
Dengan keadaan yang sudah tidak berdaya karena berada dalam cengkraman mang Jo, bi Yam terus saja berontak dan menangis dengan suara yang sedikit di kecilkan.
" Jangan mang Jo ! jangan renggut kegadisanku. " walaupun sudah berumur hampir 50 tahun bi Yam tetap merasakan dirinya seorang gadis karena masih perawan.
" Ha ha ha Perawan tua Yam bukan gadis lagi, kamu bakalan rugi kalau kamu tidak mau merasakan kenikmatan ini selama hidup kamu, apa kamu mau membawa keperawanan kamu itu sampai kekubur Yam? tapi sayang sekali di sana keperawanan itu tidak akan terpakai. " Dengan hati yang sudah di butakan nafsu, mang Jo terus saja menjamah tubuh Bi Yam dengan ciumannya.
" Kamu tega mang Jo, omongan kamu itu sangat kasar,, apa kamu tidak memiliki seorang anak gadis? " Untuk melawan memang sudah tidak sanggup lagi tapi bi Yam masih berusaha untuk menyadarkan mang Jo dengan omongannya.
" Beda anak gadisku dengan kamu Yam, anak gadisku masih memiliki masa depan dengan suaminya, sedangkan kamu tidak ada niat untuk bersuami kan Yam, jadi sayang sekali kalau ini tidak terpakai. " Mang Jo melihat kearah rok bi Yam dengan tangannya yang mulai membuka resletingnya sendiri.
" Bagaimana ini ? kasihan sekali melihat bi Yam, apa aku masuk saja untuk membantunya, ah tidak,, aku tidak bisa membantu, tapi kasian sama bi Yam" Maria merasa sangat ragu untuk membantu bi Yam.
" Mang Jo, kamu nggak tau ya bagaimana sakitnya hati seorang wanita jika kehormatannya di ambil secara paksa. " Suara bi Yam kembali meronta melihat tongkat mang Jo yang sudah mengeras di hadapannya.
" Nikmati saja Yam, nanti kamu akan berterimakasih karena aku suda beri kamu kenikmatan yang belum pernah kamu rasa. "
Ujung tongkat mang Jo mulai menekan-nekan pintu Yam yang masih terasa sangat rapat.
" Tidak mang Jo jangan ! Nanti aku bisa masuk neraka karena zina ini ! apa kamu tidak takut dosa mang jo " Bi Yam terus menangis sambil menahan rasa sakit yang belum pernah ia rasa.
Mendengar pengakuan bi Yam yang takut akan dosa dan masuk neraka, kaki Maria seketika terasa lemah hingga tersungkur ke lantai.
" Ya tuhan, Bi Yam saja yang sudah setua itu ia masih bersikukuh untuk menjaga kehormatannya karena takut dosa, sedangkan aku,, begitu mudahnya aku menikmati permainan itu bersama Bram dengan penuh nafsu. " Maria menangis mengingat dirinya yang terasa sudah sangat hina.
" Jangan bilang dosa dulu Yam, aku sudah tidak tahan mau merasakan benda pusaka ku di urut-urut oleh bibir bawah kamu, tahan Ya Yam,, tahan ! " Terlihat dari belakang, mang Jo siap menekankan pinggulnya untuk melaju kedepan. dan kedua tangan mang Jo langsung menutupi mulut bi Yam untuk berjaga-jaga agar tidak terdengar suara jeritan.
__ADS_1
Bi Yam mendongakkan wajahnya keatas karena takut rasa sakit yang akan di rasakan, iya terus melawan dan menjerit dengan suara yang tertahan tertutupi oleh tangan mang Jo.
" Berhenti mang Jo ! " Maria langsung menghentikan mang Jo, tepat ketika tongkatnya mang Jo hampir menembus dinding bi Yam.
" Maria ! ngapain kamu disini ? " Mang Jo langsung terperanjat dari kasurnya bi Yam setelah mendengar suara Maria, ia berdiri tepat di hadapan Maria sambil menutup kembali resleting celananya dengan tangan yang masih memegang sebilah pisau, dan kemudian di todongkannya pisau itu ke arah wajah Maria.
" Mang Jo mau menusukku? silahkan ! " Tantang Maria.
