![One'S First Lover [ Aamon Paxley ]](https://asset.asean.biz.id/one-s-first-lover---aamon-paxley--.webp)
WARNING!!: Di chapter ini akan ada adegan yang tidak boleh di baca oleh anak-anak. Jika kalian merasa masih di bawa umur di mohon skip saja!!
Sudah beberapa lama para tabip berusaha mengobati aamon yang masih belum sadar. Lebih dari satu tabit yang mengobati aamon, mungkin sekarang kamar aamon diisi lima sampai enam orang termasuk miclara. Miclara hanya bisa melihat mereka mengobati aamon menggunakan sihir, dia terus ada disamping aamon sambil menunggu dia sadar.
Kemudian para tabip itu berhenti mengobati aamon, mereka satu-persatu membereskan alat-alat yang membantu mereka mengobati aamon. Salah satu dari mereka menghampiri miclara dan mengatakan keadaan aamon saat ini.
" apa kalian sudah selesai mengobati aamon?" Tanya miclara
" yang mulia sekarang sudah baik-baik saja lukanya sudah kita obati, anda hanya perlu menunggu yang mulia sadar saja" ucapnya
" benarkah terimakasi" ucap miclara
" ini adalah keawajiban kami, anda tidak usah berterimakasi" ucapnya, kemudian mereka satu-persatu pergi dari kamar aamon
Sekarang hanya miclara yang menemani aamon, dia masih terus melihat waja kekasihnya yang masih belum sadar. Miclara menggenggam tangan aamon agar dia cepat membuka matanya, miclara merasa tidak tega setelah melihat kondisi kekasihnya yang terluka parah. Apalagi dia sampai tidak sadarkan diri karna luka itu, miclara mengenal aamon sebagai pemuda yang kuat dan berani.
Tapi kali ini dia melihat orang di depannya sedang tak sadarkan diri dengan luka di sekujur tubuhnya. Air mata miclara jatuh di tengan yang dia pegang, dia mencium tangannya agar dia cepat sadar.
" aamon" ucapnya sambil mencium tangannya
Namun tangan yang ia genggam sedikit bergerak, dia tentu langsung melihat ke arah aamon yang masih menutup mata. Dia berharap bisa segera melihat kekasinya itu membuka matanya, namun aamon masih terlihat tidak mau membuka mata. Miclara tidak menyerah, dia tetap setia menunggu aamon sadar, dia tetap ada di sampinnya hingga malam tiba.
Aamon Pov
Rasanya saat ini ada yang sedang memegang tanganku, tapi aku tidak tau siapa itu. Aku saat ini masih belum sadar, luka di tubuhku sepertinya sudah di obati karna sudah tidak terlalu sakit. Aku juga merasa sesuatu yang dingin terus terjatuh mengenai tanganku, apa itu air atau seseorang tenga menangis di dekatku.
Kemudian aku berusaha membuka mataku, aku tidak ingin terus tidak berdaya seperti ini, aku juga ingin segera tau siapa orang yang saat ini sedang menamaniku. Saat aku membuka mataku, aku terkejut ketika melihat seorang tenga ada di sampingku, dia sedang tertidur sambil terus memegang tanganku. Aku juga melihat bekas air mata di matanya begitupun di tanganku yang sedikit basah karna air matanya.
Seketika aku merasa kasihan melihatnya, dia begitu ingin menemaniku walaupun sekarang sudah malam. Aku menyentuh rambutnya menggunakan tanganku yang lain, dia terlihat begitu lelah karna terus menungguku. Saat tanganku mengelus rambutnya aku melihat dia mulai terbangun saat merasa ada yang menyentu kepalanya.
