
" Apa yang mau kamu lakukan Mikha? " Tanya mama Bram yang baru saja membuka matanya, dan ia melihat Mikha mengayunkan tangan ke arah wajah Maria.
" Hah iya? ini lho mah Maria sudah lancang masuk kamar mama waktu mama lagi tidur, pasti dia mau mencuri " Mikha langsung menurunkan tangannya dan tidak jadi menampar Maria.
" Tidak tante itu tidak benar ! " Jawab Maria tegas.
" Mikha,, bisa kamu keluar sebentar? " Pinta dari mama.
" Tapi ma,, dia yang salah kenapa Mikha yang harus keluar? " Mikha merasa bingung dengan Perintah Mertuanya itu.
" Tolong Mikha ! mama ingin kamu keluar dari kamar mama. "
" Mama yakin mau ngusir aku mantu mama sendiri? aku lagi mengandung anaknya Bram ma, berarti sama saja mama sudah mengusir cucu mama sendiri, Ya sudah aku keluar. " Mikha sangat marah hingga membanting pintu saat keluar dari kamar.
" Maria, sini duduk di samping tante ! " Dia meminta Maria untuk duduk disampingnya tanpa memperdulikan Mikha yang sudah keluar karena marah.
" Tante percaya kan kalau Maria masuk kamar tante bukan untuk mencuri? Tadi bi Yam,, " Belum sempat melanjutkan, ucapan Maria langsung dipotong oleh mamanya Bram.
" Bi Yam kan yang suruh? bagaimana tante tidak percaya Maria,, karena tante lah yang nyuruh bi Yam buat manggilin kamu kemari untuk menemani tante, sedang bisa Yam sudah tante suruh ke apotik sebentar. " Jelas wanita paruh baya itu dengan wajah pucat dan dahi yang penuh berkeringat.
" Iya tante terimakasih, Maria sangat senang bisa menemani tante, tante sabar dulu ya?bentar lagi bi Yam pasti akan pulang, atau Maria kedapur dulu ambil es batu buat ngompres tante? " Tanya Maria yang sudah duduk di samping ibunya Bram.
" Tidak usah Maria, kamu disini aja temani tante, ada yang ingin tante tanyakan sama kamu. " Mama Bram langsung menggenggam tangan Maria yang sudah duduk di sampingnya.
" Silahkan tante, tante mau nanya apa, dengan senang hati Maria akan menjawab. " Kini Maria juga sudah menggenggam tangan wanita paruh baya yang sedang sakit dihadapannya.
" Maria,, Bagaimana pendapat kamu tentang Bram, apakah dia masih sayang sama tante? " matanya mulai berkaca-kaca.
" Tante,, kenapa tante nanyanya seperti itu? jelas tuan muda Bram sangat sayang sama tante karena tante ini ibu kandungnya "
" Tidak Maria,, Bram memang tidak begitu ingat lagi sama tante, sudah lama hati ini merasakan kalau Bram terus saja mencoba untuk menjauh dari Tante ibunya sendiri." Wanita paruh baya itu mengelus dadanya sendiri sambil menangis tersedu-sedu karena merasa di tinggalkan oleh anak satu-satunya.
" Maria tidak yakin kalau tuan muda Bram memiliki niat untuk menjauh dari tante, mungkin dia hanya sedikit cuek karena ada suatu permasalahan yang masih mengganjal dihatinya." Maria semakin menggenggam tangan mamanya Bram.
__ADS_1
" Maria,, Bram tidak lagi peduli sama tante, buktinya tadi pagi dia tidak mau berpamitan sama tante dan itu bukan pertama kalinya Maria, Bram juga sudah tidak mau tau lagi soal tante, apakah tante sedang sedih ataupun sedang senang, apakah tante sehat-sehat saja ataupun lagi sakit, dia tidak mau tau lagi Maria, masih bisa tante bayangkan bagaimana Bram yang dulu, yang selalu mengkhawatirkan Tante, jika tante lagi sakit sejengkal pun dia tidak mau jauh-jauh dari tante, pernah satu kali Tante marahan sama papanya Bram sehingga tante tidak mau makan seharian tau-taunya Bram juga belum mau makan karena nungguin tante makan lebih dulu, tapi Kini tante sudah kehilangan anak tante satu-satunya Maria,,! " Tangisan mamanya Bram kembali pecah, hingga membuat Maria sepontan memeluknya.
" Tante harus percaya sama Maria, tidak ada seorang anak yang melupakan ibu kandungnya sendiri ibu kandung yang selalu menyayanginya dari kecil, mungkin ada seorang laki-laki yang menduakan pacar ataupun istrinya tapi tidak ada seorang anak yang bisa menduakan ibunya. " Maria sudah Melepaskan pelukannya dari mama Bram dan berbicara serius.
