OMaria Istri Rasa Simpanan

OMaria Istri Rasa Simpanan
MARIA PETIK MANGGA SAMA BRAM SAMBIL MANDI HUJAN


__ADS_3

" Sayang? " peluk Bram dari belakang.


" Iya mas, mas benaran tidak takut lagi jika ketahuan? " Maria memegang kedua tangan Bram yang melingkari pinggangnya.


" Tidak lagi, rasa ingin terus berdempetan dengan kamu jadi lebih besar daripada rasa takut itu. "


" Apa mas sudah benar-benar memikirkan, apa yang akan mas lakukan jika tante tau? " Maria membalikkan badannya hingga berhadapan dengan Bram dan kedua tangannya mulai memegang pipinya Bram.


" Tidak sayang, nanti saja aku fikirkan jika memang hal itu terjadi, sekarang fikiranku hanya ada kamu saja " Bram menarik pinggang Maria lebih kuat lagi dalam pelukannya.


" Mas, aku serius ini,, tolong mas jawab dulu " Kedua telapak tangan Maria agak lebih menekan lagi pipinya Bram.


" Aku juga serius sayang " Mencium keningnya Maria dengan lembut.


" Mas,,? "


" Yasudah aku jawab, Kalau soal Mikha sedikitpun aku tidak peduli sama dia, mau marah atau tidak terserah karena dia bukan istriku, Kalau mama sampai tau dan kalau dia Marah maka aku akan menunggu sampai marahnya itu hilang, kalau di sakit karena keputusan ku, maka aku akan merawatnya sampai dia sembuh, yang jelas aku akan tetap mempertahankan kamu dan terus ada di samping kamu istriku, tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita ! aku sudah cukup terluka selama ini karena mengorbankan perasaan ku, sudah saatnya aku bahagia bersama cintaku. " Bram kembali mencium Maria di keningnya.


" Mas, tolong pikirkan lagi soal Tante jangan sampai nanti kamu menyesal " Melepaskan tangan dari pipinya Bram, lalu iya pindahkan kedua tangannya itu keatas pundak laki-laki tampan yang ada dihadapannya.


" Sudah aku fikirkan sayang, aku tidak mau lagi mengorbankan cintaku, aku tidak ingin kehilangan kamu Maria karena aku sangat cinta sama kamu, istriku ! " Bram kembali mencium kening Maria, setelah itu ia mencoba melepaskan rambut palsu yang dipakai kekasihnya itu.


" Mas, jangan dilepas, nanti mas telat kebandara. "


" Tenang saja sayang, itu sudah ada dalam perhitungan ku, sebelum berangkat keluar kota aku ingin menatap wajah istriku sepuasnya " Bram melanjutkan tangannya untuk melepaskan gigi tonggos yang dipakai Maria.


" Baiklah mas, tapi mas harus secepatnya menjelaskan padaku bagaimana ceritanya aku ini jadi istrinya, sedangkan seingat ku kita belum pernah menikah, dan aku juga tidak pernah lupa ingatan, aku juga bingung mas, bagaimana ceritanya seorang wanita yang sekarang berstatus sebagai istri kamu tinggal dirumah kamu dengan keadaan lagi hamil, tapi kamu mengaku dia bukan lagi istri kamu mas, kamu tidak lagi mempermainkan kami kan mas? "


" Tenang sayangku aku akan menceritakan semuanya sewaktu aku pulang dari luar kota, sekarang kamu temani aku mandi ya? "


Kini Bram mengecup mesra bibirnya Maria.


" Hah? maksud kamu mas,, "


" Kamu juga belum mandi kan Maria "


" Iya sih mas "


" Kita mandi sama-sama sayang, aku ingin membersihkan kulit yang halus dan cantik ini dengan jariku sendiri " Bram menjatuhkan handuknya, kini penampilannya sudah siap untuk mandi.


" Mas? punya kamu kenapa selalu mengeras seperti itu,, ? "


" Memang seperti itu setiap kali dia melihat kamu Maria " Tangan Bram mulai melepaskan satu persatu helai demi helai kain yang menutupi tubuh Maria.


" Mas, lain kali saja mas memandikan aku ya ?" Pinta Maria dengan lembut.


" Kenapa sayang? kamu ingin menolakku,, " Menarik dagu Maria agar matanya lebih menatap kearah Bram.

