
" Aku yakin Mikha adalah dalang dibalik hilangnya Bram, karena dialah yang sudah menghasut ku untuk membantunya."
" Apa? membantunya untuk apa? untuk menyakiti ku seperti tadi ! "
" Bukan Maria, dengar dulu ! "
" Iya aku tau, membantunya untuk memisahkan aku dari mas Bram kan, aku nggak nyangka Dimas, ternyata kamu bisa setega itu terhadapku."
" Tapi Maria aku melakukannya karena aku punya alasan, aku nggak mau kamu berkorban hanya untuk kebahagiaan Bram, aku nggak mau kamu hidup nggak layak gini."
" Kebahagiaan kami berdua Dimas, bukan kebahagiaan Bram aja, Ah, sudah lah ! aku nggak mau dengar apa-apa lagi dari kamu, silahkan kamu menjauh dariku ! " Tunjuk Maria kearah Dimas.
" Maria, aku membantu Mikha karena dia sedang mengandung anaknya Bram. "
" Apa Dimas? Semudah itu kah kamu percaya pada Mikha,, asal kamu tau Dimas yang dikandung oleh Mikha itu bukan lah anaknya mas Bram, kamu ingat itu,, Mas Bram sudah menceraikan Mikha hampir dua tahun yang lalu, tepat 2 bulan setelah Mereka menikah."
" Maria, kamu yakin? "
" Iya Dimas aku yakin? Mas Bram tidak pernah membohongiku, dan aku percaya dia, Aku hanya tidak habis fikir, ternyata semudah itu kamu mengikuti permintaan Mikha."
" Mikha menunjukkan buktinya padaku Maria."
" Bukti apa ? "
" Foto, Mikha sedang di ranjang dengan Bram."
" Hah ! apa?
" Iya, aku lihat dengan mata kepala ku sendiri, yang difoto itu jelas-jelas Mikha dan Bram, karena itulah aku percaya omongan Mikha. "
" Tidak mungkin ! aku percaya mas Bram pasti dia memiliki alasan yang bisa aku percayai dibalik foto itu. "
" Maria ! kamu mau kemana? "
" Lepas tangan ku Dimas ! Aku mau mencari mas Bram."
" Tunggu, aku bisa bantu kamu untuk cari Bram. "
" Enggak usah ! aku enggak butuh lagi bantuan apapun dari kamu. "
" Kamu yakin? lebih baik kita sama-sama mencari Bram sebelum terlambat, karena kita nggak akan tau apa yang akan dilakukan Mikha sama Bram."
" Maaf ! setelah tadi kamu mencoba memperkosa aku, sedikitpun aku tidak bisa percaya omongan kamu lagi Dimas ! siapa tau kamu masih mencoba untuk menjebakku kan. "
Dengan begitu Marahnya Maria meninggalkan Dimas didalam kamarnya Bram.
Tidak mau tinggal diam, Dimas pun langsung mengejar Maria kembali dari belakang, ia ingin menyakinkan Maria kalau dia sudah tulus ingin membantunya mencari Bram.
" Maria, jangan gegabah ! kalau kamu ingin melawan Mikha, kamu harus mempersiapkan diri dulu sebaik mungkin, Mikha wanita yang sangat licik. "
Maria terus berjalan dengan sangat terburu-buru keluar dari rumah, dia sama sekali tidak mau mendengarkan Dimas lagi.
" Maria aku bersumpah, dengan hati yang tulus tanpa ada niat buruk lagi, aku akan mencari Bram untuk kamu, walaupun itu harus mengorbankan nyawaku sendiri, Kamu harus percaya dengan sumpahku Maria, jika memang benar aku ini orang jahat, sudah pasti aku akan memperkosa kamu tadi, kamu tau kan tidak ada yang bisa membantu kamu disini, tapi aku urungkan niatku itu, kamu tau kenapa? karena aku sangat menyesal sudah berani berfikir untuk menyakiti kamu. "
" Baguslah kalau kamu menyesal ! " Sahut Maria cuek.
" Maria, apa kamu tidak berfikir apa yang akan terjadi sama tante jika dia tau Bram itu sudah menghilang, cobalah untuk sedikit mengingat kesehatan tante"
" Iya, lalu aku harus apa ? apa aku harus membohongi tante kalau Bram itu tidak hilang ! "
" Iya kamu harus berbohong seperti itu demi keselamatan tante, kamu tidak mau kan tante kenapa-kenapa sebelum Bram ketemu. "
" Eum iya ! "
Maria mulai berfikir dengan apa yang dikatakan Dimas Barusan, menurutnya perkataan Dimas ada benarnya juga.
