
"Mas, aku ingin ketemu kak Mario."
" Sabar dulu sayang ya, tungguin mereka selesei ngobatin lukanya dulu"
"Maaf, apa kalian keluarga dari saudari Mikha?" Tanya seorang polisi kepada Bram dan Maria.
"Iya pak, kenapa ya?" Sahut Maria karena dia melihat Bram santai saja seakan tidak peduli.
" Sekarang kalian ikut saya kedalam ruangan Saudari Mikha."
"Baik pak !" Sahut Maria sambil menarik lengan Bram.
" Sayang? aku bukan lagi keluarga Mikha, sudah lama aku menceraikan dia, jadi untuk apa kita berurusan lagi dengan wanita licik itu?"
"Mas jangan ngomong gitu, nggak ada keluarga Mikha yang lain disini, kasian dia sendirian."
" Yasudah sebentar ! aku telvon keluarganya dulu." Bram melepaskan tangannya dari Maria dan berhenti mengikuti polisi itu.A
" Mas,, jangan gitu ah. Setidaknya Mikha ada yang nemenin sebelum keluarganya datang." Maria menarik lengan Bram kembali dengan begitu kuat untuk mengikuti langkah polisi yang sedang berjalan cepat.
Polisi tersebut berhenti didepan sebuah kamar dimana Mikha dirawat.
"Bagaimana Bu Mikha? apa benar ini keluarga anda?" Tanya polisi tersebut.
Mikha tidak bisa menjawab, karena tangisannya seketika pecah, mungkin dia merasa begitu takut dan menyesal.
"Saya ingin memberitahukan, kami akan terus memantau saudari Mikha dirumah sakit ini, Saudari Mikha dilarang keluar atau bepergian kemanapun tanpa sepengetahuan kami. Dikarenakan luka saudari tidak parah, dalam waktu seminggu perawatan, kami akan kembali menjemput Mikha untuk dibawa kepenjara. Harap ibu dan bapak segera mengurus berkas-berkas dan menyiapkan pengacaranya jika perlu."
"Maaf pak, ditahan atas tuduhan apa ya?" Tanya Maria.
"Pembunuhan terhadap seorang laki-laki, kami mendapatkan laporan bahwa ada seorang manyat laki-laki didalam semak. Ia terlihat seperti tertabrak mobil dan dicekik. Disaat kami berjalan pulang dari lokasi pembunuhan, kami mendapati saudari Mikha yang sudah kecelakaan, dan dibagian mobil yang paling depan terdapat noda darah bekas tabrakan, kami juga sudah menyelidiki sidik jari saudari Mikha dengan sidik jari yang ada dileher korban, dan itu 100% cocok."
" Baik pak terimakasih." Jawab Bram singkat.
" Yasudah Saya permisi dulu." Ucap polisi tersebut dan langsung keluar dari sana.
"Tolongin aku mas, aku benar-benar tidak sengaja. Aku nggak mau dipenjara seumur hidup." Mikha menangis, wajahnya yang sebelah sudah ditutupi perban, memang lukanya tidak terlalu parah, tapi cukup meninggalkan bekas disana.
"Kata, siapa? tidak akan dipenjara seumur hidup kok. Paling langsung dihukum mati." Ucap Bram dengan raut wajah begitu santai dan perasaan yang sangat puas.
"Mas, nggak boleh gitu ah!" Ucap Maria yang begitu iba melihat keadaan Mikha.
__ADS_1
"Maria? aku mohon,, tolong bujuk mas Bram untuk membantuku, tidak ada yang sanggup membantu ku lagi kecuali mas Bram." Ia memohon sambil menangis tersedu-sedu. Keadaan Mikha sekarang benar-benar sangat menyedihkan.
"Mas.." Panggil Maria.
"Tidak Maria, aku bukan tipe orang yang mau membeli hukum dengan uang. Mikha pantas mendapatkan semua itu atas apa yang sudah diperbuatnya."
"Aku tidak mau dipenjara, Tidak mau!" Mendengar ucapan Bram, Mikha terlihat menangis sejadi-jadinya.
"Maria?"
"Kak Mario?" Mario masuk sambil menduduki kursi roda yang didorong oleh suster dengan beberapa luka dibagian wajahnya.
"iya Maria. Kamu kapan kemari."
