
" Tidak kok tuan muda, saya tidak menyakiti Maria,, iya kan Maria? " Tanya bi ita sambil sedikit menyenggol bahu Maria.
" Hah, iya mas,, eh, tuan ! " Hampir saja Maria salah memanggil Bram.
" Bagus lah seperti itu jangan sampai anak baru nanti di kerjain sama senior. "
" Tiidak,, Tuaan,, suer ! saya sangat Baik kok sama Maria,, " Dengan raut wajah menyakinkan.
" Ya bi aku percaya, Yasudah tidak usah di bahas lagi, Oh ya bisa tolong bilang sama mama kalau aku sudah berangkat, Maria aku pergi dulu ya? " Pamit Bram sambil memegang bahu Maria selama 3 detik, lalu ia melanjutkan lagi langkahnya keluar rumah, Bram memang sudah biasa tidak lagi berpamitan langsung pada Mamanya semenjak terjadi konflik pernikahan paksa terhadapnya.
Pas Bram berada didepan pintu rumah, tiba-tiba Rendi sudah didepannya.
" Hai bro ! gimana siap berangkat,, " Tanya Rendi yang sudah berdiri tepat di sampingnya
Bram.
" Bra bro bra bro ! Gue suruh sama lo buat antar baju Maria kemari, tapi sampai hari ini belum sampai juga, apa lo nggak tau kalau Maria sudah memakaikan baju yang sama dari kemaren? " Tanya Bram dengan wajah yang sangat Marah.
" Maaf deh maaf, kemaren gue ada sedikit Masalah, tapi udah gue bawa kok bajunya ini di tangan gue, Marianya mana ? " Rendy menunjukkan tas hitam di tangannya dengan kedua matanya melirik kedalam rumah mencari keberadaan Maria.
Rendi melihat dua wanita yang berdiri didekat tangga sedang melihat kearahnya dan Bram, tapi Rendi sama sekali tidak mengenal Mereka berdua, ia bahkan tidak mengenal Maria teman satu kampungnya, karena Maria lagi dalam penyamaran.
" Saya Maria mas. " Jawab Maria sambil berjalan menuju ke arah Rendi.
" What? kamu Marii,, "
Plaakk !
Bram langsung menginjak kaki Rendi sehingga Rendi tidak sempat melanjutkan perkataannya,
" Auw ! kaki gue,, " Rendi langsung melihat ke arah Bram yang sedang memberi isyarat dengan mengedipkan sebelah mata ke arahnya.
setelah itu Rendi baru paham kalau Maria lagi dalam penyamaran, dan wanita yang bergigi tonggos dengan rambut pendek yang sedang berjalan menghampirinya itu adalah Maria.
" Oh iya ! hei Maria,, ini barang kamu " Sapa Rendi sambil memberikan tas hitam ditangannya kepada Maria.
" Terimakasih ya mas " Maria tersenyum lebar sambil menunjukkan gigi-gigi besarnya pada rendi.
" Hah ! iya sama-sama " Rendi menjawab dengan wajah yang yang super bingung melihat perubahan Maria, yang bahkan ia sendiri sama sekali tidak bisa mengenalinya.
" Yasudah jangan bengong nih koper gue masukin ke mobil " perintah Bram kepada Rendi asisten pribadinya dengan bahasa informal sebagai sahabat.
__ADS_1
kebutulan Rendi dan Bram juga sudah lama berteman baik, apalagi umur Rendi hanya terpaut satu tahun dibawahnya Bram.
" Ok siap, pakai mobil gue kan? "
" Boleh ! " Jawab Bram singkat.
" Aku pergi dulu ya? " pamit Bram kembali kepada Maria.
Maria hanya menundukkan kepalanya untuk mengiyakan, kini Bram berlalu pergi dari hadapannya, Maria terus memperhatikan langkahnya Bram sampai ia masuk kedalam Mobil.
" Maria ! " Panggil bi ita.
" Iya bi, kenapa ya? " Maria menghampiri bi ita sambil membawakan tas hitam di tangannya.
" Kamu jangan lama-lama memandang wajah tuan muda nanti bisa-bisa kebawa perasaan ! tuan muda itu sudah punya istri, jangan salah mengartikan perasaan simpati dia terhadap kamu. " Jelas bi ita tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
" Baik bi, Maria paham ! "
" Yasudah bibi mau nyapu belakang dulu ! "
Setelah bi ita berlalu pergi kebelakang rumah, Maria pun menuju kekamarnya untuk menyimpan baju.
