
" Maksud kamu? " Dimas menggeryitkan dahinya seakan ia tidak percaya dengan apa yang barusan diusulkan oleh Mikha.
" Jangan sok polos ya Dimas? nggak usah pura-pura jadi orang baik kalau kamu mau hidup bahagia. " Mikha mengejek Dimas sambil tersenyum licik.
" Maaf, Aku tidak suka bersekutu dengan orang licik seperti kamu. " Dimas langsung berpaling dari Mikha dan melanjutkan kembali langkahnya, ia sedikitpun tidak berniat mengikuti hasrat Mikha untuk membantunya memisahkan Bram dan Maria, dan detik itu juga ia langsung menolak Mikha mentah-mentah.
" Tunggu ! Kamu ingin Maria bahagia kan? " Panggil Mikha dengan ucapannya yang mencoba untuk memancing Dimas kembali.
mendengar ucapan Mikha akhirnya Dimas berhenti dan berbalik badan.
" Maria sudah cukup bahagia hidup bersama dengan Bram. " Jawab Dimas dengan nada yang tulus juga ikhlas untuk kebahagiaan Maria dan Bram.
Yang menjadi perioritas bagi Dimas hanya satu, yaitu orang yang dicintainya hidup bahagia, ia rela melakukan apapun demi kebahagiaan Maria.
" Jangan yakin dulu kalau Maria akan selamanya hidup bahagia bersama dengan Bram, kamu perlu melihat ini maka kamu tidak akan menolak ajakanku tadi." Mikha menunjukkan sesuatu pada Dimas.
" Baiklah ! " Jawab Dimas singkat setelah melihat sesuatu yang misterius.
Entah apa yang di tunjukkan oleh Mikha pada Dimas hingga akhirnya dia merasa ragu untuk melepaskan Maria pada Bram, Dimas merasa kalau ia harus selalu ada disana untuk mendampingi Maria, jika sewaktu-waktu Bram menyakiti wanita yang di cintainya itu.
Sekarang hanya Dimas yang tau bukti apa yang dimiliki oleh Mikha untuk menyakinkannya Bahwa Bram itu bukanlah laki-laki baik untuk Maria.
Setelah yakin akan keputusannya untuk terus menjaga Maria, akhirnya Dimas meneruskan langkahnya menuju kerumah sakit dengan berbagai rencana yang sudah tersusun dihatinya.
Disisi lain Maria sedang mencoba merayu Bram untuk tidak ngambek lagi.
" Mas,, kamu benaran marah ya sama aku? " Maria mulai khawatir Memperhatikan raut wajah Bram yang seakan sudah tidak bersemangat lagi, padahal tadi tingkah Bram terlihat begitu manis dan romantis.
" Tidak, aku biasa saja. " Ucap Bram cuek lalu menurunkan Maria ke atas kasur dengan perlahan.
" Mas,,? " Suara Maria yang memanggilnya kembali dengan begitu lembut tetap di acuhkan oleh Bram.
__ADS_1
Dan belum pernah ia merasakan Bram mengacuhkannya seperti itu.
" Mass,, kenapa sih kamu tidak mau menatap ke arah ku lagi? " Tanya Maria kembali yang sudah duduk manis diatas kasur, padahal ia berharap mendapatkan cumbuan dari Bram seperti biasanya tapi kali ini malah dicuekin.
" Aku tidak marah, oh iya,, kalau kamu merasa capek atau ngantuk istirahat aja disana nggak papa." Bram membuka bajunya, tapi kelihatannya dia bukan mau bercinta dengan Maria, malah terlihat dari wajahnya kalau ia lagi kurang bersemangat.
Bram memperlihat badannya yang begitu kekar dengan otot kotak-kotak diperutnya, ia mengambil handphone lalu duduk diatas sofa hingga berhadapan dengan Maria yang masih duduk manis diatas kasur.
" Mas Bram,,? " Panggil Maria kembali dengan suara manja hingga langsung turun dari kasur untuk menghampiri Bram.
Sifat bram yang sedikit keras itu mulai bisa kebaca sama Maria, sebagai perempuan Maria pun mengerti kalau ia sekali-kali harus bersikap lunak dan lembut untuk meredam amarah Bram.
" Mas lihat sini dong ! " Maria mencoba mengangkat perlahan dagu Bram itu dengan tangan kanannya, Wajahnya sedikit tersangkat tapi kedua matanya masih menatap layar handphone.
