One'S First Lover [ Aamon Paxley ]

One'S First Lover [ Aamon Paxley ]
[ ' Jangan memiliki perasaan padaku ' ]


__ADS_3

Begitu sangat merasa tenang kalau orang yang kita sayang tidak jauh dari pandangan kita, itulah yang saat ini di rasakan pemuda berambut abu-abu itu. Karna saking rinduhnya dia masih saja memeluk kekashi yang sudah lama tidak ia lihat, baru saja dia mengalami masalah yang akan berakibat fatal kalau dia tidak datang tepat waktu.


Itu pasti membuatnya khawatir sampai-sampai dia masih terus memeluknya dan takut sesuatu akan terjadi padanya. Miclara tau bahwa pemuda yang masih memeluknya itu sangat merasa khawatir akan dirinya, dia juga pasti merindukannya begitupun dirinya sendiri.


Mereka masih saja saling melepas rindu malaupun sudah lama mereka terus berpelukan. Kemudian aamon menyuruh miclara untuk istirahat karna dia sudah mengalami banyak hal malam ini.


" sebaiknya kau istirahat, kita akan kembali besok" ucap aamon


" aamon apa kita bisa menemui temanku dulu, aku mau mengucapkan selamat tinggal padanya" ucap miclara


" baik, tapi sekarang kau istirahat dulu" ucap aamon


" iya"


" miclara sebaiknya kau bersikan wajahmu dulu, ada noda darah di wajahmu" ucap aamon sambil mengelap noda darah yang ada di pipi miclara.


" aku lupa soal itu, kalau begitu aku mau membersikan diri dulu ya" ucanya kemudian dia pergi.


Tak lama kemudian miclara kembali dengan wajah yang sudah bersi, namun karna hari sudah malam apaligi dia baru saja mandi. Tentu saja terlihat jelas dari wajahnya, bahwa dia kedinginan.


" apa kau baik-baik saja?" Tanya aamon


" iya, hanya saja airnya sangat dingin" ucap miclara sambil tersenyum walupun tubuhnya sedang menggigil


" sini" aamon lalu menepuk ranjang di sampingnya dia menyuruh miclara untuk duduk di dekatnya.


Kemudian miclara menurutinya dan lalu menghampiri aamon, kemudian dia duduk di sampinya dan ingin tau kenapa aamon menyurhnya duduk di sampingnya. Aamon kemudian memeluk miclara memberikannya kehangatan yang akan membuatnya tidak merasa dingin lagi.


" apa yang kau lakukan?" Tanya miclara


" dengan begini kau tidak akan kedinginan" ucap aamon


" tapi aku kan bisa menggunakan selimut" ucap miclara


" aku tau, hanya saja aku ingin menghangatkanmu" ucap aamon dan miclara menurutinya.


Tak lama kemudian, miclara pun tertidur aamon dengan pelan meniduri miclara di atas ranjang yang sekarang ia duduki. kemudian dia ikut tidur di sampingnya dan aamon lalu menyelimuti miclara beserta dirinya.


Pagi yang di tunggu akhirnya tiba, miclara yang bangun paling awal tidak sengaja melihat wajah kekasihnya yang masih terlelap. Dia tidak menyangkah, bahwa pemuda di depannya itu sudah menjadi kekashinya, dia juga tidak percaya bahwa aamon memiliki perasaan kusus padanya.


Miclara lalu mengusap rambut aamon yang masih tertidur dengan tenang, dia sedikit mencium wangi rambut aamon dan dia menyukai wanginya. Namun kegiatannya terhenti saat merasa orang yang sedari tadi ia sentuh terbangun. Miclara lalu menarik tangannya dari rambut aamon karna dia berfikir aamon bangun karna ulahnya.


Namun saat miclara menarik tangannya, tiba-tiba aamon menggenggam tanganya kembali. Dia tidak mau miclara berhenti terus mengusap rambutnya, karna itu dia langsung menarik tangannya saat dia merasa miclara tidak lagi mengusap rambutnya.


