mobilnya Bram, mereka tertarik karena kemewahan mobil tersebut, Dan sungguh tidak mereka sangka tiba-tiba yang turun dari mobil mewah itu adalah Maria, seorang wanita yang mereka kenal sebagai gadis kampungan.
Dengan sinis mereka menatap arah Maria ketika ia mulai masuk kedalam mini market.
" Hei Maria, kok bisa kamu keluar dari mobil semewah itu, hayo jujur,, sebenarnya tadi itu kamu di antar sama om-om kan. "
" apa, diantar sama om-om,, berarti dia jual diri donk " sahut temannya yang satu lagi dengan suara terkejut juga sedikit menghina.
" Haha mulut lo itu ya, kayak pantat lagi kentut aja gak bisa di tahan, masak Lo ngatain orang langsung didepan orangnya, kan Maria nya jadi sedih tu "
Mereka secara bergantian menyindir Maria, walaupun Maria tidak menggubris dan diam saja tetapi hatinya sangat terluka mendengar sindiran dari teman kerjanya, karena ia merasa apa yang mereka katakan itu memang benar, apalagi ia bukan wanita yang tau bagaimana caranya berbohong ataupun bersandiwara.
" Bodoh amet, itu resiko dia makanya jadi cewe itu jangan gampangan, milih jalan hidup itu yang benar, kalau sudah berani berbuat ya harus siap bertanggung jawab dan siap akan segala konsekuensinya, lebih mendingan gue cuman nasehatin dia doank, coba kalau keluarganya tau pasti namanya bakal di coret tuh dari kartu keluarga, dan parahnya lagi kalau orang sekampung tau pasti tuh orang tuanya akan malu banget, coba deh lo fikir mau letak dimana muka orang tuanya itu ya kan? "
Mendengar ocehan dari teman kerja, Maria tidak bisa menahan tangisnya sambil menata rapi barang yang ada di rak minimarket tersebut, deraian air mata Maria terus mengalir diwajahnya yang masih mematung dengan raut muka yang datar.
" Ah, iya juga ya, apalagi kalau dia hamil, pasti bakalan di usir tuh sama orang sekampung, kalau nggak di usir bisa-bisa anak haram itu nanti akan membawa bencana untuk kampung mereka "
Braaakkkk !
Maria sangat terkejut mendengar ucapan temannya hingga menjatuhkan barang dari tangannya.
" Hei bisa kerja nggak sih ! kalau rusak nanti gimana, eh kok nangis sih? jujur aja deh pasti lo takut kan kalau lo di usir dari kampung? jadi benar ya yang kita omongin barusan kalau nggak mana mungkin lo takut gitu sampai nangis segala. "
Teriak mereka sambil mendekati Maria.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Maria langsung lari dari hadapan mereka karena merasa malu dan perasaan sedih.
" Diiiih, pake kabur segala dia, yaudah pergi saja lo sana nggak usah kembali lagi! kami juga nggak mau kerja lagi sama lo, takutnya gara-gara perbuatan keji lo itu bisa-bisa nanti kita jadi ikutan sial juga" Teriakan temannya itu yang begitu kencang, membuat Maria masih mendengarnya bahkan hingga Maria sudah sampai diluar minimarket.
sesampainya Maria di luar sambil menangis Maria memegang perutnya.
" Bagaimana jika aku hamil, aku tidak mau mangandung anak haram ini, apa aku harus mengugurkannya jika memang nanti aku hamil, aku nggak mau membawa kesialan untuk orang lain, apalagi untuk orang tuaku ataupun orang-orang di kampung, apa yang harus aku lakukan ya tuhan? aku menyesal. " Teriak Maria sambil menangis dan meremas-remas perutnya.
__ADS_1
Untung saja Maria berada di pinggir jalan dengan suara kendaraan yang sangat bising, sehingga membuat Teriakannya itu tidak di dengar oleh orang lain.
" Kalau memang aku sudah hamil dan dia sudah di rahimku, tidak mungkin aku sanggup menggugurkannya, bagaimanapun juga dia sudah menjadi anakku " Ucap Maria dengan suara serak, ia menatap kosong ke arah jalan yang penuh kendaraan dengan kecepatan tinggi,