Dia yang sudah terbangun kemudian melihat ke arahku, aku hanya melihatnya dengan senyuman yang hangat. Dia langsung meneterkan air matanya lagi saat melihat aku sudah sadar, gadis di depanku ini begitu mencemaskanku sampai seperti in
Pov End
" hisk aamon akhirnya kau sadar juga" ucap miclara sambil menghapus air matanya
" kau terlihat begitu lelah miclara, apa kau terus menungguku di sini?" Tanya aamon
" aku hanya ingin melihatmu sadar dengan begitu hatiku akan merasa lega" ucap miclara
" lihat aku sudah sadar, sekarang kau harus istirahat" ucap aamon
" aku akan duduk di sini saja, kau sekarang sedang tidak sehat seharunya kau yang istirahat" ucap miclara
" ayok kesini dan tidur di sampingku, jangan terus duduk itu tidak baik bagi kesehatanmu" ucap aamon sambil menepuk ranjang di sampinya
" tidak aamon aku tidak akan mengganggumu istirahat, aku akan disini saja" ucap miclara
" jangan keras kepala ayok kesini" ucap aamon
Miclara langsung menurutinya karna dia juga sudah lelah terus duduk di sana, dia hanya bisa melakukan apa yang aamon katakan.
__ADS_1
" bagus" ucapnya
" sekarang tidur jangan memikirkan yang lain" ucap aamon
" bagaimana kalau aku tidak sengaja mengenai lukamu?" Ucap miclara
" aku tidak semelah itu, lagi pula lukaku sudah di obati" ucap aamon
" umm baiklah aku akan tidur di sini" ucap miclara
Aamon lalu menyelimutinya begitupun dirinya, mereka kemudian tertidur hingga pagi di mulai kembali. Namun setelah aamon sadar dia jadi tidak bisa tidur lagi, dia terus melihat miclara yang sudah mulai tertidur. Ketika melihat waja gadisnya itu, aamon langsung memiliki keinginan untuk membuatnya terus ada disisinya.
Dia menyentuh rambut ping kekasihnya sambil sesekali dia mencium baunya, rambutnya yang panjang tidak perna membuatnya bosan untuk terus melihatnya. Aamon lalu berusaha duduk agar bisa melihat miclara dengan jelas, dia mendekatkan wajahnya hingga menyentuh dahi miclara. Aamon menciumnya singkat sebelum dia turun dari ranjangnnya dan berjalan ke kamar mandi.
Enta apa yang dia fikirkan, padahal tubuhnya baru saja di obati tapi dia malah langsung pergi ke kamar mandi. Aamon lalu melepas semua pakayannya hingga menyisakan celananya saja, dia kemudian melihat tubuhnya yang penuh luka di depan cermin. Memang sekarang lukahnya sudah di obati, tapi lukahnya itu masih berbekas.
Setelah melihat semua lukahnya, aamon kemudian memasangkan kembali bajunya yang lain dan berjalan ke ranjangnya. Dia pun kembali tidur sambil memeluk miclara yang sudah berubah posisi membelakanginya. Setelah mencium bau tubuh miclara aamon langsung diserang oleh rasa ngantuk, diapun tertidur kembali.
Pagi pun dimulai lagi dan sekarang miclara sudah bangun tampa menyadari seseorang masih memeluknya. Dia saat mau bangun baru sadar akan hal itu, dia pun pelan-pelan melepas pelukan aamon agar dia bisa duduk. Namun pelukan itu malah semakin erat hingga dia tidak bisa melakukan apa-apa.
" aamon, apa kau sudah bangun?" Tanya miclara
" hmm" gumang aamon sambil terus mencium leher miclara
" ugh! aamon, bisakah kau lepaskan tanganmu aku mau bangun" ucap miclara
" tidak bisa, aku masih ingin seperti ini" ucap aamon
" ini sudah pagi, aku harus membawakanmu sarapan, jadi lepaskan tanganmu ya" ucap miclara
Miclara hanya menghela nafas mendapati sikap aamon yang seperti anak kecil ini, jika bukan karna dia terluka mungkin miclara akan mendorongnya. Tapi sekarang aamon sedang terlukan, jadi dia hanya bisa menuruti apa yang aamon inginkan. Namun diamnya miclara membuat aamon melakukan seenaknya, dia yang awalnya hanya mencium leher miclara menjadi semakin liar.
Aamon melakukan lebih dari sekedar mencium, dia membuat bekas merah di leher miclara, tanganya juga tak tinggal diam. Sekarang aamon sudah tak terkendali lagi, jika miclara tetap diam mungkin pagi ini mereka akan melakukan hal itu.