" Pertama kita harus temuin tante dulu dan kita bilang sama tante kalau Bram itu tidak hilang dan masih baik-baik aja."
" Tapi aku nggak bisa berbohong sama tante Dimas ! "
" Tenang aja, biar aku yang berbicara sama tante. "
" Kamu yakin Dimas kalau tante akan percaya, Bagaimana jika sebaliknya ? kalau tante tau kita berbohong dia pasti akan marah besar sama kita. "
" Aku tau Maria, tapi untuk sementara cuman ini jalan terbaik, bukankah lebih baik tante baik-baik saja sampai kita bisa menemukan Bram."
" Iya sih ! " Sahut Maria singkat.
" Yasudah sekarang kita kerumah sakit temuin tante dulu, setelah itu baru kita fikirkan rencana kedua."
" Oke, baik ! " Sahut Maria lagi yang masih bersikap cuek dengan Dimas.
" Sebentar ya aku Ambil mobil dulu, Tenang Maria ! aku akan jaga jarak dengan kamu, sedikitpun aku tidak akan menyentuh kamu lagi, Aku Janji ! "
" Iya, yasudah aku percaya ! cepatan Dimas aku sudah nggak sabar mau mencari mas Bram, takutnya nanti terjadi apa-apa sama dia, ya tuhan,, semoga mas Bram baik-baik saja, aku nggak akan bisa tenang kalau belum menemukan mas Bram."
Mendengar ucapan Maria, rasa cemburu Dimas semakin berserabut di hatinya , tapi dia mulai berusaha untuk menyembunyikan rasa itu dari Maria sebaik mungkin.
Dimas langsung berlari menuju garasi untuk mengambil Mobil, seketika Dimas tersenyum senang karena mengingat Maria yang sudah mau memaafkannya dan sudah mau mempercayainya kembali.
Tanpa mau berlama-lama lagi Dimas dan Maria langsung menuju kerumah sakit, jaraknya tidak jauh dari rumah,, hanya 30 menit perjalanan mereka pun akhirnya sampai kerumah sakit.
Maria Berjalan didepan, sedangkan Dimas langsung mengekorinya dari belakang.
" Dimas, lebih baik kamu masuk lebih dulu."
" Kamu juga ikut Masuk kan Maria?"
" Iya ! "
__ADS_1
" Tante,, Bagaimana keadaan tante?. "
" Sudah membaik Dimas, tante sudah sembuh, tapi Bram kemana? kok nggak ikut kalian ? "
" Oh iya, tante ! tuan muda sudah keluar kota lagi, kelihatannya dia sangat terburu-buru karena ada hal penting ya harus segera ia selesaikan. "
" Syukurlah kalau gitu tante jadi merasa lebih tenang mendengarnya, Bram memang sudah kebiasaan ya tidak pernah pamit lagi sama tante, hehe tapi nggak papa lah yang penting anak tante baik-baik aja. "
" Iya tante, Yasudah sekarang tante istirahat dulu ya biar besok bisa langsung pulang."
" Itulah Dimas, tante juga nggak betah lagi lama-lama disini, kamu pulang aja dulu, biar Maria sama bi Yam aja yang jagain tante. "
" Baiklah tante kalau gitu besok pagi-pagi Dimas langsung kemari lagi buat jemput tante ya? "
" Jangan sampai telat pokoknya, tante sudah pengen langsung nyampe rumah, oh ya Dimas hampir saja tante lupa, kamar mang Jo pasti kotor sekali, jadi kamu jangan tidur disana, tidur aja dikamar tamu ya dekat kamarnya Bram ! "
" Baik tante tenang aja, Dimas bisa tidur dimana aja kok, yasudah tante, bi Yam, ma,, Maria, Dimas pamit dulu. "
" Hati-hati dijalan. " Jawab mamanya Bram menutup percakapan.
Dimas langsung keluar dari kamar itu, sesampainya diluar Maria datang mengikutinya dengan terburu-buru.
" Dimas? "
" Hah ! iya Maria kenapa?"
" Aku mau mencari mas Bram malam ini, sekarang juga ! "
" Maria,,? "
" Jangan mendekat Dimas. " Maria langsung menghentikan Dimas yang mencoba untuk memegang kedua bahunya.