" Maria,, aku lagi lihat jadwal untuk kekantor besok. " Jawab Bram serius dengan nada datar seakan dia tidak mau diganggu.
" Mas, kok gitu sih sama aku?" Pertanyaan Maria masih diacuhkan oleh sikap Bram yang kembali diam seribu bahasa.
Bram masih tetap fokus dengan layar handphonenya, tidak ingin putus asa tiba-tiba Maria melakukan sesuatu untuk mencari simpati dari Bram, Maria tau kalau suaminya itu lagi ngambek karena dibakar api cemburunya pada Dimas.
Kini Maria melanjutkan aksinya yang kedua, ia mencoba untuk meloroti celana panjangnya dengan perlahan, masih seperti tadi Bram tetap tidak mau mengarahkan pandangannya kearah Maria.
padahal penampakan Maria sekarang sudah begitu seksi dengan hanya memakai BH dan celana dalamnya saja, Akhirnya Maria berjalan perlahan ke arah Bram.
" Mas,,? " Panggil Maria lirih menggoda Bram sambil mengambil handphone yang ada ditangannya, lalu diletakkannya handphone itu diatas sofa.
Maria langsung membuka lebar kedua kakinya lalu menduduki paha Bram dengan perlahan. Bram sontak terkejut melihat tingkah Maria yang sangat berani, ia mulai mengumpulkan tenaga dikedua paha itu untuk menahan berat diatasnya.
Akhirnya Bram terkecoh melihat tubuh Maria yang bahenol, ia menatap tajam kearah Maria, rasa lakinya mulai bergejolak, apalagi ketika dada kenyal maria menyentuh dada bidangnya.
" Maafin aku ya mas aku nggak ada perasaan kok sama Dimas." Maria mendekatkan bibirnya dengan bibir Bram yang manis lalu mengecupnya perlahan, kemudian mengecup kedua pipi hingga keseluruh wajah Bram.
__ADS_1
Kedua tangan Bram mulai memeluk erat punggung Maria dan menarik tubuh indah itu hingga semakin berdempetan dengan tubuhnya.
" Aku buka ya? " Bram membuka tali ikatan penutup kedua tonjolan besar dan bulat itu.
" Eum iya mas,, " Maria tersenyum malu dan membenamkan wajahnya keleher Bram.
Bram menarik lepas pakaian yang berbentuk kacamata itu dan dilemparkannya kebelakang.
Kedua bukit Maria yang besar dan kenyal itu menjuntai kehadapan Bram hingga membuatnya Langsung ingin mencicipinya.
" Aku **** ya sayang, Aumm ! " Bram langsung menarik salah satu ujung yang menonjol itu dengan mulutnya.
Kini Mulut Bram sudah penuh dengan bulatan yang menjadi simbol dari seorang perempuan, Bram terus memainkan lidahnya disitu dengan pelan hingga membuat wajah Maria terangkat dan sekujur tubuhnya pun merasa kejang-kejang, Bahkan Maria sampai mengeluarkan ujung lidahnya dengan mata yang terlihat meram melek.
" Mas,,? " Panggil Maria lirih dengan nada yang sedikit menekan dan salah satu tangannya mulai meraba tonjolannya sendiri.
" Satu lagi ya sayang? sini,, " Bram langsung mengulum penuh tonjolan Maria yang sebelahnya lagi. ia terus menghisap bukit itu dan sesekali menari-narik dengan kedua bibir hingga terlihat elastis.
" iihh mas ini nakal sekali. " Nafas Maria terdengar sudah tidak beraturan.
" Kenapa sayang aku kan nakal dengan istriku sendiri, nggak salahkan? terusin lagi ya sayang minum chuchunya? " Dengan begitu ganas Bram memasukkan kembali kedua bukit Maria secara bergantian kedalam mulutnya.
" Aahh, mas pelan-pelan donk? "
" Nggak mau ! " Bram menarik elastis bukit itu kembali dengan penuh nafsu.
" chuchunya buat aku terus kan sayang, nanti kalau untuk bayi kita dibeli aja ya chuchunya boleh kan? " Bram masih belum bosan sedikit pun memainkan mulutnya dengan begitu ganas dikedua bukit yang hampir menutupi seluruh wajahnya itu.
" Tapi mas, Kan lebih sehat yang alami kalau untuk bayi kita. "
..
__ADS_1
Maaf ya readers ku tersayang baru upload sekarang, kamaren author nggak ada paket internet buat upload cerita.
Di tunggu komen kalian ya Readers ku sekalian..