
" Ngapain kamu kemari? " Tanya Bram pada Dimas dengan Maria yang masih ada di dalam pangkuan tangannya.
" Maaf kalau aku mengganggu kalian, aku cuma mau ngambil baju ganti aja buat nyonya."Jawab Dimas dengan rasa cemburu yang sudah menekan-nekan di jantungnya.
sebenarnya Dimas Sangat tidak rela melihat wanita yang sudah lebih dulu dia cintainya itu berada dalam gendongan Bram, tapi ia berusaha untuk menutupinya serapat mungkin, karena ia tau disana Bram lebih berkuasa darinya.
" Turunin aku sebentar ya mas biar aku bantuin Dimas dulu untuk ngambil baju buat tante ." Pinta Maria pada Bram.
" Nggak ! dia bisa Ambil sendiri." Bram menjawab dengan nada yang cuek.
" Tapi kan mas, Dimas itu nggak tau dimana letak bajunya tante, dan baju mana saja yang perlu diambil, nanti bisa-bisa Dimas ngambil baju buat kepesta lagi hehe, gimana tuh hayoo? Ya kan Dimas? " Tanya Maria pada Dimas setelah ia memberikan penjelasan pada Bram.
" Iya. " Jawab Dimas singkat sambil mengangguk pelan.
" Yasudah buruan ambil, aku sudah nggak tahan. " Ucap Bram sengaja untuk membuat Dimas cemburu.
Dan ya, Dimas langsung menggeryitkan keningnya setelah mendengar ucapan Bram barusan yang ia lepas gitu saja tanpa malu, hingga terdengar gimanaa gitu ditelinganya Dimas, seakan Bram tidak ada malunya padahal ia sengaja ingin membuat Dimas merasa cemburu.
Maria langsung berjalan menuju kamar Mamanya Bram dengan Dimas yang terus mengikuti jalan Maria, ternyata Bram juga tidak mau membiarkan mereka berduan dikamar itu jadi ia langsung mengekori Maria dan Dimas dari belakang, Bram merasa sangat kesal karena ia tidak suka melihat Dimas ada diantara dia dan Maria.
" Mana kunci lemari tente,, pasti ada dikasih sama kamu kan Dimas? " Tanya Maria pada Dimas yang sudah berdiri didepan lemari nyonya rumah itu.
" Iya." Jawab Dimas sambil mengangguk pelan dan menyodorkan genggaman tangannya kedepan maria yang berisikan kunci.
" Eum ya, ini kunci lemari tante. " Maria mencoba mengambil kunci yang terletak diatas telapak tangan Dimas.
" Sini kuncinya ! " Bram langsung mencomot kunci itu mendahului Maria, ia tidak rela jika Maria harus menyentuh tangan Dimas hanya untuk mengambil kunci itu.
Bram langsung membukakan lemari milik mamanya itu, yang sudah penuh dengan berbagai macam model pakaian didalamnya.
" Ini sayang, coba kamu pilih yang mana? " Ucap Bram pada Maria.
__ADS_1
" Yang paling penting bagi seorang perempuan baju dalamnya karena perempuan itu cepat berkeringat, setelah itu baru baju luarannya." Terlihat Maria mengambil beberapa celana dalam dan BH milik mama dari suaminya itu, dilanjut dengan mengambil baju ganti untuk luarannya.
Dimas menghampiri Maria yang sedang berdiri didepan lemari.
" Yang ini juga dibutuhkan sama nyonya, Maria. Soalnya nyonya sering kedinginan dirumah sakit. " Dimas langsung mengambil satu lipatan baju yang terlihat agak sedkit tebal dari yang lain dan memberikannya pada Maria.
" Hehe iya benar Dimas hampir aja aku lupain itu, kamu kok bisa sepengertian itu sih." Jawab Maria dengan senyum lepas dari bibirnya.
Detik itu juga gerakan Dimas jadi terhenti dan tatapannya langsung fokus melihat wajah Maria yang begitu cantik.
Melihat tingkah Dimas yang sudah berdiri menganga seperti itu, bak patung pajangan dalam butik dipinggir jalan, Bram langsung dibakar api cemburu, dia sedikitpun merasa tidak rela jika Dimas menatap Maria segitunya.
" Ah sini sini, sudah cukup bajunya nggak usah kebanyakan, kalau mama perlu lagi bisa aku bawa sendiri nanti." Bram langsung mengunci lemarinya kembali.
Ia juga mengambil semua baju yang di pegang Maria dan dikasih kepada Dimas.
" Terimakasih karena sudah mau membantu. " Ucap Bram sambil meletakkan beberapa lipatan baju itu kedalam pangkuan tangan Dimas.