" Iya maaf, gini Maria,, Kita cari Bram besok aja ya? "
" Lho kamu kok jadi mengulur-ulurkan waktu gitu? "
" Maria, kalau kita cari sekarang tante pasti akan curiga kamu pergi kemana, bukankah seperti itu? "
" Iya sih ! ini benaran besok kan? Awas kalau kamu bohong, seumur hidup aku nggak akan pernah bisa untuk percaya lagi sama kamu."
" Iya aku janji kita cari besok, dan besok Mikha pasti kemari, jadi setalah aku membawa tante pulang kita bisa langsung mengikuti Mikha kemanapun ia pergi, ."
" Oke, aku pegang kata-kata kamu Dimas,, jangan sampai kamu merusak kepercayaan ku lagi. "
" Baik Maria, aku janji. " Dimas menjawabnya singkat sambil tersenyum.
Melihat Dimas tersenyum Maria memalingkan wajahnya, ia langsung berbalik badan dan berjalan menuju kearah kamar kembali.
" Maria, kalau Bram tidak bisa ditemukan, aku siap menerima kamu dengan status janda. " Ucap Dimas didalam hatinya sambil melihat Maria pergi.
Keesokan harinya, dengan wajah yang sudah segar bugar Dimas datang kerumah sakit, ia masuk kedalam kamar dimana mamanya Bram dirawat.
" Mah? mama sudah boleh pulang kan? syukurlah Mikha sangat senang. "
" Iya ! " Jawab mamanya Bram dengan cuek.
" Mah, sini aku bantu pegang tangannya biar jalan mama lebih gampang."
" Nggak usah Mikha, mama itu perlu diperhatikan saat mama lagi sakit, bukan malah ketika mama sudah sembuh. "
" Ma,, mama marah ya sama Mikha."
" Bi Yam, bibi sudah selesai merapikan semua barang saya kan? " Tanya mamanya Bram pada bi Yam setelah ia mengacuhkan Mikha.
" Mah,, jangan Marah ya? aku juga ingin menemani mama disini, tapi keadaanku sekarang yang lagi hamil gini sama sekali tidak mendukung mah, aku yakin mama pasti mengerti itu. "
" Maria kemari sebentar ! "
" Iya tante,, kenapa ya? "
" Tolong bawakan tante masuk kemobil, pegangin tangan tante sebentar ya Maria? rasanya kepala dan tubuh tante masih sangat lemas, mungkin karena efek baru lepas dari infus. " Dan untuk sekali lagi mamanya Bram kembali mengacuhkan Mikha.
" Iya tante sini Maria pegangin. "
Mikha sangat jengkel melihat pemandangan itu, Dimana Maria sangat dekat dengan mamanya Bram, tapi ia berusaha menyembunyikan kekesalannya itu pada semua orang sebaik mungkin.
Terlihat Dimas berjalan cepat paling depan karena mau membukakan pintu, Maria dan mamanya Bram berada diurutan kedua dan bi Yam dibelakangnya yang sedang membawakan tas, sedangkan Mikha berjalan paling belakang sambil melipatkan tangannya sampai dada dengan wajah yang sangat kesal.
" Silahkan Masuk nyonya ! " Ucap Dimas setelah membukukan pintu mobil.
" Terimakasih Dimas. " Ucap mamanya Bram.
" Tunggu! " Teriak Mikha dari belakang. "
Dan ketika itu semuanya jadi berhenti melihat kearah Mikha.
" Mama, naik mobil aku aja. "
" Tidak Mikha, mama mau naik mobil mama sendiri."
" Mah, jangan tolak permintaan Mikha ya? ini cucu mama yang meminta lho." Mikha mencoba memanfaatkan kehamilannya untuk mengambil hati mamanya Bram kembali.
Semua jadi diam mendengarkan perkataan Mikha, tak terkecuali mamanya Bram yang mulai luluh lagi setelah mendengarkan kata-kata cucu.
" Mah mau kan pulang sama Mikha aja, demi cucu mama. "
" Maria, tolong turunkan tante ya, bawa Tante kemobilnya Mikha. "
" Baik tante. " sahut Maria singkat.
__ADS_1
" Tante, bukannya lebih baik tante naik mobil ini aja? " Tanya Dimas.
" Hei Dimas jangan ikut campur kamu ya, ingat posisi kamu, tante saja tidak menolak, apa hak kamu mengatur-aturnya? "
" Maria, tolong bantu tante masuk mobil ini kembali. "
" Baik tente." Sahut Maria.
" lho mah, kok gitu sih? " Mikha terlihat semakin kesal saja.
" Bi Yam cepat masuk ! "
" Baik nyonya. "
" Dimas, silahkan jalan." Ucap mamanya Bram kembali sesudah Maria dan Bi Yam ikut duduk didalam mobil.
