![One'S First Lover [ Aamon Paxley ]](https://asset.asean.biz.id/one-s-first-lover---aamon-paxley--.webp)
Di sebuah ruangan yang sangat megah, ada banyak sekali pelayang yang mondar-mandir menyiapkan makanan untuk pengeran mereka. Walaupun mereka belum datang, tapi pelayan-pelayan itu sudah buru-buru menyiapkannya.
Meja yang akan digunakan aamon dan gusion begitu lebar walaupun hanya digunakan dua orang, namun sekarang sudah ditambah satu orang lagi yang akan mengisi meja makan itu. Sudah banyak makanan yang tertata rapi di atas meja, jika hanya tiga orang yang memakannya, itu tidak akan habis.
Meja makan yang besar itu, memiliki banyak kursi, ada sekitar delapan kusi di kiri dan kanan. Juga ada dua kursi yang saling berhadapan, itu adalah kursi ayah aamon dan gusion saat masih hidup. Sekarang kursi itu tidak perna di gunakan lagi, mungkin nanti saat aamon menjadi raja baru kursi itu akan di gunakan lagi.
Beberapa saat kemudian
Akhirnya ada satu pangeran yang sudah tiba di meja makan, dia adalah aamon dan miclara yang ada di belakannya. Aamon lalu menyuruh miclara untuk duduk di sampinya sambil menunggu satu orang lagi.
" aamon, meja makan ini begitu besar.." ucap miclara kagum
" tentu saja, dulu meja makan ini tidak sekosong sekarang, namun saat kepergian orang tuaku, meja makan ini menjadi begitu sunyi, apalagi gusion sering pergi dari rumah, jadi aku sering makan sendiri. Namun itu tidak akan terjadi lagi, karna aku memilikimu di sisiku" ucap aamon
" kamu benar, aku akan selalu ada di sisimu, aku tidak akan meninggalkanmu" ucap miclara
Pembicaraan mereka terhenti saat ada yang menggeser kursi dan mendudukinya, dia adalah gusion. Gusion lalu mengambil satu apel yang ada di depannya dan langsung memakannya, tampa melihat dua orang yang ada di depannya.
Aamon yang melihat itu tidak bergeming sedikitpun, saat ini dia tidak ingin bicara dengan adiknya itu. Mungkin karna kejadian tadi pagi, membuatnya merasa gusion akan menjadi saingan cintanya. Ingin rasanya dia bertanya tentang kejadian tadi pagi pada gusion, hanya saja itu mungkin akan menbuat miclara merasa sedih.
Dia sudah membuat miclara menangis dan tidak akan perna melakukannya lagi, mungkin yang di katakan miclara adalah kejadian yang sebanarnya. Hanya saja hatinya masih merasa bingbang, jika dia terus seperti ini, mungkin dia akan terus memikirkan masalah ini hingga mengabaikan miclara dan statusnya sebagai pewaris kerajaan.
Miclara menatap aamon yang sedang memikirkan sesuatu, tapi dia tau apa yang sekarang sedang dipikirkan aamon, mungkin tentang masalah tadi pagi. Miclara yakin, aamon masih belum melupakan hal itu, walapun dia sudah menjelaskannya, namun aamon terlihat berusaha percaya pada perkataanya, tapi tidak dengan hatinya.
Miclara lalu mengisi piring aamon yang kosong, dia lalu menepuk punggung aamon pelan agar dia berhenti melamun dan memakan makanannya.
" ada apa?" Tanya miclara
" tidak papa, aku hanya memikirkan seauatu saja" ucap aamon
" kalau begitu ayok makan, lihat aku sudah isi piringmu"
" terimakasi" aamon lalu memakan makanan yang sudah ada di piringnya begitupun miclara.
Skip selesai makan
Sekarang miclara ada di sebuah taman yang luas, dan dia sedang duduk di ayunan yang ada di taman itu. Miclara merasa sangat nyaman ada di sini, jika suasana hatinya buruk dan dia datang kesini itu pasti akan langsung membuatnya lebih baik.
Miclara mengayunkan ayunan itu dengan pelan sambil menggumangkan sebuah lagu, dia memejamkan mata menikmati sensasi ini, sangat menenangkan hati. Taman ini juga di kelilingi dengan sebuah kolan ikan yang luas, bahkan seperti kolam untuk merenang.
Kolam itu juga diisi oleh banyak sekali ikan-ikan berbeda jenis, sulit untuk membedakannya karna ada banya sekali ikannya. Bunga-bunga yang ada ditaman ini mengigatkan miclara pada seorang gadis yang perna menolongnya. Dia perna bilang akan mengunjunginya lagi, namun dia lupa.
" kalau aku pergi, apa aamon akan mengijinkanku" ucapnya pada dirinya sendiri
" dia pasti akan mengijinkanku, aku akan bertanya padanya" miclara lalu bangkin dan pergi ke tempat aamon berada.
Aamon sekarang ada di tempa latihan pedang, dia tidak sendiri di sana ada gusion yang sedang berkatih. Gusion sudah tau kakaknya itu ada di sana, namun dia tidak memperdulikannya, dia sibuk dengan pedang-pedangnya.