" Jangan diangkat lagi dong,, aku kan berat mas kalau jatuh nanti gimana? turunin ya mas gak papa aku bisa jalan sendiri." Pinta Maria pada Bram karena ia merasa tidak enak dengan Dimas yang masih terus memperhatikan mereka.
" Nggak mau, aku sedikitpun tidak merasa kalau kamu itu berat. " Jawab Bram santai dan mulai melangkah menuju pintu dengan Maria diatas pangkuan tangannya.
" Sebentar ! " Panggil Dimas yang memberanikan diri untuk memanggil Bram dan Maria kembali.
" Bentar mas tunggu dulu." Ucap Maria sambil menatap mata pemuda tampan yang sudah menjadi suaminya itu dengan jarak wajah mereka yang sudah begitu dekat.
" Ada apa? " Tanya Bram cuek pada Dimas sambil membalikkan badannya.
" kalian mau kekamar,, maaf, apa kalian sudah menikah? " Tanya Dimas pada Bram dengan serius.
" Iya, aku tegaskan Maria sudah menjadi istriku sah secara hukum agama." Jawab Bram dengan tegas.
__ADS_1
" Berarti nikah sirih? " Jawab Dimas dengan suara yang semakin melemah karena patah hati.
" Tidak penting bagiku apa itu sirih atau bukan, yang penting Maria sudah sah menjadi istriku, dan yang terlebih penting lagi Maria lah satu-satunya wanita yang ada didalam hatiku selain mama, kalau kamu sudah selesai disana tolong tutup pintunya kembali dengan benar. " Bram bisa menjadi arogan terhadap orang-orang yang dilihatnya sebagai pengganggu, ia membalikkan tubuhnya kembali dan melanjutkan langkahnya menuju kekamar dengan Maria yang masih ada dalam gendongannya.
Dimas hanya bisa Diam melihat tingkahnya Bram, ia tidak merasakan sakit hati ataupun tersinggung karena ia memang tau diri, hanya saja dia merasa sedih karena cemburu, Dan sikap Bram seperti itu juga bukan karena ingin menjahati Dimas, Bram bersikap seperti itu karena lagi terbakar api cemburu.
walaupun Bram seorang pemuda kaya tampan yang sukses, baik hati dan berwibawa, juga terlihat sangat tangguh dengan tubuhnya yang begitu kekar, terlepas dari semua itu, Bram hanya laki-laki biasa yang memiliki hati bisa lunak karena cinta dan terkadang dibakar oleh api cemburu.
" Mas, apa sikap kamu tidak berlebihan terhadap Dimas? " Tanya Maria pada Bram yang kasihan melihat Dimas karena ia tau kalau Dimas sangat cemburu melihat mereka berdua.
" Tidak, kamu pasti senang kan kalau aku memperlakukan kamu didepan Mikha seperti ini? tapi kenapa kamu merasa keberatan kalau aku melakukannya didepan Dimas, apa aku bersalah jika aku merasa terganggu dengan Dimas, seperti kamu merasa terganggu dengan Mikha juga." Bram terlihat mulai serius terhadap Maria.
" kamu marah sama aku mas? " Tanya Maria yang baru menyadari kalau sikap Bram mulai sedikit berubah karenanya.
" Tidak, jawab Bram singkat. " Bram terlihat cuek tapi ia tidak menghentikan langkahnya menuju kekamar sambil mengangkat Maria.
Bahkan Bram tidak sempat melihat Mikha yang masih berdiri tidak jauh darinya, Mikha mendengar pembicaraan mereka yang terlihat sedikit bermasalah hingga tersenyum senang.
Tidak lama kemudian Dimas pun muncul dari belakang sambil membawa tas berisikan baju mamanya Bram.
" Kamu Dimas kan? " Mikha menghampiri Dimas sambil tersenyum.
" Iya kenapa? " Tanya Dimas heran.
" Aku tau kamu menyukai Maria. " Jawab Mikha kembali sambil tersenyum licik penuh makna.
Halo readers ku tersayang ,, author ***lagi sedih ni,, apa cerita author tidak bagus ya Hingga banyak yang menurunkan bintangnya dari 5 jadi 4,6,,
Kalau gini terus author jadi kurang semangat buat ngalanjutin ceritanya, maafkan Author yang mudah kebaperan ini, Aku sayang kalian yang juga menyayangiku, terimakasih untuk semua komentar kalian.
lov u readers ku, salam hangat dari author Elvi, semoga hari kalian menyenangkan,, see you***.
__ADS_1