" Mah ! " Panggil Mikha dengan wajah kesalnya.
" Jalan Dimas ! " Ucap mamanya Bram kembali.
" Baik tante."
Dengan perasaan malu dan kesal, Mikha terpaksa mengikuti dari belakang.
" Sialan, dasar wanita tua, kalau bukan karena mamanya mas Bram, Ah ! sudah ku apakan mungkin dia ! " Mikha memukuli setang mobil dengan tangannya karena begitu kesal.
Sesampainya di rumah, semua orang mengantar mamanya Bram untuk masuk kedalam kamar, ya,, kecuali Mikha.
Maria terus memperhatikan gerak-gerik Mikha karena curiga, terlihat Mikha dengan terburu-buru masuk kedalam kamarnya sendiri, dengan selang waktu yang tidak lama dia keluar lagi sambil membawa koper.
" Jangan ditegur Maria, biarkan Mikha pergi kita lihat dia mau kemana! " Ucap Dimas sambil berbisik dibelakang Maria.
" Iya. " Jawab Maria singkat.
Tidak mau membuang-buang waktu Maria dan Dimas langsung berjalan pelan mengikuti Mikha dari belakang, jika mereka tidak bergerak cepat maka mereka akan kehilangan Mikha.
" Cepat Maria, cepat masuk mobil."
Maria dan Dimas melihat mobil Mikha mulai keluar dari gerbang.
" Dimas, pokoknya kita nggak boleh kehilangan Mikha. "
" Iya Maria aku usahakan. "
" Awas Mikha, kalau terbukti kamu yang sudah menculik mas Bram maka kamu akan mendapatkan akibatnya. " Ucap Maria yang hanya didengarkan oleh Dimas.
" Maria, kita usahakan sebaik mungkin agar kita bisa menemukan Bram secepatnya, tapi kamu jangan emosi seperti itu, nggak baik untuk kesehatan dan wajah cantik kamu. "
" Tolong ya Dimas kamu jangan ngegombalin aku disaat seperti ini. "
" Iya maaf. "
" Mau kemana tuh Mikha kok dia belok kanan, eh jalan mobilnya juga mulai melambat, pelankan mobil kita Dimas biar nggak ketahuan."
" Mungkin dia mau ketempat dimana Bram berada."
" Mikha sudah berhenti, berhenti Dimas,, berhenti. "
Dengan Jarak beberapa Meter dan ditutupi oleh mobil lain, Maria dan Dimas terus saja memperhatikan Mikha yang sudah turun dari mobil.
" Mikha tidak menurunkan kopernya, mungkin dia mau bertemu seseorang. "
" Iya mungkin saja. " Jawab Maria singkat dengan tatapannya yang sangat fokus memperhatikan Mikha.
Mikha terus berjalan kearah sebuah pohon besar yang tidak jauh dari mobil.
" Maria, coba lihat dibalik pohon itu ada seorang laki-laki yang sedang berdiri disana."
" Mana, tidak begitu kelihatan Dimas. "
" Coba lihat dari sini. "
Dengan terpaksa Maria harus mendekatkan wajahnya dengan Dimas untuk melihat laki-laki yang berdiri dibalik pohon, karena dari tempat duduknya sama sekali tidak terlihat.
Dan betapa terkejutnya Maria setelah ia bisa melihat sedikit dari postur tubuh laki-laki itu.
" Tidak mungkin ! "
" Kenapa Maria? "
" Tolong Dimas kesamping lagi aku ingin melihatnya lebih jelas. "
Dengan wajah yang sangat heran Dimas langsung menggeserkan wajahnya mendekati pintu mobil.
" Hah, tidak mungkin, tidak mungkin. "
" Kenapa Maria ngomong sama aku, memangnya siapa sih laki-laki itu? aku saja tidak kenal karena tidak begitu kelihatan, kenapa kamu bisa menganalinya "
" Aku mau keluar saja, biar aku samperin Mereka." Maria terlihat seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan kedua matanya sendiri.
" Jangan gegabah Maria, kamu tenang ya, kita lihat dulu apa yang mereka lakukan . "
" Ternyata semua itu benar adanya. " Ucap Maria dan langsung menangis tersedu-sedu sambil mengeluarkan air matanya yang begitu deras.
..
Readers ku tersayang maaf ya author telat up karena kemaren author lagi pindah rumah jadi harus beres-beres dulu.
Bagaimana bagi kalian yang sudah melihat foto Bram dan Maria, ganteng dan cantik banget kan?
__ADS_1