Aamon lalu menghentikan latihan gusion dan menyerang gusion menggunakan kekuatannya.
" apa yang kau lakukan!!?" Tanya gusion
" melatihmu!" Ucap aamon
" itu bukan latihan, kau mau membunuhku" ucap gusion yang berhasil menghindar dari serangan kakaknya.
__ADS_1
Aamon lalu berjalan ke arah gusion yang membersikan bajuhnya yang kotor karna serangannya tadi. Dia lalu mencengkram tangan adiknya itu dengan kuat dan menatapnya tajam.
" apa yang kau lakukan pada miclara tadi pagi!?" Tanyanya
' ternyata karna masalah itu dia bersikap seperti ini' batinnya
" kenapa tidak menjawab!" Ucap aamon yang semakin kuat mencengkram tangan gusion
" aku yakin miclara sudah menjelaskannya, dan itu adalah kebenarannya" ucap gusion
" kau bohong, tidak mungkin itu kebenarannya kau pasti telah melakukan sesuatu dengan miclara, apa kau tau dia adalah kekashi kakakmu, apa kau tidak bisa mengerti hal itu!!" ucap aamon
" baiklah, kalau kau mau tau kebenarannya" ucap gusion dia lalu menarik tangannya
" waktu itu, miclara tiba-tiba datang padaku dengan juba mandinya yang minim, aku adalah laki-laki yang normal jika melihat hal itu tentu saja aku tidak mungkin diam saja. Kau pasti tau kan selanjut-" sebelum melanjutkan perkataanya, aamon buru-buru memukulnya hingga dia terjungkal ke belakang.
" beraninya kau!!" Aamon menghampiri gusion dan kembali memukulnya berkali-kali hingga membuat bibir gusion robek
Setelah itu dia melempas gusion yang sudah terluka parah ke tanah, gusion berusaha bangkit namun seluruh badannya terasa sakit membuatnya tidak bisa menampung tubuhnya lagi.
" jika hal ini terjadi lagi, aku benar-benar akan membunuhmu, ingat itu!!" ancam aamon, dia lalu beranjak dari tempatnya dan meninggalkan gusion yang terlukah parah.
Saat aamon mau melangkah pergi dari sana, dia tak sengaja melihat miclara yang sudah ada di sana sedari tadi dan dia juga sudah melihat semuanya. Miclara menghampirinya dengan mata yang merah menahan amarah.
" mi-miclara kenapa kau kesini?" Tanya aamon merasa bersalah
"..." namun miclara tidak menjawabnya namun tiba-tiba..
Plakkkk
Tentu saja hal itu membuat dirinya sedih, melihat orang yang dicintainya memilih pergi ke pria lain dari pada dirinya. Dia melihat miclara yang berusaha membantu gusion berdiri, hatinya terasa sakit saat melihatnya. Dia kemudian pergi dan tak ingin melihat hal itu lagi.
Miclara membantu gusion berdiri dan akan mengantarnya ke kamarnya, dia juga merasa bersalah telah menampar aamon tampa mendengar penjelasannya. Namun dia sangat marah padanya karna memukuli gusion sampai seperti ini. Walaupun dia tidak tau kenapa aamon memukul gusion, tapi nanti dia akan menanyakan hal itu.
" ke-kenapa kau kesini?" Tanya gusion
" aku sebenarnya ingin menemui aamon, tapi saat aku melihatnya memukulimu sampai seperti ini, itu membuat ku tidak bisa mengendalikan diri hingga sampai menamparnya" ucapnya
" apa kau mendengar semuanya, tentang apa yang kami bicarakan?" Tanya gusion
" tidak, nanti aku akan bertanya padanya" ucapnya
" maafkan aku, ini sebenarnya karna aku telah memanas-manasi dia, membuatnya sampai memukulku seperti ini, ini adalah pertama kalinya dia melakukan ini padaku" ucap gusion
" apa yang kau lakukan sampai-sampai membuatnya semarah itu?" Tanya miclara
" aku tidak bisa mengatakannya, tapi aku mengatakan itu karna aku menyukaimu miclara" ucap gusion
"... kau tau, aku hanya menganggapmu sebagai temanku saja tidak lebih, aku akan senang jika kau menerimaku bersama kakakmu " ucap miclara
Terlihat dari raut wajah gusion yang terlihat kecewa membuat miclara tidak tega, dia tidak mau melihat pertengkaran dua saudara ini lagi hanya karna dirinya. Karna itu lebih baik dia menolaknya agar membuat gusion menyerah mendapatkannya dan menerima miclara dengan kakaknya.
Beberapa saat kemudian
" sebaiknya kau istrahat gusion, lukamu sangat para akan butuh waktu lama agar lukamu sembuh" ucap miclara
__ADS_1
" terimakasi sudah mengantarku ke kamarku, sebaiknya kau pergi temui kakakku, jangan sampai dia salah paham karna perkataanku" ucap gusion
" baik, aku akan menemui aamon, aku juga mau minta maaf karna telah menamparnya, kalau begitu sampai jumpa" miclara pun pergi.