" aamon! Kau mau apa?" Ucap miclara
" sudah berapa lama aku tidak melakukan ini, aku ingin melakukannya sekarang juga" ucapnya dengan suara berat
" t-tapi ini masih pagi, tubuhmu juga masih terluka, sebaiknya kamu jangan banyak bergerak dulu" ucap miclara
" tidak papa, kau bisa melakukannya kan" ucap aamon
" hah? Matsudmu?" Tanya miclara
" karna sekarang aku masih terluka jadi aku berharap kau bisa membantu melakukan semuanya" ucap aamon
" k-kau ingin aku melakukan apa" ucap miclara gugup
" kau tinggal duduk di atasku dan aku akan mengatakan apa yang harus kau lakukan selanjutnya" bisiknya tepat di telinga miclara
" a-aamon kau.." ucap miclara
__ADS_1
" tenang saja miclara aku akan mengajarimu agar tau carahnya" ucap aamon
" aku, apa aku bisa" ucapnya
" kau pasti bisa" ucap aamon
" b-baiklah, aku akan melakukan apa yang kau inginkan" ucap miclara
Aamon tersenyum bahagia mendengar jawaban miclara, dia membalikan miclara yang masih membelakanginya, kedua tangannya langsung memegang kedua pipi miclara. Miclara siap-siap dengan apa yang akan aamon lakukan padanya, dia sedikit gugup karna mungkin mereka akan melakukan hal itu.
" aamon.." ucapnya dengan wajanya yang memerah
" miclara kau sangat manis" ucap aamon
Aamon pun mencium bibir miclara secara lembut agar miclara tidak merasa gugup, tangannya juga mulai membuka kancing baju miclara. Dia sudah tidak mau membuang waktu lagi, sekarang sudah pagi dan akan banyak yang akan menganggu mereka.
" miclara aku lepas ya" ucapnya dengan lembut
" um" gumang miclara malu
Aamon pun melepas baju miclara hingga menyisakan satu kain, dia juga membelai sesuatu yang lembut hingga membuat miclara mengeluarkan suara yang aamon sukai.
" ugh.. aamon~"
Aamon kemudiam menghentikan gerakan tanganya dan mulai melepas satu kain yang tersisa. Lalu aamon mencium benda yang sudah tidak tertutup itu dan sesekali dia menggigitnya.
" akh! a-aamon~"
Aamon terus menciumi benda itu dan satu tangannya melakukan bagian yang lain, dia sudah merasa bahwa ini adalah waktu yang pas untuk memulainya. Aamon menghentikan aksinya dan melihat waja miclara yang ia tutup menggunakan tangannya.
" apa aku terlalu kasar?" Tanya aamon
Miclara menunjukan wajanya dan sedikit mengelengkan kepala, itu sudah cukup membuat aamon yakin bahwa yang dia lakukan tidak membuat miclara takut. Aamon melanjutkan apa yang dia lakukan, dia mulai menyentu bagian paling sensitif untuk para wanita.
" ahh!" Reaksi miclara saat aamon menyentunya semakin membuatnya ingin memulainya
Dia mulai melepas semua kain yang menutupi tubuh miclara hingga semuanya sudah ia lihat. Miclara kembali menyembunyikan wajahnya karna sekarang dia sudah tidak memakai apa-apa di hadapan pemuda paxley itu.
" tidak usa malu miclara, sebelumnya aku sudah perna melihatnya" ucap aamon
Aamon menggunakan satu jarinya untuk menyentunya, walaupun cuma satu jari tapi itu sudah membuat miclara berteriak.
" ah! Aamon.."
Aamon pun langsung memasukan satu jarinya hingga ke dalam, walaupun mereka sudah perna melakukannya tapi ini masih terasa seperti pertama kalinya bagi miclara.
" akh! Ahh~ hosh hosh"
Aamon mulai menggerakan jarinya di dalamnya hingga sedikit-demi sedikit mulai cepat, permainam mereka masih akan berlajut hingga semuanya selesai. Mereka melakukan hal ini untuk kedua kalinya tapi sekarang mereka melakukan ini bukan karna paksaan tapi keinginan bersama, tidak seperti saat pertama kalinya bagi mereka.
______________________________________
__ADS_1
Bersambung
kalau kalian tidak puas maaf ya, aku tidak hebat dalam membuat cerita dewasa