![One'S First Lover [ Aamon Paxley ]](https://asset.asean.biz.id/one-s-first-lover---aamon-paxley--.webp)
Hari baru pun di mulai, hari ini adalah hari dimana miclara merasa lega karna sudah membalaskan dendam orang tuanya. Tapi di sini lain dia juga merasa sedih karna mungkin ini adalah hari terakhirnya dia bersama dua saudara itu. Mereka sangat baik padanya dan itu membuatnya merasa nyaman bersama mereka.
Selama dia bersama mereka, miclara tidak perna merasa sendiri lagi sejak kepergian orang tuanya. Tapi mungkin sekarang dia akan merasa sendiri lagi, karna mereka mungkin akan pergi darinya. Miclara akan tetap menerimanya karna ini mungkin memang harus terjadi dan dia tidak bisa melakukan apapun.
Seharusnya dia bisa menerimanaya karna ini hanya hal kecil dari pada saat di kehilangan keluarganya.
Miclara pov
Mungkin hari ini aku akan berpisah dengan mereka, aku merasa senang saat mereka mau membantuku balas dendam, tapi aku tidak berfikir mungkin nanti kita akan mengalami yang namanya perpisahan. Jika aku tau itu akan terjadi, lebih baik aku tidak terlalu dekat dengan mereka, jika tidak saat hari perpisahan itu tiba, aku akan merasa sangat kesepian.
Pagi ini aku tidak menyangkah akan bangun paling awal, aku melihat ke arah aamon dan gusion yang masih terlelap dalam tidurnya. Karna ini masih terlalu pagi ( subuh ), aku memutuskan untuk pergi keluar. Akupun keluar dari kamarku saat ini dan berjalan ke luar dari penginapan. Namun aku merasa bahwa aku cuman sendiei di sini, di luar penginapan terlihat sangat sepi dan tidak ada siapapun di luar, mungkin karna ini masih gerlalu pagi untuk beraktifitas.
Enta kenapa aku mau keluar padahal di luar sini sangat dingin, aku hanya melakukan sesuatu yang ingin aku lakukan. Ini mungkin karna nanti aku akan berpisah dengan mereka yang beberapa hari ini selalu bersamaku. Aku sebagai seorang yang telah mereka tolong merasa senang karna bisa bersama orang-orang sebaik dan sehebat mereka.
Namun tetap saja, nanti aku akan berpisa dengan mereka. Ya.. mungkin nanti aku dan dua saudara itu akan berpisah, mereka sudah selesai membantuku dan tidak ada urusan lagi denganku. Memang sangat menyakitkan, padahal aku baru saja merasa memiliki keluarga lagi sejak kepergian orang tuaku, tapi mereka pasti merindukan keluarganya kan, tidak mungkin demi aku mereka tetap tinggal.
Tampa aku sadari sedari tadi ada satu orang yang datang padaku sambil membawa selimut, dia adalah gusion, dia menghampiriku dan duduk di sampingku, aku waktu itu tidak menyadarinya, karna aku fokus pada apa yang aku pikirkan.
Gusion lalu meyelimutiku, dia tau aku sedang memikirkan sesuatu sampai-sampai aku tidak menyadari keberadaannya. Saat aku merasakan sesuatu yang menyentuhku, aku lalu berbalik dan melihat gusion yang sedang menyelimutiku.
" k-kau.. kenapa kau disini?" Tanya ku padanya
" seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di luar, padahal disini sangat dingin" ucap gusion padaku
" aku hanya... menunggu matahari terbit" jawabku
" tapi ini masih sangat lama, disini juga sangat dingin sebaiknya kau masuk saja" ucap gusion
" tidak, aku tetap di sini" ucap ku padanya
" baiklah, aku akan menemanimu" ucapnya
" tapi.."
" kenapa?"
" tidak papa" aku lalu kembali melihat ke dapan, membiarkan gusion duduk di sampingku.
Pov End
Tampa di sadari keduanya, ada sepasang mata yang menatap mereka dari belakang, dia tetap menunggu di saat yang tepat untuk muncul di hadapan mereka. Orang itu juga tidak suka jika mereka berdua terus bersama, orang yang melihat gusion dan miclara dari belakan tidak lain adalah si duke paxley, yaitu aamon paxley.
__ADS_1
Duke\= Bangsawan tinggi
Hingga saatnya matari hampir terbit dan aamon langsung berjalan mendekati mereka dan menarik tangan miclara agar memgikutinya hingga membuat selimut yang menyelimuti miclara terjatuh. Miclara terkwjut karna tiba-tiba aamon datang dan langsung menariknya ke suatu tempat.
" kau mau membawaku kemana aamon?" Tanya miclara, tapi aamon tidak menjawabnya
Gusion diam melihat apa yang kakaknya lakukan pada miclara, dia merasa kakaknya itu sengaja menjaukan miclara padanya, padahal dia hanya duduk dengan miclara dia tidak melakukan apapun padanya, tapi tingka kakaknya ini seperti tidak ingin miclara ada di dekatnya.
Gusion lalu mengikuti aamon dan miclara yang berlari entah kemana, namun kemudian dia mengetahui kakaknya itu membawa miclara ke mana. Ternyata aamon membawa miclara ke tempat yang lebih tinggi agar nanti saat matahari terbit mereka bisa melihatnya dengan puas. Aamon lalu menarik tanganya dan kembali melihat ke depan
" bukannya kau mau melihat matahari terbit, ini adalah tempat yang bagus untuk melihatnya" ucap aamon tampa mengubah pandanganya
" bagaimana kau tau?" tanya miclara
" rahasia" ucapnya
Miclara sedikit tersipu saat tau bahwa aamon sangat perduli padanya, dia juga merasa sedikit aneh saat aamom menarik tanganya tadi. Miclara merasa bahwa dia memiliki perasaan tertentu pada pemuda yang ada di sampinya itu.
