![One'S First Lover [ Aamon Paxley ]](https://asset.asean.biz.id/one-s-first-lover---aamon-paxley--.webp)
Keesokan harinya
Setelah kejadian itu, raja kerajaan boroque datang bersama beberapa pengawalnya untuk mendapatkan pengampunan dari aamon. Mereka tidak mau kedua kerajaan ini bermusuhan jadi mereka datang ke kerajaan paxley agar kerajaannya bisa di selamatkan.
Namun aamon sama sekali tidak memperdulikan mereka, saat mereka datang aamon bahkan tidak membiarkan mereka masuk ke dalam kerajaannya. Dia memberi waktu untuk mereka pergi dari kerajaannya dari pada kebencian aamon semakin dalam.
Akhirnya gerombolan orang-orang itu langsung pergi dari sana tampa masuk sekalipun. Kehadiran mereka sudah membuat aamon tidak nyaman, apalagi saat melihat mereka bayangan miclara yang menderita selalu muncul dari benaknya.
Dia saat ini duduk di ranjangnya karna miclara masih tertidur, dia tidak mau meninggalkannya dan akan menunggunya terbangun. Miclara tertidur begitu pulas, dia tetap tertidur walaupun aamon terus memainkan rambutnya.
Kemudian ketukan pintu membuat aamon bangun dari duduknya dan menghampairi pintu. Aamon langsung membuka pintu kamarnya agar dia bisa melihat orang yang sedang mengetuk pintunnya.
Kemudian dia langsung bertanya alasan dia datang ke kamarnya.
" ada apa gusion?" Tanya aamon
" kau di panggil tetua, mereka ingin membicarakan sesuatu denganmu" ucap gusion
" apa masalah kerajaan boroque" ucap aamon
" aku tidak tau, tapi itu mungkin saja" ucap gusion
" kalau begitu aku akan pergi ke sana" ucap aamon
" tapi sebelum itu aku mau menanyakan sesuatu" ucap gusion
" apa"
" kenapa mereka datang kesini, apa karna kau telah membunuh guin jadi mereka meminta pertanggung jawaban" ucap gusion
" tidak, aku tidak membunuh guin, mereka kesini karna alasan yang lain" ucap aamon
" apa alasannya?" Tanya gusion
" aku telah membatalkan semua kerja sama dengan kerajaan boroque, jadi kedua kejaraan ini saat ini sudah tidak bersekutu lagi, jadi kau pasti sudah tau alasan mereka semua datang kesini kan" ucap aamon
" aku mengerti, kau sebaiknya cepat datangi tetua-tetua itu jangan sampai membuat mereka menunggu" ucap gusion kemudian dia pergi
Aamon langsung menutup pintu kamarnya dan langsung menemui tetua-tetua itu. Obloran yang akan mereka bicarakan aamon sudah tau semuanya, dia hanya perlu mendukung keputusannya sendiri walaupun mereka tidak akan mendukungnya.
Sesaat setelah aamon pergi, miclara terbangun dari tidurnya dan langsung mencari keberadaan aamon. Dia melihat keadaan kamarnya yang hanya ada dia seorang, miclara bangun dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi.
Tapi dia kesana bukan untuk membersikan diri, malahan untuk mencari orang yang saat ini tidak ada disisinya. Namun karna di kamar mandi tidak ada orang yang dia cari, miclara kembali ke ranjangnya lagi.
" aamon dimana ya, apa dia ada diluar" ucap miclara
Miclara lalu berjalan ke arah pintu untuk mencari aamon yang mungkin saat ini ada di luar. Walaupun dia masih terlihat sulit berjalan, tapi miclara tidak memperdulikan keadaannya.
Miclara yang sudah membuka pintu melihat orang didepannya yang tenga berjalan ke arahnya. Dia adalah orang yang baru saja ingin dia cari, sekarang dia sudah tidak perlu mencarinya karna orang yang akan dia cari sudah datang sendiri padanya.
" aamon.." panggilnya
" kau sudah bangun miclara, kau pasti mencariku kan maafkan aku, aku tadi ada sedikit urusan" ucap aamon
" memangnya kau sedang melakukan apa, apa begitu penting?" Tanya miclara
" bukan apa-apa, kau lapar kan ayok kita makan" ucap aamon
" iya aku sangat lapar" ucap miclaraĀ miclara pun mengikutinya
Setelah itu aamon langsung memapahnya menuju ruang makan, dia memegang tangan miclara agar miclara bisa berjalan lebih nyaman. Di tenga jalan mereka bertemu dengan gusion yang sepertinya memang menunggu mereka.