" kenapa berhenti, kalo kau menyukainya kau bisa menyentuhnya semaumu" ucap aamon


" a-apa kau sudah bangun dari tadi?" Tanya miclara


" hm" gumang aamon dengan senyuman


" i-ini sudah pagi sebaiknya kau cepat bangun dan bersiap, bukannya kita akan kembali sekarang" ucap miclara kemudian dia beranjak dari kasurnyap


Kemudian mereka pun pergi ke rumah teman miclara yang bernama layla, miclara merasa sedikit sedih jika harus berpisa dengan sahabatnya itu. Walaupun setelah ini dia akan bersama dengan orang yang dia cintai, tapi tetap saja dia merasa sedih.

__ADS_1


Aamon merasa saat ini miclara tampak sedih karna harus meninggalkan teman dan anak-anak yang selalu dia urus, namun dia tidak ingin miclara tinggal jau darinya. Sekarang dia datang dan akan membawa miclara terus bersamanya, nanti dia akan berterimakasi pada teman miclara karna sudah selalu bersamanya di saat dia sendiri.


Mereka kemudian sampai di panti asuhan yang dulu menjadi tempat kerja miclara dan seperti biasa di sana sudah terlihat layla yang menunggunya. Itu semakin membuat miclara merasa tidak tega jika harus meninggalkan temannya itu. Miclara kemudian menghampiri layla dan memeluknya.


" eh! Ada apa miclara?" Tanya layla


" layla aku harus pergi, terimakasi untuk semuanya ya" ucap miclara setelah melepas pelukannya


" pergi ke mana, kenapa mendadak?" Tanya layla


" waktu itu aku perna bilang padamu kan, bahwa aku sedang menunggu seseorang dan sekarang orang itu sudah datang dan menjemputku" ucap miclara


Layla lalu melihat aamon yang berjalan mendekatinya


" terimakasi sudah bersamanya di saat aku tidak ada, sekarang aku sudah datang aku akan membawanya bersamaku" ucap aamon


" tapi bagaimana dengan anak-anak, mereka pasti sedih kan" ucap layla dengan mata yang berkaca-kaca


" aku tau itu tapi aku harus ikut bersama aamon, dia adalah orang yang selama ini aku tunggu" ucap miclara


" baiklah miclara, aku akan senang jika kau juga senang nanti aku akan bilang pada anak-anak dan aku yakin mereka akan menerimanya" ucap layla


" terimakasi terimakasi" ucap miclara memeluk temannya lagi.


Setelah itu dia pamit untuk terakhir kalinya pada temannya itu, dia melambaikan tanganya begitu juga dengan layla.


" SAMPAI JUMPA, JIKA KALIAN AKAN MENIKAH UNDANG AKU YA...." teriak layla di sambut senyuman aamon.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kerajaan paxley, mereka akan siap dengan apa yang akan terjadi saat sudah sampai ke kerajaan paxley. Namun miclara kemudian mengigat sesuatu yang penting.


Sebenarnya aamon sudah tau bahwa gusion pergi saat mereka sudah menyelamatkan miclara, namun aamon tidak memperdulikannya karna mungkin gusion tidak ingin melihat dirinya begitu dekat dengan miclara.


" mungkin dia kabur lagi" ucap aamon


" apa! tapi kenapa kau terlihat tenang begitu, apa kau tidak ingin mencarinya" ucap miclara


" untuk saat ini aku akan melepaskannya, karna saat ini aku memiliki urusan yang lebih penting" ucap aamon


" tapi.. aamon aku merasa gusion mencoba menghindariku, dia pasti akan langsung menanyakan kondisiku saat bertemu denganku, tapi kenapa dia malah pergi" ucap miclara


" aku tidak pergi, aku ada di sini" ucap seseorang yang tiba-tiba ada di depan mereka, orang itu adalah gusion


" gusion, kau kemana saja" ucap miclara sambil berlari dan memeluk gusion


" hei apa yang kau lakukan" ucap gusion saat miclara tiba-tiba memeluknya


" aku merindukanmu kenapa kau pergi kenapa kau tidak menanyakan kabarku?" Tanya miclara


" aku tadi ada urusan, jadi aku pergi sebentar bagaimana keadaanmu?" Tanya gusion


" tentu saja aku baik, saat aku bertemu dengan kalian kondisiku sudah jauh lebih baik" ucap miclara yang masih memeluk gusion


" ehm.. lebih baik kau jangan memelukku begitu" ucap gusion saat melihat pemandangan yang menyeramkan di depannya

__ADS_1


" kenapa" miclara lalu melepas pelukannya, namun tiba-tiba ada yang menariknya dan menyembunyikannya ke dalam pelukannya.