Gusion yang tadi mengejar mereka, akhirnya sampai di samping miclara, memang ini adakah tempat yang pas untuk melihat matahari terbit. Apalagi kalau bersama seseorang yang ia anggap spesial.
Beberapa saat kemudian
Matahari pun muncun dan saat itu juga miclara melihatnya dan mengaguminya. Memang sangat menyenangkan kalau bisa melihat matahari terbit, tapi akan lebih menyenangkan kalau melihatnya bersama teman-temanya.
" memang sangat inda, jika saja aku bisa terus melihatnya" ucap aamon sambil melihat ke arah miclara
Miclara yang menyadari kalau aamon sedang menatapnya pun bertanya
" kenapa malah menatapku, seharusnya kau melihat ke depan bukan malah menatapku" ucapnya
" kau benar, tapi aku sudah melihat hal yang lebih inda dari matahari terbit" ucap aamon, miclara memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan perasaanya yang campur aduk
" k-kau ini.."
Gusion kembali melihat tingka kakaknya itu, dia sudah tau apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya. Dia mengetahui bahwa kakaknya itu menyukai miclara gadis yang ada di sampingnya itu. Tapi kenapa dia tidak menyukai hal itu, dia tidak ingin kakaknya itu mendapatkan miclara.
Beberapa saat kemudian
Saat ini mungkin adalah saatnya mereka berpisah, ini sudah sangat pagi dan waktu yang pas untuk pergi. Mereka kembali ke penginapan dan mungkin aamon dan gusion sudah siap untuk kembali, miclara hanya menungu hai itu tiba.
" k-kalau begitu selamat tinggal" ucap miclara pada aamon dan gusion yang terlihat bingung
__ADS_1
" kau mau kemana?" Tanya gusion
" mungkin aku harus kembali ke desahku" ucap miclara
" bukanya rumahmu di sana sudah hancur, kenapa kau masih ingin kembali" ucap aamon
" mau bagaimana lagi, aku tidak memiliki tempat yinggal selain di sana, kalian juga harus kembali kan, jadi selamat tinggal" ucap miclara dia lalu berbalik tapi di cega oleh gusion dengan memegang tanganya.
" kau ikut dengan kita saja" ucap gusion
" apa! Tidak, aku tidak mau selalu merepotkan kalian" ucap miclara menolak ajakan gusion
" kita ini sudah membantumu balas dendam, jadi sebagai gantinya kau harus ikut dengan kami sebagai pelayan pribadi kami" ucap aamon
" apa!"
" kau harus balas budi, bukannya kau gadis yang baik" ucap aamon
Gusion tidak mengerti kenapa kakaknya mengatakan hal itu, jika dia ingin miclara ikut dengannya, kenapa tidak langsung bilang saja malah mencari alasan seperti ini, bagaimana kalau miclara tersinggung dengan perkataanya.
" baiklah, aku akan ikut" ucap miclara, aamon tersenyum puas dan gusion terlihat terkejut, ternyata alasan kakaknya itu sangat ampuh dan miclara terlihat tidak masalah walaupun harus menjadi pelayan.
Mereka lalu pergi ke arah yang sama dengan raut waja aamon yang terlihat puas, dan gusion yang masih tidak mengerti kenala alasan kakaknya itu sangat ampuh tampa menyakiti perasaan miclara.
Miclara pov
Tenyata hari perpisahan itu tidak ada, kami masih terus bersama dan mungkin kami tidak akan terpisakan. Aku sebenarnya merasa senang karna aku tidak akan berpisah dengan mereka. Walaupun aku harus menjadi pelayan mereka, tapi aku tetap merasa senang karna aku tidak sendiri lagi. Mungkin mereka adalah keluarga baruku, aku memiliki keluarga baru.
Aku melihat mereka dari belakang mereka adalah pemuda yang sangat baik mau membantu orang yang baru saja mereka temui, apakah ini yang namanya jodoh?
Atau mereka hanya kasihan padaku?.
Tapi aku tidak perduli, karna sekarang aku tidak sendirian lagi.
Perasaan ini, aku sangat merindukan perasaan ini, akhirnya aku memiliki keluarga yang tidak akan meningalkanku. Setelah ini mungkin nanti aku akan merasa bahagia dan akan melupakan masa laluku yang kelam. Aku yakin mereka tidak akan menyakitiku apalagi membuatku sedih, tapi bagaimana jika hal itu terjadi... tentu saja aku tidak akan membiarkanya terjadi.
Pov End
Aamon dan gusion terus berjalan dan tidak melihat ke belakang, mereka tidak menyadari bahwa miclara sudah tidak kuat berjalan. Dia ingin menyuruh mereka berhenti tapi mereka terlalu jauh dan mungkin tidak akan mendengan teriakan miclara.
Miclara lalu terduduk dan mengusap keringatnya dengam tanganya, namun itu tidak bisa membuat rasa lelahnya hilang. Dia jadi teringat dulu saat dia dalam kondisi yang sama ada gadis yang menolongnya. Miclara sudah tidak bisa bertahan lagi dan dia pun jatuh pinsan sambil melihat aamon dan gusion yang masih belum mengetahui keadaanya.
__ADS_1
______________________________________________
Bersambung