Gusion menghampiri aamon dan miclara ketika sudah ada di hadapannya, gusion lalu menanyakan keadaan miclara.
" bagaimana keadaanmu miclara?" Tanya gusion
" aku sudah tidak papa" jawab miclara
" baguslah, aku senang jika kau sudah baikan" ucap gusion
__ADS_1
" terimakasi karna kamu sudah menghkawatirkan aku gusion, semua ini karna kalian berdua aku bisa kembali dengan selamat" ucap miclara
" jangan mengatakan hal itu, aku tentu akan mencemaskanmu karna kau sangat berarti bagiku" ucap gusion
" hem!?" Gumang aamon
" em lebih baik kita cepat pergi aku sudah lapar aamon" ucap miclara
" baiklah"
Aamon pun kembali membawa miclara keruang makan namun gusion juga mengikuti mereka, mungkin dia juga tengan lapar jadi ikut bersama mereka. Namun ditenga perjalanan mereka, miclara tidak sengaja tersandung hingga terjatuh.
" aduh!"
" kau baik-baik saja miclara, apa lututmu terluka!?" Tanya aamon
" aku tidak papa hanya memar saja" ucap miclara
Aamon lalu membantunya berdiri dan melihat luka dilututnya
" aku seharusnya memapahmu dengan benar kau sampai terjatuh seperti ini" ucap aamon merasa bersalah
" ini bukan salahmu aamon jangan menyalakan dirimu sendiri, aku yang tidak berjalan dengan benar hingga aku terjatuh" ucap miclara
Aamon langsung menggendong miclara agar dia tidak terluka lagi
" aamon!"
" aku akan menggendongmu saja, nanti biar pelayan mengobati lutumu sekarang kita makan dulu" ucap aamon
" um baiklah" miclara hanya menurutinya
" bisakah kalian menghormati kehadarinku, aku sangat iri tau" ucap gusion
" gusion kau ternyata bisa mengatakan hal itu juga ya" ucap miclara terkekeh
" kau mau kemana, ini waktunya sarapan jangan berfikir untuk pergi" ucap aamon tampa melihatnya
" hemp!" Gusion berbalik lagi dan berjalan mendahului mereka.
Beberapa saat kemudian
Disaat mereka ada di ruang makan, ada satu orang yang sudah lama mengawasi mereka. Dia adalah salah satu bawahan serah yang waktu itu membawa miclara.
Dia bukan hanya sekedar bawahan serah tapi saat dia selalu bersama serah dia sudah memiliki perasaan padanya. Namun dia dengan mata kepalanya sendiri melihat orang yang dicintainnya mati begitu mengenasnya di tangan aamon.
Karna itu dia ingin membalaskan dendam serah, walaupun dia tau dia tidak akan bisa mengalakan aamon, tapi dia sudah memilik cara agar mereka tidak bersama lagi.
Sekarang dia tengan berdiri di atap kamar aamon dan miclara, dia disana menunggu malam tiba dan akan melakukan apa yang sudah direncanakan. Kehilangan orang yang dia cintai membuatnya bisa melakukan apapaun walaupun bisa saja mengambil nyawanya.
Saat menunggu malam tiba dia tidak perna merasa takut dengan apa yang akan dia lakukan. Dia hanya sedih karna harus hidup tampa kehadiran sosok serah disisinya lagi.
Sekarang malam telah tiba dan dia sudah siap melakukan aksinya, saat dia merasa bahwa kamar dibawahnya dimasuki seseorang, dia lansung bersiap-siap melakukan serangan.
Pria itu melihat aamon dengan miclara berbincang-bincang dengan senangnya, itu semakin membuatnya marah dan ingin segera melakukannya. Dia sesekali mendengar pembicaraan mereka hingga dia tidak sengaja mendengar mereka membicarakan serah.
" aamon waktu itu di bajuhmu kenapa ada noda darah?" Tanya miclara
" ohh itu hanya darah orang yang tidak berguna yang telah aku bunuh, dia pantas mendapatnya karna telah menyakitimu" ucap aamon
" apa gadis itu, kau ternyata membunuhnya ya" ucap miclara
" tentu saja sayang, dia sudah menyakitimu aku tidak mungkin membiarkannya hidup kan" ucap aamon
" kau benar" ucap miclara
Orang itu sudah menyiapkan senjata yang akan dia gunakan untuk menyerang aamon. Hanya dalam beberapa detik dia langsung melepas jarum-jarum kecil itu secara bersamaan.