" Tidak mang Jo, jangan sakiti Maria ! " Teriak bi Yam Yang masih terkapar lemah.
Mang Jo melangkah perlahan mencoba untuk mendekati Maria, sedangkan Maria masih berdiri tegap dan terlihat tidak takut akan ancaman dari laki-laki kepala empat itu.
" Mang Jo ! apa kamu tidak punya istri dirumah ? " Tanya Maria.
" Tidak, dia sudah lama mati ! " Jawab mang Jo.
" Iya Maria, mang Jo minta maaf mang Jo sangat menyesal." ia menurunkan tangannya dan menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang sang menyesal.
" Bi Yam tidak apa-apa kan " Tanpa memperdulikan lagi mang Jo, Maria langsung menghampiri bi Yam yang masih acak-acakan.
Thaap ! !
Maria langsung terkapar ke lantai dan pingsan karena ulah mang Jo, ia memukul tengkuk Maria menggunakan gagang pisau.
" Iya Maria ! aku memang akan sangat menyesal jika aku tidak bisa menyelesaikan permainanku dengan bi Yam ! " jawab mang Jo sambil menunjuk ke arah wajah Maria yang sudah terkapar pingsan di lantai.
__ADS_1
" Ya ampun Mang Jo,, apa Yang sudah kamu lakukan dengan non Maria? " Bi Yam kembali memecahkan tangisnya.
" Diam disitu Yam nggak usah berisik " Mang Jo menodong pisau ke arah bi Yam.
Terlihat mang Jo mengambil sarung di bahunya, dan di sobekkannya sarung itu dengan pisau yang ia pegang sehingga menjadi beberapa bagian, sobekkan sarung itu ia sambung agar menjadi panjang.
kemudian mang Jo berjalan mendekati Maria yang masih dalam keadaan pingsan.
" Tolong mang jo jangan lakukan apapun pada Maria, jangan sentuh dia, Maria sudah punya suami mang Jo, kasihan suami dia kalau istrinya kamu nodai, kamu boleh melakukan apapun padaku asalkan kamu melapaskan Maria. " Teriakan Bi Yam dengan begitu kencang.
Sayangnya teriakan bi Yam itu tidak terdengar keluar karena derasnya suara hujan, apalalagi untuk sampai kekamar mamanya Bram dan Mikha itu lebih mustahil lagi, karena kamar mereka berada jauh didepan dalam rumah sebesar itu.
" Tenang Yam nggak usah teriak-teriak, siapa juga yang akan bernafsu melihat cewek jelek seperti ini, di kasih pun mamang gak akan mau, kalau bodinya Maria sih aduhai, tapi giginya Ya ampun amit-amit ! "
Mang Jo mencoba mengikat kedua tangan dan kaki Maria memakaikan kain yang di olahnya tadi, bahkan mulut Maria pun juga dibungkam oleh mang Jo menggunakan sobekan kain sarungnya itu.
" Coba kalau wajah kamu cantik Maria, pasti kamu akan ku nikmati juga " Tubuh Maria disandarkan pada dinding kamar bi Yam dalam posisi duduk dan menghadap ke arah kasur.
" Aku tidak percaya mang Jo yang aku kenal sebejat ini ! " Teriak bin Yam.
" Bi Yam ! apa kamu sudah lupa aku pernah melamar kamu dan kamu menolaknya? jadi jangan salah kan aku jika aku bertindak seperti ini. " Mang Jo langsung mendekati bi Yam lagi , ia sudah membukakan resleting itu dan memperlihatkan tongkatnya yang sudah kembali mengeras.
" Ya sudah mang Jo, sekarang aku terima lamaran kamu, tapi jangan perkosa aku ya?"
" Terlambat Yam aku sudah tidak tahan ! " Dengan langkah mang Jo yang semakin mendekati ranjang.
__ADS_1
" Eum,,, Eum,, Eum,, " Tiba-tiba dari belakang Maria mengeluarkan suara yang tidak jelas karena mulutnya sudah tertutup kain, dan ia sedang mencoba melepaskan kain yang mengikat di tubuhnya.
" Bagus Maria kamu sudah bangun, sekarang kamu bisa ikut menonton permainan aku dan bi Yam. "