Sepanjang lorong miclara terus bertanya pada pelayan yang melewatinya tentang keberadaan aamon. Namun mereka semua tidak mengetahuinya, miclara hanya bisa mencarinya tampa tau dia ada di mana.
Miclara saat ini ada di luar kamar aamon, dia mengetahui kamar aamon karna tadi satu pelayang mengatakannya. Ingin rasanya masuk ke dalam, hanya saja enta kenapa dia merasa takut untuk kedalam. Miclara lalu mengetuk pintu beberapa kali dan tidak ada yang menjawabnya. Dengan keberanianya dia kemudian membukak pintu yang besar itu dan memasukinya.
Di dalam kamar aamon dia tidak melihat ada orang disana dan suasana kamar ini begitu sunyi seperti tidak perna di tempati lagi. Dia mengelilingi kamar itu dan bahkan dia sampai mencari ke kamar mandi, namun hasilnnya tetap saja nihil. Miclara pun keluar dari sana karna orang yang dia cari tidak ada di kamar itu.
Karna dirinya sudah merasa lelah, miclara memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dia akan mencari aamon ke esokan harinya. Miclara lalu membukak pintu kamarnya dan memasukinya. Enta kenapa kamarnya begitu gelap, padahal terakhir kali dia ke sini, kamarnya masih terang.
Miclara lalu menyalakan lilin satu persatu hingga cahaya mulai menerangi kamarnya, namun dia sanar-samar melihat seseorang yang sedang berdiri menghadap jendela, miclara lalu menghampiri orang itu dengan perlahan.
Namun orang itu malah menatap dirinya, orang itu melangkakan kakinya menuju miclara, miclara mundur perlahan-lahan hingga dia tak bisa mundur lagi karna ada pintu di belakangnya. Namun dia sudah mengetahui orang di depannya itu, orang itu adalah aamon dengan waja yang tidak bisa di jelaskan.
" a-aamon kenapa kau ada di kamarku?" Tanya miclara gugup
" aku sedang menunggumu" jawab aamon dengan tatapan yang sama
" a-aamon, aku.. aku ingin mengatakan sesuatu, tolong dengarkan penjela-" ucapnya terpotong karna aamon menutup mulutnya dengan satu jarinya.
Aamon lalu mendorong miclara pelan ke diding dan memegang kedua pipinya kemudian dia mencium bibirnya. Miclara merasa bingung, kenapa aamon melakukan ini padanya. Tapi dirinya juga merasa nyaman, hanya saja ini bukan waktu yang pas untuk menikmatinya. Aamon lalu menarik tanganya dan menatap wajah miclara dalam sambil mengatakan sesuatu.
" apa, kau menyukai gusion?" Ucapnya kemudian
" te-tentu saja tidak, kenapa kau menanyakan hal itu?" Tanya miclara
" miclara, apa aku begitu buruk di matamu, sampai-sampai kau tidak memperdulikanku, aku begitu mencintaimu, tapi kenapa kau menghianatiku" ucapnya
" aamon.. kau kenapa, kenapa mengatakan hal ini?" ucap miclara
" kenapa.. kenapa kau melakukan ini padaku miclara.." ucapnya sambil menyembunyikan wajahnya di leher miclara.
" maafkan aku aamon, aku tampa sengaja menyakiti hatimu, aku tidak akan melakukannya lagi, jadi jangan seperti ini ok" ucap miclara sambil membelai rambut aamon
" apa, apa kau dan gusion sudah melakukan hal itu, jawab aku.." ucap aamon
" kau salah paham aamon, aku sudah mengatakan kebenarannya tapi pagi kan dan itu adalah yang sebenarnya terjadi, jika kau menyukaiku kau pasti akan mempercayaiku" ucap miclara
" aku tentu saja percaya, aku sangat menyukaimu, namun gusion mengatakan itu padaku tadi, bahwa kau sudah melakukan hal itu denganya" ucap aamon
'Ternyata ini yang membuatnya sampai marah seperti itu, aku benar-benar merasa bersalah padanya' batin miclara
" kau salah, gusion tadi mengatakannya padaku, dia bilang bahwa dia hanya memanas-manasi dirimu, jadi kau jangan mempercayai hal itu ya" ucap miclara sambil mengelus rambut aamon
"aku sangat sedih karna kau lebih memilih membantunya dari pada mendengarkan penjelasanku" ucapnya
" maafkan aku kalau begitu, aku tidak akan melakukan hal itu lagi" ucap miclara
Namun miclara merasa aamon semakin berat baginya, sampai² miclara tidak bisa menahan beratnya lagi. Akhirnya dia terduduk dan berakhir di pelukan duke paxlay itu, ternyata aamon sudah terlelap saat bicara tadi, karna itu dia semakin berat bagi miclara.
Miclara lalu membiarkan posisi ini agar tidak membangunkan aamon, dia lalu terlelap dengan posisi duduk sambil di peluk aamon yang sudah tertidur.
________________________________________________
__ADS_1
Bersambung