" Ah nanti aja aku rapiin bajunya kedalam lemari, aku mau kedapur dulu buat beres-beres, tadi nggak sempat karena sudah keburu di panggil sama mas Bram "
" Maria,, dari mana saja? " Bi Yam menyapa dari belakang.
" Habis sama bi Ita tadi bi, ini semua sudah bersih pasti bibi yang bersihin ya? "
" Iya, pekerjaan itu biasanya memang bibi yang kerjakan kok, lagian wanita cantik seperti bibi itu suka dengan suasana yang bersih-bersih "
" Hehe iya bi. " Maria tersenyum melihat tingkah bi Ita yang begitu bersemangat ketika membahas kecantikannya.
" Bentar ya bi Maria bikinin kopi dulu "
" Duh non baik sekali, mau bikinin kopi buat bibi ya " Tanya bi Yam sambil mengedip-ngedipkan matanya.
" Hehe iya bi, buat bi Ita juga"
" Nggak usah Maria aku bisa bikin sendiri." jawab bi Ita yang baru saja masuk kedapur.
" Lho kenapa bi? " Tanya Maria heran sambil memegang bubuk kopi yang siap iya tuangkan kedalam gelas.
__ADS_1
" Aku tidak mau ya kalau sampai nanti tuan muda ngirain kalau aku itu nyiksain kamu, hanya karena aku nyuruh kamu buat bikin kopi."
" Tidak kok bi, Maria bikin dengan senang hati kok "
" Gak papa aku bisa bikin sendiri, Rahasia kamu aman terjaga sama aku tanpa harus bikin kopi" Tegas bi Ita sambil mengambil gelas dan bubuk kopi yang ada ditangannya Maria, wajahnya cemberut dan memerah bukan karena marah tapi karena lagi merasa lelah dan kecapean.
" Kalian kok Main rahasia-rahasia sih, kasih tau donk sama bi Yam "
" Eh Yam kamu urus saja itu urusan kamu sendiri, Jangan lupa juga kamu pel tu lantai satu rumah "
" Enak ajah! itu urusan kamu ta,, tuan muda itu kan sudah bagi-bagi tugas kalau aku tugasnya nyuci, dan tugas bersihin rumah jelas itu tugasnya kamu ta. "
" Iya aku tugasnya bersihin rumah, kamu tugasnya nyuci, ngepel itu kan pakai air yam, jadi kalau bersihin sesuatu pake air itu namanya apa? "
" Nyuci ! " Jawab Yam.
" Jadi ngepel itu tugas siapa? "
" Tugas aku ta. " Jawab Yam memasang wajah bingung dengan dengan meletakkan telunjuk dikening sambil memikirkan kebenaran dari kata bi Ita.
" Bagus ! Kamu memang sangat pintar Yam " Jawa bi Ita kembali yang umurnya itu hampir seumuran dengan bi Yam.
" Gimana menurut kamu non Maria " Tanya bi Yam pada Maria untuk memastikan apakah ngepel itu termasuk pekerjaannya.
" Hei hei ! enak sekali kalian ngegosip didapur dengan membiarkan tugas kalian terbengkalai gitu aja, apa nggak malu tiap bulan malah selalu makan gaji penuh dari suami aku. " Teriak Mikha yang baru saja masuk kedapur.
Bi Ita dan bi Yam langsung terdiam dan menundukkan kepalanya di hadapan Mikha, mereka takut sama Mikha, lain halnya dengan Maria yang masih duduk santai dengan wajah tegak.
" Oh ya bi Ita, mama kan lagi istirahat dikamarnya, waktu nanti mama bangun tolong sampaikan sama mama kalau Mikha itu mau keluar bentar karena ada hal yang penting "
" Baik non " Jawab bi Ita sambil menundukkan kepalanya.
Mikha pun beranjak pergi dari dapur.
" Bi ita, bi Yam, Maria kekamar dulu ya mau ganti baju, udah dari kemaren aku pakai baju ini "
" Iya " Jawab Mereka serentak.
Maria juga keluar dari dapur, kebetulan ia masih bisa melihat Mikha didepannya, karena jalannya Mikha belum terlalu jauh , terlihat Mikha lagi mengangkat telvon dari seseorang, dan suaranya Mikha masih agak terdengar ditelinganya Maria.
" Iya Mario, sebentar ya? aku baru mau keluar ! " Ucap Mikha sambil menutup telvonnya.
__ADS_1
" Apa,, Mario? apa aku tidak salah dengar, apa mungkin kebetulan saja namanya sama "