" kau dari mana saja?" Tanya aamon


" aku sudah bilang kan aku tadi ada urusan" ucap gusion


" oh" aamon lalu pergi melewati gusion sambil memeluk miclara yang masih kebingungan.


Miclara Pov


Kenapa aamon bersikap begitu, dia tiba-tiba menarikku begitu saja, padahal aku masih ingin memeluk gusion.


Tunggu! Apa aamon cemburu, karna itu dia merebutku dari gusion.


Karna senang aku menyembunyikan wajahku di dada bidang aamon dan aku tak sengaja melihat gusion di belakangnya sedang menampakkan waja bersedih, seperti sesuatu miliknya telah di rebut orang.


Dari epresi gusion aku tau bahwa dia sedang bersedih, pasti bukan karna ada urusan dia meninggalkan kami, tapi karna dia memang menghindari kami, tapi kenapa?


Jangan bilang bahwa dia menyukaiku, tidak!tidak! Itu tidak boleh, aku sudah jadi milik kakakmu, jangan memiliki perasaan padaku gusion...


Aku lalu menarik diriku dari pelukan aamon, dan berjalan di sampingnya.


Pov End


Hari sudah sore, dan gerbang kerajaan paxley sudah terlihat, bisa di lihat dari epresi miclara bahwa dia terkagum-kagum saat melihatnya. Aamon lalu membawa miclara menuju gerbang itu, hanya tinggal beberapa langka menuju gerbang kerajaan paxley, tiba-tiba gerbang itu terbuka dengan sendirinya dan langsung membuat miclara terngaga saking kagumnya.


" waaaa luar biasa, gerbang ini sangat besar" ucap miclara


" ini masih belum seberapa" ucap aamon


" matsudmu?" Tanya miclara


Aamon lalu memperlihatkan istananya yang mega pada miclara


" lihatlah miclara, istana ini nanti akan menjadi milikmu saat kita menikah" ucap aamon


" benarkah" ucap miclara senang, namun mereka kedatangan tamu tak di undang, orang itu adalah para ketua dan pengawal di belakannya.


" yang mulia, akhirnya kalian berdua kembali" ucap ketua itu


Aamon langsung menyembunyikan miclara di belakannya dan menjawab pertanyaan ketua


" tentu saja kami kembali, ini adalah rumah kami" ucap aamon


" ya, namun bukan milik gadis itu" ucap ketua sambil menunjuk ke arah miclara


Miclara merasa dirinya sangat tidak berguna sampai-sampai dikatain begitu, walaupun dia dan aamon sudah menjadi sepasang kekasih, namun perkataan ketua tentang dirinya agak benar. Dia hanya gadis biasa tidak mungkin akan memiliki istana yang mega di depannya itu.


Di istana ini ada beberapa orang yang tidak menyukainya, mereka bisa kapan saja menghabisinya. Walaupun dia memiliki perlindungan aamon dan gusion, terakhir kali, aamon dan gusion bahkan tidak bisa membantah perintah ketua.


Tapi kali ini mereka pasti akan melindunginya apapun yang terjadi bahkan jika harus melawan ketua sekalipun, miclara yakin hal itu.


Aamon tidak memperdulikan perkataan para ketua, keputusannya sudah bulat dan tidak akan ada yang bisa mengomentarinya. Walaupun ketua-ketua itu mengatakan hal itu, aamon tetap akan membuat miclara menjadi ratunya dan memiliki istana ini bersama-sama.

__ADS_1


________________________________________________


Bersambung


__ADS_2