Jarum-jarum itu tidak langsung mengenai aamon tapi mereka mengelilingi aamon terlebih dahulu. Karna jarum itu tidak memiliki suara jadi aamon tidak menyadarinya.
__ADS_1
' apa ini, kenapa aku merasa ada benda yang sedari tadi terus mengelingiku, apa hanya perasaanku saja'batin aamon
" ada apa aamon, kenapa kau melamun?" Tanya miclara
" eh tidak papa" ucap aamon
Orang itu langsung pergi tampa menunggu serangannya berhasil, dia seperti sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jarum-jarum itu kemudian mulai berkumpun di satu titik yaitu di kecing aamon, dalam beberapa detik mereka langsung menusuk kening aamon secara bersamaan dan setelah itu jarum-jarum itu berjatuhan di lantai.
" kalau begitu aku pergi mandi dulu ya" ucap miclar
" sebaiknya kau jangan mandi dulu miclara, tunggu lukam- ugh!" perkataanya terhenti ketika efek dari serangan jarum-jarum itu mulai beraksi
" aamon kau kenapa?!" Tanya miclara
"... " aamon tidak menjawabnya, dia memegang kepalanya
" aamon!!" miclara lalu menyentu kedua bahu aamon
Namun kemudian aamon terjatuh dan tak sadarkan diri di pangkuan miclara, itu membuat miclara menjadi takut dan khawatir.
" aamon ada apa denganmu!? Aamon!!" Panggil miclara sambil menepuk pipi aamon
Kemudian dari arah pintu ada langka kaki yang mendekat itu adalah gusion, karna mendengar suara miclara dia langsung memasuki kamar kakaknya.
" miclara!?" Panggilnya
" hisk gusion aamon, dia tiba-tiba pingsan" tangis miclara
" kau tenang dulu miclara, mungkin kakak hanya lelah saja" ucap gusion
Gusion lalu membawa aamon keranjangnya dengan bantuan miclara, setelah itu dia memanggil tabip agar mencari tau alasan kakaknya itu pingsan.
Gusion dan miclara menunggu tabip itu selesai memeriksa keadaan aamon, namun pandangan gusion teralikan dengan sesuatu yang mengkilat di lantai tempat kakaknya pingsan.
Dia lalu mengambil sesuatu yang sangat kecil itu, hingga dia tau apa yang saat ini dia sentu.
'Inikan!" Batinnya
" ada apa gusion?" Tanya miclara
" t-tidak papal" ucapnya berbohong
' semoga bukan seperti yang aku pikirkan'batin gusion lagi
Note\= gusion tau tentang jarum itu saat memeriksa keadaan pengawal yang pingsan okš
Tabip yang memeriksa aamon pun langsung menghadap gusion dan miclara, namun tabip itu bilang bahwa aamon hanya kelelahan saja, jadi itu langsung membuat miclara merasa lega.
Setelah itu miclara terus menunggu aamon sadar, walaupun ini sudah sangat malam. Gusion dia juga ada disana menemani miclara dan juga ingin tau keadaan kakaknya saat sadar.
Jika yang dia pikirkana akan terjadi, maka hal itu akan benar-benar membuat hati miclara hancur. Gusion terus melihat ke arah miclara, wajahnya yang begitu tulus menunggu aamon sadar membuat gusion ingin memeluknya.
Namun tiba-tiba tangan aamon bergerak hingga membuat miclara beserta gusion tak sabar menunggu aamon sadar. Kemudian aamon membuka matanya dan langsung menyentuh kepalanya yang pusing.
Dia melihat sekeliling dan berhenti saat melihat miclara, dia lalu berusaha duduk dan miclara membantunya.
" aamon apa kau baik-baik saja, kau membuatku khawatir" ucap miclara
" kak kau tidak papa?" Tanya gusion
Aamon melihat ke arah miclara dan beralih melihat tangannya yang masih miclara pegang, namun dia langsung menarik tangannya dan terlihat tidak menyukainya.
" kau siapa" ucapnya pada miclara
________________________________________________
Bersambung
__ADS_1