__ADS_1


" Aku tidak menolak mas, sekarang biarkan aku yang membersihkan kulit mas, aku janji nanti giliran mas yang mandikan Maria waktu mas pulang dari luar kota. " Menatap kearah Bram dengan tatapan Mata yang merona dan menggairahkan Bram.


" Sini sayang ku " Bram langsung mengangkat tubuh Maria yang bohai itu dan dibawakannya kekamar Mandi.


Bram langsung meletakkan Maria dibawah shower dan ia menekan tombolnya, hingga shower itu memancarkan air bagaikan deraian hujan, kali ini mereka ingin merasakan sensasinya hujan.


Jangan bayangkan bagaimana penampilan Maria yang terlihat polos dengan kedua dadanya yang bulat dan kencang itu, kini tubuhnya mulai membasah dari ujung rambut sampai kakinya.


Bram mulai mencium tiap jengkal kulit Maria, iya bahkan menghisap air shower yang mengalir di tubuh itu bagaikan orang yang sedang kehausan.


" Mas cukup ya? biar aku sekarang yang akan membersihkan kulit mas " Maria memegang kedua tangannya Bram dan di ajaknya untuk duduk diatas tolet yang sudah tertutup rapi, sayangnya hanya Bram yang duduk tidak dengan bagian Bram yang lain.


Ia tetap mengeras dengan lurus seakan menantang Maria.


" Kamu sabar dulu ya, nanti kamu ada gilirannya " Ucap Maria sambil mencium kepala yang berhelem itu.


" Kenapa tidak sekarang sayang, dia sudah nggak sabar lho? "


" Sabar mas, aku ingin memakaikan sabun ini dulu di kulit kamu, biar ia wangi,, bersih,, harum,, dan biar tambah sehat lagi kulitnya ! "


Maria meratakan sabun itu dikulitnya dengan perlahan hingga akhirnya turun kesuatu tempat.


" Lanjut sayangku? pakaikan juga disana, yang banyak ya,, sambil di urut-urut "


" Ah mas ini bisa saja ! " Maria tidak mengindahkan permintaan Bram, setelah sabunnya rata kecuali disitu, dia langsung memegang kedua tangan Bram kembali dan dibawakannya ke bawah shower.


" Ah biarin biar dia puasa sampai mas pulang dari luar kota " Jawab Maria sambil tersenyum mengoda Bram.


" Kamu menantang ku ya ! " tanya Bram dengan kedua tangannya yang langsung memegang dua balon besar.


" Ih mas, ngapain sih "


" Mas punya dua balon besar yang nggak pernah mau terbang , dia selalu buat aku gemas hingga aku ingin meremas-remasnya seperti ini "


" Nanti kalau balonnya meletus gimana mas "


" Tidak akan meletus sayang balonnya sangat kuat, aku gigit sperti inipun dia akan sangat tahan " Bram pun langsung menggigit balon itu sejadi-jadinya dengan lembut tapi penuh nafsu.


" Mas jangan dong, ih mas ini,, "


" Aku mau mangga sayang "


" Maksudnya mas? "


" Iya aku mau mangga, dan aku punya kayu yang panjang dan kuat buat mengambilnya " Bram langsung mendorong Maria hingga tubuhnya berdempetan dengan dinding.


" Mas ih nakal "

__ADS_1


Bram langsung memegang kayunya untuk memetik mangga.


" Sini ah biar aku petik mangganya, mana ya mangganya "


" Disini mas"


" Aku tidak bisa melihat, memangnya ada dimana"


" Agak ketengah ! " Jawab Maria.


" Ah ini dia. " Kayunya sudah telat sasarannya.


" Sedikit lagi mas "


" Iya layang "


" Lagi mas,, lagi "


" Lagi ya sayang? sepertinya harus lebih kuat ya biar mangganya cepat jatuh? "


" Iya mas lebih kuat lagi " Jawab Maria lirih.


" Lagi sayangku? "


" iya mas lagi,, lebih kuat lagi "


" Iya sayang "


" Mas lagi mas ! " Jerit Maria.


" Iya sayang ku "


" Lebih kuat lagi Mas "


" Iya sayangku, mas sudah pakai tenaga penuh "


" Mas? "


" Iya sayang ku "


" Mas? mas? " Nafas Maria makin memburu.


" Iya sayangku, aaahh,, mangganya sudah jatuh "


" Iya mas iya, Huffht,, "


" Capek kan Metik mangga sama mas? "

__ADS_1


__ADS_2