" Tante,, pasti ada satu masalah yang membuat tuan muda Bram berubah seperti itu, jika Tante ingin tuan muda kembali seperti yang dulu, coba tante selesein dulu masalahnya ya? Maria yakin setelah itu tidak ada alasan lagi yang bisa membuat jarak antara Tante sama tuan muda Bram. "
" Iya Maria kamu benar, terimakasih ya nak? tante memang berfikir seperti itu hanya saja Tante masih ragu untuk melakukannya, tante tau Bram mulai benci sama tante dan almarhum papanya setelah elena pergi ke London. "
" Siapa itu elena tante? "
" Cinta pertama Bram dari SMP, mereka sudah pacaran sangat lama, bahkan sampai mereka sudah selesai kuliah, elena saat itu mungkin shok mendengar rencana pernikahan Bram dan Mikha yang sudah dekat, sehingga dia langsung pergi ke London tanpa berpamitan. sama Bram, saat itu Bram jadi pendiam dan frustasi, tante dan papa tetap melanjutkan pernikahan itu karena tante fikir Bram pasti akan kembali bahagia setelah hidup bersama wanita secantik Mikha, ternyata tante salah besar, dia malah jadi benci seperti ini sama Tante, pernah timbul niat dari hati Tante untuk memisahkan Mikha dan Bram setelah hampir dua tahun mereka tidak bahagia, tapi Tante tidak bisa melakukan itu karena Mikha sedang mengandung anaknya Bram, apapun caranya Tante harus mempertahankan pernikahan mereka demi cucu tante, tante tidak mau cucu tante nanti lahir dengan keluarga yang broken home, apakah keputusan tante ini salah Maria. "
" Sama sekali tidak salah tante, jika Maria seorang nenek Maria akan berfikir seperti itu juga demi cucu Maria. "
" Terimakasih ya sayang Tante tidak salah untuk minta pendapat sama kamu, jawaban kamu sudah bisa membuat Tante merasa lebih tenang. Bahkan Tante tidak bisa mendapatkan jawaban yang mengenakkan hati Tante dari Mikha, jawaban Mikha selalu membuat tante tambah bingung. " Mama Bram menggenggam tangan Maria dengan kuat.
" Maria? " Panggil Bi Yam.
" Iya bi,, Bi Yam sudah pulang ya ? mana obatnya. "
" Iya Maria, kamu lihat aja dulu siapa yang telvon mungkin penting. " Ucap mamanya Bram.
" Baik tante, Maria pamit dulu ya? " Maria langsung keluar menuju kekamarnya.
Sesampainya dikamar dengan terburu-buru dia mengambil handphonenya, sayangnya sudah tidak ada suara dering panggilan lagi.
" Pasti tadi mas Bram yang telvon tidak mungkin orang lain, ah yasudah lah aku dapur aja dulu mah masak, lagian aku tidak tau bagaimana caranya nelvon balik, untuk membuka kuncinya saja aku nggak paham. "
Ketika Maria menaruh kembali handphonenya, tiba-tiba terdengar suara dering lagi, dia langsung mengangkat panggilan itu.
" Halo mas,, kamu sudah sampai disana? "
" Iya sayang baru saja sampai, kamu lagi dimana kenapa tidak mengangkat telvon ku dari tadi, mungkin sudah lebih dari sepuluh kali aku telvon kamu Maria. "
__ADS_1
" Di kamar ! "
" Bagaimana sayang handphonenya kamu suka? "
" Lumayan ! " jawab Maria singkat.
" Itu handphonenya aku sendiri lho yang pilihkan untukku kamu, jadi tadi sebelum ke bandara mampir kesana dulu sama Rendi buat nyari handphone"
" Iya ! " jawabannya semakin singkat.
" Maria,, sayang,, kamu kenapa "
" Tidak ada ! "
" Kamu tidak suka handphonenya? "
" Bukan ! "
" Apa ada yang salah apa orang dirumah ada yang menyakiti kamu? "
" Bukan itu ! "
" Apa juga sayangku,, apa aku sudah menyakiti kamu? "
" Iya,, lebih dari itu. " terdengar suara Maria seperti menahan tangis.
" Katakan Maria,, apa kesalahanku hingga kamu merasa sedih seperti itu. "
" lupakan saja ! "
" Sayang,, Maria? jangan bersikap seperti itu sama aku,, katakan saja. "
" Tidak sekarang mas, aku tidak mau mengatakannya di telvon. "
__ADS_1
" Yasudah aku pulang sekarang ! "