"Sudah dari tadi, kakak nggak papa kan?" Maria berlari dan memeluk Mario dengan begitu erat.
"Nggak papa, kamu jangan nangis." Ia mengelus kepala adik kembarnya Maria.
"Mario,, anak kita sudah nggak ada Mario !" Teriak Mikha yang sudah menangis sedari tadi.
"Apa,, " Mario melepaskan Maria dan mengayuh kursi roda dengan tangannya untuk mendekati Mikha.
"Iya, aku keguguran. Dan sebentar lagi aku akan dipenjara." Mikha menangis sejadi-jadinya. Kini penyesalannya tidak ada arti.
"Maria, kita pulang sekarang ya sayang , Bagaimana Mario kamu mau ikut kami?"
"Tidak Bram terimakasih, aku mau menemani Mikha dulu."
"Yasudah yuk sayang." Bram menggenggam tangan Maria.
"Kak aku pamit dulu ya, aku pasti akan kembali untuk menjenguk kakak."
Mario hanya mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Maria dan Bram langsung keluar meninggalkan mereka. Bram tidak ingin banyak membalas Mikha lagi. Karena apa yang sudah didapatkan Mikha sekarang sudah lebih dari cukup.
Skiipp..
Sampai dirumah.
"Mas, aku masuk kamar dulu ya?"
"kamar yang mana sayang? Kamar kamu sekarang ada dikamar ku." Ucap Bram dan langsung menggendong Maria sambil menaiki tangga.
__ADS_1
"Mas turunin, malu dilihat mama sama yang lain."
"Mama sudah keluar, lagian ngapain harus malu? Sekarang kamu sudah menjadi milikku seutuhnya tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi. begitu juga denganku, apapun yang aku miliki sekarang semua itu sudah menjadi milik kamu juga Maria, tubuhku dan hartaku,, semuanya."
Dimas yang melihat mereka dan mendengarkan ucapan Bram, ia hanya bisa tersenyum dengan hati yang benar-benar sudah melepaskan Maria. Dimas keluar dari rumah itu dan mulai kembali mencari kehidupannya sendiri.
"Dan Tempat tidur ini sudah menjadi milik kita berdua." Bram langsung merebahkan tubuh mereka berdua kesana.
"Mas, nanti malam aja ya?" Ucap Maria sambil tersenyum manja.
"Jangan menolak sayang. sekarang sudah tidak ada alasan lagi untuk menolak suami kamu ini." Bram mulai mencumbui Maria perlahan.
"Mas iih,, sore-sore gini."
"Mau sore, siang, malam, dan pagi.. Sekarang kita harus berusaha setiap saat sayang, aku ingin cepat-cepat punya baby yang lucu." Bram menggunakan mulutnya untuk melepaskan baju Maria.
"Iya mas, kalau gitu dua ronde."
"Tiga ronde." Bram sudah mencari posisi.
"Haha empat ronde pun siap." Maria tertawa dengan candaannya.
"Entah iya kamu sanggup, pokoknya sampai kamu puas." Ucap Bram kembali yang sudah memulai permainannya.
Maria tidak bisa berkata-kata lagi karena menahan gejolak di dadanya.
"Semoga kali ini bisa membuahkan hasil dan kita segera punya baby yang lucu." Bram memeluk Maria dengan keringat yang sudah bercucuran ditubuhnya.
"Heu,eu mas." Maria mencium bibir Bram.
Satu Jam kemudian,, Maria terbangun didalam pelukan Bram.
"Mas, sebentar ya?"
"Tidak, jangan kemana-mana dulu. Aku nggak mau babynya yang baru melekat di rahim kamu jatuh lagi." Ucap Bram dengan mata terpejam dan mengeratkan kembali pelukannya.
"Hehe mas ini." Maria menciumi dahi Bram dengan penuh cinta.
Dan ya, Usaha mereka kali ini tidak sia-sia.. Akhirnya Bram dan Maria memiliki calon baby yang sudah bertempat dirahim Maria.
TAMAT
__ADS_1
Demi kalian aku keluarkan satu episode lagi, karena masih ada yang belum puas dengan episode kemaren.
Terimakasih, love you Readers ku sekalian. Aku cinta kalian. Semoga kali ini kalian sudah puas dengan endingnya.